
Tomy menyeka air matanya. Pria itu kemudian melangkah cepat menuju kamarnya. Tomy harus segera menghubungi reyhan agar menemani kemanapun jeny pergi. Saat ini jeny sedang sangat marah padanya. Jeny pasti akan terus menolak apapun yang di katakanya. Di samping itu jeny sedang hamil. Kesensitifanya pasti sedang bertambah dan bukan tidak mungkin jeny akan semakin membencinya jika tomy terus bersikukuh mengejarnya.
“Halo, Rey segera kesini. Jeny keluar dari rumah dalam keadaan marah.. Antar kemanapun jeny pergi.” Katanya tegas.
“Baik pak.” Jawab reyhan dari seberang telephone.
Tomy langsung memutuskan sambungan telephone nya. Apartemen reyhan tidak jauh dari kediamanya. Tomy yakin reyhan pasti masih sempat mencegat jeny.
Tomy menghela nafas frustasi. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tomy takut hubunganya dan jeny akan kembali buruk. Tomy juga takut jeny akan kembali meminta pisah darinya.
Deringan ponsel membuat tomy berdecak. Pria itu bangkit dan kembali meraih ponselnya yang baru saja dia hempaskan ke tengah ranjang.
Tomy mengeryit ketika melihat nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya. Penasaran tomy pun segera mengangkatnya.
“Tomy.. Aku benar benar butuh kamu sekarang.. Tolong datang..”
Rahang tomy mengeras mendengar isak tangis rachel. Padahal tomy sudah memblokir nomornya. Tapi wanita itu tidak bodoh, rachel menggunakan nomor baru untuk menghubunginya.
Tidak mau mendengar suara memuakan rachel tomy pun segera memutuskan sepihak sambungan telephone nya. Tomy tidak perduli apapun lagi tentang rachel. Semua yang terjadi pada rachel bukan urusanya. Entah rachel lumpuh bahkan mati sekalipun itu bukan urusan tomy.
Ketika hendak melempar ponselnya tiba tiba tomy terdiam. Jeny tiba tiba marah padanya. Itu pasti ada sebabnya. Tomy terdiam sesaat. Pria itu kemudian mengecek ponselnya. Rahangnya kembali mengeras. Amarahnya naik kembali ketika melihat panggilan masuk dari nomor yang sama. Tomy yakin jeny marah padanya karna mengangkat telephone dari rachel.
“Brengsek !” Umpat tomy.
Tomy langsung bangkit dari ranjang. Pria itu tidak lupa menyambar dompet juga kunci mobilnya. Rachel sudah membuat hubunganya dan jeny kembali buruk. Jeny bahkan sampai pergi meninggalkan rumah. Dan tomy tidak bisa diam saja. Tomy merasa harus memberi pelajaran pada rachel. Tidak perduli meskipun ada kedua orang tuanya. Rachel sudah salah. Dan rachel pantas mendapat amukanya.
Tomy mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal. Tatapanya begitu tajam dengan rahang mengeras menatap jalanan yang sedang di laluinya sekarang. Tomy tidak bisa lagi diam. Siapapun yang berani berulah dalam rumah tangganya harus mendapatkan balasan yang setimpal.
__ADS_1
Tidak lama tomy sampai di parkiran di depan gedung rumah sakit elit tempat rachel di rawat. Tanpa bertanya pada petugas disana tomy langsung melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat rachel. Dan ketika sampai disana ternyata ruangan itu sudah kosong dan bersih. Tomy mengumpat. Pria itu kemudian bertanya pada suster kapan rachel di bawa pulang. Tidak mau mengulur waktu apa lagi sampai mengurungkan niatnya tomy pun kembali melangkah di koridor rumah sakit untuk keluar dan menuju parkiran. Tomy mengendarai mobilnya menuju kediaman rachel dengan membabi buta. Pria itu seakan lupa dengan nyawanya yang hanya satu. Tomy juga hampir menyempet kendaraan lain namun pria itu tidak memperdulikanya. Yang ada di pikiranya sekarang adalah rachel dan jeny. Tomy harus lebih dulu memberi pelajaran pada rachel sebelum menemui istrinya dan membuatnya kembali percaya padanya.
