
Reyhan meletakan map berwarna biru yang di bawanya. Pria berjambul itu menatap pada tomy yang hanya diam duduk di seberangnya.
“Saya sudah melakukan apa yang pak tomy suruh. Dan untuk selanjutnya semua terserah pada pak tomy.” Kata reyhan.
Tomy menghela nafas. Tomy tidak bisa diam saja setelah tau tindakan licik lorenzo dalam berbisnis. Selain merugikan para petani lorenzo juga merusak citra pembisnis muda dengan caranya.
Tomy meraih map tersebut kemudian membukanya. Senyumnya mengembang ketika membaca berkas tersebut.
“Bagus.” Gumam tomy.
Reyhan tersenyum lega. Melakukan dengan benar apa yang tomy suruh adalah kewajibanya. Dan reyhan merasa harus melakukanya dengan tepat dan benar agar tomy puas dengan hasil kerjanya.
“Oya rey besok jangan lupa jam 7 pagi kamu siapkan semuanya yah. Jangan sampai ada yang lupa.” Kata tomy sambil menutup kembali berkas tersebut.
“Baik pak. Kalau begitu saya permisi.”
“Kita bareng saja. Tunggu saya di depan.” Sela tomy cepat.
“Oh baik pak.” Angguk reyhan.
Tomy bangkit dari duduknya. Pria tampan itu membawa map pemberian reyhan masuk ke dalam bermaksud menyimpan berkas tersebut. Tomy memang sedang berusaha untuk menyingkirkan lorenzo. Bukan hanya karna ketidak sukaanya tapi juga karna cara tidak benar pria itu yang banyak merugikan para petani kecil.
Setelah menyimpan berkasnya tomy kembali keluar dari ruanganya dan melangkah cepat keluar dari rumahnya. Tomy memang sengaja pulang sebentar untuk menemui istrinya dan menemani wanita cantik itu istirahat siang.
“Kita jalan sekarang pak?” Tanya reyhan ketika tomy memasuki mobilnya.
“Ya..” Jawab tomy.
Berlahan reyhan mulai melajukan mobilnya. Pria berjambul itu melirik diam diam pada tomy yang sibuk dengan ponselnya. Mungkin itu alasan tomy tidak mau membawa mobil sendiri. Reyhan juga tau hari ini jadwal tomy sangat padat. Tomy bahkan datang pagi pagi sekali untuk mengecek semua bahan metting nya yang di buat oleh cindy.
“Eemm.. Rey apa kamu masih memantau rachel?” Tanya tomy tiba tiba.
Reyhan terdiam sesaat. Reyhan tau apa yang di lakukam tomy pada rachel. Meskipun menurut reyhan apa yang di lakukan tomy memang sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang pria pada wanita, tapi menurut reyhan rachel memang pantas mendapatkanya setelah semua yang di lakukanya. Tomy mungkin memendam semuanya selama ini. Memendam amarah juga bencinya pada apa yang selama ini selalu di lakukan rachel.
__ADS_1
“Saya selalu memantau meskipun bapak tidak menyuruh.” Jawab reyhan.
“Bagus. Awasi dia terus. Jangan biarkan sedikit saja dia berulah.” Kata tomy tegas.
“Baik pak.” Angguk reyhan.
Tomy menghela nafas. Tomy tau siapa rachel. Karna tidak sekali dua kali wanita itu mencoba menjebaknya. Namun tomy masih beruntung karna reyhan selalu melindunginya dengan mengawasi setiap gerak gerik rachel. Tomy mengepalkan erat kedua tanganya. Tomy pernah hampir terjebak dan meminum teh yang sudah di bubuhi obat perangsang oleh wanita itu. Tapi saat itu reyhan dengan sigap langsung membawanya pergi dan menyiramnya dengan air dingin. Memang tidak memberi efek langsung, tetapi setidaknya tomy terselamatkan dari jebakan licik rachel.
“Pak maaf.. Kita ke kantor atau langsung ke restourant tempat pak tomy bertemu dengan client?” Tanya reyhan membuyarkan lamunan tomy.
“Eemm.. Langsung ke tempat ketemunya saja. Kamu tolong kasih tau cindy untuk segera datang.” Jawab tomy.
“Baik pak.”
Setelah tiba di restourant yang di maksud tomy pun langsung turun dari mobil reyhan. Kebetulan saat itu juga cindy turun dari taxi online yang di tumpanginya dan segera mendekat pada tomy.
