Cintai Aku

Cintai Aku
Terikat


__ADS_3

Rey duduk seorang diri di belakang taman yang ada di gedung tersebut, Ia mengingat kembali pertengkaran nya tadi dengan Rio Gantara. Ada kemarahan di sorot mata Rey, apalagi saat mengingat rangkulan tangan Rio yang dengan santai nya merangkul erat pundak Zena. "S1alan!" umpat nya. Lalu Rey menyentuh sudut bibir nya, ada luka dan noda darah di sana, rupa nya pukulan Rio tadi membuat sudut bibir Rey terluka.


Tak lama, Nelson datang menghampiri Rey setelah mendengar kabar dari pengaman gedung bahwa terjadi keributan di antara dua orang pria ternama yaitu Rey Atmaja dengan Rio Gantara. Sontak saja kejadian heboh tadi membuat Nelson terkejut, dan langsung saja Nelson mencari keberadaan Rey.


"Rey, apa yang terjadi? Mengapa kau dan Rio bertengkar?" tanya Nelson dengan khawatir. Rey masih terdiam, lalu Rey menoleh ke arah Nelson, Nelson pun terkejut lagi kala melihat ada luka memar dan luka sobek di sudut bibir Rey. "Rey! kau terluka!" lanjut Nelson dengan reaksi yang pasti sudah di tebak oleh Rey.


"Iya Nel, semua ini karena Rio br3ngs3k! Rio berani memukul ku demi membela seorang wanita rendahan!" jelas Rey lalu bangun dari duduk nya, tangan Rey mengepal kencang, Rey menunjukan amarah nya, terlihat jelas dari sorot mata Rey. Nelson masih terdiam tak mengerti dengan maksud dari ucapan Rey. Namun Nelson tetap bersikap tenang dan membiarkan Rey menjelaskan semua nya secara detail. Lalu Rey kembali menoleh ke arah Nelson. "Apa kau tahu, Nel? Wanita itu kembali!" lanjut nya dengan nada bicara merendah.


"Siapa Rey? siapa wanita yang kau maksud?" Nelson ikut bangun dari duduk nya karena penasaran dengan cerita sahabat nya itu.


"Zena" ucap Rey dengan mimik wajah sedih nya, baru kali ini Nelson melihat kesedihan di wajah Rey. "Wanita itu kembali, Nel" lanjut nya lagi.


"Lalu apa yang membuat mu sedih, Rey? bukan kah kau bilang sendiri kalau kau membenci Zena?"


Rey menghela nafas dengan pandangan mata lurus ke depan. "Iya Nel, aku memang membenci Zena, tapi aku lebih membenci tingkah laku nya, apa kau tahu? Ternyata benar dugaan ku dulu, kalau Zena sebenar nya memiliki hubungan dengan Rio Gantara, dan sekarang Zena menunjukan nya" jelas Rey.


"Kapan kau bertemu dengan Zena?"


"Saat aku ingin pergi ke toilet tanpa sengaja aku bertemu dengan Zena, lalu Rio datang dan langsung merangkul Zena begitu saja, padahal Rio tahu kalau Zena pernah jadi istri ku, bukan kah menurut mu mereka memiliki hubungan, Nel? karena tidak mungkin jika tidak ada hubungan apa apa mereka bisa sedekat itu, wanita itu membuat ku muak!" Rey menjelaskan semua nya pada Nelson.

__ADS_1


Sebenar nya bukan hubungan Zena dengan Rio yang menjadi perhatian Nelson saat ini, melainkan cara Rey menceritakan semua nya, seperti ada rasa cemburu di balik cerita Rey barusan. Nelson pun tersenyum tanpa di ketahui oleh Rey. Ya, Nelson tahu akan hal itu, walaupun berkali kali Rey menyangkal perasaan nya sendiri tapi tetap saja Nelson tahu kalau sebenar nya Rey mencintai Zena, dan saat ini Rey cemburu pada Rio.


'Tanpa di sadari, sebenar nya kalian berdua telah terikat satu sama lain' batin Nelson.


...****************...


