
“Jen kamu serius?”
Jeny menganggukan kepalanya pelan menjawab pertanyaan rani. Seulas senyum terukir di bibirnya begitu sangat manis menatap ketidak percayaan rani dengan apa yang baru di katakanya.
“Ini baru rencana sih kak.. Menurut kakak gimana?”
Rani menghela nafas. Jika jeny menanyakan pendapatnya tentu saja rani sangat tidak setuju jika harus berpisah denganya. Tapi jika memang itu keputusan jeny rani tidak bisa berbuat apa apa.
“Kalau memang itu yang terbaik kenapa nggak? Toh menuruti kemauan suami juga sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang istri.” Jawab rani.
Jeny mengangguk pelan. Meskipun memang berat untuknya berhenti sebagai seorang dokter namun jika tomy memintanya dengan baik jeny juga tidak bisa menolaknya.
“Oya jen.. Berapa hari kamu cuty?” Tanya rani mengalihkan pembicaraan.
“Seminggu kak..” Jawab jeny masih dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
Rani mengangguk. Jeny adalah salah satu dokter yang dekat denganya bahkan lebih dekat dari pada dokter sela yang seangkatan denganya.
“Ya udah jen.. Kalau gitu aku duluan yah.. Ada pasien yang harus aku cek.”
“Oh iya kak..” Jeny kembali menganggukan kepalanya.
Setelah mendapat jawaban dari jeny, rani pun bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruangan jeny.
Jeny menghela nafas setelah rani menutup kembali pintu ruanganya. Semuanya memang tidak mudah. Tapi dengan menuruti apa mau suaminya jeny tau jeny sedang melakukan kewajibanya sebagai seorang istri.
“Dokter..”
Jeny menoleh ke arah pintu dan menemukan fani yang melongokan kepalanya. Gadis kecil berkepala botak itu menatap jeny dengan wajah sendu.
“Fani.. Masuk sini.” Senyum jeny menyuruh anak kecil berwajah pucat itu untuk masuk.
Fani menganggukan kepalanya. Dengan pelan di bukanya lebar pintu ruangan jeny kemudian di tutupnya kembali dengan pelan. Fani menatap sendu wajah cantik jeny.
Ya. Anak kecil itu memang tidak sengaja memdengarkan percakapan jeny dengan rani tentang rencana jeny yang ingin berhenti bekerja sebagai dokter di rumah sakit itu.
“Fani.. Kamu kenapa?” Tanya jeny menatap bingung pada fani yang terus diam di depan pintu ruanganya.
“Apa benar dokter akan berhenti bekerja disini?”
Jeny terdiam mendengar pertanyaan balik anak kecil itu. Tatapan sendunya membuat jeny tau bahwa anak kecil itu merasa sedih dengan niatnya.
“Eemm.. Ya..” Jawab jeny pelan.
__ADS_1
Jeny bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada fani. Jeny meraih tangan kecil fani dan menuntunya menuju kursi yang berada di depan meja kerjanya.
“Duduk yuk?” Ajak jeny.
Fani menurut. Gadis kecil berkepala botak itu duduk di kursi depan meja kerja jeny.
“Kalau dokter tidak disini lagi siapa yang akan menjadi temanku? Siapa yang akan mengajak aku bermain nanti?”
Jeny tidak bisa menjawab. Selama ini jeny memang sering meluangkan sedikit waktunya untuk sekedar bermain atau mengobrol bersama fani. Semua itu jeny lakukan karna rasa ibanya melihat fani yang selalu kesepian tanpa satupun keluarga yang menemaninya.
“Selama ini kan hanya dokter yang menjadi temanku. Kalau dokter tidak ada aku berteman dengan siapa?”
Jeny menelan ludahnya. Jeny merasa sedikit ragu dengan keputusanya mendengar nada sedih dari pertanyaan fani. Di tambah melihat wajah sedih fani yang tidak rela jika harus berpisah denganya. Namun di sisi lain jeny juga punya kewajiban sebagai seorang istri yang harus jeny tunaikan.
“Eemm.. Fani.. Kan ada dokter rani.. Ada dokter yang lain juga.. Mereka semua teman kamu juga..” Senyum jeny berusaha memberi pengertian pada gadis kecil itu.
