Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 219


__ADS_3

Sampai malam tiba dokter axel belum juga ingin pulang. Pria tampan itu berusaha menghindar dari angel yang memang sepertinya mulai tidak percaya dan curiga dengan semua kebenaran yang dokter axel sembunyikan.


“Ya tuhan.. Saya harus bagaimana sekarang?”


Dokter axel berdecak. Jika mommy nya tau dirinya merawat angel, mommy nya pasti akan sangat marah. Selain karna angel yang selalu mengabaikan fani juga karna hinaan angel dulu saat dokter axel bersimpuh di kakinya dan memintanya untuk kembali namun angel malah lebih memilih bersama dengan leo.


Dokter axel menghela nafas. Mengingatnya saja dokter axel merasa hatinya sangat sakit apa lagi jika harus mengungkit semua masa masa indahnya dengan angel dulu.


Dokter axel merasa tidak sanggup jika harus melakukanya. Dokter axel sudah cukup tersiksa dengan keadaanya sekarang. Dan dokter tampan itu tidak ingin lagi menambah siksaanya sendiri dengan mengungkit masa lalunya bersama angel.


Deringan ponsel membuat dokter axel tersentak. Pria tampan itu meraih ponsel yang ada di dashboard mobilnya. Senyum hambarnya mengembang ketika melihat nama leo tertera di layar ponselnya. Karena tomy mereka bisa menjadi satu tim. Lebih tepatnya karna lorenzo. Dan mereka bersatu menjadi satu tim juga demi angel.


“Untuk apa lagi dia menelephone.” Gumam dokter axel malas.


Sesaat dokter axel mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Namun ketika mengingat angel yang sudah menunggunya di rumah dokter axel pun segera mengangkat telephone tersebut.


“Halo pak leo..”


“Ya dokter. Bagaimana keadaan angel?”


“Angel sedang minta di antar kembali ke rumah kedua orang tuanya. Kalau anda ada waktu tolong anda datang saja ke rumah saya. Saya sedang ada pasien yang tidak bisa saya tinggal di rumah sakit. Jadi tolong anda saja yang mengantarkan angel.”


“Kenapa harus saya? Kenapa tidak anda saja? Anda bisa mengantarnya besok atau mungkin setelah pasien anda di tangani.”


Dokter axel memejamkan kedua matanya. Pria tampan itu sudah berbohong dengan mengatakan sedang menangani pasien di rumah sakit. Padahal pada kenyataanya dokter axel ada di dalam mobil di tepi jalan yang cukup sepi demi menghindari angel.


“Axel, kamu sendiri tau angel sangat terlihat tidak nyaman kalau aku ada di sekitarnya.” Ujar leo mengabaikan bahasa formalnya tadi pada dokter axel.


“Aku bukan tidak mau. Aku hanya tidak mau angel akhirnya membenciku.” Lanjut leo.

__ADS_1


Dokter axel menganggukan kepalanya mengerti. Dokter axel sudah mengambil angel dari rumah sakit jiwa itu artinya dokter axel juga siap bertanggung jawab pada angel tentang apapun.


“Baik saya mengerti.”


“Axel maaf sebelumnya. Kalau boleh aku tau kenapa angel harus di pulangkan ke rumah orang tuanya?” Tanya leo pelan.


Dokter axel menelan ludahnya hingga jakunya terlihat jelas naik kemudian turun lagi. Dokter axel merasa angel sudah tidak betah lagi denganya. Tapi jika dokter axel mengatakanya dengan jujur pada leo, leo pasti akan menertawakanya.


“Bukankah akan lebih baik jika angel bersama kamu?”


“Tidak ada yang baik jika saya dan angel terus bersama. Dan angel memang sudah seharusnya tinggal bersama kedua orang tuanya.” Jawab dokter axel tegas.


“Oke.. Aku mengerti.” Balas leo pelan.


Dokter axel memutuskan sambungan telephone nya setelah itu. Dokter axel sadar jika sampai leo yang mengantar angel kembali ke kediaman kedua orang tuanya, kedua orang tua angel pasti akan salah faham dan marah padanya.