Zena duduk di sebuah ruangan kosong, Ia duduk seorang diri. Beruntung hari ini Zena tidak mengajak putra nya, putra nya sedang bermain bersama pembantu Rio. Jika Arcielo ikut dengan Zena hari ini entah hal apa yang akan di ingat oleh Arcielo nanti jika melihat adegan kekerasan baku hantam antara Rey dengan Rio tadi.


Zena masih terkejut dengan kejadian tadi, Ia benar benar tidak habis pikir dengan kedua pria ternama itu. Padahal mereka berdua itu adalah saudara sepupu, tetapi Zena merasa aneh dengan Rey maupun Rio, mereka tidak dekat dan akrab sama sekali. Zena di buat penasaran dengan kedua nya, sebenar nya apa yang membuat kedua nya tidak akur sampai detik ini? pikiran Zena di penuhi oleh berbagai asumsi nya sendiri.


Lalu sentuhan tangan di bahu nya langsung membuyarkan lamunan Zena, Zena menoleh dan melihat Rio di sana. "Zena, kau baik baik saja?" tanya Rio lalu duduk di samping Zena. Akhir akhir ini Rio dekat dengan Zena karena kedua nya bertemu tanpa di sengaja saat Zena dalam keadaan terpuruk. Rio dengan mudah nya membantu Zena, kedua nya pun kini menjadi teman. Tidak ada jawaban dari Zena, hanya ada tatapan penuh pertanyaan, dan Rio menyadari tatapan Zena. "Maafkan aku soal tadi, aku sedikit terbawa emosi, maaf karena aku sudah memukul Rey" jelas Rio seraya menundukan kepala nya.


Zena menghela nafas. "Tuan Rio, bisa kah kau jelaskan pada ku mengapa kau sangat benci pada sepupu mu itu? kalian berdua adalah saudara lalu mengapa kau memukul tuan Rey?" Zena akhir nya bersuara namun tentu dengan menahan kekesalan nya dengan Rio, Zena kesal karena Rio memukul Rey dengan keras hingga terluka, mengapa kedua nya memilih menyelesaikan masalah dengan cara baku hantam? padahal setiap masalah bisa di selesaikan dengan cara baik baik.


"Wanita itu bernama Nayra Cantika, Nayra adalah teman sekolah kami dulu saat di SMA, aku menyukai Nayra dan ternyata Rey juga menyukai Nayra, saat itu Nayra hampir saja tenggelam dan aku menolong Nayra, dan kebetulan Rey ada di lokasi saat kejadian, Nayra langsung memeluk Rey dan mengira kalau orang yang menyelamatkan diri nya adalah Rey, padahal orang itu aku, tapi aku tidak peduli itu semua, yang aku pedulikan hanya lah kebahagiaan Nayra, dan sampai detik ini pun aku masih mencintai Nayra meski aku tahu kalau kami tak akan pernah bisa bersama" jelas Rio lalu bangun dari duduk nya, pandangan Zena mengikuti pergerakan Rio yang tiba tiba.


Tidak ada perkataan yang terucap dari Zena setelah Rio menceritakan semua nya, satu fakta yang baru Zena tahu adalah ternyata Nayra merupakan wanita pujaan hati Rio, jadi itu lah yang menjadi alasan Rio benci pada Rey sampai detik ini, karena cinta nya telah di ambil oleh sepupu nya.


Saat Rio ingin pergi, Zena menahan tangan Rio. "Tunggu!" ucapan Zena menghentikan langkah kaki Rio, Rio pun berbalik menatap Zena bingung. "Jadi selama ini, kau yang meletakan bunga bunga itu di atas makam Nayra?" lanjut nya ragu.

__ADS_1


Rio mengangguk membenarkan pertanyaan Zena, Zena makin tak percaya dengan cerita yang di dengar ini, Zena pikir kisah cinta nya lah yang tragis, tapi nyata nya tidak. Di luar sana masih ada kisah cinta Rio Gantara yang jauh lebih tragis dari nya.


"Zena, tunggu aku di sini, aku akan menjemput mu nanti" ucap Rio


"Iya, baiklah"


Di dalam sana Zena masih saja memikirkan Rey, pria dingin tak punya hati yang pernah Zena cintai dengan berani nya. Sudah empat tahun lama nya tak bertemu namun tak ada sedikit perubahan pada pria itu, hanya saja Rey jadi sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Ada apa sebenar nya? beban apa yang Rey tanggung hingga membuat tubuh nya jadi kurus seperti itu?


