Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 194


__ADS_3

Jeny menatap angel yang sedang menyapukan kuasnya di atas permukaan kanvas. Senyum jeny mengembang. Ternyata angel begitu mahir melukis.


“Kata dokter axel namaku angelica mawardi.”


Jeny tersenyum mendengarnya dengan kedua mata yang terus fokus pada kanvas dimana Angel terus menyapukan kuas nya menyulap kanvas putih bersih itu menjadi lukisan sketsa wajah seorang pria tampan. Jeny tau wajah siapa yang sedang di lukis angel. Siapa lagi kalau bukan wajah tampan dokter axel.


“Dokter Axel?” Senyum jeny bertanya pada angel.


“Ya. Dokter axel. Bagus tidak?” Senyum manis angel menatap hasil lukisanya sendiri.


Jeny menganggukan kepalanya. Sadar angel tidak melihatnya jeny pun menjawabnya dengan ucapan.


“Bagus. Dokter axel sangat tampan.” Puji jeny tersenyum manis.


“Dia nggak hanya tampan. Tapi juga baik hati. Aku sangat berhutang budi pada dokter axel. Dia mau merawatku juga menjagaku dengan baik.”


Jeny diam. Dokter axel memang orang yang baik meskipun kadang bersikap dingin. Jeny melirik balutan perban di kedua pergelangan tangan angel juga kakinya.


“Tangan sama kaki kamu kenapa mbak?” Tanya jeny memberanikan diri untuk bertanya.


Angel menundukan kepalanya. Wanita itu menatap kedua tanganya kemudian beralih pada kedua kakinya.


“Ini karna ikatan. Dokter axel mengikatku di atas ranjang itu. Dan sekarang lihat ikatan itu beralih di pinggangku.” Jawab angel kemudian menunjukan ikatan di pinggangnya pada jeny.


Jeny menghela nafas. Wanita cantik berperut buncit itu menatap kasihan pada angel. Jeny yakin luka di pergelangan tangan dan kaki angel cukup parah hingga dokter axel membalutnya dengan perban.


“Entah seperti apa mengerikanya aku sampai harus di ikat seperti tawanan setiap hari. Tapi dokter axel tidak seperti penjahat. Dia baik. Dia bahkan bersedia menyuapi dan membersihkan aku.” Lanjut angel.


Jeny tidak tau harus berkata apa. Tidak mungkin jeny mengatakan angel sempat gila dan terus berteriak mengancam pada siapapun.


“Oya aku belum tau siapa kamu. Nama kamu siapa?” Tanya angel tersenyum manis menoleh dan menatap jeny yang duduk di kursi di sampingnya.


“Aku jeny mbak..” Jawab jeny mengulurkan tanganya. Biarlah semuanya berjalan semestinya.


“Nama yang cantik, tapi juga tangguh.” Senyum angel menyambut tangan jeny dan menjabatnya erat.

__ADS_1


“Berapa usia kandungan kamu?”


“7 bulan mbak. Memasuki 8 bulan.” Jawab jeny tersenyum bangga sambil mengusap perut buncitnya setelah angel melepas tanganya.


“Boleh aku memegangnya?” Tanya angel.


Jeny menatap angel. Tatapan penuh harap angel membuat jeny tida tega. Meskipun sebenarnya jeny masih sedikit was was mengingat bringasnya angel saat mengancamnya dan tomy.


“Iya. Boleh...”


Angel berlahan mengangkat tanganya dan mendaratkan dengan lembut di perut buncit jeny. Di usapnya lembut perut jeny dengan senyuman yang terukir manis di bibirnya.


“Apa aku juga bisa hamil seperti ini?”


Jeny hanya diam saja. Mungkin memang benar, angel tidak mengingat apapun.


“Pasti sangat senang ya jen.. Apa mungkin aku bisa hamil kalau sama dokter axel?”


Tepat saat itu tomy, leo, dan dokter axel masuk. Mereka bertiga terdiam mendengar apa yang di katakan oleh angel. Tomy dan leo yang berada di sisi kanan dan kiri dokter axel menoleh kompak menatap dokter axel yang terpaku di tengah. Sadar menjadi objek tatapan leo dan tomy dokter axelpun langsung berusaha untuk terlihat biasa saja.


“Itu hanya omong kosong saja.” Katanya kemudian berlalu.


