
Jeny tersenyum menatap mobil tomy yang mulai memasuki area luas rumahnya. Wanita cantik itu mematikan selang karna sore itu jeny memang sedang menyiram bunga di depan rumahnya. Jeny meletakan selang tersebut dengan sangat pelan kemudian melangkah pelan menghampiri mobil tomy yang sudah berhenti di halaman rumahnya. Jeny mengulurkan tanganya yang tentu saja langsung di sambut senang oleh tomy. Jeny menyalimi suaminya dengan wajah cerah yang semakin membuatnya terlihat cantik.
“Sayang kok kamu nggak pake sandal sih?” Tanya tomy mengeryit melihat jeny yang tidak menggunakan alas kaki.
Jeny menundukan kepalanya kemudian tertawa pelan melihat kakinya yang sedikit bengkak.
“Iya by... Jadi nggak tau kenapa tadi pagi pas lagi berjemur tuh kaki aku agak bengkak.. Terus kata bibi aku harus coba nggak usah pake alas kaki.. Tapi pas aku telpon dokter sinta tadi katanya aku harus banyak jalan tapi pelan pelan kalau pagi.”
Tomy menganggukan kepalanya. Kalau menurut dokter sinta mungkin benar. Tapi menurut bibi itu masih sedikit meragukan untuk tomy. Jeny sedang hamil dan kebersihan adalah hal yang paling harus di jaga dan di perhatikan.
“Ya sudah.. Abis ini langsung cuci kaki yah.. Kamu lagi ngapain tadi?” Tanya tomy sambil mengusap lembut punggung istrinya.
Jeny tersenyum kemudian menoleh pada bunga bunga yang baru saja di siramnya.
“Aku abis siram bunga by.. Buat ngilangin rasa bosan.” Jawab jeny.
Tomy kembali mengangguk. Pria tampan itu kemudian menyisipkan anak rambut jeny yang menggantung di pipinya ke belakang telinga.
“Udah makan?” Tanyanya lembut.
“Udah..” Senyum jeny menjawab.
“Minum vitamin? Minum susu? Makan buah?”
Jeny tertawa pelan mendengar serentet pertanyaan yang di lontarkan lagi oleh suami tampanya. Tomy memang sangat memperhatikan hal sekecil apapun darinya.
“Udah semua by.. Kamu kan tau aku punya 2 orang setia yang siap melayani semua kebutuhan aku..”
Tomy ikut tertawa kemudian mengangguk anggukan kepalanya setuju. Sisi dan bibi memang selalu menjaga dan memastikan jeny sehat juga baik baik saja.
Jeny melirik pak satpam yang asyik mendengarkan alunan musik dari ponsel barunya. Wanita itu hampir saja melupakan jasa pak satpam yang selalu setia memastikan keamananya.
“3 by. Ketinggalan satu.” Katanya terkekeh pelan.
__ADS_1
Tomy mengeryit kemudian mengikuti arah pandang istrinya. Pria tampan itu kembali tertawa. Sejak menempati rumah itu bersama jeny tomy memang merasa sudah menemukan orang orang yang sangat tepat dan bisa di percaya.
“Kayanya gaji mereka perlu aku naikan sayang..”
“Hah? Serius kamu by?” Tanya jeny antusias.
“Serius dong.. Mereka bertiga soalnya sudah sukses menjaga kamu... Memastikan makanan yang sehat untuk kamu.. Tempat yang nyaman.. Rumah yang bersih.. Dan penjagaan yang super bagus. Aku merasa sangat terbantu dalam menjaga kamu sayang..” Senyum tomy.
Jeny langsung berhambur memeluk suaminya. Mendengar suaminya akan menaikan gaji ketiga pekerjanya membuat jeny merasa bahagia. Tomy nya benar benar sudah berubah. Tidak lagi seenaknya dan bisa menghargai kerja keras seseorang.
“Makasih by.. Aku seneng banget dengernya..” Senyum jeny di balik punggung suaminya.
“Sama sama sayang..” Balas tomy tersenyum sambil mengusap lembut punggung istrinya.
Tomy kemudian mengajak istrinya untuk masuk karna hari sudah menjelang petang. Pria itu tidak mau jika sampai angin dingin sore membuat istrinya sampai sakit.
“Gimana lorenzo by?”
“Semuanya berjalan dengan lancar sayang.. Lorenzo tidak melawan apa lagi berupaya untuk kabur..” Jawab tomy.
