
Tomy terbangun ketika mendengar bunyi alarm dari ponsel milik nya. Pria tampan itu langsung bangkit terduduk kemudian menghela nafas. Di tolehkan nya kepalanya ke samping dimana tempat jeny biasanya berada.
“Ck. Ternyata cuma mimpi.” Gumam nya dengan wajah sendu.
Tomy melirik tempat biasanya jas khas dokter jeny menggantung. Lagi tomy menghela nafas ketika tidak mendapati jas tersebut di tempat nya. Tomy yakin jeny pasti sudah sedang sarapan untuk kemudian berangkat bekerja seperti biasanya.
“Andai kamu bener bener mau mencintai aku jen..” Lirih nya.
Tomy turun dari ranjang kemudian meraih handuk putih yang tersampir dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, tomy segera mengenakan baju formal nya dan keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju lantai 1 rumahnya.
Ketika sampai di meja makan tomy mengeryit melihat sisi dan bibi yang diam di samping meja dan sesekali berbisik.
“Kalian berdua kenapa?” Tanya tomy bingung.
Sisi dan bibi langsung menoleh. Mereka berdua menatap bingung pada tomy yang menatap keduanya dengan sebelah alis terangkat.
“Jeny mana?” Tanya tomy kemudian.
“Eh kamu udah bangun..”
Tomy mengalihkan perhatian nya ketika mendengar suara jeny. Pria tampan itu terdiam melihat jeny yang masih mengenakan pakaian rumahan nya dengan clemek yang menempel di tubuh nya.
“Sayang kamu kok..”
“Hari ini aku nggak masuk kerja lagi. Oya tom, aku udah bikinin nasi goreng buat kamu. Di cobain yah..” Sela jeny.
Jeny menarik kursi dan mempersilahkan tomy untuk duduk. Dengan pelan di ambilkan nya nasi goreng di atas piring dan menaruh nya di depan tomy.
“Aku masak yang aku bisa. Semoga kamu suka yah..”
Tomy mengerjap ngerjapkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang di lihat nya. Jeny sedang berperan layak nya istri yang mencintai suaminya.
“Silahkan..” Senyum jeny menaruh sendok dan garpu di samping piring tomy.
__ADS_1
Tomy menelan ludah nya. Pria tampan itu melirik kalung berliontin daun yang di kenakan oleh jeny. Itu artinya apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi.
“Tomy. Kok kamu malah diem sih.. Ayo dong cobain nasi goreng buatan aku..” Kata jeny menatap tomy sendu.
“Eh iya. Iya sayang.. Makasih yah..” Senyum tomy kemudian segera menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut nya.
Ketika nasi goreng itu berada dalam mulut nya tomy terdiam. Ini pertama kalinya tomy memakan nasi goreng dengan rasa asin yang sangat mendominasi. Selain itu aroma bumbu mentah juga sangat menyengat di hidung tomy.
“Gimana?” Tanya jeny tersenyum dengan wajah penuh harap mendapat pujian dari suaminya.
Tomy terdiam. Tomy ingin sekali memuntahkan nya, namun tomy tidak mau membuat jeny kecewa. Tomy yakin jeny sudah sangat berusaha. Karna tomy sendiri tau istrinya memang tidak pandai dalam hal masak memasak.
“Eemm.. Enak. Enak kok sayang.” Senyum tomy mengunyah pelan nasi goreng dalam mulut nya.
Bibi dan si mbok menutup rapat kedua matanya. Mereka berdua tau bagaimana rasa nasi goreng buatan jeny karna jeny meminta nya untuk mencicipinya tadi.
“Beneran?” Tanya jeny tersenyum senang.
Tomy menganggukan kepalanya. Tomy terpaksa berbohong karna tidak mau jeny merasa kecewa dengan usahanya meladeni tomy. Bagaimanapun rasa masakan jeny tomy tetap merasa sangat senang. Jeny sudah mau melayani dan membuatkan sarapan untuk nya.
Jeny menyendok nasi goreng dari piring tomy kemudian melahap nya. Senyum di bibir nya langsung pudar begitu sesendok nasi goreng buatanya berada di dalam mulut nya.