Jeny yang menyadari kehadiran dokter axel yang sedang mendekat hanya bisa meringis saja. Tidak sopan rasanya jika mengiyakan pertanyaan angel.


“Eh dokter.” Senyum jeny.


Angel langsung menoleh. Senyum manisnya mengembang sempurna membuat wajahnya yang mulai segar kembali terlihat semakin cantik.


“Hay dokter ganteng.” Senangnya begitu melihat dokter axel berdiri di depanya.


Dokter axel hanya diam saja. Pria tampan itu selalu merasa salah tingkah jika sudah berada di depan angel. Apa lagi sekarang angel begitu sangat bawel dan sering memujinya secara terang terangan.


“Kamu..”


Ucapan dokter axel terhenti ketika kedua matanya melihat sebuah sketsa wajah di permukaan kanvas yang sengaja dia sediakan untuk angel. Dan seketika ingatan tentang masa lalu indahnya dan angel langsung membayanginya. Dokter axel masih sangat mengingat saat itu dirinya dan angel masih di menimba ilmu di sebuah universitas di jakarta. Mereka masih saling mencintai saat itu. Dan angel yang memang sangat lihai melukis dengan sangat apik membuat sketsa wajahnya.

__ADS_1


“Bagaimana dokter? Bagus tidak? Dokter suka?” Tanya angel antusias.


Jeny yang melihatnya tersenyum. Mungkin angel memang diam diam masih mencintai dokter axel. Buktinya dalam keadaan lupa ingatanpun angel bisa begitu merona dan antusias di depan dokter tampan itu.


“Biasa saja.” Jawab dokter axel dingin.


Bibir angel langsung mengerucut sebal. Wanita itu langsung tidak semangat mendengar jawaban dingin dokter axel.


“Dokter mah..”


“Jeny, maaf sekarang sudah malam. Kamu juga sedang hamil. Ada baiknya kamu pulang sekarang. Besok atau kapan kapan kamu bisa kesini lagi. Kesehatan kamu dan bayi kamu sangat penting.” Senyum dokter axel menatap jeny yang masih duduk di kursinya.


Jeny menganggukan kepalanya. Saat jeny hendak bangkit dokter axel dengan sigap mengulurkan tanganya begitu juga dengan angel. Jeny yang sempat bingung terdiam sesaat namun akhirnya wanita berperut buncit itu tersenyum dan meraih tangan dokter axel dan angel dengan kedua tanganya. Jeny bangkit berdiri dengan bantuan dokter axel dan angel yang ada di depanya.


“Terimakasih dokter, Mbak angel.” Senyum jeny menatap keduanya.


“Ya.”


“Sama sama jeny.” Jawab angel tersenyum manis.


Dokter axel melirik angel sekilas. Pria itu seperti mengenal kembali sosok malaikat angel yang pernah singgah dengan apik di hatinya di masa lalu.


“Ya sudah kalau begitu saya pulang ya mbak, dokter..” Senyum jeny kemudian berlalu dari hadapan keduanya.


Tomy yang masih berdiri berjajar dengan leo di depan pintu tersenyum melihat istrinya yang sedang melangkah menghampirinya. Pria itu meraih mesra pinggang jeny dan menuntunya lembut keluar dari kamar angel.


Sedang leo, pria itu masih tetap berdiri di tempatnya menatap angel yang memang terlihat sangat senang berada di sisi dokter axel.


“Eemm.. Saya antar pak tomy dan jeny ke depan.” Kata dokter axel kemudian berlalu dari hadapan angel untuk menyusul jeny dan tomy.


Ketika melewati leo dokter axel berhenti dan terdiam sesaat. Dokter axel tau dan paham bagaimana perasaan leo pada angel. Meskipun memang pria itu pernah berhasil membuat angel berpaling darinya tapi dokter axel tau leo adalah pria yang baik.


”Saya ke depan sebentar.” Kata dokter axel kemudian berlalu melewati leo.


“Oke..” Angguk leo tersenyum tipis.

__ADS_1


Leo beralih kembali menatap angel. Pria tampan itu kemudian melangkah pelan menghampiri angel. Di tatapnya lekat angel dari atas sampai bawah. Kecantikan alami wanita itu berlahan mulai kembali dan itu berkat dokter axel yang begitu telaten dan siaga menjaganya.


“Pak leo..”


__ADS_2