Cintai Aku

Cintai Aku
Kegelisahan


__ADS_3

Siang itu Rey dan Nelson sudah bersiap, rupa nya mereka akan kembali ke Jakarta. Nelson masih berada di kamar nya, entah apa yang sedang di lakukan Nelson di sana, tapi yang jelas Nelson terlihat sibuk sendiri.


Tidak seperti Rey, di saat Nelson sedang sibuk dengan diri nya sendiri, Rey justru terlihat santai. Bukan tak mau membantu, hanya saja sudah ada yang bertugas untuk membawa semua barang barang milik Rey.


Semua barang milik Rey telah di rapihkan dan di masukan ke dalam mobil oleh sopir dan pembantu sewaan di Villa. Rey hanya duduk di atas sofa seraya menyeruput teh hangat nya. Tak lama kemudian, Nelson keluar dari kamar nya lalu menuruni anak tangga, Ia pun memperhatikan Rey dari jauh, Rey terlihat melamun dengan rokok yang masih menyala di tangan nya.


Sebenar nya Rey bukan tipikal orang yang suka merokok, tapi akhir akhir ini Rey jadi suka merokok. Entah apa yang sedang di pikiran oleh Rey, tapi Nelson sudah bisa menebak apa yang sedang mengganggu pikiran sahabat nya itu. Dengan langkah cepat Nelson merapihkan dan memasukan semua barang milik nya ke dalam mobil.


Di saat semua orang sedang sibuk dengan semua barang barang milik Rey, Rey malah sibuk bergelut dengan pikiran nya sendiri. Rey memikirkan banyak hal, mungkin untuk saat ini Rey hanya butuh waktu untuk diri nya sendiri, tak ada yang bisa mengerti diri nya, apalagi keinginan nya.


Sebenar nya Rey tidak mau pertunangan nya dengan Celine terjadi, alasan nya satu, karena Rey memang tidak mencintai Celine sama sekali. Rey telah menganggap Celine sebagai teman. Namun Celine seakan tidak peduli dengan fakta itu, fakta bahwa Rey tidak bisa mencintai nya. Rey benar benar bingung sekarang, namun apa boleh buat, semua sudah di putuskan.


Bagaimana bisa Rey menikah dengan wanita yang sama sekali tidak Ia cintai? Mengapa penolakan Zena membuat hati nya terluka dan sakit? Pikiran Rey kembali bercabang, Rey mengingat kejadian semalam saat Zena menolak nya dan malah meminta nya untuk pergi. "Sial!" umpat Rey seraya membanting putung rokok nya ke lantai lalu mematikan api nya dengan cara di injak. Rey sangat kesal dengan diri nya sendiri, namun Ia tidak bisa berbuat apa pun untuk saat ini.


"Tuan Rey, semua nya sudah siap dan rapih" ucap sang sopir pribadi nya. Rey menoleh lalu bangun dari duduk nya, pandangan nya memutari sekitar Villa, bukan karena tak rela pergi meninggalkan Villa tersebut, tapi Rey tidak rela jika harus berpisah lagi dengan Zena. "Mari tuan" ajak sang sopir dengan penuh hormat. Rey mengangguk lalu mulai melangkahkan kaki nya keluar dari Villa.


Setelah itu, Rey dan Nelson masuk ke dalam mobil yang telah di siapkan oleh sang supir pribadi. Ada banyak pengawal yang di utus oleh Weni untuk mendampingi putra nya itu. Rey tidak kaget lagi dengan pendampingan dari pengawal, Rey paham betul jika semua ini adalah suruhan Weni, ibu nya.


"Rey, apa kau baik baik saja?" tanya Nelson


"Iya" singkat dan jelas, hanya itu yang keluar dari mulut Rey. Namun Nelson tahu kalau Rey sedang tidak baik baik saja, maka dari itu Nelson berhenti untuk bertanya. Tidak lama, ponsel Rey berdering. Di sana tertera nama Weni, sang ibu. Dengan berat hati, Rey pun menerima panggilan masuk dari sang ibu.


"Ada apa, bu?"


"Apa pengawal yang ibu utus ada di sana?" tanya Weni


Lelah dengan ibu nya, Rey kembali menghela nafas. "Mengapa ibu menyuruh pengawal untuk mendampingi ku? aku bisa pulang sendiri bu"


"Ibu tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, kau ingin berbohong lagi pada ibu? Tidak bisa Rey! kau harus kembali ke Jakarta sekarang! Biarkan pengawal suruhan ibu melakukan tugas nya dengan mengawasi mu" titah Weni


"Ibu, untuk apa semua ini? Ibu tidak perlu mengirim pengawal, ini terlalu berlebihan!"

