Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 109


__ADS_3

Setelah menuruti kemauan jeny untuk makan makanan keju kejuan, tomy pun membawa jeny kembali ke apartemen. Pria tampan itu juga tidak lupa membeli beberapa jenis buah untuk membuat rujak di apartemenya nanti.


“Kamu istirahat langsung yah setelah ini..” Kata tomy ketika mereka keluar dari lift.


Jeny mencebikkan bibirnya. Wanita cantik itu langsung menghentikan langkahnya membuat tomy juga ikut berhenti.


“Loh kenapa sayang?” Tanya tomy bingung.


“Memangnya setelah ini kamu mau kemana? Kamu mau ninggalin aku sendirian lagi di apartemen? Kamu mau biarin aku jenuh dan bosan sendirian seperti rapunzel yang terkurung tanpa seorang teman? Aku nggak mau.”


Tomy menelan ludahnya mendengar serentet pertanyaan tidak bersahabat jeny. Apa lagi wanita cantik itu mengakhiri pertanyaanya dengan penolakan tegas.


“Eemm.. Bukan begitu sayang.. Aku..”


“Pokonya aku nggak mau kamu pergi kemanapun. Kamu harus temenin aku istirahat.” Sela jeny tidak mau di bantah.


Tomy menghela nafas. Jeny sangat sensitif terhadap kata apapun sekarang. Wanita itu juga sampai mengira dirinya akan pergi meninggalkanya siang itu. Padahal niat tomy selama istrinya itu istirahat tomy akan mencari video cara cara membuat rujak. Karna jujur, tomy bukanlah pria yang bisa dan tau cara memasak ataupun membuat makanan seperti rujak.


“Huft.. Oke.. Kita istirahat siang sama sama.” Senyum tomy akhirnya.


“Kok kaya terpaksa gituh? Kamu nggak mau temenin aku?” Tanya jeny dengan tatapan penuh selidik.


Tomy berdecak pelan. Jeny sedikit menyebalkan jika sedang seperti itu. Tomy memejamkan kedua matanya. Jeny pasti seperti itu karna hawa janin dalam kandunganya. Dan janin dalam kandungan jeny adalah anaknya.


“Nggak sayang.. Aku mau banget dong temenin kamu.. Ya udah yuk..?” Senyum tomy memperluas rasa sabarnya.


Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian melepaskan genggaman tangan tomy. Dan itu membuat tomy kembali merasa bingung dengan tingkah istrinya itu.


“Sayang...”


“Aku mau di gendong...” Rengek jeny dengan ekspresi yang langsung berubah memelas dan kedua tangan di rentangkan.

__ADS_1


Tomy terkekeh. Istrinya benar benar sangat menggemaskan kali ini. Mood wanita itu sangat gampang sekali naik turun. Sebentar marah namun sebentarnya lagi langsung merengek manja padanya.


Tomy langsung meraih tubuh mungil jeny dan menggendongnya ala bridal style.


“Jangan suka ngambek sayang.. Nanti aku tambah gemes sama kamu..” Kata tomy sambil mengecup singkat pipi chuby jeny.


Jeny terkekeh mendengarnya. Wanita itu mengalungkan tas slempang yang warnanya sama dengan dress nya ke leher tomy kemudian mengalungkan kedua tanganya di sana.


“Udah ayo.. Aku udah capek banget..”


“Siap tuan putri..” Balas tomy dengan nada tegas.


Kekehan jeny kembali terdengar. Jeny menyenderkan kepalanya mencari kenyamanan di dada bidang suaminya yang mulai melangkah membawanya menuju apartemen mereka.


Begitu sampai di dalam apartemen tomy langsung membawa istrinya menuju kamar. Pria itu tidak menurunkan jeny di atas ranjang melainkan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


“Loh tomy kok...”


Jeny terdiam. Ucapan suaminya memang benar. Kalau jeny langsung rebahan di atas ranjang, dirinya pasti akan malas untuk bangun dan bersih bersih seperti cuci muka, cuci tangan, dan juga cuci kaki.


“Aku ambilin bajunya yah..” Senyum tomy mengusap lembut pipi chuby jeny.


"Oke...” Angguk jeny menjawab.


Tomy kemudian kembali keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju lemari baju mereka untuk mengambil baju ganti untuk istrinya.


