Cintai Aku

Cintai Aku
Melepaskan


__ADS_3

"Dia pingsan?" Rio terkejut kala melihat Rey di papah oleh beberapa orang untuk masuk ke dalam mobil nya. Zena pun mengangguk lalu duduk di kursi belakang menemani Rey. Rio terdiam sejenak memperhatikan Zena, Zena menyandarkan kepala Rey di bahu nya seraya menggenggam tangan Rey.


"Tuan Rio, aku takut terjadi sesuatu pada tuan Rey" ucap Zena panik


"Tenang lah Zena, Rey pria yang kuat, dia hanya pingsan, kita bawa dia ke rumah mu"


Setelah itu, Rio menancap gas mobil nya menuju ke arah kediaman rumah Zena. Di sana Rio dan Zena memapah tubuh Rey, tubuh Rey di rebahkan di ranjang kamar milik Zena. Zena dan Rio mengatur nafas sejenak, rasa nya sangat lelah memapah tubuh seorang pria tinggi dengan postur tubuh tegap seperti Rey.


"Zena, pakaian Rey basah, seperti nya kau harus melepas pakaian nya" ucap Rio asal. Sontak saja perkataan Rio membuat Zena sedikit terkejut, seketika Zena menatap Rio dengan reaksi panik. Wajah Zena tampak panik dan itu terlihat jelas. Rio pun berusaha menahan tawa nya saat melihat reaksi Zena. "Ada apa, Zena? Apa kau tidak kasihan pada Rey?" lanjut nya.


"Bu-bukan seperti itu tuan, hanya saja aku-"


"Apa kau tidak kasihan pada nya?" tukas Rio dengan sengaja. "Lihat lah! Rey menggigil kedinginan, Zena. Kasihan dia" lanjut nya


Zena memainkan ujung pakaian nya. "Tapi aku seorang wanita, rasa nya tidak pantas jika aku yang melakukan nya" Zena benar benar panik di buat nya. "Bagaimana kalau kau saja, tuan Rio?" usul nya.


Rio terkejut. "Aku? Apa kau gila? Aku tidak mau! Aku ini pria normal, Zena. Aku tidak mau melakukan nya! Lebih baik kau saja yang melakukan nya!" ucap Rio dengan tegas lalu beranjak pergi dari kamar Zena, namun sebelum pergi, Rio menoleh. "Aku akan menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Rey" setelah mengatakan hal itu, Rio pun menghilang dari pandangan Zena.


Zena terdiam dengan wajah panik nya, lalu Zena memperhatikan tubuh Rey. Benar saja, Rey tampak menggigil kedinginan, jika tidak segera di ganti pakaian nya maka kondisi Rey akan memburuk. Dan hal itu pasti akan berdampak buruk pada kesehatan Rey, Zena tak mau hal buruk itu terjadi, oleh karena itu Zena memberanikan diri untuk mengikuti usul Rio.


Sebenar nya Zena malu melakukan nya, apa lagi mereka bukan lagi suami istri, jadi Zena merasa asing dan tidak ada hak menyentuh tubuh Rey. Tapi mau tidak mau Zena harus melakukan nya karena keadaan lah yang memaksa diri nya untuk melakukan nya.


Untung saja hari itu Arcielo sedang tidak ada di rumah, putra nya berada di rumah Rio. Jika putra nya ada di rumah, entah hal apa yang ada di pikiran putra nya itu nanti saat melihat keadaan nya saat ini.


Lalu Zena naik ke atas ranjang, dengan ragu Zena mulai membuka satu persatu kancing kemeja Rey. Dengan perlahan Zena melepas kancing kemeja Rey hingga nampak dada bidang Rey. Zena menelan berat saliva nya, Zena terpaksa melakukan nya demi rasa kemanusiaan saja, pikir nya.

__ADS_1


Setelah kemeja nya berhasil terlepas, Zena terdiam memperhatikan Rey. 'Bagaimana dengan celana nya? Apa aku juga yang harus melakukan nya? Yang benar saja!' batin Zena bertengkar hebat dengan tangan nya yang terlihat ragu untuk membuka celana Rey. Saat tangan nya ingin membuka kancing celana Rey, tiba tiba saja sebuah tangan menggenggam tangan Zena hingga membuat Zena terkejut bukan main. Dengan sekali tarikan, kini Zena sudah berada di atas tubuh Rey dan menindih nya.


"Tuan Rey?" Zena panik saat tahu Rey sadar, apalagi Rey hanya terdiam menatap nya tanpa arti, hal itu membuat Zena jadi salah tingkah, Zena menelan berat saliva nya. "Em, tuan Rey, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tidak ada maksud untuk-"


"Kau ingin berbuat mesum?" tebak Rey


Zena terkejut. "Apa? Tidak! Aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu, tolong jangan salah paham pada ku, tuan!"


Rasa kenyal dan empuk mendarat sekilas di bibir Zena, Rey mengecup bibir Zena tanpa dosa. Sementara Zena, Zena begitu terkejut dengan kecupan yang Rey lakukan, dengan cepat Zena bangun dari atas tubuh Rey lalu bergegas keluar dari kamar meninggalkan Rey seorang diri di dalam. Zena buru buru menutup pintu kamar nya dengan reaksi tak biasa.


"Zena!" tiba tiba Rio bersuara di belakang Zena hingga membuat Zena terkejut, Zena pun menoleh. "Ini air hangat dan pakaian untuk Rey" Rio ingin memberikan pakaian dan wadah yang berisikan air hangat pada Zena, namun Zena malah mengabaikan nya dan pergi meninggalkan Rio dengan terburu buru, Rio pun bingung dengan reaksi Zena.