__ADS_1


"Berlebihan? selama ini ibu membebaskan mu Rey, kau bebas pergi kemana pun, ibu tidak pernah melarang, tapi untuk saat ini kau harus menuruti perkataan ibu, apa lagi kau akan bertunangan dengan Celine, jadi ibu ingin memastikan kalau putra ibu baik baik saja, apa itu salah?" lalu terdengar helaan nafas sang ibu. "Dan satu hal lagi, ada yang ingin ibu bicarakan dengan mu, ini hal penting, jadi kau harus pulang!" tegas Weni.


"Tapi bu-"


Panggilan seketika berakhir, Weni langsung memutus panggilan secara sepihak. Lagi lagi Rey menelan kekesalan nya sendiri, Rey pun terdiam lalu mengusap kasar wajah nya. Di sana Nelson memperhatikan Rey. "Rey, ada apa?" tanya Nelson


"Mengapa harus seperti ini, Nel? apa aku harus menuruti perkataan ibu? Mengapa ibu tidak mengerti!" ucap Rey lalu menoleh ke arah Nelson. Terlihat jelas kalau Rey frustasi dengan keadaan saat ini. "Aku ingin ibu tahu kalau aku hanya mencintai Zena saja, bukan Celine!" lanjut nya kesal.


"Nasi sudah menjadi bubur, kau tidak bisa merubah nya Rey, jika pun bisa maka akan menimbulkan masalah baru nanti nya, dan kau tahu itu kan?" jelas Nelson.


"Aku tahu, aku akan segera menyelesaikan masalah ini dan mencari jalan keluar nya, tapi untuk sekarang aku harus kembali ke Jakarta dulu"


Rey tahu betul dengan resiko yang akan terjadi jika pertunangan nya dengan Celine di batalkan. Perusahaan akan mengalami penurunan minat, dan yang lebih parah nya lagi, perusahaan akan terancam tenggelam karena rumor diri nya yang buruk di media berita. Pebisnis lain yang sudah menjalin hubungan kerja sama dengan nya mungkin akan menarik diri dari perusahaan Rey dan tidak ingin terlibat lagi dengan perusahaan nya. Hal itu yang akan merugikan diri nya mau pun perusahaan.


Perusahaan memang ada di dalam kendali nya, namun belum sepenuh nya menjadi hak milik Rey. Rey hanya sekedar membantu mengelola perusahaan milik almarhum ayah nya. Ibu nya lah yang masih memegang kuasa penuh perusahaan HF Group. Oleh karena itu, Rey tidak bisa bertindak apapun untuk saat ini.


Memimpin perusahaan adalah hal yang paling Rey impikan sejak dulu, perjuangan nya tidak main main. Selama ini Rey selalu berjuang demi perusahaan ayah nya. Apa lagi dulu perusahaan sang ayah hampir tenggelam, tapi kini perusahaan kembali jaya, bahkan sudah di kenal. Rey tidak ingin rumor buruk diri nya membuat perusahaan HF Group kembali tenggelam.


Semua nya sungguh membuat Rey frustasi, Rey bahkan tidak bisa memilih jalan hidup nya sendiri, bahkan untuk cinta nya. Rey kesal dan marah, namun Rey akan segera menyelesaikan masalah ini. Apapun pilihan dan keputusan nya nanti, Rey tahu resiko nya, dan Rey sudah siap dengan segala konsekuensi nya.


Zena berada di taman bersama Arcielo, hari itu Arcielo bermain di taman dekat rumah nya. Tak lama, Rio datang lalu menghampiri Zena. "Zena!" panggil Rio dari jauh. Zena pun menoleh lalu bangun dari duduk nya. Zena melihat Rio membawa sesuatu di tangan nya. Rio pun langsung memberikan sebuah bungkusan berukuran sedang pada Zena.


"Ini untuk mu dan ini untuk Arcielo" jelas Rio seraya memberikan bungkusan itu pada Zena.


Zena terdiam seraya menatap bungkusan kotak berukuran sedang di tangan nya dengan heran. Zena merasa aneh, siapa orang yang mengirimi nya hadiah? Zena pun membuka nya. Tiba tiba Zena terlihat sedih, entah apa yang membuat nya sedih, tapi pasti berkaitan dengan hadiah tersebut.


Rio memperhatikan Zena. "Ini semua hadiah dari Rey" tanya Rio.


Sebuah dress baru berwarna pink berbalut renda, dress berwarna pink itu sangat mirip dengan dress yang pernah Zena kenakan dahulu saat acara meeting di rumah Rey pada beberapa tahun lalu. Zena terharu saat melihat dress berwarna pink itu. Rupa nya bukan satu dress saja, ada satu dress lagi berwarna hitam di dalam kotak, dress itu terlihat elegan dan sederhana. Selain hadiah, ternyata ada sepucuk surat di dalam kotak itu, di sana tertulis "My Love, Zena Agatha".


Lalu Zena menatap Rio. "Di mana tuan Rey? Kapan dia memberikan semua ini?" lanjut nya.

