Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 271


__ADS_3

“Ini aneh.. Bagaimana mungkin susan bisa berkata seperti itu?” Gumam tomy bertanya tanya.


Tomy sempat berpikir apa mungkin om dan tantenya berbohong pada susan tentang awal mula susan di asuh oleh mereka. Tapi jika di pikir kembali rasanya tidak mungkin karna sebelum susan berubah seperti sekarang susan masih dengan hormat bersikap pada mamah dan papahnya.


“Ada apa ini sebenarnya?”


Tomy terus memikirkan sikap susan tadi. Rasanya benar benar aneh. Susan mengatakan tante dan omnya membawanya semenjak dirinya baru di lahirkan. Itu jelas tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.


“Apa mau om sama tante sebenarnya. Kenapa mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar.”


Tomy berhenti saat sampai di tengah tangga. Jika sampai kedua orang tuanya tau mereka pasti akan semakin sedih. Apa lagi papahnya yang gampang sekali ambruk jika mengetahui sesuatu yang membebani pikiranya.


Tomy menghela nafas dan mengusap kasar rambutnya. Tomy tidak menyangka masalah tentang susan menjadi sangat membingungkan.


“Ya tuhan.. Beri hamba petunjuk..” Batin tomy memohon.


Deringan ponsel dalam saku celana yang di kenakanya membuat tomy segera merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih itu. Sebuah keryitan muncul di keningnya ketika melihat nama reyhan tertera di layar menyala benda pipih bercasing hitam tersebut.


“Reyhan..” Gumam tomy.


Merasa penasaran dengan reyhan yang tiba tiba menelephone nya, tomy pun segera menyentuh layar ponselnya mengangkat telephone tersebut.


“Ya rey.. Ada apa?” Tanya tomy langsung.


“Pak tomy apakah pak tomy dan bu jeny baik baik saja?”


Tomy tersenyum mendengar pertanyaan reyhan. Tomy tau reyhan pasti sedang mengkhawatirkanya dan jeny.


“Ya. Saya dan jeny baik baik saja.” Senyum tomy menjawab.


“Syukurlah..” Gumam reyhan yang masih dapat dengan jelas di dengar oleh tomy.


“Rey kamu sudah antar susan sampai apartemenya?” Tanya tomy kemudian.


Reyhan terdiam sejenak. Jika boleh jujur reyhan sebenarnya males mengawal susan terus terusan. Reyhan merasa muak dengan kesombongan dan keangkuhan wanita itu.


“Sudah pak.” Jawab reyhan singkat.


“Ya sudah kalau begitu. Terimakasih banyak ya rey. Kamu hati hati pulangnya.” Kata tomy dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


“Eemm pak..” Panggil reyhan pelan.

__ADS_1


“Ya rey. Kenapa? Apa ada masalah? Susan membuat onar?”


“Tidak pak. Bukan begitu.” Sergah reyhan menjawab serentet pertanyaan yang di lontarkan oleh tomy.


“Ini tentang sesuatu yang ada di dompet mbak susan pak.” Kata reyhan kemudian.


Tomy mengangkat sebelah alisnya bingung.


“Apa maksud kamu rey?”


“Sebelumnya saya minta maaf pak. Saya akui saya memang lancang. Tapi tadi saat hendak masuk ke dalam rumah pak tomy mbak susan sempat melupakan tasnya.”


Reyhan menghela nafas. Pria itu diam sejenak merasa sedikit takut pada tomy yang mungkin saja marah padanya karna kelancanganya membuka tas dan dompet susan.


“Lalu?” Tanya tomy semakin merasa penasaran.


“Saya membuka tas mbak susan dan mengeluarkan dompetnya pak. Dan saya juga membuka dan mengecek dompet mbak susan.” Jawab tomy.


Tomy memejamkan kedua matanya. Pria itu tidak bisa marah pada reyhan meskipun apa yang di lakukan reyhan memang keterlaluan.


“Tapi pak.. Saat saya membuka dompet mbak susan saya menemukan kartu tanda penduduk orang lain bukan milik mbak susan.”


“Apa?”


“Apa kamu mengambilnya?” Tanya tomy yang merasa penasaran setelah mendengar apa yang di katakan asisten setianya itu.


“Tidak pak. Tapi saya memphotonya pak.” Jawab reyhan.