Fani menundukan kepalanya. Meskipun memang banyak dokter yang perduli padanya. Namun mereka tidak seperduli jeny. Mereka hanya menganggap fani sebagai seorang pasien bukan seorang teman.
“Mereka berbeda dokter..” Lirih fani dengan suara bergetar.
Jeny menghela nafas. Fani masih terlalu kecil untuk menanggung semuanya. Di usianya yang seharusnya bisa bebas bermain bersama teman temanya fani malah menghabiskan waktunya di rumah sakit seorang diri tanpa keluarga juga teman. Setiap hari fani hanya diam merenung dan baru akan tersenyum ceria jika jeny datang menghampirinya.
“Dokter jeny pasti akan sering datang kesini untuk kamu..”
“Om..”
“Tomy...”
Jeny menoleh kembali pada fani yang memanggil tomy dengan sebutan om. Jeny merasa keduanya seolah sudah pernah kenal sebelumnya.
“Om kok disini..?” Tanya fani sambil mengusap air matanya kemudian menatap tomy penasaran.
Tomy terkekeh. Berkat gadis berkepala botak itulah tomy memiliki keberanian untuk mengatakan perihal kehamilan jeny secara langsung.
Tomy melangkah mendekat pada jeny yang berdiri diam dengan kebingunganya. Tomy mendaratkan kecupan singkatnya di kening jeny kemudian menatap kembali pada fani yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Jadi saya ini suaminya dokter jeny.” Senyum tomy.
Fani menatap jeny sekilas kemudian kembali menatap pada tomy.
“Suaminya dokter jeny?” Tanya gadis berkepala botak itu masih terlihat bingung.
“Ya..” Angguk tomy mantap.
__ADS_1
Fani diam dengan segala kebingunganya. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepala botaknya. Fani tidak tau apa maksud dari istri yang di katakan oleh tomy.
“Tomy.. Kamu kenal fani?” Tanya jeny menatap tomy serius.
“Ya.. Kami tidak sengaja bertemu di taman saat kamu juga di rawat disini.” Jawab tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Meskipun sebenarnya jeny masih penasaran kenapa tomy dan fani seolah sudah pernah mengobrol sebelum ini.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat perhatian jeny teralihkan.
“Sebentar.. Aku buka pintu dulu.” Katanya kemudian melangkah melewati tomy untuk membuka pintu ruanganya.
Jeny mengeryit ketika mendapati seorang dokter yang jeny kenal adalah dokter yang menangani fani. Dokter muda dengan rambut cepak serta wajah tampan namun terkesan manis.
“Dokter jeny.. Apa fani ada bersama dokter?” Tanya dokter tersebut.
“Ah ya dokter.. Fani ada sama saya. Sebentar saya panggilkan.”
Dokter tampan itu mengangguk. Dia berdiri dengan gagahnya menunggu jeny yang sedang berusaha membujuk fani agar mau ikut dengan dokter yang menanganinya.
Fani sempat menolak dan tidak mau mengikuti dokternya. Namun setelah jeny membujuknya akhirnya gadis berkepala botak itu mau ikut dengan dokter tampan itu.
“Dia siapa?” Tanya tomy menatap punggung lebar dokter tampan yang menggendong fani menjauh dari ruangan jeny.
“Dia dokter yang menangani fani. Namanya dokter axel.”
Tomy mengeryit. Pria tampan berjas hitam itu menoleh menatap jeny yang berdiri di sampingnya.
“Apa kalian dekat?” Tanya tomy penasaran.
Jeny menoleh. Di tatapnya wajah tampan penuh rasa penasaran suaminya. Jeny merasa suaminya sedang mencurigainya.
“Nggak terlalu dekat.” Jawab jeny jujur.
“Nggak terlalu dekat? Jadi maksudnya kalian dekat?” Tanya tomy lagi.
Jeny terkekeh. Tomy sedang cemburu pada dokter axel.
“Nggak juga. Kami hanya saling sapa seperlunya. Dan kamu nggak perlu cemburu. Istri kamu ini wanita setia.” Jawab jeny.
Tomy menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal merasa malu karna sempat cemburu pada dokter axel. Tomy hanya takut terlalu banyak pria yang jatuh ke dalam pesona istrinya.
__ADS_1
“Eemm.. Kita makan siang sekarang.”