Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 178


__ADS_3

Malamnya jeny kembali mengelap tubuh kekar suaminya setelah makan malam. Meskipun wanita itu terus diam dan tampak memikirkan sesuatu.


“Masih mikirin tentang angel?” Tanya tomy lembut.


Jeny berhenti mengelap bagian dada suaminya kemudian tersenyum tipis. Rasanya aneh kalau memang yang mencoba mencelakai suaminya adalah angel.


“Sayang... Udahlah.. Nggak perlu di pikirin lagi.. Yang penting kan sekarang pelakunya sudah tertangkap. Angel juga sudah di tempat yang tepat.”


Jeny masih diam. Bukan hanya itu yang jeny pikirkan. Tetapi juga nasib istri dan anak orang suruhan angel. Orang itu mengatakan karyawan di perusahaan leo yang hanya sebagai OB. Istri dan anaknya pasti sangat sedih karna tulang punggungnya kini di tahan di kantor polisi.


“By.. Bagaimana dengan OB itu?” Tanya jeny sambil kembali mengusap dada bidang suaminya menggunakan handuk kecil basah yang di pegangnya.


Tomy berdecak pelan. Istrinya terlalu baik. Tidak heran jika lorenzo mendekatinya terus menerus. Pria itu juga pasti sedang menghadang belas kasihan jeny.


“Sayang.. Bisa tidak sekali ini saja kamu berhenti memikirkan orang lain? Pikirkan diri kamu sendiri. Kandungan kamu.. Kesehatan kamu. Itu sangat penting buat aku.”


Jeny terdiam. Jeny tidak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri. Jeny tau bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana bagi para orang yang hidupnya pas pasan.


“Aku tau apa yang kamu pikirkan sayang.. Tapi semua itu juga perlu alasan yang jelas. Kita tidak bisa perduli pada setiap orang hanya dengan alasan kasihan saja. Contohnya istrinya OB itu. Dia masih muda, dan aku yakin dia masih kuat. Dia seorang ibu yang pasti tidak akan rela membiarkan anaknya kelaparan.” Lanjut tomy.


Jeny hanya diam saja mendengarkan apa yang di katakan suaminya. Wanita itu membenarkan apa yang di katakan oleh tomy, hanya saja rasa kasihan yang bersarang di hati dan pikiranya membuat jeny tidak bisa berpikir panjang. Jeny hanya ingin membantu dan menolong sesama yang membutuhkan.


Selesai mengelap tubuh tomy, jeny pun berjalan pelan menuju lemari baju. Wanita itu membuka pelan pintu lemari bajunya dan meraih piyama yang akan di kenakan oleh suaminya.


“Sayang.. Jangan marah.. Aku nggak bermaksud marahin kamu..”


Jeny menatap suaminya yang masih duduk bersender di atas ranjang. Jeny juga tau maksud suaminya baik. Jeny hanya merasa kali ini mereka tidak sepemikiran.


Jeny mengeryit. Tanganya yang memegang baju piyama tomy tiba tiba langsung memegangi perutnya dan piyama itu pun jatuh ke lantai.


“Sshh... Ya tuhan..” Jeny meringis memegangi perutnya yang terasa sakit tiba tiba.

__ADS_1


Tomy yang melihat itu langsung melompat dari ranjang. Tomy tidak memperdulikan rasa sakit di kakinya. Pria tampan itu langsung menubruk tubuh jeny dan membopongnya kemudian membaringkanya di atas ranjang.


“By.. Luka kamu berdarah..” Lirih jeny sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


“Berhenti mikirin aku.. Aku baik baik saja.” Sela tomy cepat.


Tomy segera meraih piyama dan mengenakanya. Pria itu melupakan bahkan mungkin tidak merasakan sakit di lenganya yang kembali berdarah sampai menodai dress yang di kenakan jeny.


Selesai mengenakan piyamanya, tomy pun meraih ponsel yang ada di atas nakas dan langsung menghubungi dokter sinta.


“By.. Kamu..”


“Sayang aku nggak papa..” Tomy menyela ucapan jeny lagi. Pria tampan itu meraih dan menggenggam tangan jeny erat.


“Bagian mana yang sakit sayang..?” Tanyanya dengan nada khawatir.


