Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 166


__ADS_3

“Yang ini gimana by?”


“Ini juga, terus ini, ini, sama yang ini?”


Tomy hanya diam saja. Pria itu tidak tau harus berkomentar apa karna istrinya sama sekali tidak memberikanya kesempatan untuk bicara. Jeny sibuk membuka semua baju baju yang siang tadi di belinya dan menempelkanya di tubuh kemudian meminta pendapat. Namun belum sempat tomy berpendapat jeny sudah meraih yang baju yang lain dan menempelkan kembali di tubuhnya.


“Ck by... Kamu kenapa sih diem terus.. Bilang kek cocok atau nggak nya, terus aku cantik atau nggak pake baju baju ini..” Kesal jeny karna tomy hanya diam saja.


Tomy meringis. Jeny pasti akan marah jika tomy mengatakan yang sebenarnya.


“Nyebelin banget.”


“Eemm.. Sayang, kamu pake baju apa aja cantik kok. Dan semua baju ini cocok sama kamu.” Senyum tomy.


Jeny membuang muka tidak mau menatap suaminya. Wanita itu merasa kesal karna tomy sama sekali tidak berkomentar dengan baju baju yang di tunjukanya.


Tomy yang melihat raut sebal di wajah istrinya tersenyum. Pria itu menutup laptop yang di pangkuanya menaruhnya di atas nakas kemudian mendekat pada jeny yang berdiri di depan ranjang king zise mereka.


“Jangan marah dong.. Ntar cantiknya ilang loh..” Senyum tomy sambil mengusap usap kedua bahu jeny dari belakang.


“Tau ah.. Kamu nyebelin.”


Jeny menghempaskan tangan tomy kemudian berlalu keluar dari kamarnya dengan kaki yang di hentak hentakan.


Melihat itu tomy hanya bisa menghela nafas. Jeny sangat susah di bujuk bila sudah merajuk. Dan malam ini jeny pasti akan mendiamkanya bahkan bisa saja menyuruh tomy tidur di sofa.


“Hh.. Wanita hamil memang menggemaskan.” Geleng tomy.


Di luar kamar jeny terus saja mendumel. Jeny bahkan sesekali memonyongkan bibirnya saking sebalnya pada tomy yang tidak berkomentar sama sekali dengan baju baju yang di tunjukanya.


“Sayang jangan lupa kita cari posisi yang pas !”


Jeny menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Jeny semakin mengerucutkan bibirnya sebal. Bukanya membujuk tomy malah menggodanya.


“Aku mau tidur sama mbak sisi sama bibi !” Balas jeny berseru juga.

__ADS_1


Dari bawah bibi dan sisi yang mendengar suara melengking jeny langsung berlari. Mereka tampak sangat khawatir apa lagi jeny sampai menyebut nama keduanya.


“Bi, apa ibu berantem sama bapak?” Tanya sisi pada bibi yang terus mendongak menatap ke lantai atas.


“Nggak tau si. Tapi tadi ibu nyebut nama kita berdua.” Jawab bibi.


Tepat saat itu jeny muncul. Wanita itu melipat kedua tanganya di bawah dada dengan bibir mengerucut komat kamit seperti orang sedang mengomel.


Bibi dan sisi yang melihatnya tampak bingung juga takut. Mereka khawatir jika sampai melakukan kesalahan secara tidak sengaja pada jeny dan tomy.


“Bu..”


Jeny menoleh ketika bibi menyapanya. Wanita itu tersenyum tipis kemudian melewati bibi dan sisi begitu saja tanpa sepatah katapun.


“Bi.. Ibu..”


“Sssst.. Yang penting ibu nggak marah sama kita.” Sela bibi berbisik.


Sisi mengangguk setuju. Keduanya pun kembali melangkah berlalu dari bawah tangga menuju kamar mereka.


Tomy mencari jeny di seluruh ruangan yang berada di lantai atas namun tidak juga menemukan jeny. Tomy akhirnya turun ke lantai satu untuk memastikan bahwa istrinya berada di sana.


“Bu.. sambalnya jangan banyak banyak bu.. Nanti sakit perut..”


