
Setelah membuka semua kadonya jeny tersenyum. Tidak ada lagi tumpukan kado di kamar itu. Meskipun saat ini kamar tersebut di penuhi sobekan sampul kado juga isi kado yang di buka jeny dan tomy.
“Capek?” Tanya tomy menoleh menatap jeny yang duduk di sampingnya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Melihat semua isi kado itu jeny menjadi bingung kembali. Rasanya tidak mungkin jika semua barang barang seperti tas bermerek, sepatu, aksesoris bahkan gaun juga pernak pernik mahal lainya di biarkan begitu saja di kamar itu.
“Dimana kita akan menempatkan semua ini nanti by?” Tanya jeny.
Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian meraih tubuh jeny dan memeluknya dari belakang. Dan seperti biasanya tomy mengusap usap perut jeny penuh kasih sayang.
“Aku akan belikan tempatnya nanti.” Bisik tomy.
Jeny mengangguk. Mungkin dulu tomy memang hanya mengandalkan uang dari orang tuanya. Tapi sekarang bahkan kedua orang tuanya yang bergantung kepadanya.
“Terus bagaimana kita bersihkan kamarnya? Sampahnya sangat banyak.” Tanya jeny lagi.
“Sayang.. Untuk itu kan ada mbak sisi sama bibi. Aku juga bakal minta pak satpam untuk membantu keduanya nanti. Jangan terlalu di pikirkan.” Jawab tomy lembut.
Jeny terdiam. Membersihkan sampah sebanyak itu pasti akan sangat capek. Dan rasanya jeny tidak tega jika harus membiarkan bibi dan sisi melakukanya tanpa upah tambahan. Sedangkan sekarang jeny tidak bisa keluar tanpa izin dari suaminya untuk mengambil uang cash.
“Sekarang lebih baik kamu istirahat yah..” Kata tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Jeny akan memikirkan bagaimana baiknya nanti.
Tomy menggendong jeny keluar dari kamar tersebut dan membawanya masuk ke kamar mereka. Dengan penuh kelembutan pria itu membaringkan tubuh sintal istrinya dan menyelimutinya sampai batas perut.
“Kamu mau ke kantor lagi?” Tanya jeny menatap tomy.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu memang sedang banyak sekali pekerjaan saat ini. Jadwal metting juga bertemu dengan client nya begitu padat dan sama sekali tidak bisa di wakilkan kepada siapapun. Termasuk reyhan.
Jeny menghela nafas. Tiba tiba jeny teringat akan kedatangan lorenzo 2 jam lalu.
__ADS_1
“By.. Tadi kak lorenzo kesini.”
Tomy mengeryit. Kemarin pria itu mengirimkan bunga. Dan sekarang dengan sangat berani datang ke rumahnya dan menemui istrinya. Lorenzo sepertinya memang tidak menghargai tomy sebagai suami jeny.
“Dia bilang dia dari yogyakarta. Dia kesini nganterin oleh oleh untuk aku.”
“Terus kamu terima?” Tanya tomy langsung.
Jeny menganggukan kepala dengan senyuman di bibirnya.
“Hhh.. Untuk apa sih sayang.. Kalau kamu terima itu sama aja kamu nggak ngehargain aku..”
Jeny meraih tangan tomy kemudian mencium punggung tangan besar pria itu. Jeny tidak bermaksud tidak menghargai suaminya. Jeny hanya tidak mau seorang sakit hati karnanya.
“Aku terima juga untuk bibi dan mbak sisi by.. Aku hanya mencoba untuk menghargai pemberian seseorang.”
Tomy berdecak. Tidak di hargai pemberianya memang sakit. Tomy juga pernah merasakanya dan itu karna jeny yang menolak pemberianya.
Pertanyaan tomy membuat jeny terdiam. Jeny memang pernah menolak pemberian nafkah tomy. Jeny bahkan mengembalikanya di sertai dengan kata kata yang tajam. Tapi saat itu jeny melakukanya saat rasa kecewa menguasai hatinya.
“Kamu ingat sayang? Kamu mengembalikan uang transferan aku di kantor.” Senyum tomy hambar.