Tidak sampai 20 menit jeny dan tomy sudah berada di atas ranjang. Mereka berbaring berhadapan dengan mata saling memandang satu sama lain.


“Tomy..” Panggil jeny pelan.


“Ya sayang...” Saut tomy tersenyum.

__ADS_1


“Kenapa kamu cinta sama aku?” Tanya jeny menatap tomy penasaran.


Tomy tersenyum. Tomy tidak punya alasan kenapa mencintai jeny. Yang tomy tau hanya tomy tidak ingin kehilangan wanita itu apapun yang terjadi.


“Karna aku tau kamu adalah takdir aku.” Jawab tomy dengan senyuman yang terus terukir di bibir tipisnya.


Berlahan tangan tomy terangkat dan mendarat dengan mulus di pipi chuby jeny. Pria itu membelai penuh cinta pipi istrinya.


“Sejak pertama aku liat kamu di dunia ini aku sudah bertekad untuk selalu bisa menjaga dan bersama kamu jen.. Aku nggak pernah malu walaupun dulu sering di ejek sama temen temen karna bawa kamu kemanapun aku pergi.. Aku justru bangga karna aku memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk aku jaga. Yaitu kamu.”


Jeny terdiam. Dulu saat SMP tomy memang sering di tertawakan teman temanya karna selalu berangkat dan pulang hanya bersamanya. Tomy juga selalu membawa serta dirinya meskipun tomy ada kerja kelompok bersama teman temanya. Dan saat itu jeny masih anak sekolah dasar yang selalu merengek meminta ikut pada tomy.


“Kalau memang begitu kenapa dulu kamu pergi ninggalin aku? Kamu nggak jaga aku selama 5 tahun..” Kata jeny dengan wajah sendu.


Jari jari panjang tomy menelusuri setiap inci wajah cantik jeny. Pria itu membelai lembut kulit putih bersih nan mulus istrinya dengan senyuman yang tidak kunjung pudar dari bibirnya.


“Sayang.. Aku pergi bukan tanpa alasan. Yang pertama aku ingin bisa menegakkan kepala dengan bangga saat dunia tau aku adalah suami kamu. Dan yang kedua aku ingin bisa membalas sedikit budi papah..Walaupun hanya seujung kuku yang aku bisa.”


Jeny terdiam lagi. Harta dan kekayaan jeny sudah mempunyainya. Dan jeny juga sudah menikmatinya dari lahir sampai sekarang.


“Tapi aku nggak butuh itu tomy.. Aku nggak butuh harta atau apapun yang kamu kejar..”


“Aku tau itu... Tapi sebagai seorang suami membahagiakan, memberikan fasilitas lengkap, juga menjadikan kamu sebagai ratu, itu adalah tujuan aku jeny.. Aku ingin kamu merasa nyaman dengan apa yang aku perjuangkan. Aku ingin kamu juga merasa memiliki apa yang aku miliki tanpa harus khawatir dari mana harta aku berasal. Aku ingin kamu memiliki kuasa atas apa yang aku punya tanpa harus memikirkan bahwa apa yang aku miliki adalah milik orang tua aku.”


Jeny tersenyum mendengarnya. Tomy benar benar sudah memikirkan dengan matang masa depan denganya.


“Sayang... Mungkin kamu berpikir semua yang aku kejar itu tidak penting. Tapi perlu kamu tau hidup di jaman modern seperti sekarang uang menjadi peran utama di luaran sana. Semuanya perlu biaya yang tidak sedikit. Apa lagi nanti anak anak aku juga butuh pendidikan yang tinggi..”


Jeny tertawa. Uang memang selalu menjadi peran utama di jaman modern. Jeny benar benar tidak menyangka suaminya sedewasa itu dalam berpikir tentang masa depan mereka.


“Baiklah calon papah untuk anak anakku aku mengerti sekarang. Terimakasih untuk semua perjuangan kamu. Dan semoga tuhan selalu melindungi setiap langkah yang kamu ambil di dalam kebaikan.” Senyum jeny menyentuh tangan besar tomy yang masih berada di pipinya.

__ADS_1


“Aammiinn.. Terimakasih untuk do'anya sayang.”


__ADS_2