Tak lama, Rey keluar dari dalam kamar dan bertemu dengan Rio yang kala itu masih setia berdiri di depan pintu. "Rio? sedang apa kau di sini?" Rey sedikit terkejut melihat kehadiran Rio Gantara, sepupu nya.


Rio pun menoleh. "Hey, aku di sini karena membantu mu, kau pingsan! Ini air hangat dan pakaian ganti untuk mu, cepat ganti pakaian mu!" Rio langsung memberikan wadah berisi air hangat dan sebuah satu set pakaian. Rey sempat terdiam memandangi kedua benda di tangan nya. "Itu pakaian ku dan masih baru, pakai lah untuk sementara, pakaian mu basah!" lanjut nya kala melihat reaksi segan di wajah Rey, sejujur nya Rey tidak pernah mau memakai barang atau benda yang bukan milik nya. Namun karena keadaan, akhir nya Rey pun mau memakai nya.


"Iya, kalau begitu aku pamit pergi karena ada urusan yang harus aku selesaikan, aku titip Zena pada mu, tolong jaga dia" jelas Rio lalu pergi dari hadapan Rey. Rey terdiam seraya menatap punggung belakang Rio, entah bagaimana awal nya mereka berdua tidak akur sampai saat ini.


......


Zena duduk seorang diri di ayunan kecil di belakang rumah nya. Lalu bayangan berita pertunangan Rey dengan Celine di televisi kembali terlintas di pikiran nya, Zena merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa Rey akan bertunangan dengan Celine.


Sakit? jelas hati nya sakit, tapi apa hak nya merasa sakit? dari awal hubungan mereka hanya sebuah perjanjian semata, lantas apa yang masih di harapkan Zena? tidak ada, hubungan mereka tidak boleh terjadi. Jika terjadi, maka sama saja Zena merebut Rey dari Celine. Apa Zena harus merelakan Rey menikah dengan Celine? Seperti nya harus, karena akan ada sebab dan akibat jika Zena tetap memilih bersama Rey.


"Zena!" sebuah suara tiba tiba terdengar, Zena pun menoleh ke belakang dan melihat Rey sudah berdiri di sana. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" lanjut nya lalu berjalan mendekati Zena.

__ADS_1


Zena langsung bangun dari duduk nya lalu menatap Rey dengan sisa sisa air mata di mata nya. Rey menatap Zena bingung, lalu Rey menghampiri Zena, namun Zena terus menjauhi Rey.


"Berhenti, tuan Rey!" Zena bersuara dengan lantang hingga membuat Rey terdiam di tempat, kali ini Zena tak mau memberikan celah lagi untuk Rey masuk ke dalam hidup nya, cukup sekali saja Zena menderita soal cinta karena Rey, Zena tak ingin rasa sakit nya terulang. "Sebaik nya kau pulang tuan Rey! Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita" lanjut nya


"Kesalahpahaman? Apa maksud mu?" Rey sempat bingung dengan ucapan Zena, lalu Rey berpikir sejenak mencerna perkataan Zena, tiba tiba Rey teringat perkataan sang ibu kalau berita pertunangan nya dengan Celine sudah di umumkan di media. "Oh... aku tahu maksud mu, apa kau sudah melihat berita itu?" lanjut nya.


Zena terdiam sejenak, bibir nya terasa kaku untuk menjawab Rey, rasa nya tidak mudah bagi Zena untuk menerima kenyataan pahit ini, semua harapan soal hubungan baru nya dengan Rey hancur lagi, rupa nya Rey akan segera menikah dengan Celine. Padahal Zena sudah berharap, namun harapan nya harus hancur lagi.


Rey berjalan mendekati Zena, semakin dekat dan dekat hingga kini jarak kedua nya tidak ada. Rey berdiri tepat di depan Zena seraya merangkum wajah nya. "Zena, apa kau tidak bisa melihat ketulusan ku? Apa kau percaya pada berita itu?" tanya Rey


Dengan sekuat tenaga, Zena menahan rasa sedih nya. "Iya, tentu saja aku percaya pada berita itu dan aku ingin kau kembali pada Celine, tuan Rey! Dia mencintai mu"


"Tapi aku tidak mencintai nya!" tegas Rey lalu menghela nafas nya dengan kasar. "Zena, apa kau benar benar menginginkan hal itu terjadi? Kau ingin aku bersatu dengan nya? begitu?" tanya Rey lagi


"Iya" jawaban singkat Zena membuat Rey langsung terdiam, perlahan sentuhan Rey mulai mengendur, Rey melangkah mundur ke belakang seraya menatap Zena dengan keputus asaan di wajah nya.


"Aku ingin dengar untuk yang terakhir kali nya, apa kau tidak mencintai ku, Zena? jawab!" ucap Rey


"Bukan kah kau sudah mendapat jawaban nya, tuan Rey? Lalu untuk apa kau bertanya lagi? Jawaban ku tetap sama, kau bisa pergi sekarang!" ucap Zena lalu berbalik badan membelakangi Rey.


Rey mengepal kencang kedua tangan nya saat mendengar perkataan Zena, dengan emosi yang memuncak di kepala nya, Rey menahan rasa amarah nya walau sebenar nya Rey ingin sekali mengamuk saat itu juga. Tapi jika memang itu keputusan Zena, Rey akan menerima nya walau berat.


Lalu Rey menghela nafas nya. "Baik lah, jika kau ingin aku menikah dengan Celine, maka aku akan melakukan nya!" tantang Rey lalu beranjak pergi meninggalkan Zena seorang diri di sana.


Setelah Rey pergi, Zena menjatuhkan kedua lutut kaki nya ke tanah lalu menangis sejadi jadi nya. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk dari seseorang, Zena pun menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Aku sudah melakukan seperti yang kau minta, sekarang lepaskan ayah ku!" ucap Zena.


__ADS_2