Mobil tomy berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah rachel. Pria itu mencengkram erat stir mobilnya dengan tatapan nyalang tajam ke arah kediaman mewah rachel.
Ketika hendak keluar dari kendaraanya tiba tiba ponsel dalam saku jaket kulitnya berdering. Tomy berdecak kemudian segera merogoh saku jaketnya dan mengangkat telephone yang ternyata dari rachel.
“Halo pak..”
“Bagaimana jeny?” Tanya tomy langsung.
“Pak.. Saya tidak berhasil membuat bu jeny ikut dengan saya.. Tapi saya mengikuti taxi online yang membawa bu jeny pulang ke rumah orang tuanya.”
Tomy berdecak. Pria tampan itu memijit keningnya frustasi. Kedua orang tua jeny juga pasti akan salah faham terutama mamah jeny. Wanita itu pasti akan menginterogasinya dan mungkin juga wanita itu akan mendukung jika jeny ingin kembali bercerai denganya.
“Baiklah.. Terimakasih.”
“Sama sama pak.”
Tomy melangkah lebar di halaman rumah rachel. Tatapanya begitu tajam dengan rahangnya yang terus mengetat.
BRAK !!
Tomy menendang keras pintu utama rumah rachel. Pria itu tidak perduli jika sampai di cap sebagai pria kejam ataupun arogant. Yang tomy inginkan sekarang adalah rachel jera dan tidak mengganggunya lagi serta hubunganya dengan jeny kembali membaik.
“Nak tomy..”
Ibu rachel yang sedang membantu rachel duduk di kursi roda terkejut mendengar bunyi pintu yang di tendang keras oleh tomy. Wanita baya dengan rambut ikal sebahu itu menelan ludahnya melihat tatapan bengis tomy pada putrinya.
__ADS_1
“Akhirnya kamu datang juga..” Senyum rachel merasa senang melihat tomy berdiri di ambang pintu rumahnya.
“Aku menunggu kamu dari kemaren kemaren.” Lanjut rachel.
Tomy tersenyum sinis. Ingin sekali tomy merobek mulut manis rachel. Dengan pelan tomy melangkah mendekat pada rachel. Tatapanya begitu tajam dan penuh kebencian meskipun bibirnya mengukir senyum miring juga sinis.
“Nak tomy kamu mau apa?” Tanya ibu rachel yang dapat dengan jelas melihat tatapan penuh benci tomy pada putri tunggalnya.
Rachel menolehkan kepalanya pada ibunya yang masih berdiri di sampingnya. Rachel mengerucutkan bibirnya merasa kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh ibunya pada tomy.
“Bu.. Tomy kesini untuk aku.. Dia datang karna perduli sama aku..” Katanya menatap sebal ibunya.
Tomy menghela nafas. Pria itu menatap rachel yang tampak sangat senang menatapnya. Dan sepertinya rachel memang tidak menyadari tatapan penuh kebencian tomy padanya.
“Aku senang kamu kesini.” Senyum rachel mendongak menatap tomy yang sudah berdiri di depan kursi roda yang di dudukinya.
“Tomy aku...”
Kedua mata rachel berkaca kaca menatap kedua mata tomy. Wanita itu kemudian menundukan kepalanya sembari terisak menatap kedua kakinya yang sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
“Aku cacat sekarang..” Lirih rachel di sela isak tangisnya.
Tomy masih diam. Pria itu menunggu rachel mengungkapkan semuanya juga menumpahkan semua air mata palsunya.
Sedangkan ibu rachel, wanita baya itu menatap khawatir pada putrinya yang masih juga belum menyadari gelagat tomy.
“Aku udah nggak berguna lagi sekarang... Aku cacat.. Dan aku.. Aku nggak cantik lagi..”
__ADS_1
Tomy terkekeh mendengarnya. Lucu sekali rasanya. Rachel bisa ber ekting seolah sangat lemah dan tidak berdaya. Padahal pada kenyataanya wanita itu sangat licik dan angkuh.
“Saya tidak perduli..”