Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 183


__ADS_3

Tomy menatap heran pada istrinya yang terus saja diam dan hanya mengaduk aduk makanan di piringnya dengan tatapan sendu. Saat tomy pulang pun jeny tampak tidak semangat menyambutnya.


Tomy meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya kemudian meraih tangan jeny mengusap punggung tangan jeny lembut.


“Sayang.. Kenapa? Makananya nggak enak?” Tanya tomy menatap jeny penuh perhatian.


Jeny mengarahkan pandanganya pada tomy. Sontak ekspresinya langsung berubah seperti akan menangis membuat tomy langsung di landa rasa khawatir.


“By...”


“Sstt.. Makan dulu yah.. Aku suapin.. Abis ini kamu bisa cerita apapun dan aku akan mendengarkanya.” Sela tomy cepat.


Jeny menganggukan kepalanya pelan. Di terimanya suapan demi suapan dari tomy sampai akhirnya makanan di piringnya habis tak bersisa.


Setelah selesai makan malam tomy mengajak jeny ke ruang keluarga. Pria tampan itu menepati apa yang di katakanya tadi dengan mendengarkan penuh perhatian apa yang ingin di katakan oleh istri tercintanya.


“Jadi?” Tanya tomy menatap jeny yang duduk bersender di sofa tepat di sampingnya.


Jeny terdiam sesaat. Wanita itu menundukan kepala sambil mengusap usap lembut perutnya yang semakin membuncit.


“Tadi pulang senam aku lihat banyak orang di depan gerbang kompleks.” Kata jeny memulai bercerita pada suaminya.


Tomy hanya diam saja. Pria tampan itu terus menatap istrinya yang menunduk dan mengusap usap perutnya sendiri.


“Kamu tau nggak by mereka siapa?” Tanya jeny mengangkat wajahnya dan menatap tomy sendu.


“Siapa?” Tanya tomy mengangkat sebelah alisnya membalas tatapan jeny.


Jeny menghela nafas pelan. Wanita itu kemudian masuk ke dalam pelukan hangat tomy. Jeny menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.

__ADS_1


“Mereka pasien yang biasa berobat di klinik aku.. Aku kasihan banget lihat mereka by.. Aku tau mereka tidak punya biaya untuk periksa ke rumah sakit.. Dan hanya klinik aku yang dekat dari tempat tinggal mereka.” Jawab jeny menceritakanya pada tomy.


Tomy menghela nafas. Jeny pasti sangat sedih melihat orang orang itu berkerumun di depan gerbang kompleks. Dan lagi sebagian besar dari mereka adalah orang orang dengan usia lanjut. Baik pria maupun wanita.


“Jujur by.. Aku kangen aduan mereka.. Aku juga kangen keluhan keluhan mereka..”


Tomy memejamkan kedua matanya. Mengabdikan diri demi kesehatan masyarakat memang sudah menjadi pekerjaan istrinya sejak dulu. Tapi untuk saat ini tomy benar benar tidak bisa membiarkanya. Jeny sedang hamil. Jeny tidak boleh terlalu kecapek an dan harus banyak istirahat.


“Aku juga berpikir apakah setelah aku melahirkan nanti aku bisa membuka kembali klinik aku.. Karna aku pasti akan sibuk ngurusin dede bayi kita..”


Apa yang di pikirkan istrinya memang benar. Tomy juga pasti akan melarang jika jeny terlalu sibuk dengan pasienya dan mengabaikan anaknya yang tentunya sangat membutuhkan perhatian juga kasih sayangnya.


“By.. Kok kamu diem terus sih..?”


Jeny melepaskan pelukanya dan menatap tomy yang hanya diam mendengarkan ceritanya dari tadi.


“Sayang.. Tujuan kamu mengabdikan diri untuk kesehatan masyarakat kurang mampu memang bagus. Aku sangat mendukung itu. Tapi jika itu membuat kamu kurang memperhatikan kesehatan kamu terus terang aku nggak suka.”


“Kamu kan lagi hamil sayang.. Kesehatan kamu sangat penting.. Kesehatan anak kita juga.. Untuk apa kamu mengabdikan diri ke masyakat jika kesehatan kamu dan anak dalam kandungan kamu sendiri kamu abaikan. Itu sama aja kamu mengejar kebaikan tapi meninggalkan kewajiban kamu sayang..” Lanjut tomy.


