Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 154


__ADS_3

“Puas kamu sekarang mas? Puas kamu?!”


Teriakan kemarahan angel berhasil menghentikan langkah jeny, tomy, juga dokter axel. Mereka bertiga berdiri berjajar dengan jeny yang berada di tengah menatap angel yang sedang memaki maki leo di samping mobilnya.


“Puas kamu setelah aku kehilangan anakku?! Senang kamu sekarang?!”


Angel kembali memekik dalam tangisanya. Wanita itu bahkan sampai mendorong leo hingga punggung pria itu terbentur pintu mobilnya yang tertutup.


“Kamu jahat mas. Kamu nggak punya hati. Kamu kejam !!”


Tubuh angel kemudian meluruh dan terduduk di tanah dengan tubuh bergetar. Wanita itu menangis terisak meraung raung dengan tangan terus memukuli tanah.


“Kamu jahat mas.. Hiks hiks..”


Leo yang berada di depan angel hanya diam saja. Pria itu tidak melawan ataupun membalas makian istrinya. Leo bahkan hanya pasrah saat angel memukuli dada sampai mendorong tubuhnya.


Dokter axel yang melihatnya menghela nafas. Pria itu tersenyum sinis kemudian melangkah dengan pelan mendekat pada angel dan leo.


“By...”


“Ssstt.. Sayang. Dokter axel orang baik. Aku percaya dia nggak akan melakukan hal yang tidak tidak.” Senyum tomy sambil memeluk bahu istrinya.


Jeny terdiam. Dokter axel memang orang baik. Tapi jeny takut dokter axel akan marah dan memukuli leo.


“Tapi by.. Aku takut..”


“Sayang. Percaya sama aku. Lebih baik kita pulang yah.. Sudah sore.. Kamu nggak boleh kecapek an..” Sela tomy lagi.


Jeny terdiam lagi. Wanita itu menunduk menatap tangan tomy yang mengusap penuh sayang perutnya. Berlahan seulas senyum terukir di bibir jeny. Jeny mengangguk menyetujui apa yang di katakan suaminya.


“Baiklah.. Kita pulang.” Katanya pelan.


Tomy tersenyum. Tomy menuntun jeny mesra menuju mobilnya. Bukan tomy tidak perduli pada dokter axel. Tetapi tomy yakin dokter axel bisa dengan bijak menyikapi semuanya. Toh, fani sudah tenang dengan kepergianya. Tidak ada gunanya kalaupun dokter axel memukul bahkan membunuh leo dan angel.


Dokter axel berhenti tepat di belakang angel yang terus menangis maraung penuh penyesalan. Dokter axel tersenyum. Hatinya sekarang lega. Putrinya sudah tidak akan lagi merasakan penderitaan dunia. Semuanya sudah berakhir termasuk kehidupan dunia juga perjuangan keras putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


“Tangisan kamu nggak akan bisa merubah keadaan.”


Suara dokter axel membuat angel menoleh. Dengan wajah memerah dan basah oleh air mata angel mendongak. Wanita itu semakin terisak ketika menatap wajah tampan dokter axel yang sama persis dengan wajah fani.


“Axel... Aku.. aku..”


Angel tidak bisa meneruskan ucapanya. Wanita itu terus menangis meratapi kepergian putri semata wayangnya.


Dokter axel yang berdiri di belakang angel hanya diam saja. Pria itu kemudian beralih menatap leo yang juga diam dengan wajah penuh penyesalan.


“Kalian berdua.. Sekarang tidak akan ada lagi yang mengemis cinta dan kasih sayang kalian..” Kata dokter axel.


Mendengar itu angel semakin terisak. Sedangkan leo, pria itu terus saja diam dengan segala rasa bersalah juga penyesalanya.


“Kalian juga bebas sekarang.. Dan saya juga berterimakasih.. Terimakasih karna sudah mau menemani saat saat terakhir putri saya. Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian.”


Angel menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian bangkit dan langsung memeluk tubuh tegap dokter axel.


“Axel aku...”


“Jangan memeluk pria lain di depan suami kamu..” Kata dokter axel.


“Axel tapi..”


