Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 83


__ADS_3

Rani hendak menelpon suaminya ketika melihat mobil tomy yang berhenti tepat di depan rumah sakit. Wanita beranak satu itu mengeryit. Jeny tidak masuk lagi hari ini tetapi pria itu datang pada jam pulang kerja.


“Apa dia nggak tau kalau jeny cuty hari ini?” Gumam rani.


Rani mengeryit lagi saat seorang yang keluar dari mobil mewah itu bukanlah tomy melainkan seorang pria berkulit coklat dan berseragam satpam.


“Loh kok..”


Kali ini kedua mata rani membulat sempurna ketika melihat satpam tersebut membukakan pintu belakang mobil dan melihat tomy keluar dari mobil dengan jeny yang berada di gendongan nya.


“Ya tuhan.. Jeny..”


Tanpa pikir panjang rani langsung berlari menghampiri tomy.


“Apa yang terjadi dengan jeny?” Tanya rani langsung begitu sampai di dekat tomy.


Tomy menoleh. Pria tampan itu menatap rani dengan wajah penuh peluh juga terlihat khawatir.


“Dok tolong.. Tolong istri saya.” Katanya dengan suara bergetar.


“Ayo ayo bawa masuk.”


Rani, tomy, juga pak satpam berlari masuk ke dalam rumah sakit dengan jeny yang sudah tidak sadarkan diri di dalam gendongan tomy.


Rani berseru ketika sampai di dalam gedung. Wanita itu menyuruh seorang perawat segera membawakan bed emergency dorong untuk membawa jeny ke ruang UGD. Rani juga tidak memanggil dokter siapapun. Wanita itu langsung menangani jeny sendiri saking khawatir nya.


Selama jeny dj periksa oleh rani tomy terus saja mondar mandir dengan wajah panik. Tomy sangat berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


Sedangkan di dalam ruang UGD rani mengeryit. Tensi darah jeny sedikit rendah. Sangat aneh menurut nya karna jeny adalah tipe orang yang sangat menjaga kesehatan nya.


“Apa kamu kecapek an jeny..” Gumam rani.


Merasa bingung rani pun segera memanggil tomy yang menunggu di luar untuk menanyakan apa yang di keluhkan oleh jeny sebelum tidak sadarkan diri seperti sekarang.


“Bagaimana keadaan istri saya dok?” Tanya tomy menatap wajah bingung rani takut.


Rani menghela nafas.


“Semuanya baik.. Hanya tensi darah nya menurun.” Jawab rani pelan.


Tomy memejamkan kedua matanya. Mungkin itu terjadi karna jeny yang sedikit sulit tidur malam juga terlalu capek bekerja.

__ADS_1


“Pak tomy..” Panggil rani hati hati.


“Ya..” Saut tomy menatap wajah rani.


“Maaf sebelum nya. Apa yang di keluhkan jeny sebelum tidak sadarkan diri seperti ini?”


Tomy terdiam sesaat. Jeny tidak mengeluhkan apapun selain perut nya.


“Dok. Apa anda dokter kandungan?” Tanya tomy cepat.


Rani mengeryit bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan tomy padanya.


“Memang nya kenapa?” Tanya rani.


“Jeny mengeluhkan sakit di perut bagian bawah nya dok. Minggu lalu saat kami lari pagi jeny juga mendadak mengeluhkan sakit pada perut nya.” Terang tomy.


Rani terdiam. Rasa sakit pada bagian perut bawah seorang wanita memang tidak bisa langsung di vonis sebagai penyakit. Ada beberapa kemungkinan dan itu bisa juga sebagai tanda tanda awal kehamilan.


“Saya bukan dokter kandungan. Tapi saya bisa chek kalau bapak mengizinkan.”


Tomy terdiam lagi. Bagaimanapun juga rani adalah seorang wanita sama seperti jeny. Rani juga sangat dekat dengan jeny dan tomy percaya rani adalah orang yang baik.


Tomy berdiri di samping brankar tempat jeny berbaring. Pria tampan itu harap harap cemas melihat rani yang mulai membuka dress yang di pakai oleh jeny sampai bawah dada.


Kedua mata tomy membulat ketika rani malah memencet perut jeny.


“Dok..”