“Kirimkan photonya ke saya sekarang juga.”


“Baik pak.”


Tomy langsung memutuskan sambungan telephone nya setelah mendengar jawaban reyhan. Pria itu merasa sangat ingin tau kartu tanda penduduk siapa yang ada di dompet adiknya.


Sebuah notifikasi membuat tomy dengan cekatan membukanya. Kedua matanya menyipit ketika melihat kartu tanda penduduk yang berhasil di photo diam diam oleh reyhan.


“Maria laona” Lirih tomy membaca nama wanita di kartu penduduk di dompet adiknya.


Tomy menatap bahkan memperbesar bagian photo dari kartu tanda penduduk tersebut. Dan tomy merasa pernah melihat wanita dalam photo tersebut.


“Siapa laona?”

__ADS_1


Sementara itu jeny sudah mengganti gaun yang di kenakanya dengan dress rumahan selutut warna pinknya. Wanita itu bertanya tanya karna sudah hampir satu jam namun suaminya belum juga menyusulnya masuk ke kamar mereka.


Jeny bukan tidak percaya pada suaminya. Jeny hanya takut suaminya kehilangan kesabaranya mengingat mulut susan yang begitu pedas dan terus meremehkanya.


Jeny menghela nafas. Dengan pelan wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Jeny bermaksud melihat suaminya apakah masih bersama susan atau malah kembali mengerjakan pekerjaanya yang katanya masih sedikit lagi menuju selesai.


Ketika sampai di ujung tangga, jeny tersenyum mendapati suaminya sedang berbicara lewat sambungan telephone dengan reyhan.


“By...” Panggilnya.


Tomy mengalihkan perhatianya dari layar ponselnya pada jeny yang berada di ujung tangga. Dengan ekspresi bingung tomy melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karna kebingunganya akan sikap susan.


Jeny yang melihat ekspresi tidak biasa suaminya pun bertanya tanya.


“Ada sesuatu yang mencurigakan dari susan..” Kata tomy langsung memberitahu istrinya.


“Apa?” Tanya jeny pelan.


Tomy menyodorkan ponsel yang di pegangnya memperlihatkan photo kartu tanda penduduk yang di kirimkan reyhan padanya.


“Ini apa maksudnya?” Tanya jeny bingung.


“Itu photo kartu tanda penduduk yang ada di dompet susan. Reyhan yang mengambil photonya tadi.”


Jeny mengangkat sebelah alisnya. Wanita cantik berdress pink itu kemudian kembali menatap photo tersebut dan membaca namanya.


“Tidak hanya itu saja. Susan mengatakan dirinya di asuh oleh om dan tante semenjak dia baru lahirkan. Padahal pada kenyataanya tidak begitu.” Kata tomy.


Jeny menatap suaminya. Usia susan memang masih sangat kecil saat di bawa om dan tantenya. Tapi rasanya tidak mungkin jika om dan tantenya mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Kecuali jika mereka memang mempunyai niat tidak baik pada tomy dan kedua orang tuanya.


“Susan juga mengatakan dia tidak di beri asi oleh mamah. Padahal demi tuhan. Aku melihat sendiri bagaimana telatenya mamah memberi asi pada susan. Aku melihat sendiri bagaimana mamah yang telat makan juga kurang tidur karna susan yang tidak mau di tinggalkan saat itu jeny..”


Suara tomy bergetar saat mengatakanya. Kedua matanya pun berkaca kaca pertanda tomy sangat kecewa juga tidak terima mendengar jasa mamahnya di hilangkan oleh susan.


Jeny menghela nafas pelan. Dengan lembut wanita itu memeluk tubuh kekar suaminya mencoba untuk memadamkan rasa kecewa juga sedih yang sedang melanda hati suaminya.


“Aku tidak bisa terima jeny.. Mamah sudah sangat berkorban. Tapi kenapa susan seperti itu.” Lirih tomy membalas pelukan jeny erat.


Air mata tomy jatuh menetes sampai tetesanya mengenai dress jeny. Pria itu merasa kecewa, sedih, juga marah secara bersamaan. Susan benar benar sangat berbeda dengan susan yang dulu.


“Sabar yah by.. Kita selidiki semuanya pelan pelan..”

__ADS_1


__ADS_2