
“Bagaimana rey?” Tanya tomy ketika reyhan menghadapnya.
“Seperti biasanya pak. Menghadapi mbak susan memang tidak mudah. Mbak susan sangat marah saat saya tinggalkan di apartemenya. Dia bilang akan mencari tau sendiri dimana tempat tinggal pak tomy dan bu jeny.” Jawab reyhan.
Tomy berdecak pelan. Sampai sekarang tomy belum menemukan bagaimana cara menghadapi susan yang sangat keras kepala itu. Apa lagi susan juga tidak mau mengakui mamah dan papahnya karna kesalah fahaman di masa lalu.
“Kamu tolong awasi susan terus ya rey.. Saya tidak mau kalau susan sampai berbuat yang tidak tidak pada jeny dan faraz.”
“Itu pasti pak. Saya akan berusaha untuk selalu mengetahui apa saja yang di lakukan mbak susan.” Angguk reyhan tersenyum tipis.
“Terimakasih rey..” Senyum tomy menatap reyhan yang duduk di depanya.
“Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja.”
“Silahkan.”
Reyhan bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangan tomy. Pria itu menghela nafas setelah menutup pintu ruangan bosnya itu. Menghadapi seorang susan memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Tapi jika tomy sudah memberikan tugas padanya, reyhan akan benar benar melakukanya dengan baik.
“Kenapa rey?”
Reyhan tersentak ketika tiba tiba cindy muncul. Pria itu tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.
“Duluan yah..” Katanya kemudian berlalu meninggalkam cindy yang mengeryit bingung juga penasaran.
Tomy meraih ponselnya yang terus saja berdering dari tadi. Tomy sengaja membiarkanya karna memang dirinya tadi sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan reyhan.
“Ya mah halo..”
“Tomy bagaimana susan? Apa kamu sudah menjemputnya?”
Tomy menghela nafas mendengar pertanyaan mamahnya. Sebelumnya sang mamah memang sudah mewanti wantinya agar tomy sendiri yang menjemput dan memastikan susan baik baik saja. Tomy tau seburuk apapun susan mamahnya tetap sangat menyayangi dan merindukanya.
__ADS_1
“Apa dia nanyain mamah nak? Apa ada yang susan katakan tentang mamah sama kamu?”
Tomy menelan ludahnya. Reyhan bahkan belum lama mengatakan jika susan menolak saat reyhan menawarkan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Susan juga tidak memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan mamah papah melainkan sebutan nyonya dan tuan.
“Mah maaf tomy sibuk hari ini jadi tidak sempat menjemput susan. Tapi mamah tenang saja, tomy sudah menyuruh reyhan menjemput dan mengantarnya ke apartemen yang sudah tomy siapkan untuk susan.”
“Apartemen?” Tanya wanita itu dengan nada penasaran.
Tomy memijit pangkal hidung mancungnya. Tomy memang sebelumnya mengatakan agar susan tinggal bersamanya saja. Tapi mengingat jeny yang tidak setuju tomy tidak bisa melakukanya. Tomy tidak ingin jeny pergi dari rumahnya.
“Ya mah.. Maaf sekali lagi. Tomy tidak bisa membiarkan susan tinggal di rumah tomy.. Tomy takut susan berulah.” Jelas tomy.
“Baiklah. Mamah mengerti nak. Tapi boleh mamah minta alamat apartemen susan tinggal? Mamah ingin bertemu denganya.”
Tomy terdiam sesaat. Susan sangat membenci kedua orang tuanya karna kesalah fahaman. Jika mamahnya datang seorang diri susan pasti akan berulah.
“Biar aku antar. Mamah siap siap yah. Tomy jalan sekarang.”
“Ya nak..”
Tomy memasukan ponselnya ke dalam saku dalam jasnya kemudian meraih kunci mobilnya yang tergeletak di samping laptopnya. Tidak mau membuang banyak waktu tomy pun segera melangkah keluar dari ruanganya.
