
Paginya sebelum berangkat ke kantor, Sarah mampir terlebih dulu ke kantor polisi untuk menjenguk lorenzo juga memberikan udang tepung roti buatanya pada suaminya itu. Sarah sangat berharap lorenzo mau menerima dan memakanya. Meskipun memang rasanya sangat sulit meraih hati lorenzo tetapi sarah sudah bertekad. Sarah tidak akan menyerah demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
“Huft.. Semangat sarah.” Senyum sarah bergumam sembari menyemangati dirinya sendiri.
Sarah melepas seatbeltnya kemudian meraih kotak makan yang ada di jok samping kemudi. Namun ketika hendak turun dari mobilnya tiba tiba ponselnya berdenting pertanda ada sebuah notifikasi masuk. Sarah langsung meraih benda pipih itu kemudian membuka ponselnya. Senyumnya mengembang sempurna ketika membaca berita online tentang jeny yang melahirkan kemaren sore.
“Aku harus kesana nanti sama elo..” Gumam sarah ikut merasa bahagia setelah membaca berita online tersebut.
Sarah turun dari mobilnya dengan harapan lorenzo mau menerima apa yang di bawanya. Apa lagi pagi itu sarah datang tanpa elo di sampingnya. Lorenzo pasti akan mengabaikanya dan menganggapnya tidak ada.
“Mana elo?”
Senyum sarah langsung pudar ketika mendengar pertanyaan yang terucap dari bibir tipis pria yang amat sangat di harapkan cintanya itu. Sarah bukan tidak suka lorenzo menanyakan putranya. Sarah hanya ingin sekali saja mendapat perhatian dari lorenzo meskipun hanya dengan tatapanya saja.
“Elo sudah aku antar ke sekolah. Aku sengaja nggak bawa elo..” Jawab sarah pelan.
Lorenzo hanya diam saja dengan tatapan datarnya. Sejujurnya pria itu merasa sangat malu berhadapan dengan sarah. Lorenzo bahkan menyesali kesempatan yang di berikan tuhan untuk hidup kembali. Bukan karna tidak mau menerima kenyataan. Tapi karna merasa malu dengan perbuatan kejinya pada elo dan sarah.
“Oh iya zo.. Aku bawain kamu makanan kesukaan kamu.. Nggak tau sih rasanya gimana. Tapi semoga kamu suka yah..” Senyum sarah sambil mendekatkan kotak makan yang di bawanya pada lengan lorenzo yang bertumpuk di meja yang berada di tengah tengah mereka.
“Nggak usah repot repot. Makanan disini sudah sangat enak dan cukup untukku.”
Sarah tersenyum hambar mendengarnya. Rasanya tidak mungkin jika makanan di dalam tahanan lebih enak dari makanan rumah yang di bawakanya untuk lorenzo. Dari situ jelas sekali jika lorenzo sedang berbohong dan tidak mau menerima apa yang di bawakanya.
“Aku udah terlanjur bawa kesini zo. Nggak mungkin kan aku bawa balik. Kalau kamu nggak suka kamu bisa kasih ke siapapun yang kamu kenal disini. Atau aku kasih ke pak polisinya aja.”
“Jangan.” Cegah lorenzo cepat.
“Aku sendiri yang akan memberikanya pada teman satu sell ku nanti.” Lanjut lorenzo memberi alasan sebelum sarah bertanya kenapa.
__ADS_1
Mendengar itu sarah tersenyum. Lorenzo menolak pemberianya namun sepertinya tidak rela jika makanan yang sarah bawa menjadi santapan orang lain.
“Tapi kan dari pada nanti...”
“Aku bilang jangan ya jangan.” Sela lorenzo dengan suara tegas seakan memperingati sarah.
Sarah langsung diam. Hatinya bersorak senang mendengar lorenzo dengan gamblangnya mencegah dirinya memberikan makanan tersebut pada orang lain.
“Baiklah.. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu zo..” Senyum sarah kemudian.
Lorenzo hanya diam saja. Namun ketika sarah hendak melangkahkan kakinya lorenzo mencegahnya.
“Ya zo.. Kenapa?” Tanya sarah lembut.
“Jangan pernah kesini tanpa anakku.” Kata lorenzo dingin kemudian berlalu dengan membawa kotak makanan pemberian sarah.
Sarah terdiam sesaat. Wanita itu dengan tampang bodohnya mengerjapkan beberapa kali kedua matanya mencoba mencerna apa maksud dari ucapan dingin lorenzo.
