
“Bibi, mbak sisi.” Panggil jeny pada bibi dan sisi yang sedang duduk santai di belakang rumah.
Mendengar suara majikanya bibi dan sisi langsung menolehkan kepalanya. Mereka berdua dengan cepat bangkit dari duduknya.
“Ya bu.. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya bibi mewakili.
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu tersenyum dengan kedua tangan kebelakang menyembunyikan uang yang di bawanya.
“Eemm.. Capek banget yah bersihin kamar atas?” Tanya jeny merasa tidak enak hati pada kedua asisten rumah tangganya.
Bibi dan sisi saling menatap kemudian menggelengkan kepalanya.
“Tidak terlalu bu..” Jawabnya kompak.
Jeny terkekeh. Bohong sekali jika sisi dan bibi tidak merasa capek. Karna jeny melihat sendiri bagaimana keduanya menyeka peluh di kening serta sesekali terduduk di tengah tangga saat membuang sampahnya.
“Oh iya.. Ini saya ada sedikit untuk kalian berdua.. Bagi juga buat pak satpam yah..”
Jeny menyodorkan uang yang di mintanya pada tomy pada sisi dan bibi. Namun bukanya langsung menerimanya bibi dan sisi justru terlihat bingung.
“Tapi bu.. Kemarin bapak juga sudah memberikan bonus pada kami..” Kata bibi pelan.
Jeny tersenyum. Jeny juga tau itu.
“Itu kan dari bapak. Ini dari saya. Terima yah..”
Sisi dan bibi kembali saling menatap. Kemudian dengan ragu bibi menerimanya.
“Sekali lagi saya sangat berterimakasih.. Maaf sudah menambah nambahi pekerjaan kalian.” Senyum jeny kemudian berlalu dari belakang rumahnya.
Jeny mengeryit ketika melihat suaminya menuruni anak tangga dengan berlari. Pria tampan itu seperti sedang sangat buru buru.
”By..”
Panggilan jeny membuat tomy berhenti. Pria tampan itu menoleh kemudian tersenyum ketika melihat jeny melangkah mendekat padanya.
“Sayang..” Senyum tomy.
Jeny menatap penampilan suaminya dari atas hingga bawah. Tomy masih mengenakan celana hitamnya meskipun sudah mengganti kemejanya dengan kaos pendek berwarna merah menyala.
“Kamu udah mandi?” Tanya jeny.
“Belum sayang.. Nanti aku mandinya.” Jawab tomy.
__ADS_1
Jeny mengeryit. Padahal biasanya tomy selalu mandi terlebih dulu. Tidak seperti sekarang.
“Terus buru buru banget mau kemana?” Tanya jeny mengangkat sebelah alisnya menatap tomy.
“Oh aku... Aku mau ke depan sayang. Barang yang aku pesan udah sampe.” Jawab tomy tetap mempertahankan senyuman di bibirnya.
“Barang yang kamu pesan?”
Tomy meraih tangan jeny kemudian menggenggamnya lembut.
“Ayo ikut...” Ajak tomy.
Tomy kembali melangkah dengan menuntun jeny keluar dari rumahnya. Dan ketika mereka sampai di ambang pintu utama rumah mereka di halaman rumahnya sudah terparkir 2 mobil besar yang membawa 3 buah lemari kaca.
“By... Untuk apa kamu pesan ini?” Tanya jeny lirih.
“Untuk semua barang barang kamu lah sayang. Kan belum ada tempatnya.” Jawab tomy.
Jeny tersenyum. Tomy begitu sigap. Pria itu bahkan langsung memberikan tempat untuk semua barang barang jeny yang baru di keluarkan dari kadonya.
“Makasih..” Senang jeny.
“Ini nya mana?”
Tomy langsung meminta para petugas tersebut untuk membawa ke atas lemari kaca tersebut. Tomy juga meminta agar semua barang jeny langsung di bereskan dan di masukan ke dalam lemari kaca tersebut.
“Gimana? Suka?”
Jeny menganggukan kepalanya. Dalam sekejap kamar itu sudah rapi. Barang barangnya pun sudah di pindahkan dan tertata rapi di dalam lemari kaca yang baru sampai itu.