Tomy yang melihat nya meringis. Jeny pasti akan merasa sangat kecewa.
Jeny meraih 2 lembar tisu dan memuntahkan keluar nasi goreng dalam mulut nya. Ekspresi wajah nya langsung terlihat sendu menatap tomy, bibi, juga sisi yang berada di sana.
Jeny menghela nafas kemudian berlalu dari meja makan dalam diam. Jeny tidak menyangka jika hasil masakan nya sangatlah buruk. Selain keasinan bau aroma bumbu yang masih mentahpun membuat masakan nya sangat tidak layak untuk di konsumsi.
Tomy terdiam. Di tatap nya sepiring nasi goreng yang baru 2 sendok di ambil. Seulas senyum berlahan terukir di bibir tomy. Jeny benar benar sedang berusaha menjadi istri yang baik untuk nya.
Tomy bangkit dari duduk nya kemudian melangkah menyusul jeny menuju dapur. Tomy tau jeny pasti sedang merasa sangat kecewa karna gagal membuat nasi goreng yang enak untuk nya.
Ketika sampai di dapur tomy melihat jeny yang diam memunggungi nya. Tomy tersenyum kemudian segera mendekat pada istrinya.
“Sayang..” Panggil tomy sambil memeluk lembut tubuh mungil jeny dari belakang.
__ADS_1
Jeny menghela nafas. Dengan pelan di lepaskan nya pelukan tomy. Jeny benar benar merasa gagal. Padahal ini adalah pertama kalinya jeny memasak dan berniat untuk menyenangkan hati tomy. Namun ternyata rasa masakan nya tidak sesuai keinginan nya.
“Kenapa kamu bohong?” Tanya jeny pelan.
Tomy tersenyum. Diraihnya kembali tubuh mungil jeny. Tomy juga mengecup lembut bahu jeny.
“Aku bohong karna aku terlalu senang.” Jawab tomy.
Jeny mengeryit. Padahal hasil masakan nya sangat tidak enak bahkan membuat mual. Tapi tomy tetap bersikap manis dan lembut padanya.
“Aku makasih banget karna kamu udah mau masakin sarapan buat aku. Rasanya ya memang sedikit keasinan. Tapi aku tetap senang. Aku hargai usaha kamu untuk menyenangkan hati aku.”
Jeny tersenyum mendengar nya. Mungkin dirinya memang harus belajar labih giat lagi agar bisa menyuguhkan hidangan yang enak untuk suaminya.
“Oh iya kamu kenapa nggak berangkat kerja hari ini?” Tanya tomy.
Jeny melepaskan pelan tangan tomy yang melingkari perut nya kemudian membalikan badanya. Jeny memang sengaja mengambil cuti hari ini dan beberapa hari ke depan. Jeny ingin mencoba menjadi istri yang baik seperti yang di inginkan tomy.
“Aku cuty hari ini. Aku udah bilang sama kak rani.” Jawab jeny.
Tomy mengeryit bingung. Jeny tidak biasanya seperti itu.
“Kenapa?” Tanya tomy dengan wajah penasaran.
Jeny terdiam sesaat. Rasanya sangat aneh jika jeny mengutarakan alasan bercuti nya. Karna itu akan terlihat seperti memamerkan niat baik nya.
“Eemm.. Nggak papa. Aku cuma pengin istirahat di rumah aja.” Jawab jeny.
Tomy menganggukan kepalanya. Apapun alasan jeny selama itu membuat nya senang tomy tidak akan melarang nya. Toh ada baik nya juga jeny tidak masuk kerja. Dengan begitu jeny tidak perlu bertemu dengan lorenzo yang selalu saja berusaha menemuinya setiap pagi di belakang tomy.
“Oke kalau begitu. Aku berangkat yah?” Senyum tomy mengusap lembut pipi jeny.
“Aku antar sampai depan.” Balas jeny.
Tomy menganggukan kepalanya. Semuanya berubah tiba tiba dan begitu saja. Wajar jika tomy mengira apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi.
__ADS_1