Sedetik kemudian sarah tersenyum. Sarah merasa ada ribuan kupu kupu yang berterbangan di sekitarnya. Lorenzo menyebut elo dengan sebutan yang sangat manis.
“Terimakasih tuhan..” Senang syarah penuh syukur.
Sarah kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi tersebut. Sarah benar benar sangat bahagia meskipun lorenzo masih bersikap dingin padanya. Tapi mendengar lorenzo menyebut elo dengan sebutan anakku membuat sarah semakin yakin bahwa usahanya akan membuahkan hasil. Lorenzo sudah mau mengakui elo sebagai putranya. Itu artinya lorenzo juga berlahan akan bisa menerimanya sebagai istri sahnya dan melupakan jeny yang sangat di cintainya.
Sarah masuk ke dalam mobilnya dengan senyuman yang tidak kunjung pudar dari bibir pinknya. Ucapan dingin lorenzo tadi seakan menjadi penyemangat pagi baginya. Sarah menstater mobilnya dan berlalu dari depan gedung kantor polisi itu dengan perasaan gembira juga bahagia. Sarah tidak perduli walaupun lorenzo sudah jatuh miskin dan tidak mempunyai apa apa. Sarah akan tetap menerima pria itu dengan senang hati.
Sarah menghela nafas. Tiba tiba bayangan sinis wajah kedua orang tua lorenzo terlintas di benaknya. Dari awal dirinya menikah dengan lorenzo, kedua orang tua lorenzo memang sudah tidak menyukainya. Mereka bahkan mencurigai bahwa sarah hamil bukan dengan lorenzo. Dan meskipun saat itu sarah sudah membuktikanya dengan tes DNA namun kedua orang tua lorenzo tetap saja tidak mau percaya. Mereka tetap mengecap sarah sebagai wanita tidak benar.
“Ya tuhan.. Aku hampir lupa dengan mereka berdua..” Gumam sarah merasa sempit hati.
__ADS_1
Sarah mengurangi kecepatan laju mobilnya. Jika suatu saat dirinya berhasil meluluhkan hati lorenzo, sarah ragu jika dirinya juga bisa meluluhkan hati kedua mertuanya. Karna dari elo lahir sampai elo besar saja mereka masih tetap tidak mau mengakuinya. Mereka hanya menyuruh lorenzo menikahinya karna takut nama baik keluarganya tercemar.
“Nggak, Aku harus yakin.. Aku pasti bisa..” Gumam sarah kembali membangkitkan semangat di dalam dirinya yang hampir saja pudar.
Sarah kembali menambah kecepatan laju mobilnya. Wanita itu tidak boleh sampai terlambat datang ke perusahaanya mengingat pagi ini akan ada client yang datang dan ingin langsung bertemu denganya.
Tidak sampai setengah jam mobil sarah sampai tepat di parkiran depan gedung perusahaan sang papah. Wanita itu turun dari mobilnya dan melangkah dengan sangat elegan melewati para karyawan dan satpam yang saat itu sedang bertugas menjaga keamanan disana.
“Pagi bu..” Sapa seorang karyawan wanita berkuncir tinggi.
“Ya.. Pagi..” Balas sarah dengan senyuman tipisnya namun tetap melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dimana ruanganya berada.
Ketika sampai di ruanganya, sarah langsung di cegat oleh sekertarisnya. Wanita itu melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di ujung hidung mancungnya.
“Siska kamu kenapa?” Tanya sarah bingung.
“Syukurlah ibu sudah datang. Dari tadi saya terus mencoba menghubungi ibu tapi tidak pernah nyambung. Client kita sudah menunggu ibu di ruang rapat sejak setengah jam yang lalu bu..”
“Apa?!” Sarah terkejut bukan main mendengarnya. Client itu adalah client besar pertama yang akan di temui sarah selama sarah menjabat sebagai direktur di perusahaan sang papah.
Tidak mau membuat client nya kecewa, sarah pun segera bergegas menemuinya tentunya setelah mengambil berkas yang akan sarah tunjukan pada client tersebut untuk menjalin kerja sama.
Sarah masuk ke dalam ruang rapat dan menghela nafas lega ketika melihat client nya masih ada disana.
“Untung dia nggak kabur..” Batin sarah bergumam.
“Maaf sudah membuat anda menunggu.”
Mendengar suara sarah pria berjas hitam dan kemeja biru itu langsung membalikan tubuhnya. Dan alangkah terkejutnya sarah setelah melihat rupa client nya itu.
__ADS_1
“Pak leo..”