...****************...


Malam hari, suasana terdengar sepi di luar, Zena bahkan tak tahu kemana Rio pergi. Lalu tiba tiba saja ada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan. Pria itu tidak Zena kenali sama sekali. Dari pakaian nya Zena bisa tahu kalau pria paruh baya di depan nya saat ini merupakan salah satu Direktur Utama dari produk yang sedang di promosi. "Maaf tuan, tuan Rio tidak ada di sini" jelas Zena. Namun pria dengan postur tubuh gemuk dan tua itu tersenyum ke arah nya, tentu bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menakutkan.


Pria itu sengaja datang mendekati Zena lalu menyentuh pipi Zena begitu saja, sontak hal itu membuat Zena marah dengan sikap pria paru baya itu. "Tolong! Jaga sikap anda di sini tuan, jangan berani sentuh saya!" tegas Zena lalu melangkah menjauh.


"Ternyata benar, kau sangat cantik" ucap nya dengan mata yang tak biasa, pria paru baya itu menatap Zena dengan liar, menatap dari atas kepala sampai ujung kaki. "Sudah lah, jangan sok jual mahal pada ku, aku tahu kau itu wanita seperti apa, aku bisa membayar mu lebih dari pada Rey atau Rio" lanjut nya.


Perkataan pria itu tentu saja membuat Zena makin ketakutan, Zena melangkah mundur ke belakang hingga akhir nya Ia terjatuh di atas kursi, pria itu langsung saja menerkam Zena dan tak memberikan celah untuk Zena melarikan diri. Zena terus melawan pria tua itu dengan sekuat tenaga nya, namun pria itu terbilang kuat. "Tolong! Tolong!" teriak Zena seraya menangis takut, namun seperti nya di luar sudah tidak ada orang yang mendengar teriakan nya, air mata Zena mengucur deras, di dalam hati nya Zena berharap ada yang mendengar teriakan nya dan menolong diri nya.


Lalu Zena membuka mata nya kala melihat pria paruh baya itu sudah jatuh tersungkur di lantai, Zena pun menoleh dan melihat Rey tengah mengulurkan tangan nya pada Zena. Benarkah pria yang kini berada di depannya saat ini adalah Rey? pria yang menolong diri nya adalah Rey? Zena masih saja melamun karena tak percaya dengan semua ini, Zena merasa dejavu. "Hei! ayo bangun!" lamunan Zena membuyar kala mendengar teriakan Rey, rupa nya pria di hadapan nya saat ini memang benar Rey. Rey datang menolong diri nya, Zena pun menerima uluran tangan Rey. "Kau baik baik saja?" tanya Rey, namun hanya di balas Zena dengan anggukan kepala saja.

__ADS_1


Setelah itu Rey dengan puas nya memukul pria yang hampir memp3rk0sa Zena, pria itu pergi dari sana dengan keadaan terluka dan berantakan. Lalu Rey menoleh menatap Zena, Zena pun memberanikan diri untuk mendekati Rey. Pandangan mata mereka berdua bertemu, lalu perhatian Zena terlalih ke arah luka yang berada di sudut bibir Rey, luka yang di sebabkan oleh pukulan Rio tadi siang. "Luka mu?" dengan spontan tangan Zena menyentuh sudut bibir Rey. Rey pun meringis kesakitan kala luka nya di sentuh. "Maaf, maafkan aku" lanjut Zena lalu kembali menarik tangan nya.


Suasana hening, Rey pun memperhatikan pakaian Zena, pakaian Zena sedikit sobek dan terbuka karena ulah pria tadi, dan ada sedikit luka juga di bagian leher Zena, luka itu cukup panjang. Mungkin di sebabkan oleh cakaran pria itu yang ingin membuka paksa pakaian Zena. Rey langsung melepas jas nya lalu memakaikan nya pada Zena. Hal itu tentu saja membuat Zena menatap Rey dengan bingung. "Pakailah! udara di luar dingin, kau bisa mengembalikan nya nanti" ucap Rey menatap Zena, begitu pun Zena. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


__ADS_2