Tomy menghentikan langkahnya ketika hendak menuju ruang tengah di lantai bawah. Pria itu penasaran dengan suara pak satpam yang mengingatkan seseorang agar tidak terlalu banyak makan sambal.


“Iihh.. Nggak papa pak.. Saya sudah biasa makan pedes. Nggak enak tau kalau makan bakso nggak pedes.” Saut jeny terus menambah sambal ke dalam mangkuknya.


“Itu suara jeny..” Gumam tomy yakin.


Tomy langsung melangkahkan kakinya lebar keluar dari rumah. Dan alangkah terkejutnya tomy ketika melihat istrinya yang ternyata sedang menyantap bakso di teras rumahnya di temani oleh pak satpam. Bukan hanya itu saja yang membuat tomy lebih terkejut lagi adalah gerobak bakso serta penjualnya yang berdiri di halaman rumahnya.


“Ya tuhan..” Gumam tomy tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Pak satpam yang mendengar gumaman tomy langsung menoleh. Pria tua berkulit coklat hitam itu langsung berdiri dengan wajah bingung juga takutnya.

__ADS_1


“Pak.. pak tomy..”


Jeny ikut menolehkan kepalanya. Jeny menghela nafas kesal kemudian menaruh mangkuk berisi beberapa sisa pentol bakso yang sedang di nikmatinya di lantai. Jeny menatap tomy dengan bibir mengerucut sebal kemudian berlalu masuk tanpa mengatakan sepatah katapun pada suaminya.


“Yah.. Belum di bayar..” Gumam pak satpam yang bisa dengan jelas di dengar tomy.


Tomy menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya pelan. Tomy berusaha untuk bersabar dan meredam emosinya. Mungkin tuhan memang sedang menguji kesabaranya lewat tingkah jeny malam itu.


“Pak maaf saya.. Saya di suruh bu jeny tadi buat manggil tukang bakso di depan kompleks.. Dan bu jeny juga yang menyuruh tukang baksonya masuk.” Ujar pak satpam menjelaskan agar tomy tidak salah faham padanya.


Tomy memejamkan matanya sebentar. Pria itu menatap 2 tumpukan mangkuk kosong serta satu mangkuk lagi yang masih tersisa beberapa pentol bakso di lantai. Yang membuat tomy ngeri adalah kuah bakso tersebut yang berwarna merah dengan biji cabai yang terlihat jelas. Jeny pasti membubuhi banyak sambal di mangkuknya.


“Sudah nggak papa pak. Berapa semuanya?” Tanya tomy dengan helaan nafas pasrah.


Pak satpam menanyakan berapa semua totalnya pada tukang bakso tersebut. Tomy langsung memberikan uang untuk membayar 3 mangkuk bakso yang di makan istrinya.


“Pak ini kembalianya..” Kata pak satpam sambil menyodorkan uang kembalian pada tomy.


“Simpan saja buat jajan anak bapak. Dan tolong buka gerbangnya. Antar tukang baksonya keluar. Terimakasih.”


Tomy kembali masuk ke dalam rumah setelah berkata. Pria itu berniat kembali untuk membujuk istrinya yang masih merajuk hanya karna masalah baju.


“Sayang...” Panggil tomy begitu menemukan jeny berdiri di tepi kolam renang di samping rumah mereka.


Jeny langsung membuang muka. Dengan bibir merah yang terlihat dower akibat terlalu banyak makan pedas wanita itu terus komat kamit mendumal.


“Udah dong marahnya..”


Tomy melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping jeny. Tomy sebenarnya sedikit ngeri melihat bibir merah jeny yang tampak sedikit membengkak.


“Pedes banget yah? Aku ambilin minum yah?” Tanya tomy sembari menawarkan.


Jeny melirik tomy sekilas. Memang rasa pedas sedang di rasakanya. Tapi rasa sebalnya pada tomy jauh lebih terasa menurutnya.


“Sayang.. Udah yah marah nya.. Memangnya kamu nggak kasihan sama anak kita.. Dia kan maunya dekat sama aku terus..”

__ADS_1


Tomy mencoba mencari alasan membujuk jeny agar istrinya berhenti merajuk dan mau memaafkanya. Namun sayang, jeny terus saja membuang muka tidak mau menatapnya.


__ADS_2