“Aku suka banget. Lemarinya bagus.” Jawab jeny.
“Syukurlah..” Senyum tomy.
Jeny menoleh. Wanita itu kemudian memeluk tubuh kekar tomy dari samping dengan senyuman manis yang terus terukir di bibirnya.
“Oya by.. Makasih juga buat uangnya tadi yah..”
Tomy mengeryit.
“Boleh aku tau untuk apa uangnya?” Tanya tomy penasaran.
“Uangnya untuk bibi, mbak sisi, sama pak satpam. Sebagai upah membersihkan kamar ini.” Jawab jeny.
__ADS_1
“Hah?” Tomy mengeryit bingung tidak tau maksud jeny memberikan upah pada ketiga pekerjanya.
“Aku nggak enak by.. Kita udah nambah nambahin pekerjaan mereka. Dan juga mereka tampak sangat kecapek an saat mondar mandir. Kamu nggak keberatan kan aku kasih uangnya sama mereka?” Manja jeny.
Tomy tersenyum. Dengan gemas pria itu menciumi seluruh bagian wajah cantik jeny. Tomy sungguh sangat bersyukur karna jeny memiliki hati mulia juga rendah hati. Jeny juga ringan tangan untuk saling berbagi dan memberi pada orang yang lebih membutuhkan.
“Nggak dong. Aku malah seneng dengernya.” Jawab tomy.
Jeny tersenyum membalas tatapan suaminya. Apa yang mereka miliki memang sudah sangat lebih dari cukup bahkan sangat berlebihan. Dan menurut jeny sudah seharusnya mereka berdua berbagi pada orang yang memang berhak mendapatkanya.
“Ya udah.. Aku mandi dulu yah..”
“Oke..”
Tomy melepaskan pelukanya kemudian berlalu keluar dari kamar tersebut meninggalkan jeny yang masih betah menatap semua isi kado pemberian tomy. Sekarang kamar itu tidak lagi kosong karna kini sudah ada 3 lemari kaca berukuran besar juga lebar yang berisi semua barang barangnya. Dari tas, sepatu, sampai aksesoris juga gaun gaunya.
Jeny menghela nafas. Tomy benar benar memenuhi semua kebutuhanya. Tomy menyediakan semua fasilitas dari yang jeny sangat butuhkan sampai yang belum jeny butuhkan. Dan sekarang jeny sadar mungkin untuk semua itu tomy sampai rela kuliah di luar negeri bertahun tahun.
Jeny memejamkan kedua matanya. Mungkin apa yang di perjuangkan tomy untuk mendapat apa yang dinikmatinya sekarang tidaklah mudah. Tomy harus rela jauh dari kedua orang tuanya juga dari dirinya. Dan disana tomy juga harus berusaha keras melakukan semuanya sendiri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat lamunan jeny buyar. Wanita cantik itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati sisi berdiri di ambang pintu kamar.
“Bu.. Makan malamnya sudah siap bu..” Kata sisi memberitahu.
“Oh iyah.. Saya tunggu bapak. Sebentar lagi kami turun..” Senyum jeny membalas.
“Baik bu...” Sisi menganggukan kepalanya kemudian berlalu.
Sedang jeny wanita itu menoleh dan menatap sekali lagi deretan lemari kaca berisi barang barangnya. Jeny kemudian berpikir sebentar lagi lemari kaca itu pasti akan bertambah 1 atau mungkin 2 lagi untuk tempat barang barang bayinya.
Jeny terkekeh sendiri membayangkanya. Wanita itu menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya kemudian melangkah keluar dari kamar itu.
“Cepet banget mandinya?” Tanya jeny mengeryit melihat suaminya yang sudah selesai menyisir rambutnya.
Tomy meringis. Pria itu memang sengaja cepat cepat karna sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Bayangkan saja, kesibukan begitu menyita waktunya sampai tomy tidak sempat makan siang hingga malam.
“Laper banget sayang...” Jujur tomy.
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian melangkah menghampiri tomy dan menggandeng tanganya.
“Ayo kita turun. Bibi dan mbak sisi sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”
__ADS_1