Air mata jeny menetes. Jeny sadar dirinya memang salah. Tapi apa yang tomy lakukan padanya juga salah.
“Ya tuhan... Maaf.. maaf sayang..”
Tomy langsung menyeka pipi basah jeny dengan ibu jarinya. Tomy tidak bermaksud mengungkit kembali masalahnya dengan jeny. Dan tomy bisa memaklumi sikap jeny saat itu padanya. Toh tomy juga melakukan kesalahan yang mungkin sangat tidak mungkin bisa di lupakan oleh istrinya.
“Aku yang minta maaf..” Lirih jeny menyentuh tangan tomy yang berada di pipinya.
"Enggak sayang.. Aku yang salah. Aku yang membuat kamu sakit.. Aku minta maaf.. Kamu boleh pukul aku.. Kamu boleh caci maki aku.. Bahkan kamu boleh bunuh aku kalau kamu mau.” Tangis tomy dengan suara lirih nan bergetar.
__ADS_1
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita cantik itu kemudian memeluk lembut suaminya. Tidak ada yang perlu di salahkan. Karna menurut jeny semua yang sudah berlalu tidak perlu di ungkit kembali. Yang perlu mereka lakukan adalah meninggalkan yang telah lalu dan menata kembali masa depan mereka juga anak anak mereka dengan baik.
Jeny mengusap lembut kepala tomy yang dia dekap di dadanya. Wanita itu ikut meneteskan air matanya mengingat peliknya hubungan pernikahan mereka. 5 tahun tanpa kabar dari tomy adalah masa masa terberat untuk jeny. Jeny memperjuangkan semuanya terasa seorang diri tanpa tau perjuangan tomy di amsterdam.
“Kita perbaiki semuanya by.. Kita lihat ke depan dan jangan lagi menoleh kebelakang. Kita tuju kehidupan indah kita juga anak anak kita sama sama.” Bisik jeny.
Tomy menganggukan kepalanya. Beruntung jeny memiliki sikap yang bijak dan dewasa. Wanita itu menyikapi semua masalah mereka dengan hati lapang. Dan tomy merasa sangat beruntung memiliki istri seperti jeny.
“Aku cinta kamu.. Sangat mencintai kamu..” Ungkap tomy sambil mengeratkan lingkaran tanganya di perut dan pinggang jeny.
“Ya.. Aku juga..” Balas jeny tersenyum.
Mereka berdua berpelukan sampai akhirnya jeny menutup matanya. Tomy yang menyadari nafas teratur istrinya pun segera melepas tangan wanita itu yang melingkari lehernya. Tomy menghela nafas. Dengan pelan tomy membenarkan posisi jeny agar terasa nyaman.
Tomy menelan ludahnya. Pria itu menatap wajah damai istrinya. Jika wanita lain mungkin tomy sudah di tinggalkan. Tapi wanita itu jeny, sahabat dari kecilnya. Wanita yang luar dalam mengenalnya dengan baik. Wanita hebat yang mampu memahami dan mencintainya dengan penuh kesabaran.
“Ya tuhan.. Lindungi istri dan anakku..” Batin tomy berdo'a pada sang pencipta.
Deringan ponsel membuat tomy menghela nafas. Tidak mau membuat istrinya terganggu karna deringan ponsel di sakunya tomy pun segera meraih ponsel dalam saku celananya dan mengangkatnya.
“Ya rey... Ada apa?” Tanya langsung tomy pada reyhan.
“Pak saya di depan rumah pak tomy sekarang.”
Tomy langsung melangkah menuju pintu penghubung balkon. Pria itu menatap reyhan yang berdiri di depan mobilnya. Tomy memang menyuruh reyhan untuk datang tadi.
“Kamu masuk dulu rey. Sebentar lagi saya turun.” Kata tomy.
“Baik pak.” Jawab reyhan.
Tomy memutuskan sambungan telephone nya kemudian melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya. Tomy menghampiri jeny yang terlelap di atas ranjang kemudian mengecup lama kening wanita itu. Setelah mencium jeny, tomy beralih mencium perut jeny dengan kedua mata tertutup. Pria itu tersenyum menatap perut jeny yang mulai terlihat membuncit.
__ADS_1
“Sehat sehat sayang papah..”