Dokter axel kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Dengan kecepatan sedang dokter tampan itu menuju jalan pulang. Dirinya harus bertanggung jawab pada angel apapun resikonya nanti. Meskipun dirinya harus kembali merasakan luka perih di hatinya. Semua itu sudah menjadi keputusanya yang harus dokter tampan itu lakukan.


Dengan isak tangisnya angel menatap pintu utama di dalam gelap karna angel memang tidak menghidupkan lampu. Semua itu karna tubuhnya mendadak terasa lemas bahkan angel merasa tidak mampu untuk sekedar berdiri.


“Kenapa gelap?” Gumam dokter axel bertanya tanya.


Dokter axel menelan ludahnya. Mendadak rasa khawatir merayapi hatinya. Angel tampak sangat sendu saat dirinya pergi pagi tadi. Dan tiba tiba dokter axel berpikir mungkin angel nekat pergi sendiri dan berjalan tak tentu arah.


“Nggak.. Dia nggak sebodoh itu..” Dokter axel menggelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran pikiran buruknya.


Tidak mau membuang waktu, dokter tampan itu pun segera melangkah cepat menuju pintu utama rumahnya. Di bukanya pelan pintu itu dan kegelapan tanpa cahaya di dalam rumah mewahnya membuat dokter axel sesaat terdiam.


“Dokter. Hiks hiks...”

__ADS_1


Suara angel yang memanggilnya di sertai isak tangis membuat dokter axel terkejut. Pria tampan itu langsung merogoh saku celana bahanya dan mengeluarkan ponsel sebagai senter agar bisa menuju saklar lampu dan menghidupkanya. Dan begitu dokter axel menghidupkan lampu sosok angel langsung terlihat duduk dengan kedua lutut menekuk serta wajah merah juga mata sembabnya di sudut ruangan. Pipi wanita itupun basah karna deraian air matanya dengan rambut berantakan.


“Sakit dokter... Sakit sekali.. hiks hiks..” Adu angel terisak sambil memukul mukul dadanya sendiri.


“Ya tuhan...” Lirih dokter axel langsung bergerak cepat mendekat pada angel dan meraih tubuh bergetar wanita itu menggendong dan membawanya menuju sofa panjang yang berada tidak jauh darinya.


Dokter axel membaringkan tubuh bergetar angel di atas sofa. Dengan lembut di sekanya pipi basah angel dengan ibu jarinya.


“Ada apa? Kenapa menangis?” Tanya dokter axel pelan.


Angel menggelengkan kepalanya. Tangisanya tidak kunjung berhenti karna hatinya yang terus terasa sakit sejak masuk ke dalam kamar bernuansa pink itu. Angel bahkan tidak melakukan apapun dari pagi dan terus menangis tanpa mengingat minum apa lagi makan.


“Angel. Apa ada sesuatu yang kamu ingat?”


Pertanyaan dokter axel membuat angel berhenti menangis namun masih sesekali terisak. Angel menatap wajah tampan dokter axel yang begitu sangat dekat denganya. Dan tiba tiba angel terbayang senyuman fani. Wajah dokter axel dan fani memanglah sangat mirip.


“Photo itu.. Kamar itu.. Hati aku sakit..” Kata angel dengan suara seraknya.


Dokter axel mengeryit tidak mengerti dengan apa yang di maksud angel. Namun pria itu tetap diam dan menunggu angel kembali mengatakan sesuatu.


“Dokter. Siapa gadis kecil dalam photo itu?” Tanya angel dengan air mata kembali berderai.


“Gadis kecil? Apa maksud kamu?”


Dada dokter axel langsung bergemuruh. Pagi tadi dirinya lupa mengunci kamar yang memang dia siapkan untuk fani jika sembuh. Meskipun fani memang pernah menempatinya beberapa kali.


“Kamar itu.. Kamar bernuansa pink itu.. Siapa gadis dalam photo itu dokter... Hatiku sakit melihatnya.. Aku merasa ada sesuatu yang hilang saat menatap senyumanya..”


Dokter axel menghela nafas. Menyembunyikan kebenaran tentang fani pada angel memang bukanlah hal yang baik. Karna pada akhirnya naluri wanita itu begitu kuat hanya dengan menatap photo putrinya.

__ADS_1


“Gadis kecil itu anak saya..”


__ADS_2