
Sesampainya di rumah sakit tomy langsung membopong kembali tubuh kecil fani. Pria itu berteriak keras memanggil petugas medis agar membantunya dan segera menangani fani.
Dokter axel yang saat itu baru saja mengantarkan salah satu pasienya pulang langsung menoleh cepat. Sebuah keryitan muncul di keningnya ketika melihat tomy yang berteriak dengan menggendong seorang anak kecil bergaun pink di ikuti jeny di belakangnya.
Sesaat dokter axel terdiam. Sedetik kemudian kedua matanya membulat ketika mengingat fani sedang bersama tomy dan jeny.
“Ya tuhan.. fani..” Gumamnya.
Dokter axel langsung berlari ke arah tomy. Begitu melihat fani yang tidak sadarkan diri di gendongan tomy dokter axel langsung mengambil alih dan berlari membawanya menuju ruang UGD untuk segera di tangani.
“Bagaimana ini by.. Aku takut fani kenapa napa..” Tangis jeny ketika menunggu di depan UGD bersama tomy.
Tomy menghela nafas. Pria itu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya lembut. Tomy juga sama khawatirnya sama seperti jeny. Tomy juga merasa bersalah karna fani seperti sekarang juga akibat dari tomy yang terus membawa anak kecil itu jalan jalan tanpa jeda.
“Kita berdo'a yang terbaik untuk fani yah.. Aku yakin dia akan baik baik saja.” Kata tomy pelan berusaha menenangkan istrinya.
Jeny menoleh. Wanita cantik itu menatap kemeja putih suaminya yang telah ternodai oleh darah fani. Tomy sepertinya tidak merasa jijik saat menggendong fani yang terus mimisan.
“Baju kamu kotor by..” Lirih jeny.
Tomy tersenyum. Noda di bajunya bisa hilang saat di cuci nanti. Bahkan jika noda darah itu tidak bisa hilang juga tomy tidak perduli. Tomy mempunyai banyak kemeja putih.
“Kamu ganti baju dulu yah..”
Tomy menggelengkan kepalanya. Pria itu meraih dan mengusap lembut pipi chuby jeny.
“Nanti saja sayang.. Fani lebih penting saat ini.” Senyum tomy.
Jeny terdiam. Tomy sangat perduli pada fani sampai dengan suka rela mau di panggil papah oleh fani. Tomy juga sama sekali tidak merasa sayang membelanjakan uang nya untuk fani. Padahal gadis kecil itu bukanlah siapa siapa untuknya.
Jeny menghela nafas. Dokter axel pasti akan murka begitu juga dengan kedua orang tua bahkan nenek dan kakek fani.
“Dokter.. Dokter...!!”
__ADS_1
Jeny dan tomy langsung menoleh. Keduanya langsung berdiri ketika mendapati kedua orang tua yang sudah lanjut usia berjalan terburu buru ke arahnya. Mereka berdua tidak lain adalah nenek dan kakek fani.
“Dokter bagaimana cucu saya..?” Tanya nenek fani langsung meraih tangan jeny dan menggenggamnya erat.
Jeny terdiam. Air matanya kembali menetes menatap wajah keriput nenek fani yang juga berlinang air mata. Jeny tau wanita lanjut usia itu sangat menyayangi cucu tunggalnya.
“Nek.. Maaf.. Semua ini salah saya..” Lirih jeny dengan suara bergetar.
Nenek fani menggelengkan kepalanya. Wanita tua itu tau betul bagaimana jeny menyayangi cucunya.
“Apa maksudnya dokter.. Apa yang dokter lakukan pada cucu saya?”
Kali ini kakek fani mulai ikut bertanya. Pria berambut putih dengan wajah keriputnya itu menatap khawatir pada jeny yang malah menangis terisak.
Tomy yang melihat itu tidak bisa berkata apa apa. Jika kedua orang tua itu marah padanya itu sangat wajar. Karna bagaimanapun juga semua itu memang salahnya. Fani berada dalam keadaan gawat seperti sekarang karna terlalu capek jalan bersamanya dan jeny.
“Dokter.. Kami tau dokter perduli sama fani.. Kami juga tau dokter sangat menyayangi cucu kami..”