Jeny kembali menundukan kepalanya. Jeny ingin anak dalam kandunganya selalu sehat dan lahir dengan selamat tanpa ada kurang apapun.


“Sayang...”


Tomy meraih tangan jeny. Di genggamnya erat tangan jeny yang tampak sangat kecil di genggaman pria tampan itu.


“Aku tidak melarang kamu mengamalkan apa yang kamu bisa.. Tapi untuk saat ini dan beberapa bulan ke depan tolong pikirkan dulu kesehatan kamu juga anak kita.”


Jeny menatap tangan besar tomy yang menggenggam tanganya. Tangan besar pria itu selalu berhasil membuatnya merasa nyaman juga terlindungi hanya dengan sentuhanya saja.

__ADS_1


“Aku mohon... Demi anak kita..” Pinta tomy.


Jeny menatap mata teduh suaminya. Sepasang mata yang pernah menatap tajam padanya. Namun sepasang mata itu juga yang selalu berhasil membuat jeny terjerat oleh pesona si mpunya.


Jeny memejamkan kedua matanya sejenak. Dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya jeny menganggukan kepalanya pelan. Wanita itu menyanggupi permintaan suaminya. Jeny juga tau dan faham jika apa yang di lakukan oleh suaminya adalah demi dirinya juga anak dalam kandunganya.


“Gitu dong.. Jangan pikirkan yang lain dulu yah.. Terpenting kamu dan anak kita..” Senyum tomy merasa lega karna jeny mau mendengarkanya.


“Tapi kamu juga dong...” Kata jeny dengan nada manja.


“Aku? Memangya aku kenapa?” Tanya tomy mengeryit bingung. Tomy merasa selalu menjaga kesehatanya.


“Kamu kan sering banget pulang malem.. Terus kalau udah di depan laptop juga sering lupa waktunya makan. Kamu pacaran mulu sama kerjaan kamu. Itu kan juga nggak baik untuk kesehatan kamu..”


Tomy tertawa mendengarnya. Pulang pada waktunya makan malam belum terhitung terlalu malam menurutnya. Dan itu masih jam wajarnya orang bekerja. Dan lagi, tomy juga tidak pernah lupa waktu makan. Tomy hanya terkadang memilih untuk menyelesaikan pekerjaanya untuk kemudian menghabiskan malamnya bersama istri tercintanya.


“Sayang.. Aku kan seorang suami. Aku kepala keluarga. Tugas aku ya mencari nafkah untuk kamu dan anak anak kita.. Jadi wajar kalau aku pulang sedikit telat. Itu juga pengaruh jalan yang macet sayang..” Jelas tomy sambil membelai lembut pipi chuby istrinya.


Jeny hanya mengerucutkan bibirnya tidak menerima alasan suaminya.


“Kita udah punya semuanya. Aku sudah merasa lebih dari cukup dengan apa yang kamu punya.” Kata jeny.


“Oke.. Kamu merasa lebih dari cukup. Aku bahkan merasa sempurna karna ada kamu di samping aku. Tapi coba kamu pikirin kalau aku nggak kerja terus perusahaan aku tutup. Bagaimana nasib karyawan aku? Mereka kan butuh gaji juga untuk menyambung hidup. Niat aku bukan hanya untuk mengejar harta semata sayang.. Tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.” Senyum tomy menjelaskan niat dan maksud baiknya.


Jeny terdiam. Suaminya begitu baik dan dermawan. Meskipun sekilas pria itu terlihat dingin juga kejam namun hatinya begitu baik dan tidak pernah egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Pikiranya begitu panjang sampai memikirkan para karyawanya juga orang orang di sekitarnya. Pemikiran yang jeny saja tidak pernah sampai kesitu.


“Kamu wanita yang baik, cantik, dan bijak dalam menyikapi sesuatu. Aku juga ingin seperti kamu sayang. Aku ingin apa yang aku punya juga bisa bermanfaat untuk orang lain.” Sambung tomy lagi.


“Eemmmh... Baik banget sih suami aku..” Senyum jeny berhambur memeluk tubuh tegap suaminya lagi.

__ADS_1


Tomy tersenyum kecil. Di balasnya lembut pelukan jeny. Tomy juga mencium sesekali rambut panjang tergerai istrinya. Pria tampan itu tidak mengharapkan pujian atas semua yang di lakukanya. Tomy hanya ingin melakukan apa yang memang sudah menjadi kewajibanya.


__ADS_2