Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 126


__ADS_3

Jeny melirik tomy yang terus saja diam dan tenang mengemudikan mobilnya. Entah apa yang harus jeny katakan sekarang pada suaminya. Tomy sangat aneh menurutnya. Pria itu semalam meminta maaf padanya sambil menangis. Tapi pagi tadi tomy cepat sekali marah hanya karna melihat jeny membawa jas dokternya. Tomy juga enggan mendengarkan penjelasanya. Tomy tidak sesabar biasanya. Tomy sangat sensitif dan cepat sekali marah hari ini.


“Kamu ada mau beli sesuatu?”


Jeny menoleh. Tidak ada panggilan sayang yang biasanya selalu keluar dari bibir suaminya. Rasanya sangat aneh dan membuat jeny tidak nyaman.


“Enggak.” Jawab jeny kemudian kembali menatap ke jalanan di depanya.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian menghentikan mobilnya karna lampu merah di depanya menyala. Tomy menghela nafas. Pandanganya menyapu kesekitarnya. Pagi ini jalanan begitu sangat padat meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan.


Tiba tiba bayangan senyuman fani terlintas di pandangan tomy. Tomy masih sangat mengingat dengan jelas senyuman gadis itu saat memanggilnya papah. Tepat saat itu lampu hijau menyala. Tomy segera melajukan kembali mobilnya. Namun saat di pertigaan tomy langsung membelokan mobilnya memotong jalan untuk kembali ke rumah sakit menemui fani.


“Loh kok kita..”


“Aku penasaran dengan keadaan fani sekarang.” Sela tomy.


Jeny terdiam. Lagi lagi tomy tidak memanggilnya dengan sebutan sayang. Jeny mengangguk. Jeny juga sangat ingin tau keadaan fani sekarang. Tapi jeny ragu mereka bisa melihat fani. Dokter axel sangat menentang dan melarangnya dan tomy untuk menemui fani.


Mobil tomy berhenti di parkiran. Pria itu segera turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk jeny. Tomy tidak perduli dengan larangan dokter axel. Apapun yang terjadi tomy merasa harus tetap menemui fani. Tomy harus memastikan sendiri bahwa gadis kecil itu dalam keadaan baik baik saja.


“Dokter axel pasti akan melarang kita..” Gumam jeny.


Tanpa jeny mengatakanya tomy juga tau itu. Tapi tomy tetap akan melihat keadaan gadis itu langsung. Tomy tidak mau karna kecerobohanya saat itu fani sampai tidak baik baik saja sekarang.


Ketika sampai di ruang rawat fani tomy langsung menerobos masuk. Tomy benar benar tidak perduli dengan larangan dokter axel.


“Anda siapa?”


Tomy langsung berhenti di depan pintu begitu juga dengan jeny yang di gandengnya. Tidak ada dokter axel disana. Tapi ada seorang wanita yang sedang duduk mendampingi fani yang asik memakan buah apel.


“Papah tomy, Mamah jeny..!!” Senang fani memekik riang.


Wanita yang berada di samping fani langsung menoleh dan menatap tidak mengerti pada fani.


“Papah, mamah?” Lirihnya bertanya menatap fani yang tersenyum senang menatap tomy dan jeny.


Tomy tersenyum. Meskipun infus masih menempel di punggung tangan kiri fani namun tomy merasa lega melihat fani terlihat baik baik saja. Menyadari ada orang lain selain wanita yang ada di samping fani tomy pun menolehkan kepalanya ke seberang brankar fani dimana ada seorang pria berpakaian formal sedang duduk santai dengan wajah datar.

__ADS_1


“Saya tanya sekali lagi anda ini siapa? Kenapa menorobos masuk begitu saja ke dalam ruangan ini?” Tanya wanita yang berada di samping fani.


Tomy kembali menoleh pada wanita tersebut. Tomy yakin jeny juga tidak mengenal pria dan wanita tersebut.


“Perkenalkan nama saya tomy dan ini istri saya, jeny.” Jawab tomy sopan.


Wanita itu menatap tomy dan jeny bergantian.


“Mamah.. Ini mamah jeny. Dia dokter disini. Dan papah tomy. Mereka berdua yang ngajakin aku jalan jalan.. Beli mainan sama baju baru juga..” Senyum fani menatap wanita di sampingnya.