“Nek.. kek.. Mana mamah sama papah fani?” Tanya tomy penasaran.
Nenek dan kakek fani langsung beralih menatap tomy. Mereka berdua juga menatap lama kemeja putih tony yang ternoda oleh darah. Dan mereka berdua yakin darah itu adalah darah cucunya.
“Kamu siapa?” Tanya kakek fani.
Tomy tersenyum tipis. Pria tampan itu langsung mengulurkan tanganya yang di sambut pelan oleh kakek fani. Tomy menyalimi kakek fani dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Saya tomy bagaskara. Suami jeny.” Katanya memperkenalkan diri.
Di dalam UGD dokter axel terus meneteskan air mata sembari menangani fani. Meskipun sekujur tubuhnya bergetar menahan rasa takut kehilangan gadis kecil itu tetapi tanganya terus bekerja mencoba memberikan harapan hidup pada fani.
“Tuhan.. Selamatkan fani... Hanya fani yang tersisa di hidup hamba..” Tangisnya membatin.
Dokter axel menghela nafas pelan. Di usapnya air mata yang membasahi pipinya. Dokter tampan itu melirik sekilas pada wajah pucat fani. Hidungnya terus mengeluarkan darah meskipun perawat sudah berkali kali membersihkanya menggunakan tisu.
__ADS_1
“Dokter darahnya tidak kunjung berhenti.”
Dokter axel menelan ludahnya. Tanpa di beritahu dia juga tau.
“Terus bersihkan saja.” Katanya dengan tegas namun suaranya hampir tertelan oleh kesedihanya.
Selama 30 menit dokter axel mencoba melakukan yang terbaik untuk memperjuangkan hidup anak kecil itu di bantu oleh 2 perawat.
Dokter axel menghela nafas. Air matanya kembali menetes. Hidung fani sudah tidak lagi mengeluarkan darah. Gaun cantik yang ternoda oleh darahnya pun sudah tidak lagi melekat di tubuh kecilnya. Dan juga beberapa alat medis sudah terpasang di tubuhnya.
Dokter axel meraih tangan kanan fani. Dirinya selesai menangani gadis kecil itu. Meskipun memang keadaanya masih kritis.
“Nak.. Papah tau kamu anak yang kuat.. Kamu anak yang hebat.. Dan kamu adalah semangat papah..” Lirih dokter axel menggenggam tangan dingin fani.
Dokter axel menelan ludahnya. Tenggorokanya terasa pegal menahan semua yang sedang di rasakanya. Dadanya terasa sesak melihat keadaan memilukan putri kecilnya. Putri kecil yang tidak pernah di akui oleh wanita yang melahirkanya.
“Nak.. Kalau kamu mau membuka mata kamu, papah janji.. Papah akan mengakui siapa papah sebenarnya sama kamu..”
Dokter axel kembali meneteskan air matanya lagi. Kali ini lebih deras dari sebelumnya. Tidak banyak yang bisa dokter axel lakukan. Hanya harapan dan do'a serta keajaiban tuhan yang saat ini menjadi kekuatanya. Dokter axel tidak munafik. Dokter axel tau bagaimana keadaan gadis kecil itu. Tubuhnya yang kecil sangat rentan terhadap segala sesuatu. Sedikit saja benturan bisa membuatnya kritis. Dan hari ini dengan bodohnya dokter axel membiarkan fani pergi bersama jeny dan tomy tanpa pengawasanya.
Mengingat bagaimana angkuhnya ucapan tomy rahang dokter axel mengeras. Di lepaskanya genggaman tanganya di tangan kecil fani kemudian dengan cepat dokter axel keluar dari ruang UGD.
“Dokter bagaimana cucu saya?”
Dokter axel tidak menghiraukan pertanyaan nenek fani. Pria tampan itu terus mengarahkan pandangan tajamnya pada tomy yang berdiri di samping kakek fani. Dengan rahangya yang semakin mengeras dokter axel melangkah melewati nenek fani mendekat pada tomy.
“Dokter cucu..”
Bug !!
Hantaman keras kepalan tangan dokter axel mengarah ke wajah tampan tomy membuat pria itu tersungkur kebelakang dan terjatuh ke lantai.
“Tomy !!”
__ADS_1