
Besoknya tomy langsung menyuruh reyhan untuk membawa susan ke rumahnya. Tomy enggan menjemput adiknya itu karna susan selalu saja mencari celah untuk menggodanya. Tomy bukan tidak tahan dengan godaan susan. Tapi tomy merasa muak karna susan adalah adik kandungnya sendiri. Tomy juga merasa sangat tidak pantas jika susan berani menyentuhnya seperti wanita penggoda.
Susan keluar dari mobil reyhan dengan gaya angkuhnya. Wanita itu menatap sekitarnya dan menatap bangunan mewah di depanya. Susan merasa sangat senang karna akhirnya tomy mengundangnya datang ke rumah.
“Ini rumah kakak?” Tanya susan melirik reyhan yang juga ikut turun dari mobilnya.
“Ya.” Jawab reyhan dingin.
Susan terkikik geli mendengar jawaban dingin reyhan. Susan tau reyhan marah padanya karna susan memakai banyak uangnya. Susan juga tidak lupa membeli ponsel baru yang pasti harganya tidak murah.
“Asal kamu tidak menghalangiku bersama kakak, aku akan mengganti semua uang yang aku pakai semalam.” Katanya dengan nada meledek.
Reyhan tertawa mendengarnya. Uang tidak akan bisa membuat kesetiaanya pada tomy pudar. Uang bisa dengan mudah reyhan dapatkan. Tapi bos seperti tomy tidak akan bisa dia jumpai dimanapun reyhan mencari.
“Kamu pikir saya orang yang mendewakan uang heh? Maaf saya bisa mendapatkan uang bahkan lebih dari yang kamu punya mbak. Dengan cara yang jujur dan baik. Bukan menipu.” Ucap reyhan menatap susan sinis.
Susan mendelik mendengarnya. Wanita itu pikir reyhan akan tergiur jika dirinya mengatakan akan mengganti uang yang sudah di pakainya. Tapi ternyata reyhan bahkan berani menghinanya.
“Kamu..”
“Masuk !” Suruh reyhan tegas.
Susan menahan nafasnya sejenak. Menghadapi reyhan memang tidak semudah membalikan tangan. Reyhan selalu bisa membalikan apa yang di katakanya.
“Awas kamu.” Ancam susan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah tomy.
Reyhan menghela nafas. Pria tampan itu tampak memikirkan sesuatu. Sebelum susan mengatakan mencintai tomy sebelumnya reyhan pernah bertemu dengan susan saat susan masih berada di bangku sekolah. Wanita itu memang manja tapi bersikap manis pada tomy layaknya adik yang bersikap manja pada kakaknya. Tapi beberapa tahun belakangan entah kenapa reyhan merasa aneh dengan sikap susan. Susan sangat berubah. Sikap manisnya berubah menjadi sikap agresif pada tomy. Padahal dulu susan tidak pernah memperlihatkan tanda tanda mencintai kakaknya sendiri.
“Kamu sudah datang..”
Susan berhenti melangkah ketika mendengar suara seorang wanita. Susan langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dimana jeny sedang duduk santai di atas sofa tunggal dengan menyusui faraz.
“Selamat datang adikku..” Senyum jeny menatap susan yang menatapnya tidak suka.
“Mana kakak?” Tanya susan tidak ingin basa basi.
__ADS_1
Jeny menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum lagi. Susan sama sekali tidak punya sopan santun dalam bertamu ke rumahnya. Susan bahkan menatapnya seperti menatap orang asing yang bukan keluarganya.
“Duduk dulu susan..” Kata jeny tenang.
Susan tersenyum miring. Susan akui jeny memang sangat cantik. Meskipun memang sepertinya tinggi badanya tidak semampai sepeti tingginya.
“Kamu jeny bukan?” Tanya susan sambil melipat kedua tanganya di bawah dada dan melangkah mendekat pada jeny.
Jeny tetap tenang dan duduk di tempatnya. Wanita itu tidak gentar apa lagi merasa takut saat susan mendekat padanya.
“Dimana sopan santunmu sebagai mahasiswa teladan juga model ternama susan? Aku kakak iparmu. Seharusnya kamu bisa lebih sopan memanggilku.”
“Omong kosong. Aku lebih tua darimu. Jeny.” Sela susan cepat.
Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian menatap wajah tampan putranya yang sedang asik menyusu padanya.
“Lebih tua atau lebih muda aku tetaplah kakak iparmu. Istri dari kakakmu. Tomy.”
Susan mengepalkan kedua tanganya mendengar apa yang di katakan jeny. Susan sangat tidak suka mendengar jeny yang membanggakan statusnya sebagai istri tomy.
Jeny tertawa mendengarnya. Dengan pelan jeny bangkit dari duduknya kemudian berdiri tepat di depan susan. Jeny menegakkan kepalanya menatap susan yang jauh lebih tinggi darinya karna tinggi susan memang hampir sama dengan tinggi tomy.
“Atas dasar apa kamu mengatakan itu adikku?” Tanya jeny meledek.
Susan menatap tajam pada jeny kemudian beralih pada faraz yang masih asik menyusu pada jeny.
“Lihat kan? Namanya faraz. Dia keponakan kamu. Hasil cinta kami berdua.” Kata jeny memamerkan putranya.
Susan tertawa meledek. Wanita itu hendak menyentuh faraz namun jeny dengan cepat memundurkan langkahnya. Jeny tidak mau susan sampai melukai putranya.
“Tanganmu kotor. Cuci dulu jika ingin meyentuh faraz.” Katanya tenang.
“Huh. Aku tidak sudi. Dan dia bukan keponakanku. Tapi aku tidak keberatan kalau menjadi ibu tirinya.”
Jeny memejamkan kedua matanya. Menghadapi susan tidak bisa dengan kepala panas. Jeny harus bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Jeny juga harus bisa meredam emosinya.
__ADS_1
“Terserah apa kata kamu susan. Yang jelas tomy hanya mencintai aku. Dan dia hanya menyayangi kamu sebagai adiknya. Tidak lebih dari itu..”
“Kamu..”
“Papah pulang..”
Susan tidak meneruskan apa yang ingin di katakanya. Wanita itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati tomy yang sedang melangkah dengan cepat ke arahnya.
Susan merentangkan kedua tanganya. Senyumnya terukir begitu manis menyambut kedatangan pria yang di cintainya. Dan susan ingin sekali merasakan hangatnya pelukan tomy yang tidak pernah sekalipun wanita itu rasakan selama mencintainya.
Tomy berhenti sejenak ketika sampai di depan susan. Pria itu menatap susan dari atas sampai bawah. Tomy sungguh muak melihat cara adiknya berpakaian. Terlalu sexy dan terbuka menurutnya. Dan itu membuatnya merasa risih menatapnya.
“Kakak..” Senyum susan merasa senang.
Tomy menghela nafas kemudian melewati susan begitu saja. Dan hal itu berhasil membuat senyum di bibir susan langsung sirna. Susan kemudian membalikan badanya. Kedua tanganya terkepal erat saat melihat tomy yang malah memeluk dan mencium mesra jeny di depanya. Tomy bahkan mencium lama bibir jeny seolah sedang memamerkan kebahagiaanya pada susan.
“Kamu udah makan by?” Tanya jeny sambil menyalimi suami tampanya itu setelah pagutanya terlepas.
“Sudah. Tapi aku belum makan kamu sayang.. Boleh tidak?”
Mendengar itu susan merasa dadanya bergemuruh. Nafasnya memburu dengan ubun ubunya yang terasa mendidih merasa jengkel melihat tomy dan jeny yang sengaja memamerkan kemesraan di depanya.
“Kakak. Aku disini.” Katanya setengah berseru.
Tomy mengalihkan perhatianya dari wajah cantik jeny pada susan yang berdiri sekitar 1 meter darinya. Tomy kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Aku tidak buta susan. Aku juga melihat kamu disini.” Katanya santai.
“Kalau kakak melihat aku kenapa lakuin itu tadi? Apa kakak tidak memikirkan perasaan aku?” Tanyanya dengan wajah kesakitan.
“Memangnya kenapa? Wajar bukan aku memanjakan istriku sendiri? Wajar bukan aku menciumnya. Atau kamu ingin melihat yang lebih dari sekedar ciuman?”
Susan menggelengkan kepalanya. Entah harus bagaimana dirinya menarik perhatian tomy.
“Kamu jahat kak..”
__ADS_1