“Mamah papah?” Lirih wanita itu lagi menatap fani.


“Saya rasa kita memang sudah tidak perlu lagi disini. Sudah ada mamah papah yang baru untuk anak itu.”


Suara berat dengan nada sombong itu membuat tomy menolehkan kepalanya. Tomy menatap pria berbaju formal itu dengan sebelah alis terangkat. Entah apa yang di maksud pria itu. Tapi tomy merasa sangat tidak nyaman dengan ucapan serta nada sombong pria itu.


“Mas tolong.. Fani anakku..” Balas wanita yang tidak lain adalah mamah fani.


Ada sedikit getaran di suaranya yang hampir tidak terdengar di akhir kalimatnya.


“Tapi dia bukan anakku.” Katanya lagi dengan nada tegas.


Rahang tomy mengeras. Mungkin memang pria itu bukan orang tua kandung fani. Karna tomy tau papah kandung fani adalah dokter axel.


“Mas...”


“Cukup. Saya pulang.” Sela pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah cepat berlalu keluar dari ruang rawat fani melewati tomy dan jeny begitu saja.


Sepeninggal pria itu mamah fani langsung menangis. Jeny yang melihat itu ikut meneteskan air matanya. Mereka sama sama wanita dan jeny juga bisa ikut merasakan sakit yang di rasakan mamah fani.


“Aku bukan anak papah?” Tanya fani menatap mamahnya polos.


Tomy yang mendengar itu langsung mendekat dengan tangan tetap menggandeng tangan jeny. Pria itu tersenyum menatap fani yang tampak menekuk wajah nya.


“Eemm.. Kata siapa dia bukan papah kamu nak.. Dia kan suami mamah kamu... Jadi dia papah kamu..” Senyum tomy menatap lembut pada fani.


Jeny yang mendengarnya tersenyum. Jeny tidak menyangka tomy bisa begitu sangat menyayangi fani. Tomy bahkan sampai tidak perduli larangan dokter axel untuk menemui fani.

__ADS_1


“Siapa kalian sebenarnya? Kenapa anak saya memanggil kalian mamah papah?” Tanya mamah fani lagi.


Jeny melepaskan lembut genggaman tomy kemudian mendekat pada mamah fani.


“Saya jeny mbak. Mbak mamahnya fani yah?” Senyum jeny ramah.


Wanita itu menatap penampilan jeny dari atas sampai bawah. Pandanganya berhenti pada jas putih yang di tenteng jeny.


“Kamu dokter?” Tanyanya.


Jeny menunduk menatap jas kebanggaanya kemudian menganggukan kepala menjawab pertanyaan mamah fani.


“Ya mbak..”


Wanita itu ikut menganggukan kepalanya kemudian menoleh pada tomy yang sedang bercanda dengan fani. Melihat senyuman putrinya wanita itu kembali meneteskan air matanya. Selama ini dirinya tidak pernah bisa menghabiskan waktunya bersama fani. Dan semua itu tidak lain karna larangan dari suaminya.


“Terimakasih sudah perhatian pada anak saya..” Katanya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Sama sama mbak. Kami berdua sudah menganggap fani seperti anak kami sendiri.” Senyum jeny membalas.


Wanita itu menganggukan sekali lagi kepalanya. Fani tampak sangat bahagia bercanda dengan tomy. Fani bahkan sampai berani mencubit gemas kedua pipi pria tampan itu. Sedang pada suaminya fani bahkan sama sekali tidak pernah bertatap muka langsung.


“Eemm.. Sayang.” Panggil tomy pada jeny.


Jeny menatap tomy dengan senyuman di bibirnya. Wanita itu sungguh sangat senang karna akhirnya tomy kembali memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Aku keluar sebentar yah.. Kamu disini dulu sama mamahnya fani sama si cantik ini juga.” Kata tomy sambil mencubit gemas pipi tirus fani.


“Oke..” Angguk jeny tersenyum.


“Papah mau kemana?” Tanya fani polos.


“Papah mau keluar sebentar. Ada urusan. Cantiknya papah mau di belikan sesuatu?” Tanya tomy tersenyum menatap wajah polos fani.


Fani menggelengkan kepalanya pelan. Gadis berkepala botak itu menolak tawaran untuk di belikan sesuatu oleh tomy.


“Oke.. Papah akan kembali nanti.”

__ADS_1


__ADS_2