
“Bagaimana?” Tanya tomy pada reyhan yang baru saja keluar dari ruangan dokter yang menangani rachel.
Reyhan menghela nafas. Tomy memang tiba tiba menelphone nya dan menyuruhnya untuk segera datang. Tomy juga menyuruhnya agar reyhan mengaku sebagai salah satu keluarga rachel dan menemui dokter fadly.
“Dokter bilang mbak rachel mengalami cidera yang cukup serius di bagian kepala dan lututnya pak. Dan itu mungkin akan membuat mbak rachel tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya.” Jawab reyhan.
Tomy mengeryit. Pria tampan itu merasa bingung dengan jawaban yang di lontarkan oleh asistenya.
“Maksudnya?” Tanyanya.
“Kemungkinan besar mbak rachel akan lumpuh pak.” Jawab reyhan lagi.
Tomy terdiam. Tomy tidak tau apa penyebab rachel kecelakaan. Tapi apapun itu menurutnya itu bukanlah urusanya. Rachel bukan siapa siapanya.
“Lalu apa lagi?” Tanya tomy lagi.
“Tidak ada pak.. Dokter fadly hanya berpesan supaya saya lebih memperhatikan mbak rachel agar dia tidak putus asa dan patah semangat.” Jawab reyhan.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria tampan itu menghela nafas kemudian menoleh menatap tubuh tidak berdaya rachel lewat kaca pintu ruang rawat wanita itu.
“Kamu urus dia.” Katanya kemudian berlalu.
Tomy melangkah cepat di koridor rumah sakit. Pria itu sungguh merasa bodoh karna meninggalkan jeny begitu saja untuk rachel.
Deringan ponsel di saku celana jinsnya membuat tomy berhenti melangkah. Tomy merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan ponselnya yang terus berdering.
“Mamah?”
Tomy mengeryit bingung saat mendapati sang mamah yang menghubunginya.
“Ada apa yah?” Gumam tomy lagi.
Dengan penuh tanda tanya tomy mengangkat telephone dari mamahnya.
“Ya, halo mah..”
“Dimana kamu?!”
__ADS_1
Tomy semakin merasa bingung karna nada suara mamahnya seperti orang yang sedang menahan emosi. Tidak biasanya mamahnya seperti itu. Mamahnya adalah wanita yang penuh kasih sayang dan lemah lembut.
“Tomy.. Tomy ada di rumah sakit mah..” Jawab tomy sambil menelan ludahnya.
“Sekarang juga kamu ke rumah sakit. Mamah kirim alamatnya. Jeny mengalami pendarahan.”
Kedua mata tomy langsung terbelalak. Setaunya jeny baik baik saja saat dirinya akan pergi tadi.
“Jeny masuk rumah sakit? Tapi bagaimana mungkin.. Tadi..”
“Datang sekarang.” Sela mamah tomy kemudian langsung memutuskan sambungan telphone nya.
Tomy langsung memasukan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana jinsnya. Tidak mau membuang waktu tomy pun langsung berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju alamat rumah sakit yang di kirimkan mamahnya tomy terus mengumpat. Kebetulan malam itu jalanan cukup padat sehingga mengakibatkan kemacetan. Beberapa kali tomy mengklakson mobilnya dengan perasaan marah juga kesal. Tomy benar benar tidak sabar ingin segera sampai. Tomy juga takut dan sangat khawatir akan keadaan istrinya saat ini. Apa lagi mamahnya mengatakan jeny pendarahan. Itu artinya kondisi jeny sangat gawat dan bodohnya di saat seperti itu tomy justru pergi untuk melihat kondisi rachel.
“Sayang.. Kamu harus baik baik saja..” Gumam tomy lirih.
Tidak sabar menunggu macet akhirnya tomy pun memutar arah. Tomy berusaha mencari jalan lain agar bisa cepat sampai di rumah sakit tempat istrinya sekarang berada.
1 Jam kemudian tomy sampai di rumah sakit. Pria itu berlari menuju ruang rawat istrinya. Sesampainya di depan ruang rawat jeny tomy melihat bibi dan sisi yang sedang duduk di kursi tunggu.
Mendengar suara tomy, sisi dan bibi langsung menoleh dan bangkit dari duduknya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain kemudian menatap kembali pada wajah tampan tomy yang basah oleh keringat.
