Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 292


__ADS_3

Paginya tomy langsung mengajak susan menemui kedua orang tuanya. Tomy juga mengajak serta jeny dan putranya. Meskipun awalnya memang jeny menolak karna masih merasa tidak sebanding dengan susan namun setelah di bujuk akhirnya jeny mau.


Sedangkan untuk reyhan, pria itu harus di rawat secara intensif di rumah sakit karna luka luka yang di deritanya.


“Kak jeny...”


Jeny menoleh dan tersenyum tipis pada susan yang duduk di sampingnya. Kebetulan keduanya duduk di kursi belakang sedang tomy sendirian di depan mengemudikan mobilnya.


“Ya susan. Kenapa?” Saut jeny dan bertanya dengan suara pelan.


Susan menatap jeny kemudian beralih pada faraz yang terlelap di dekapan hangat jeny.


“Boleh tidak aku gendong faraz?” Tanya susan beralih kembali menatap jeny penuh harap.


Jeny terdiam. Faraz tidak pernah di gendong oleh orang lain. Meskipun memang semalam jeny melihat sendiri faraz tidak menangis berada di gendongan susan namun sebagai ibu rasa khawatir itu tetap merayapi hati jeny. Jeny takut faraz terbangun dan menangis karna merasa tidak nyaman di gendongan susan.


“Kakak nggak usah takut. Aku udah biasa kok gendong bayi.. Aku kan juga sering berkunjung ke panti asuhan dan mengajak main anak anak disana.” Lanjut susan yang mengerti ke khawatiran jeny.


Mendengar itu jeny tersenyum.


“Tentu saja boleh..” Jawabnya.


Susan bersorak senang. Wanita itu kemudian menerima faraz yang di berikan oleh jeny ke gendonganya. Susan sungguh sangat merasa gemas pada keponakanya itu. Dan susan juga sangat tidak sabar menunggu faraz besar agar lekas bermain denganya.


“Cepet besar ya faraznya tante.. Nanti tante bakal ajarin faraz main bola, terus ilmu bela diri.. Terus juga melukis. Tante sangat suka melukis.”


Jeny tertawa geli mendengar ocehan susan. Susan memang sangat supel dan gampang sekali bergaul. Cara bicaranyapun begitu asik di dengarkan dan tidak menyombongkan diri meskipun memang susan sangat pintar dalam segala hal.


“Susan..” Panggil jeny pelan.


“Ya kak..” Toleh susan tersenyum menatap jeny.


“Kalau kakak boleh tau kenapa kamu nggak operasi saja wajah kamu?” Tanya jeny hati hati.


Susan tersenyum menanggapinya.


“Rencananya begitu kak.. Tapi kalau memang dulu memang aku nggak bisa. Maria mengancam akan membunuh daddy kalau wajahku sembuh..” Jawabnya tersenyum tanpa beban.


Jeny terdiam. Apa yang di hadapi oleh susan pasti sangat tidak mudah. Susan hidup dalam ancaman selama beberapa tahun terakhir.


“Ekhem.. Pak supir mau nanya.”

__ADS_1


Jeny dan susan mengarahkan pandanganya ke depan pada tomy yang sedari tadi diam dan fokus dengan kemudinya.


“Di depan ada super market. Apa ada sesuatu yang mau anda sekalian beli?”


Jeny dan susan tertawa mendengarnya. Tomy sedang membuat lelucon yang sebenarnya sangat tidak lucu namun terkesan menggelikan.


“Apa sih kamu by.. Garing tau nggak.”


“Tau nih kakak.. Nggak lucu wle..” Timpal susan sambil memeletkan lidah meledek tomy.


Tomy berdecak mengurucutkan bibir tipisnya. Pria itu pura pura memasang wajah BT nya yang tentu tidak di gubris oleh adik juga istrinya. Namun dalam hatinya tomy merasa sangat lega karna ternyata istri dan adiknya bisa akur.


10 Menit berlalu mobil tomy pun sampai tepat di depan kediaman kedua orang tuanya. Susan yang memang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tua kandungnya langsung menyerahkan kembali faraz pada jeny. Setelah itu susan segera turun dari mobil tomy dan berlari masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya tanpa rasa ragu sedikitpun. Susan bahkan tidak merasa khawatir sama sekali jika mamah dan papahnya tidak lagi mengenalinya karna wajahnya yang rusak.


“By.. Susan..” Lirih jeny khawatir.


Tomy hanya bisa menghela nafas. Kedua orang tuanya mungkin memang tidak akan mengenali susan karna tomy memang tidak pernah menunjukan rupa susan yang sekarang.


“Ayo kita susul sekarang..” Ajaknya pada jeny.