“Jangan menangis lagi angel. Tangisan kamu tidak akan membuat fani kembali lagi. Dan juga.. Kamu nggak perlu menyesal. Meskipun fani tidak mendapatkan kasih sayang dari kamu.. Tapi fani puas mendapat kasih sayang tulus dari dokter jeny.”


Tangisan angel semakin keras. Wanita itu bahkan kembali terduduk di tanah penuh penyesalan.


“Pak leo.. Terimkasih.” Tatap dokter axel pada leo dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


Leo hanya diam saja. Pria itu menundukan kepalanya menghindari tatapan dokter axel. Leo tidak mau dokter axel melihatnya meneteskan air mata penyesalanya.


“Dan kamu angel. Semoga kamu bahagia.”


Dokter axel berlalu setelah itu. Dengan langkah lebar dokter tampan itu menjauh dari angel yang terus menangis dan leo yang terus diam. Dokter axel bahkan sama sekali tidak menolehkan lagi kepalanya kebelakang dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Kecewa, marah, juga benci dokter axel mencoba untuk mengikisnya. Kebencianya pada leo tidak akan membuatnya tenang.

__ADS_1


“Mas.. Aku mau kita cerai.”


Leo langsung mengangkat kepalanya. Pria berambut kecoklatan itu menatap tidak percaya pada angel yang masih duduk di tanah.


“Apa?” Tanyanya lirih.


“Aku mau kita cerai. Aku nggak mau terus terusan terkekang hidup sama kamu. Dan sekarang... Setelah aku kehilangan fani aku sadar, kamu bukan suami yang baik. Kamu tidak bisa menerima anak aku. Dan kamu juga selalu melarang aku menemui anak aku..”


Angel mengeluarkan semuanya. Wanita itu menatap penuh kecewa pada suaminya. Wajahnya yang cantik tampak memerah dengan mata sembab serta pipi yang basah oleh air mata.


“Angel tapi...”


“Andai saja kamu tidak melarang aku bersama fani mungkin sekarang fani masih ada. Fani masih bersama aku..!!” Pekik angel marah.


Leo menggelengkan kepalanya. Leo mempunyai alasan mengapa tidak pernah mengizinkan angel bertemu dengan fani. Dan semua itu leo lakukan karna takut dokter axel kembali menyekap angel. Dan leo juga tidak mau menerima fani yang jelas jelas bukan darah dagingnya.


“Angel aku..”


“Cukup !”


Suara tegas kakek fani membuat angel dan leo menoleh. Keduanya langsung terdiam. Leo yang menundukan kepalanya dan angel yang kembali menangis terisak.


“Kalian pikir dengan kalian bercerai cucu saya akan hidup lagi? Kalian pikir dengan kalian bertengkar disini fani akan bangun dari kuburnya?” Tanya marah kakek fani.


Pria tua renta berambut putih alami itu menggelengkan kepalanya.


“Angel, Leo. Tanah kuburan cucu saya masih basah. Bunga yang di taburkan juga masih segar. Tolong. tolong jangan membuat hati saya semakin hancur. Kalian berdua sama sama salah.” Katanya lagi.


Kakek fani menatap angel yang hanya menangis. Angel adalah putri tunggalnya. Putri yang sangat disayanginya. Putri yang sejak kecil dia jaga dengan sepenuh hati. Tapi sekarang angel menghancurkan hatinya. Angel menghancurkan harapanya.


“Kamu angel, kamu juga salah. Tidak ingatkah kamu saat kamu mencoba membunuh fani bahkan saat masih ada di dalam kandungan kamu. Seharusnya kamu sadar dari dulu angel. Apapun yang axel lakukan sama kamu fani tetap putri kamu. Putri yang lahir dari rahim kamu. Kamu ingat nak? Kamu mempertaruhkan nyawa kamu demi melahirkanya. Tapi setelah dia lahir kamu bahkan tidak mau menyentuhnya. Kamu bahkan tidak mau mengakuinya.”


Kakek fani menahan nafas. Air matanya menetes kembali mengingat betapa malang nasib cucu semata wayangnya.


“Kamu nggak perlu menangis. Kamu juga nggak perlu menyesal. Semua itu nggak ada gunanya. Fani sudah tiada. Dia sudah selesai dengan semua kesakitan yang kamu torehkan.”

__ADS_1


__ADS_2