Jeny tersenyum. Suaminya tidak memperdulikan darah yang keluar dari lenganya yang terluka. Tomy bahkan seperti tidak merasakan sakit dan langsung menubruk tubuhnya.


Tomy membelai lembut pipi chuby jeny. Tomy juga mengusap peluh yang tiba tiba saja sudah membasahi kening istrinya. Dan tomy beranggapan mungkin karna jeny menahan sakitnya sehingga peluh di keningnya langsung merespon keluar.


Tomy mengecup lembut kening jeny.


“Sabar ya sayang.. Sebentar lagi dokter sinta datang dan akan memeriksa kamu..” Katanya berbisik lembut


Jeny hanya menganggukan kepalanya. Wanita itu berusaha untuk tidak merintih meskipun perutnya terus terasa sakit. Jeny tidak mau membuat suaminya semakin khawatir. Karna saat ini jeny juga sangat mengkhawatirkan suaminya.


Tomy mengusap lembut perut buncit jeny. Pria itu juga mencium lama perut istrinya dengan mata terpejam. Dalam hatinya tomy sangat berharap tidak ada suatu yang buruk menimpa istri juga anak dalam kandunganya.


Tidak lama menunggu dokter sinta datang dengan bibi dan sisi yang mengikuti. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar jeny dan tomy bersamaan. Namun begitu melihat lengan tomy yang berdarah ketiganya terkejut dan mematung melihatnya.


“Apa lagi yang anda tunggu dokter. Cepat periksa istri saya !” Perintah tomy dengan nada kesal.

__ADS_1


“Oh ya.. Ya pak tomy.. Maaf..”


Dokter sinta segera melangkah dengan cepat menghampiri jeny. Wanita itu langsung menangani jeny dengan tangan bergetar takut karna perintah dengan nada kesal tomy tadi.


Sedangkan bibi dan sisi, mereka berdua langsung keluar dari kamar tomy dan jeny karna tidak mau mendapat amukan dari majikanya.


“Bagaimana dokter?” Tanya tomy setelah dokter sinta mengecek keadaan jeny juga anak dalam kandunganya.


Dokter sinta menelan ludahnya. Entah kenapa wanita itu merasa pertanyaan tomy seperti sebuah tuntutan baginya. Tatapan matanya pun begitu tajam seperti sedang mengintrogasi seorang penjahat dengan tindakan kriminal.


Jeny yang mengerti dengan ketakutan dokter sinta menghela nafas. Wanita itu kemudian melayangkan tatapan lembut pada suaminya di sertai dengan senyuman yang mengisyaratkan agar tomy sabar.


Tomy menelan ludahnya kemudian menghela nafas. Melihat tatapan lembut istrinya tomy pun mencoba untuk meredam apa yang sedang di rasakanya di dalam hati. Pria tampan itu tidak bermaksud memarahi dokter sinta. Tomy hanya terlalu khawatir dengan keadaan jeny saat ini.


“Maafkan saya dokter. Bagaimana keadaan istri dan anak saya?” Tanya tomy dengan nada yang lebih lembut.


Dokter sinta tersenyum tipis.


Dokter sinta mengatakan apa yang terjadi pada jeny dengan jelas pada tomy. Dan dokter sinta juga menyarankan agar tomy mendaftarkan jeny senam hamil.


“Bagaimana dengan para pasienku kalau aku senam hamil?” Tanya jeny pada tomy yang baru saja meletakan dress jeny di dalam keranjang tampat baju kotor. Ya, tomy baru saja menggantikan dress yang di kenakan jeny yang ternoda oleh darah yang keluar dari lenganya.


Tomy berdecak pelan. Kebaikan jeny kadang juga membuat tomy merasa kesal. Wanitanya terlalu memikirkan orang lain sehingga lupa dengan keadaanya sendiri.


“Klinik kamu tutup saja. Buka lagi nanti setelah kamu melahirkan. Aku tidak menerima penolakan jeny.” Tegas tomy.


“By tapi...”


“Kamu pilih tutup sementara atau aku hancurkan segera bangunanya?” Tanya tomy dengan nada mengancam.


Jeny bergidig ngeri mendengarnya. Wanita itu tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Sikap arogan suaminya kembali lagi. Dan jeny tidak bisa berkutik karna itu.

__ADS_1


__ADS_2