__ADS_1


"Rey sudah pergi, tadi pagi dia memberikan semua ini pada ku, hari ini dia kembali ke Jakarta dan akan segera melangsungkan pertunangan nya dengan Celine" jelas Rio


Lagi lagi Zena mengangguk paham. "Bagus lah, dia memang harus kembali ke Jakarta"


"Zena, apa kau bahagia dengan kepergian Rey?" tanya Rio


"Iya, aku bahagia"


Entah mengapa jawaban Zena tidak sesuai dengan kenyataan nya. Di mulut mungkin Zena merasa hal itu bagus, namun seperti nya reaksi di wajah Zena sangat terbaca, Zena seperti tidak rela jika Rey pergi dan bertunangan dengan Celine.


"Zena, mengapa kau membohongi diri mu sendiri? Mengapa kau membiarkan Rey melakukan hal yang sama sekali tidak dia inginkan? Kau mencintai Rey bukan? Lantas mengapa kau membiarkan nya pergi begitu saja? Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan nya? Bahkan kau ingin Rey tahu kalau Arcielo adalah putra nya"


"Tuan Rio, aku memang mencintai tuan Rey, tapi aku tidak ingin terlibat lagi dengan nya, aku melakukan ini semua demi keluarga ku dan demi putra ku, masalah ini terlalu rumit untuk Arcielo, dia masih terlalu kecil untuk memahami semua ini, jadi aku memutuskan untuk merawat Arcielo sendiri" jelas Zena.


"Zena, apa kau ingin Arcielo tumbuh tanpa seorang ayah?" Rio menatap ke arah Arcielo yang tampak asyik bermain bersama teman nya, namun tak lama teman teman Arcielo pergi ke ayah nya masing masing. "Liat dia, Arcielo butuh ayah! Kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran ini, Zena! Rey harus tahu kalau dia memiliki seorang putra!" Rio menatap Zena.


Lalu Zena menatap ke arah putra nya yang duduk seorang diri di sana, pandangan Arcielo menatap ke arah teman teman nya yang duduk bersama ayah nya. Mungkin Rio memang benar, seketika hati Zena terasa sakit saat melihat putra nya sendirian dan kesepian seperti itu. Lalu pandangan Zena beralih melihat Rio. "Tapi kau tidak mengerti-"


"Apa yang tidak aku mengerti, Zena? Coba katakan pada ku!" tukas Rio kesal. Lalu Zena menunduk seraya menangis, Rio makin di buat bingung, Rio tidak mengerti dengan tangisan Zena. "Mengapa kau menangis?"


Rio cukup mengenal Zena, Rio merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Zena dari nya. Hubungan Rio dan Zena kini tidak seperti dulu, tidak ada kecanggungan lagi, hubungan mereka bak kakak beradik. Walau dari segi memanggil nama masih terdengar asing, namun Zena lebih nyaman seperti itu, Zena memilih untuk memanggil Rio dengan sebutan "tuan" dari pada nama langsung.


Walaupun Rio sepupu Rey, namun Rio sudah mengenal Zena jauh sebelum mengetahui hubungan Zena dengan Rey. Rio lebih dekat dengan Zena daripada dengan Rey, sepupu nya sendiri. Rio dan Rey pernah berselisih paham, hal itu lah yang membuat mereka terlihat asing dan jauh.


"Zena, kau bisa menceritakan nya pada ku jika kau mau" lanjut Rio


Zena menghela nafas nya lalu menatap ke arah Rio. "Tuan Rio, apa aku terlihat jahat karena menjauhkan putra ku dari ayah nya?" ucap Zena


Rio mengernyitkan kedua alis nya, Rio benar benar tidak mengerti dengan maksud Zena. Dan akhir nya Zena pun memberanikan diri untuk bercerita. "Tuan Rio, sebenar nya aku mempunyai alasan untuk tidak terlibat atau pun masuk lagi ke dalam kehidupan tuan Rey, bukan karena aku tidak mencintai nya, tapi demi melindungi nyawa ayah ku dan putra ku" jelas Zena


Sontak Rio terkejut. "Apa?! apa maksud mu? Apa ada yang mengancam mu? Siapa yang berani mengancam mu, Zena?"

__ADS_1


Zena menggeleng. "Aku juga tidak tahu dia siapa dan apa yang dia inginkan dari ku, tapi seperti nya dia mengenalku dengan baik, dia menyuruh ku untuk menjauhi tuan Rey, jika tidak maka nyawa ayah ku yang jadi sasaran nya, aku takut sekali, katakan pada ku apa yang harus aku lakukan, tuan Rio?" Zena kembali menangis, beberapa hari ini memang sang ayah tidak pulang, entah di mana keberadaan sang ayah, Zena benar benar takut, takut akan sesuatu yang buruk terjadi pada Reno, ayah nya.


"Zena, kau tenang lah, aku akan berusaha membantu mu, kita pasti akan mengetahui siapa dalang dari penculikan ayah mu, jadi kau tenang saja, aku dan orang suruhan ku akan mencari tahu siapa pelaku nya, aku yakin dia masih orang yang ku kenal"


__ADS_2