
Semua sudah berkumpul melingkari fani yang tetap berada di pangkuan jeny. Gadis kecil itu tersenyum menatap satu persatu orang yang di sayanginya hadir dan menemaninya. Namun ketika hendak mengatakan sesuatu tiba tiba fani terdiam. Suaranya tidak dapat keluar dari mulutnya. Dan tenggorokanya terasa sakit. Tanganya pun terasa berat untuk sekedar di gerakan.
Fani menggerakan kepalanya. Gadis kecil itu menarap jeny dengan tatapan sedih serta mulut bergerak seperti mengatakan sesuatu.
“Kenapa nak?” Tanya jeny mengusap lembut kening fani.
Fani menggelengkan pelan kepalanya. Gadis kecil itu sudah tidak dapat lagi berbicara.
Angel yang berada di kaki kiri fani langsung mendekat. Wanita itu menangis dan menciumi seluruh wajah putri yang di lahirkanya.
“Maafin mamah sayang.. Hiks hiks..”
Suasana hening membuat isak tangis angel seakan memantul. Wanita itu menangis menyesal menatap keadaan memilukan putrinya saat ini.
“Maafin mamah...”
Fani membuka lagi mulutnya namun tidak bisa mengucapkan apapun. Gadis kecil berkepala botak itu menatap angel dengan tatapan memelas.
Sedangkan yang lainya hanya bisa diam. Tomy yang berada di samping jeny terus saja meneteskan air matanya. Pria itu tidak rela jika sampai fani benar benar pergi meninggalkanya.
Berbeda dengan dokter axel yang hanya diam berdiri. Tidak ada lagi air mata yang membasahi pipinya. Pria itu benar benar mencoba untuk ikhlas dan lapang dada menerima takdirnya.
“Cucuku... Hu hu hu..”
Nenek fani menangis. Wanita tua berambut putih itu memeluk erat suaminya yang juga menangisi keadaan fani saat ini.
“Kamu mau apa sayang? Bilang sama mamah.. Mamah akan turuti apapun permintaan kamu nak..” Kata angel dengan suara bergetarnya meraih dan menggenggam bahkan terus menciumi tangan kecil fani.
Fani hanya diam saja. Gadis itu tidak tersenyum tidak pula menggerakkan kepala. Namun pandangan fani tertuju pada leo yang hanya diam di sudut ruangan. Entah apa yang sedang di pikirkan pria berambut coklat itu namun dari sorot matanya terlihat jelas belas kasihanya menatap fani.
__ADS_1
Jeny yang mengerti dengan tatapan fani ikut menatap leo. Jeny berpikir mungkin fani ingin mengatakan sesuatu pada suami mamah kandungnya itu.
“Pak leo.. Bisa pak leo mendekat pada fani?”
Pertanyaan jeny membuat semua orang yang ada disitu menatap leo yang hanya diam saja di sudut ruangan. Mendapat tatapan dari semuanya leo pun menjadi gugup dan salah tingkah.
Leo menelan ludahnya. Pria itu menatap sekitarnya kemudian menatap fani yang tersenyum penuh harap kepadanya. Dan melihat senyuman gadis kecil itu entah kenapa tiba tiba tubuh leo bergerak mendekat. Dengan tatapan yang terus tertuju pada fani leo pun duduk berlutut di samping angel.
Leo menghela nafas pelan. Fani terus saja tersenyum menatapnya. Dan tiba tiba tangan kecil gadis itu bergerak terulur kepadanya. Leo langsung meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya lembut.
Mendapat respon dari leo fani tersenyum manis. Meskipun bibirnya sudah tidak mampu lagi berkata kata namun air mata harunya menjadi tanda betapa bahagia gadis kecil itu karna akhirnya leo mau menggenggam tangannya.
Fani menggerakkan kepalanya. Gadis kecil itu tersenyum pada jeny dan tomy seakan mengatakan bahwa dirinya sangat bahagia dengan genggaman tangan leo.
Berlahan nafas fani mulai tidak teratur. Semua yang ada disitu hanya bisa menangis. Termasuk leo yang diam diam juga meneteskan air matanya. Dan berlahan fani mulai menutup matanya bersamaan dengan berhentinya nafas gadis itu.