Tomy mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya tomy terus memutar otaknya memikirkan bagaimana cara dirinya harus menghadapi susan nanti. Susan sangat keras kepala dan terus mencoba meyakinkan tomy bahwa perasaanya tulus. Tapi setulus dan sebesar apapun perasaan itu tetaplah terlarang. Susan tidak seharusnya mencintai pria yang adalah saudara kandungnya sendiri.
20 Menit perjalanan akhirnya tomy sampai tepat di depan rumah kedua orang tuanya. Dan ketika mobil tomy sampai mamahnya sudah siap dan sedang menunggunya di teras rumah.
Tomy menghela nafas dan tersenyum menatap sang mamah yang terlihat begitu sangat semangat melangkahkan kedua kakinya menuju mobil tomy. Tomy tau mamahnya sangat menyayangi susan meskipun susan memang tidak pernah mau mengakuinya.
“Papah nggak ikut mah?” Tanya tomy begitu mamahnya sudah masuk dan duduk di sampingnya.
Mamah tomy terdiam. Senyuman di bibirnya langsung pudar. Wanita cantik dengan rambut ikal di ujungnya itu menggelengkan kepalanya pelan. Suaminya memang tidak di beritahu tentang kedatangan susan. Semua itu mamah tomy lakukan demi kebaikan dan kesehatan suaminya.
__ADS_1
“Papah nggak tau susan datang.” Jawab mamah tomy pelan.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu tidak ingin lagi bertanya yang pastinya akan membuat mamahnya semakin merasa sedih.
“Oke. Kita jalan sekarang ya mah..” Senyum tomy yang langsung di angguki oleh mamahnya.
Tomy kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria tampan itu benar benar belum menemukan cara untuk menghadapi susan. Apa lagi jika sampai susan bertemu dengan jeny nanti.
“Sayang bisa tidak kita mampir sebentar ke super market?”
Tomy mengangkat sebelah alisnya bingung. Padahal belum lama tomy dan jeny sudah memenuhi semua stock makanan, cemilan, bahkan sampai bumbu bumbu untuk orang tuanya juga orang tua jeny.
“Mamah mau belikan beberapa bahan makanan untuk susan. Kata tante kamu susan sangat suka sekali masak. Dan susan juga suka berkreasi membuat berbagai cemilan.” Senyum mamah tomy.
“Mah maaf.. Tomy bukan tidak mau.. Tapi kalau mamah bawakan itu semua dengan tomy yang ikut serta datang susan pasti akan salah faham. Susan akan mengira tomy perduli dalam maksud lain..”
Mamah tomy terdiam. Apa yang di katakan tomy memang benar. Meyakinkan susan sangatlah susah. Dan susan sangat keras kepala juga selalu meyakini apa yang di rasakanya.
“Begini saja nak. Kamu tidak perlu ikut mamah menemui susan. Kamu bisa tunggu di mobil.”
“Nggak mah. Tomy nggak mau susan berkata yang tidak pantas sama mamah. Tomy harus tetap ikut untuk memastikan mamah baik baik saja.” Sela tomy cepat.
Mamah tomy tersenyum mendengarnya. Tomy memang selalu memperdulikan hal sekecil apapun pada dirinya juga suaminya. Sangat berbeda dengan susan yang bahkan tidak pernah sekalipun menelephone dan menanyakan kabar papahnya.
“Baiklah.” Angguk mamah tomy merasa bahagia karna putra sulungnya begitu sangat menyayangi dan memperdulikanya.
Sesampainya di depan gedung apartemen tempat susan tinggal tomy langsung mengajak mamahnya untuk masuk dan langsung naik ke lantai 5 dimana apartemenya berada.
“Sebentar mah tomy telephone susan dulu.” Kata tomy sambil merogoh saku dalam jasnya berniat menghubungi susan.
“Ya nak.” Angguk mamah tomy tersenyum manis.
__ADS_1
Wanita itu benar benar sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan putri bungsunya. Wanita itu ingin bisa memeluk dan mendekap penuh sayang putri yang sangat di rindukanya itu.
“Aku ada di depan pintu apartemen sekarang.”