
“Tomy !!”
Jeny langsung menubruk tomy yang tersungkur di lantai. Wanita cantik itu menyentuh bibir sebelah kiri suaminya yang mengeluarkan sedikit darah karna bogeman mentah dokter axel.
“Sshhh..” Tomy meringis ketika tangan jeny menyentuh sudut bibir bagian kirinya.
“Ayo bangun.. Aku bantu.” Kata jeny meraih lengan tomy dan membantunya bangun dari lantai.
Tomy menganggukan kepalanya. Tomy tidak akan membalas apa yang di lakukan dokter axel padanya. Tomy sadar dirinya salah. Karna dirinyalah fani sekarang drop.
“Puas kalian sekarang?” Tanya dokter axel menatap jeny dan tomy dengan tatapan tajam.
Tomy hanya diam saja begitu juga dengan jeny. Mereka tau penyebab keadaan memburuk fani sekarang karna mereka membawa fani terlalu lama di luar.
“Kami bisa jelaskan.” Kata jeny.
“Jelaskan apa? Puas kalian sekarang? Puas kalian berdua melihat keadaan fani sekarang?!” Bentak dokter axel dengan dada kembang kempis emosi.
Jeny terdiam. Niatnya dan tomy baik. Meskipun pada akhirnya berefek buruk pada keadaan fani saat ini.
“Dokter axel.. Saya dan suami saya minta maaf..” Kata jeny hati hati.
Dokter axel tertawa sinis. Dengan kedua tangan yang masih mengepal erat pria itu kembali hendak mendekat pada tomy namun dengan cepat jeny langsung menghadangnya.
“Jangan pukul suami saya dokter.. Pukul saja saya.”
Langkah dokter axel terhenti. Pria tampan itu menelan ludahnya. Air mata yang sedari tadi di tahanya kembali menetes dan itu dapat dengan jelas di lihat langsung oleh jeny.
“Kalian.. Kalian menyakitinya.”
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu menolak keras apa yang di katakan dokter axel padanya juga tomy. Karna sedikitpun jeny tidak pernah berniat untuk menyakiti fani. Jeny perduli pada fani. Dan jeny juga sangat menyayangi fani.
“Dokter saya...”
“Dengar baik baik. Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada anak saya, saya akan tuntut kalian berdua.”
Kedua mata jeny terbelalak. Entah apa yang di maksud oleh dokter axel yang mengatakan tentang anaknya.
“Apa maksud dokter?” Tanya jeny bingung.
__ADS_1
Dokter axel tidak menjawab. Pria itu langsung berlalu begitu saja tanpa lagi menoleh pada tomy, jeny, juga kedua kakek dan nenek tomy.
“Fani anak dokter axel?”
Jeny menoleh pada suaminya. Ekspresi tomy terlihat bingung dan penuh tanda tanya menatap punggung dokter axel yang mulai menjauhinya.
“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi sama cucu saya? Dan kenapa axel sampai semarah itu?” Tanya kakek fani yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
Jeny dan tomy menoleh ke arah kakek fani. Mereka tidak tau bagaimana cara menjelaskanya pada orang tua itu. Mereka berdua pasti juga akan marah seperti dokter axel. Mereka berdua akan salah faham pada jeny dan tomy.
“Kakek...”
Ucapan jeny menggantung saat tiba tiba tomy menggenggam erat tanganya seolah melarang jeny untuk mengatakan sesuatu pada nenek dan kakek fani.
Jeny menoleh pada tomy. Sebuah gelengan pelan kepala tomy membuat jeny bingung namun tetap menganggukan kepala menurut pada apa yang di larang oleh suaminya.
“Diam lebih baik sayang..” Bisik tomy.
“Tapi...”
“Sayang... Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk fani.” Senyum tomy menyela.
“Tunggu disini.” Tomy mengecup singkat kening jeny sebelum berlalu ke arah dokter axel berlalu tadi.
Jeny hanya menghela nafas. Wanita itu yakin dan percaya pada suaminya. Tomy pria yang baik juga cerdas. Dan tomy tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu.
“Dokter jeny apa dokter bisa menjelaskan pada kami?”