Reyhan menghela nafas. Pria berjambul itu menatap tomy dan cindy yang mulai memasuki restourant.
Jeny menatap bibi dan sisi yang mondar mandir membawa karung sampah berisi sobekan sampul kadonya. Sebenarnya jeny ingin sekali membantu namun sisi dan bibi melarangnya.
Jeny menghela nafas. Di liriknya ponsel yang berada di tanganya. Jeny mengangkat ponsel miliknya kemudian berdecak. Sudah hampir pukul 8 lewat namun tomy belum juga pulang. Padahal biasanya pria tampan itu pulang sebelum hari petang.
“Sayang..”
Suara tomy membuat jeny langsung menoleh. Jeny bangkit dari duduknya kemudian melangkah cepat menghampiri tomy dengan tatapan serius.
Tomy yang di tatap seperti itu merasa bingung. Dan lagi, jeny tidak menyambutnya dengan pelukan dan ciuman seperti biasanya. Meskipun wanita itu tetap menyaliminya.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy bingung.
“Minta uang.”
Jeny mengacungkan tangan kananya pada tomy meminta uang dengan ekspresi yang menurut tomy lucu namun aneh.
__ADS_1
“Uang? Untuk apa?” Tanya tomy sambil meletakan tas kerjanya di atas meja kecil yang berada di sudut ruangan di sebelahnya.
Tomy kemudian merogoh saku celana hitamnya dan mengeluarkan dompet miliknya. Namun bukanya membuka dan mengeluarkan isinya tomy justru memberikan dompetnya pada jeny. Hal itu menjadi tanda bahwa jeny boleh mengambilnya berapa saja jeny mau.
“Aku mau cash.” Protes jeny mencebikan bibirnya.
“Disitu ada sayang.. Kamu bisa ambil sendiri.” Balas tomy tersenyum.
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu meraih tangan tomy kemudian meletakan kembali dompet pria itu di genggamanya.
“Loh sayang..”
“Aku cuma mau 1,5 juta. Bukan semuanya.” Sela jeny cepat.
Tomy semakin bingung dengan sikap istrinya. Namun meski di hinggapi rasa bingung tomy tetap membuka dompetnya. Pria tampan itu mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan sebanyak yang jeny minta kemudian langsung memberikanya pada jeny.
Jeny terlihat sangat antusias menerima uangnya. Setelah mendapat apa yang di mau jeny pun melangkah meninggalkan tomy begitu saja bahkan sama sekali tidak mengucapkan terimakasih padanya.
Tomy yang melihat tingkah istrinya hanya menghela nafas. Entah untuk apa uang tersebut tomy tidak terlalu memikirkan. Tomy yakin jeny tidak akan salah menggunakanya.
“Nggak dapet cium peluk deh..” Gumam tomy kemudian kembali meraih tas kerjanya.
Dengan menenteng tas kerja dan dompetnya tomy melangkahkan kakinya menuju tangga. Sesekali pria itu memiringkan kepalanya kekanan dan kiri cepat yang menimbulkan bunyi krek. Rasa lelah tomy rasakan di sekujur tubuhnya. Pekerjaan benar benar menyita waktunya sampai tomy tidak ada waktu untuk sekedar mengisi perutnya.
Sesampainya di kamar tomy langsung membuka jas dan kemejanya. Tubuhnya terasa sangat lengket meskipun keringat tidak membasahi tubuh kekarnya. Namun ketika tomy hendak masuk ke dalam kamar mandi tiba tiba ponsel yang baru saja di letakanya di atas nakas berbunyi. Tomy berdecak pelan namun tetap kembali melangkah menuju nakas. Pria itu mendudukan dirinya di tepi ranjang sambil mengangkat telephone tersebut.
“Ya halo..”
“Selamat malam pak.. Kami petugas dari toko lemari yang bapak pesan. Kami sudah sampai di gerbang kompleks bapak namun tidak tau nomor berapa rumah bapak. Bisa kasih tau nomornya pak?”
Tomy menepuk jidatnya sendiri. Tomy lupa memberikan alamatnya dengan lengkap. Dan lagi lagi semua itu karna kesibukanya.
“Tunggu sebentar. Saya akan suruh satpam saya untuk kesitu.”
__ADS_1