Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 274


__ADS_3

Karna merasa malu, susan pun pulang tanpa pamit pada tomy juga jeny. Wanita itu bahkan sempat marah marah pada pak satpam karna terlalu lama datang saat susan memanggilnya.


Jeny yang melihat tingkah susan menggelengkan kepalanya. Sekarang dugaanya semakin kuat bahwa wanita berambut lurus dengan warna hitam pekat itu bukanlah adik kandung suaminya.


“Sekarang aku sudah tidak perlu ragu lagi untuk bertindak.” Kata tomy.


Jeny menolehkan kepalanya menatap suaminya yang tampak terbakar amarah. Wanita cantik itu meraih tangan besar suaminya dan menggenggamnya erat.


Merasakan genggaman tangan kecil istrinya tomy pun menoleh. Pria itu langsung merasa tenang begitu melihat senyuman manis yang terukir di bibir merah alami istrinya.


“Jangan gegabah dan jangan mengandalkan emosi by.. Ingat dengan rencana kita..” Kata wanita cantik itu pelan.


Tomy menghela nafas. Tomy sudah merasa gemas sekali pada wanita itu. Tapi harus bagaimana lagi jika nyatanya mereka sedang menjalankan suatu rencana demi membeberkan kebenaran tentang wanita yang mengaku sebagai susan selama beberapa tahun belakangan ini.


“Kalau memang benar susan yang ada di depan kita bukan susan yang sebenarnya maka kita harus lebih berhati hati. Kita belum tau bagaimana keadaan susan adik kamu by..”


Tomy menelan ludahnya. Tomy memang belum menerima informasi dari rolan maupun rio tentang keadaan om dan tantenya sekarang ini.


“Kamu benar sayang. Terimakasih sudah mengingatkan aku..”


Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny menganggukan kepalanya kemudian mengangkat tangan besar tomy yang di genggamnya. Jeny mengecup punggung tangan suaminya.


“Bukankah kita sedang menjadi patner sekarang?” Tanyanya lembut.


Tomy tertawa pelan kemudian meraih tubuh mungil istrinya. Tomy tidak tau bagaimana jadinya jika jeny tidak mau membantunya menangani susan. Tomy mengusap lembut punggung jeny dan beberapa kali mencium rambut lurus wanita itu menghirup aroma khas mawar bercampur vanilla yang selalu membuatnya terbuai dan terpesona pada istrinya itu.


Tomy melepaskan pelukanya dan membelai lembut pipi chuby istrinya.


“Aku berangkat ke kantor dulu yah..” Katanya lembut.


Jeny menganggukan kepalanya.


“Oke..” Balasnya.

__ADS_1


“Kamu hati hati di rumah. Jangan terlalu kecapek an.” Ujar tomy dengan penuh perhatian menatap tepat pada kedua manik mata indah jeny.


“Iya papah..” Senyum jeny mengiyakan apa yang di katakan suaminya.


Tomy tertawa pelan mendengarnya. Pria itu kemudian mengecup singkat kening jeny. Sedangkan jeny menyalimi tomy sebelum akhirnya tomy berlalu dari sampingnya menuju mobil yang sudah berada tepat di depan pintu utama rumahnya.


“Hati hati..!” Titah jeny sedikit berseru sambil melambaikan tanganya.


Tomy menoleh ketika sudah membuka pintu mobilnya. Pria tampan itu menganggukan kepala dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukanya dengan kecepatan sedang.


Di tempat lain rolan dan rio tampak sedang memikirkan bagaimana cara mereka menyelidiki om dan tante tomy. Pasalnya sudah hampir 2 hari mereka di rumah itu namun om yang di maksud tomy tidak juga kunjung muncul. Di rumah itu hanya ada sandra dan mommy nya.


“Lan, apa mungkin omnya boss itu sedang tugas di luar kota?” Tanya rio menoleh pada rolan yang duduk di sampingnya.


Rolan hanya mengedikkan kedua bahunya. Sejujurnya rolan merasa aneh dengan sandra. Wanita itu terkadang tidak menoleh jika di panggil mommynya. Rolan kadang berpikir apakah wanita berwajah cacat itu memiliki gangguan pada pendengaranya.