Pertanyaan kakek fani membuat jeny mengalihkan perhatianya. Jeny tidak tau darimana dirinya harus menjelaskan. Karna jeny tau niat baiknya dan tomy pada fani pasti juga akan salah di mata kedua orang tua di depanya.
“Tidak ada apa apa kek, nek. Fani hanya kelelahan saja.” Bohong jeny dengan senyuman di bibir pink nya.
Kakek dan nenek fani saling menatap satu sama lain. Mereka berdua kemudian kembali menatap jeny yang masih mengukir senyum di bibirnya.
Nenek fani mengangguk kemudian tersenyum membalas jeny.
“Kami percaya pada dokter.” Katanya.
Berbeda dengan nenek fani, kakek fani justru masih melayangkan tatapan curiga pada jeny. Pria tua itu masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh jeny.
__ADS_1
“Boleh kami masuk?” Tanya nenek fani kemudian.
“Boleh nek..” Senyum jeny menganggukan kepalanya.
Di taman rumah sakit dokter axel menangis. Pria itu meraih dan membanting apa saja yang berada di sekitarnya. Bahkan kursi panjang bercat putih yang berada di depanya pun tak luput dari tendangan kaki jenjang nya.
Tomy yang diam diam mengikutinya tersenyum. Kini pria tampan itu tau mengapa dokter axel selalu terkesan menutupi keadaan fani dari jeny.
Tomy menghela nafas. Meskipun tomy memang tidak tau bagaimana akar permasalahan dokter tampan itu. Tapi tomy tau fani adalah anak kandung dokter muda itu. Karna dari wajahnya saja fani sudah terlihat sangat mirip dengan dokter axel.
Pelan pelan tomy melangkah mendekat pada dokter axel. Rasa nyeri di sudut bibirnya yang pecah dan berdarah tidak lagi di rasakan olehnya. Karna menurut tomy bogem mentah dokter axel tidak setimpal dengan rasa sakit yang di alami fani karna terlalu lelah jalan jalan bersamanya dan jeny.
“Jadi fani anak anda dokter?”
Dokter axel mengepalkan kedua tanganya. Kedua matanya langsung nyalang tajam ketika mendengar suara tomy yang berada di sampingnya.
“Jangan ikut campur.” Tegas dokter axel penuh emosi.
Tomy tersenyum. Tomy tidak bermaksud ikut campur. Hanya saja rasa keperduliaanya pada fani membuat tomy merasa juga harus melindungi gadis kecil itu.
“Saya tidak bermaksud ikut campur. Tapi saya dan istri saya perduli pada fani. Kami menyayanginya.” Balas tomy tenang.
Dokter axel menoleh. Dengan kasar pria berjas putih itu mengusap air mata yang menganak sungai di kedua pipi tirusnya. Tentang keperdulian jeny dokter axel bisa percaya. Karna hampir setiap hari jeny selalu menyempatkan mengunjungi fani di sela kesibukanya.
“Kalau memang anda perduli anda tidak mungkin membuat fani seperti ini. Anda tau pak tomy? Kondisi fisik fani sangat lemah. Dia tidak bisa sedikit saja merasa lelah.. Tapi anda..”
Dokter axel tidak sanggup melanjutkan ucapanya karna air matanya sudah lebih dulu menetes mendahului. Tatapanya turun ke kemeja penuh noda darah yang di kenakan tomy. Dokter axel tau itu adalah darah fani.
Tomy yang melihatnya merasa iba dan pilu. Dokter axel terlihat sangat kalut dan frustasi karna keadaan fani sekarang.
“Saya minta maaf.. Saya tidak bermaksud.”
“Cukup.” Tegas dokter axel menyela dengan mengangkat tanganya di udara menyuruh tomy untuk berhenti berucap.
“Saya minta mulai sekarang jauhi fani.” Katanya menatap tajam pada tomy.
Tomy hanya diam saja. Tomy bisa memahami bagaimana perasaan dokter axel. Pria itu pasti sangat takut sesuatu yang buruk terjadi apa lagi jika sampai fani meninggalkanya.
Dokter axel berlalu setelah berkata. Langkahnya begitu cepat dan lebar meninggalkan tomy yang masih berdiri mematung di tempatnya.
__ADS_1