Jeny menganggukan kepalanya setuju. Wanita itu juga khawatir susan akan sedih jika sampai kedua orang tuanya terkejut, bahkan tidak mau mengakuinya mengingat tomy yang tidak pernah memperlihatkan photo susan sebelumnya.


“Siapa kamu? Kenapa tiba tiba masuk ke rumah saya?”


“Mah.. Ini susan mah..” Lirih susan sedih.


Mamah tomy menggelengkan kepalanya. Wanita itu menatap ngeri wajah rusak susan. Putrinya sangat cantik tidak menyeramkan seperti wanita yang ada di depanya.


“Jangan bohong. Dan jangan mengaku ngaku sebagai anak saya.” Katanya melangkah mundur.


Susan melangkah maju berusaha mendekati mamahnya. Entah harus bagaimana dirinya menjelaskan.


“Mah.. Ini susan mah.. Susan bungsunya mamah..”


“Stop. Tolong berhenti. Jangan dekati saya atau saya akan teriak. Kamu pergi sekarang dari rumah saya.” Tolak mamah tomy menyuruh untuk susan berhenti mencoba mendekatinya.


Mendengar itu susan meneteskan air matanya. Susan mengerti dan juga faham. Mamahnya mungkin tidak mengenalinya karna wajahnya yang memang terlihat menyeramkan.


“Mamah..”


Suara berat tomy membuat mamahnya langsung menoleh. Wanita itu buru buru berlari mendekat pada tomy dan menatap waspada pada susan yang hanya diam dalam tangisnya.

__ADS_1


“Tomy, kebetulan kamu disini nak. Tolong usir wanita itu. Usir wanita cacat itu. Mamah takut dia adalah suruhan maria.. Mamah nggak mau papah kenapa napa nak..”


Susan menggelengkan kepalanya. Susan yakin maria pasti sudah menyakiti mamahnya sampai membuatnya begitu waspada dan ketakutan melihatnya.


“Mah.. Itu susan mah.. Susan bungsunya mamah.. Wajahnya memang sudah tidak cantik lagi seperti dulu.. Dan itu karna maria..” Jelas tomy menatap wajah takut sang mamah lembut.


“Apah..” Lirih mamah tomy menelan ludahnya tidak percaya.


“Tapi..”


“Mah.. Maria sudah ada di tempat yang seharusnya. Dia juga sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatanya..” Sela tomy kembali menjelaskan.


Mamah tomy meneteskan air mata mendengarnya. Wanita itu kemudian menoleh pada susan yang hanya diam di tempatnya dengan sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Jadi.. Dia.. Bungsunya mamah..” Lirih mamah tomy dengan suara bergetar.


“Ya mah..” Jawab tomy tersenyum.


Mamah tomy berlahan mendekat pada susan. Wanita itu menyentuh lembut pipi cacat putri bungsunya.


“Bagaimana mungkin nak..” Lirihnya menangis.


Susan tersenyum merasakan belaian lembut mamahnya. Wanita itu meraih lembut tangan mamahnya yang berada di pipinya kemudian mencium tangan mamahnya.


“Susan kangen banget sama mamah..” Ungkapnya.


Berlahan senyum mamah tomy terukir bersamaan dengan derasnya air mata yang mulai membasahi pipi tirusnya. Dengan lembut di raihnya tubuh susan dan di peluknya erat. Tangis haru mewarnai pertemuan mereka berdua yang sudah bertahun tahun tidak bisa saling melepas rindu karna ulah maria.


Jeny yang melihat itu tersenyum. Wanita itu melirik tomy yang berada di sampingnya. Prianya tetap berdiri di tempatnya dengan senyuman juga air mata haru yang membasahi pipi tirusnya.


“Tidak mau bergabung by?” Tanya jeny lembut.


Tomy menolehkan kepalanya menatap jeny. Dan air mata pria tampan itu kembali menetes membasahi pipinya.


“Jangan menangis di depan anak kita.. Sana, peluk mamah sama susan.. Aku tau kalian sangat merindukan moment ini.” Senyum jeny sambil mengusap air mata yang membasahi pipi tomy dengan tanganya yang bebas.


Tomy tersenyum. Pria itu meraih dan menggenggam lembut tangan jeny yang mengusap air mata di pipinya kemudian menciumnya penuh cinta.


“Terimakasih atas segala pengertianya sayang..” Lirih tomy.


Jeny menganggukan kepalanya kemudian menggerakan kepalanya memberi kode agar suaminya mendekat dan bergabung dengan adik dan mamahnya.

__ADS_1


Tomy mengangguk dan segera melangkah cepat menghampiri adik dan mamahnya. Tomy memeluk keduanya penuh rasa haru. Kini kehidupanya terasa sangat lengkap. Adiknya sudah kembali dalam keadaan baik baik saja.


__ADS_2