
Tomy tidak bisa memejamkan kedua matanya sepanjang malam. Semua itu karna luka lukanya yang mulai terasa. Dari kepalanya yang mulai pusing, juga kaki dan tanganya yang mulai terasa ngilu dan perih.
Tomy menghela nafas. Sebisa mungkin tomy tidak bergerak akan tidak mengganggu tidur jeny yang terus saja memeluknya. Tomy tidak mau jika sampai istrinya terbangun kemudian tidak bisa tidur lagi. Tomy tau istrinya juga memiliki segudang aktivitas yang membuatnya kelelahan siang harinya.
“Ya tuhan... Ini sakit sekali..” Batin tomy bergumam.
Tomy menelan ludahnya. Pria tampan itu terus mencoba untuk tenang meskipun rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Mungkin akibat dari benturan keras saat mobilnya menabrak pembatas jalan tol. Beruntung jalanan saat itu sedang lenggang sehingga kecelakaan yang di alami tomy tidak menimbulkan kecelakaan beruntun.
1 jam 2 jam 3 jam bahkan sampai menjelang pagi sampai jeny terbangun tomy tetap tidak memejamkan kedua matanya. Rasa sakit di tubuhnya membuat kantuk bahkan tidak bisa menguasainya.
Jeny keluar dari kamar mandi dengan dress rumahan hijau toskanya. Wanita itu sessat terdiam dan berdiri di depan cermin besarnya. Jeny tertawa pelan melihat tubuhnya yang semakin hari semakin terlihat montok dan berisi.
Jeny menghela nafas. Wanita itu mengalihkan perhatianya dari pantulan dirinya di cermin pada tomy yang masih membaringkan tubuhnya dan terlelap damai. Padahal seingat jeny tadi tomy sudah bangun. Tapi begitu jeny selesai membersihkan dirinya jeny kembali mendapati suaminya terlelap.
Jeny melangkahkan kakinya menuju ranjang. Wanita itu mendudukan dirinya tepat di samping tomy yang masih terlelap. Di tatapnya wajah tampan suaminya. Jeny tidak pernah berpikir suaminya yang begitu kuat juga tangguh akan mengalami hal seperti sekarang ini. Entah siapa yang begitu tega ingin mencalakai suaminya.
Jeny menyentuh lembut pipi tirus suaminya. Jika memang benar lorenzo yang mencalakai suaminya jeny tidak akan pernah bisa memaafkanya.
“By...” Panggil jeny pelan
Tomy tidak bergeming. Pria itu tetap memejamkan kedua matanya dengan nafasnya yang begitu halus dan teratur.
Jeny tersenyum geli. Mungkin suaminya masih mengantuk. Pikir wanita itu.
Tidak mau mengganggu tidur lelap suaminya jeny pun memilih untuk mengeringkan rambutnya. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, jeny pun merias dirinya sedemikian cantik. Jeny yakin suaminya tidak akan kemana mana. Kalaupun tomy kukuh ingin bekerja, jeny akan dengan cepat mengeluarkan jurus ngambeknya.
Jeny keluar dari kamarnya. Dengan pelan jeny memuruni anak tangga.
“Mungkin lebih baik aku tutup sementara kliniknya.” Katanya.
Jeny menemui pak satpam dan menyuruh nya untuk memasang papan di depan gerbang kompleks yang berisi pemberitahuan bahwa kliniknya untuk sementara tutup.
“Bu.. Sarapan paginya sudah siap..” Jeny menoleh dan tersenyum pada bibi yang sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
“Makasih ya bi.. Nanti sebentar lagi saya sarapanya.” Senyum jeny.
“Baik bu..” Angguk bibi kemudian berlalu dari depan gerbang dimana jeny masih berdiri.
Jeny sebenarnya tidak ingin menutup kliniknya. Jeny tau orang orang yang datang berobat padanya adalah orang orang yang tidak mampu untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Jeny juga tau mereka semua membutuhkan jasanya untuk siap siaga kapanpun mereka datang. Tapi sekarang tomy sedang tidak baik baik saja. Suaminya itu sedang sangat membutuhkan perhatian lebih darinya. Tomy juga membutuhkan perawatan ekstra agar luka lukanya tidak sampai infeksi.
Jeny melongokan kepalanya ke luar gerbang. Wanita itu tersenyum ketika melihat pak satpam tampak sedang berbincang dengan satpam kompleks.