Jeny tersenyum lega mendengarnya. Jeny berharap dengan hukuman itu lorenzo tidak akan lagi mengulangi perbuatanya.
“Kamu tau sayang? Sarah meminta aku untuk meringankan hukuman lorenzo demi elo..”
Jeny mengeryit. Sarah memang sangat mencintai suaminya. Tidak heran jika sarah sampai meminta seperti itu pada tomy.
“Lalu?”
“Aku menolaknya.” Jawab tomy tegas.
“Aku tau siapa lorenzo. Bahkan jauh lebih tau dari sarah.. Dari SMA dulu lorenzo memang selalu mencari gara gara. Lorenzo bahkan pernah melecehkan adik kelas.. Tapi karna daddy nya adalah donatur besar jadi para guru tidak berani memberinya sanksi.”
“Tunggu by.. Jadi maksudnya kamu sama lorenzo itu udah kenal lama?” Tanya jeny yang memang baru mengetahuinya.
__ADS_1
Tomy meringis. Dirinya memang tidak pernah mengatakanya pada jeny. Tomy hanya memendam rasa tidak sukanya pada lorenzo saat masih di universitas demi jeny yang memang saat itu sangat mengidolakan lorenzo.
“Kok kamu nggak pernah cerita sih sama aku? Kalau sampai aku beneran jatuh cinta sama dia gimana? Terus kalau sampai aku hidup menderita gimana? Jahat kamu by.”
Jeny mengerucutkan bibirnya merasa kesal karna tomy tidak pernah menceritakan bagaimana sikap lorenzo yang sebenarnya padanya.
“Ya maaf sayang... Kan posisinya saat itu kita masih kuliah.. Yang penting kan aku selalu jagain kamu.. Terus pada akhirnya juga kamu cintanya sama aku kan bukan sama lorenzo?”
Jeny tetap membuang muka tidak mau menatap suaminya dengan melipat kedua tanganya di depan dada. Jeny benar benar merasa di bohongi oleh tomy yang hanya diam saat dirinya dengan bodohnya mengagumi sosok cool lorenzo saat masih kuliah.
“Lagian masa iya aku bilang ini itu sama kamu sayang. Aku kan bukan wanita yang bisa bicarain apa aja yang aku ketahui. Aku juga berpikir mungkin saat itu masih fase kenakalan pelajar.. Kamu juga pastikan bakalan ilfil sama aku kalau aku tiba tiba cerita ini itu tentang lorenzo.” Lanjut tomy berusaha membela diri juga meyakinkan jeny.
Jeny menghela nafas. Tomy benar. Jeny pasti akan sangat tidak suka jika tomy membeberkan tentang siapa lorenzo tanpa alasan yang jelas. Dan jeny semakin merasa tuhan sangat menyayanginya karna tidak membiarkan jeny salah dalam memilih pasangan hidup.
“Aku minta maaf deh.. Kan yang penting sekarang kamu jodohnya sama aku.. Semuanya sudah aman, sudah jelas, terus lorenzo juga sudah di penjara sayang...”
Jeny menoleh pada tomy namun masih dengan bibir mengerucut. Wanita itu menyipitkan kedua matanya seolah memberi kode agar tomy memberitahu segalanya yang tidak pernah jeny ketahui.
“Hanya itu yang aku tau..” Kata tomy yang mengerti dengan tatapan mata menyipit istrinya.
Sekali lagi jeny menghela nafas. Wanita cantik itu kemudian menurunkan kedua tanganya yang dia lipat di depan dada.
“Oke.. Aku percaya.”
Tomy tersenyum mendengarnya. Tomy merasa lega karna jeny tidak jadi merajuk padanya.
“Gitu dong.. Percaya sama suaminya sayang..”
Jeny tersenyum tipis. Mungkin hatinya memang pernah terpaut pada lorenzo. Namun pada akhirnya tomy tetap tuan yang memiliki penuh seluruh hati, jiwa, dan raganya. Tomy memenangkan segalanya atas dirinya. Dan tomy berhasil memposisikan dirinya menjadi bagian terpenting dalam hidup jeny saat ini.
Tomy merentangkan kedua tanganya yang tentu saja langsung di mengerti oleh istrinya. Jeny langsung berhambur memeluk tubuh kekar suaminya erat dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
“Aku harap setelah ini tidak akan lagi ada orang yang mencoba untuk memisahkan kita sayang..”
__ADS_1