“Pak saya tau apa yang harus saya lakukan.” Sela rani cepat.


Tomy langsung bungkam. Tomy tidak bermaksud tidak percaya. Tomy hanya takut jeny kesakitan karna rani yang memencet perut nya.


Sedang rani, wanita itu terdiam setelah tau hasil nya. Di lirik nya tomy sekilas yang masih berdiri di samping brankar jeny.


“Bagaimana dok?” Tanya tomy tidak sabaran.


“Jeny hamil.”


Tomy mematung di tempat nya. Rasa takut merayapi hatinya. Jeny pasti akan sangat membencinya jika tau. Apa lagi kehamilan nya di sebabkan oleh paksaan tomy malam itu.


“Apa?” Lirih tomy.

__ADS_1


“Saya akan panggilkan rekan saya untuk memeriksa lebih lanjut kehamilan jeny.” Senyum rani menatap tomy kemudian melangkah menuju pintu.


Ketika hendak membuka pintu rani kembali membalikan tubuh nya menatap tomy dengan senyuman di bibir nya.


“Pak tomy..” Panggil nya.


Tomy menoleh dengan sangat pelan. Tidak ada bias kebahagiaan di wajah nya seperti calon orang tua pada umum nya.


“Selamat.” Kata rani kemudian berlalu keluar untuk memanggil dokter kandungan yang akan memeriksa jeny lebih detail.


Tomy menelan ludah nya. Tomy tidak tau kenapa malah perasaan takut yang di rasakan nya. Seharus nya tomy bahagia mendengar kabar tentang kehamilan istrinya. Seharus nya tomy melompat girang dan langsung memeluk jeny penuh dengan kebahagiaan.


Tomy menatap jeny yang masih menutup kedua matanya tidak sadarkan diri. Jeny mungkin akan mencaci nya, menyalahkan, juga membencinya jika tau dirinya hamil.


Tomy tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya jeny nanti. Dan tomy juga tidak bisa membayangkan jika setelah ini jeny kembali bersikap angkuh bahkan meninggalkan nya.


“Apa yang harus aku lakukan..” Lirih tomy menatap wajah pucat jeny dengan kedua mata berkaca kaca.


Tidak lama kemudian masuk seorang wanita yang mengenakan jas putih yang menandakan bahwa ia adalah seorang dokter.


“Permisi pak..”


Tomy menoleh pelan ketika mendengar suara lembut dokter wanita itu.


“Saya dokter kandungan yang akan memeriksa keadaan bu jeny. Dan tolong anda tunggu saja di luar.”


Tomy mengangguk pelan. Dengan langkah berat tomy berjalan menuju pintu. Tomy tidak tau apa yang harus di lakukan nya setelah ini. Tomy tidak tau apa yang harus dia jelaskan pada jeny jika jeny mengetahui tentang kehamilan nya. Dan tomy juga tau beribu kata maaf nya tidak akan bisa mengubah keadaan juga perasaan jeny.


Tomy terduduk lemas di kursi tunggu. Pria itu mengusap kasar wajah tampan nya terlihat frustasi. Dan itu langsung dapat di sadari oleh rani yang berdiri di samping pintu ruang UGD.


Rani mengeryit. Sejak dirinya mengatakan tentang kehamilan jeny beberapa menit lalu ekspresi tomy memang tidak seperti suami pada umum nya. Tomy tidak terlihat bahagia sama sekali. Pria itu malah diam seperti seseorang yang sedang menyesali sesuatu.


Melihat kediaman tidak jelas suami dari sahabat nya rani pun memberanikan diri untuk mendekat. Selain penasaran, rani juga khawatir akan sesuatu yang mungkin terjadi pada sahabat nya nanti.


“Pak tomy..” Panggil rani tegas.


Berlahan tomy mendongakan kepalanya menatap rani yang berdiri di depan nya. Tomy tau rani mungkin bingung dengan ekspresinya yang justru malah diam setelah di beritahu tentang kehamilan jeny.


Tomy menelan ludah nya kemudian menghela nafas. Pria tampan itu bangkit dari duduk nya dan berdiri menjulang menatap rani dengan wajah datar nya.


“Dok. Tolong jangan kasih tau jeny tentang kehamilan nya..”

__ADS_1


__ADS_2