“Semoga nggak di larang deh.”
Jeny melangkah masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu langsung menuju meja makan karna perutnya yang sudah terasa sangat lapar.
“Bu.. Maaf kalau saya lancang. Bagaimana keadaan bapak?” Tanya bibi yang muncul dari arah dapur.
Jeny tersenyum. Wanita itu senang karna ternyata banyak yang perduli pada suaminya.
“Bapak mendingan bi.. Makasih perhatianya..” Jawab jeny.
“Syukurlah kalau begitu bu.. Semoga bapak cepat pulih ya bu..”
“Kalau begitu saya permisi ke dapur bu..”
“Oh iyah bi..”
Jeny sarapan pagi seorang diri. Namun meskipun begitu, jeny tetap semangat melahap sarapanya. Jeny juga tidak lupa meminum vitamin juga susu yang sudah di siapkan bibi.
Selesai sarapan jeny kembali naik ke lantai 2 rumahnya. Tidak lupa jeny juga membawakan sarapan untuk suaminya. Sebenarnya jeny bisa saja menyuruh bibi untuk membawakanya. Tapi jeny tidak mau merepotkan dan menambah nambah pekerjaan asisten rumah tangganya. Jeny juga ingin turun tangan sendiri merawat suaminya. Tomy pasti akan lebih semangat juga senang jika jeny yang full merawatnya.
Sampai di kamar tomy masih dengan posisinya. Pria itu masih tampak sangat lelap.
Jeny tersenyum. Padahal biasanya pria itu sangat rajin sekali bangun pagi.
Jeny meletakan makanan juga segelas air putih yang dibawanya dengan nampan di atas nakas samping tempat tidur mereka. Jeny kemudian mendudukan dirinya di samping tomy. Ketika hendak menyentuh pipi tirus suaminya jeny merasakan ada gerakan halus di perutnya. Wanita itu langsung menunduk kemudian terkekeh. Anak dalam kandunganya seakan sedang bertanya apa yang terjadi pada papahnya.
__ADS_1
“Papah lagi sakit sayang...” Kata jeny sambil membelai lembut perut buncitnya.
Dan gerakan halus itu kembali terasa.
“Kamu bantuin mamah yah...Kita rawat papah sama sama. Jangan nakal ya sayang..” Kata jeny lagi.
Gerakan itu terasa lagi namun setelahnya tidak. Dan jeny kembali menganggap bahwa gerakan itu sebagai jawaban iya dari anak dalam kandunganya.
“Pinter banget anak papah sama mamah.” Pujinya.
“Eemmhhh... Selamat pagi istriku yang cantik..”
Suara serak tomy membuat jeny menoleh. Wanita itu tersenyum dan langsung memberikan kecupan singkat di bibir suaminya.
“Selamat pagi juga suamiku sayang..” Balas jeny.
Tomy terdiam sejenak. Tomy mengerjapkan kedua matanya beberapa kali tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Jeny memanggilnya dengan sebutan sayang.
“Sayang?” Tanya tomy memastikan.
Jeny hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Selama ini jeny memang tidak pernah memanggil tomy dengan sebutan sayang.
“Bisa ulangi lagi panggil sayangnya?” Lirih tomy dengan masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Jeny tertawa geli. Sikap suaminya terlalu berlebihan menurutnya.
“Udah ah... Ayo bangun by.. Sarapan terus bersih bersih.” Elak jeny.
“Sayang please...”
“By.. Kamu harus sarapan terus badan kamu harus di lap. Luka kamu juga harus di obatin..” Balas jeny cepat.
Tomy berdecak. Pria itu mengerucutkan bibirnya karna kemauanya tidak di turuti oleh istrinya. Padahal tomy ingin sekali mendengar jeny memanggilnya sayang. Jeny memang menggilnya dengan panggilan sayang dengan sebutan by. Tapi menurut tomy mendengar jeny memanggilnya dengan sebutan sayang secara langsung adalah hal paling langka juga paling indah bagi tomy.
__ADS_1
“Sekarang kamu makan yang banyak.. Terus cuci muka, sikat gigi, baru setelah itu aku lap badan kamu.” Cerocos jeny sambil menyuapkan makanan yang dengan terpaksa di terima oleh tomy.