Jeny yang memangku kepala fani menangis dalam diam. Jeny tau bagaimana penderitaan gadis kecil itu. Jeny juga tau bagaimana gadis kecil itu berjuang melawan rasa sakit yang di alaminya. Dan sekarang perjuangan gadis kecil itu sudah berakhir. Rasa sakit itu telah hilang bersama dengan kepergianya.
“Ikhlaskan sayang.. Biarkan fani tenang.. Tuhan lebih menyayanginya.” Bisik tomy sambil memeluk tubuh bergetar jeny dari samping.
Jeny menganggukan kepalanya. Air matanya terus berderai membasahi pipi sampai menetes ke pipi fani. Dengan pelan jeny mengangkat kepala fani dan memeluknya. Jeny juga mencium kening gadis kecil itu untuk yang terakhir kalinya.
“Ya tuhan.. Fani..” Lirih leo.
Sedang angel, wanita itu jatuh terkulai tak sadarkan diri tepat di kaki fani. Dokter axel yang melihatnya tersenyum sinis. Pria itu kemudian membopong tubuh angel dan menjauhkanya dari fani.
“Kamu terlambat.” Katanya.
Ruangan yang tadi sunyi senyap itu seketika ramai oleh isak tangis memilukan. Mereka semua menangisi kepergian fani yang tidak akan pernah kembali lagi.
__ADS_1
Bibi dan sisi juga pak satpam yang ikut menemani detik detik kepergian fani ikut menangis. Mereka menyaksikan sendiri betapa gadis kecil itu merindukan kasih sayang yang tidak pernah di dapatkanya dari angel sampai akhir hidupnya.
Tidak lama banyak para tetangga kompleks yang datang silih berganti. Mereka keluar masuk dengan heran. Yang mereka tau jeny dan tomy adalah pasangan muda yang belum memiliki anak, namun tiba tiba kabar mengejutkan terdengar bahwa anak dari keduanya meninggal dunia.
“Bukankah mereka belum mempunyai anak?” Tanya seorang wanita baya yang juga ikut datang melayat.
“Mungkin anak angkatnya.” Jawab wanita satunya lagi.
Bibi dan sisi yang mendengarnya hanya tersenyum saja. Fani memang gadis malang yang beruntung mendapatkan kasih sayang tulus dari tomy dan jeny. Bahkan tomy dan jeny sampai menganggap fani sebagai anak kandungnya. Memperlakukanya dengan baik dan penuh cinta kasih dan sayang.
Acara pemakaman fani berlangsung dengan di iringi tangis pilu dar angel juga kedua kakek dan nenek fani. Mereka tidak berhenti menangis meratapi kepergian selamanya gadis kecil itu.
Sedangkan dokter axel, Pria tampan itu tidak lagi menangis. Dia berdiri di samping nisan fani dalam diam. Berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Penderitaan fani sudah berakhir. Kehidupan menyakitkanya sudah selesai. Dan kini gadis kecil itu sudah tenang berada di dunia barunya.
“Selamat jalan sayang.. Papah akan selalu menyayangi kamu..” Lirihnya.
Berbeda dengan dokter axel, tomy terus saja meneteskan air mata dalam diam. Pria itu sungguh sangat merasa kehilangan akan kepergian gadis kecil itu. Gadis kecil yang menjelma layaknya malaikat. Gadis kecil yang membuatnya sadar akan pentingnya kejujuran. Dan gadis kecil yang mengajarkanya akan cinta dan kasih sayang tulus.
“Anakku... Selamanya kamu adalah anak cantik papah, Kebanggaan papah..” Gumam tomy.
Jeny yang mendengar gumaman suaminya tersenyum. Fani berhasil meluluhkan hati suaminya. Gadis kecil itu mampu membuat tomy menyayanginya dengan tulus.
“By...”
“Aku percaya sayang.. Fani akan jauh lebih bahagia disana. Fani nggak akan sakit lagi.” Lirih tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian memeluk tubuh suaminya dari samping. Jeny menyenderkan kepalanya di dada tomy dengan tatapan yang terus tertuju pada nisan fani.
“Selamanya kamu adalah kesayangan mamah papah fani.” Batin jeny.
__ADS_1