“Apa yang terjadi sebenarnya. Dan kenapa kalian tidak langsung menelphone saya?” Tanya tomy lagi.
Bibi dan sisi masih diam. Mereka tidak tau harus bagaimana mengatakanya pada tomy. Karna tidak lama setelah tomy pergi jeny terjatuh dari kursi yang di dudukinya dan pingsan dengan mengalami pendarahan.
“Pak maaf.. Kami sudah berkali kali menelphone bapak tapi tidak bisa. Mungkin karna sinyal.” Jawab sisi pelan.
Tomy berdecak. Ponselnya memang tidak berdering sama sekali. Tomy kemudian masuk ke dalam ruang rawat jeny dan mengabaikan sisi dan bibi yang hanya diam tidak tau harus bagaimana.
“Kemana saja kamu?!”
Tomy tidak menghiraukan pertanyaan tegas mamahnya. Pria itu mendekat pada brankar dimana tubuh jeny terbaring lemah tidak berdaya dengan infus yang menempel di punggung tangan kirinya.
“Apa yang terjadi mah?” Tanya tomy tanpa menatap mamahnya yang berada di seberangnya tepatnya di samping kiri brankar jeny.
__ADS_1
“Kamu suaminya. Kenapa malah tanya sama mamah?”
Tomy diam. Tomy tau dirinya memang salah karna meninggalkan jeny begitu saja.
“Darimana kamu sebenarnya tomy? Kenapa nomor kamu susah di hubungi.”
Tomy menghela nafas. Tidak seharusnya dirinya pergi meninggalkan jeny di rumah hanya untuk seorang rachel.
“Temen tomy kecelakaan mah.. Tomy abis jenguk dia di rumah sakit.” Jawab tomy jujur.
Mamah tomy menghela nafas. Keadaan jeny benar benar membuatnya takut. Apa lagi menantu kesayanganya itu sampai mengalami pendarahan di usia kehamilanya yang masih sangat muda.
“Kamu tau nak? Istri kamu sedang hamil. Tidak seharusnya kamu pergi meninggalkanya hanya untuk seorang teman.”
Tomy hanya diam. Dirinya memang salah. Dan tomy menyadari itu.
“Maaf mah..” Lirih tomy.
“Minta maaf sama jeny. Bukan sama mamah.” Tegas mamah tomy.
Tomy memejamkan kedua matanya sejenak. Pria itu kemudian mendudukan dirinya di kursi samping brankar jeny. Tomy meraih tangan jeny dan menggenggamnya erat. Tomy tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan anaknya.
Tomy mencium punggung tangan jeny. Air matanya menetes menatap wajah pucat istrinya. Tomy tidak menyangka istrinya akan mengalami hal buruk seperti sekarang.
“Dokter bilang jeny terlalu kelelahan. Tapi beruntung kandunganya kuat sehingga tidak terlalu berpengaruh buruk pada janinya.” Kata mamah tomy.
Tomy memejamkan kedua matanya. Genggaman tanganya semakin erat pada tangan jeny.
“Tolong jangan seperti ini lagi tomy. Jeny butuh perhatian lebih dari kamu. Dan jeny juga butuh banyak istirahat. Jangan kamu biarkan jeny terlalu kelelahan beraktivitas.” Lanjutnya.
Tomy hanya diam saja. Tomy tau semua itu. Tapi untuk membatasi aktivitas jeny rasanya sangat tidak mungkin. Jeny masih tidak mau berhenti dari pekerjaanya.
“Mamah pulang dulu.”
Tomy masih tetap diam bahkan saat mamahnya berlalu. Tomy benar benar merasa sangat bersalah pada jeny. Andai tomy tidak pergi untuk menjenguk rachel mungkin jeny tidak akan seperti ini.
“Maafin aku sayang... Maaf..” Lirih tomy dengan air mata kembali menetes membasahi pipi tirusnya.
__ADS_1
Tomy memejamkan kedua matanya. Di kecupnya kembali punggung tangan jeny. Tomy benar benar takut sekarang. Jeny mulai lemah. Apa lagi jika sampai jeny tau tomy pergi untuk menjenguk rachel. Jeny pasti akan sangat marah padanya.
“Maafin aku sayang..”