“Kamu liat itu lan. Sandra sebenarnya sangat anggun jika di lihat dari belakang. Tubuhnya yang tinggi semampai dan ramping membuat keindahan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Entah itu pria maupun wanita.”


“Tapi lan, kenapa ya kalau bertatapan sama dia tuh berasa kaya sedang bertatap muka langsung sama bos.” Lanjut rio lagi.


Berlahan seulas senyum terukir di bibir rolan. Apa yang di katakan rio memang benar. Sorot mata sandra sangat mirip sekali dengan sorot mata tomy.


“Susan !!”


Seruan seseorang membuat sandra langsung menoleh ke sumber suara. Wanita itu mencari siapa yang menyebut nama susan dengan sangat keras namun tidak menemukan siapapun selain rolan dan rio yang sedang menatapnya.


“Liat? Semuanya sudah jelas. Sandra adalah susan.” Senyum puas rolan.


Rio melongo mendengarnya. Rolan berteriak sangat keras sampai membuat sandra menoleh padanya. Rio bahkan sampai merasakan pengang di telinganya karna teriakan keras rolan.


Rolan melompat dari jendela kamar yang mereka berdua tampati kemudian melangkah mendekat pada sandra yang masih kebingungan mencari siapa sosok yang memanggil nama susan dengan begitu sangat keras.


“Cukup sandiwaranya.” Kata rolan yang tanpa ragu langsung mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Sandra mengeryit bingung. Wanita itu menatap tidak mengerti pada rolan yang tersenyum miring menatapnya.


“Kamu bukan sandra kan? Kamu susan.”


Sandra menghela nafas kemudian melengos. Dan itu berhasil membuat rolan yang kebingungan karna wanita di depanya tampak sama sekali tidak terkejut mendengarnya bersuara.


“Kamu tidak kaget?” Tanya rolan tidak percaya.


“Kaget untuk apa? Dari awal saya sudah tau kamu tidak bisu. Saya tidak bodoh. Sekarang katakan untuk apa kamu dan teman kamu kemari dan beralasan mencari susan? Apa lagi yang dia mau?”


Rolan mengangkat sebelah alisnya bingung. Wanita di depanya sedang menyangka dirinya dan rio adalah orang suruhan susan palsu.


“Apa maksud kamu?”


“Apa yang maria inginkan? Kematianku?” Sela sandra bertanya dengan sangat berani.


Rolan menggelengkan kepalanya. Pria itu benar benar tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh sandra. Dirinya dan rio di suruh oleh tomy untuk menyelidiki om dan tantenya. Bukan di suruh susan palsu untuk mencelakai wanita di depanya yang rolan yakini adalah susan yang asli.


“Tidak cukupkah kalian berbuat semena mena pada daddy ku? Tidak cukupkah kalian menyiksanya? Apa kalian tidak punya belas kasihan pada daddyku yang sudah sakit sakitan itu?”


Serentet pertanyaan sandra membuat rolan tersudut. Rolan tidak tau menau tentang daddy sandra. Karna sampai 2 hari menginap tidak ada pria lain di rumah itu selain dirinya dan rolan.


“Katakan padaku apa yang maria suruh pada kalian?” Tanya sandra lagi semakin menyudutkan rolan.


Rolan tidak tau harus bagaimana. Niatnya ingin mengintrogasi sandra malah berbalik dirinya yang di introgasi oleh wanita itu.


Rio yang masih duduk di bingkai jendela kamar yang mereka tempati tampak kebingungan. Dari kejauhan dirinya dapat melihat dengan jelas sandra yang sedang mencecar rolan dengan berbagai kata yang mungkin tidak bisa di jawab rolan karna pria itu sedang pura pura menjadi orang bisu.


“Kenapa dia seperti marah marah?”


Rio melipat kedua tanganya terus memperhatikan sandra dan rolan. Rio tidak ingin mendekat karna tidak mau di anggap mengeroyok seorang wanita.


Tidak lama tante tomy datang dengan membawa belanjaan yang memenuhi kedua tanganya. Wanita itu tersenyum manis pada sandra yang langsung berhenti marah marah pada rolan dan langsung menyambut kedatangan tante tomy dengan membantu membawakan belanjaanya meninggalkan rolan yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2