Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 101


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 14 jam di udara tomy dan jeny akhirnya sampai di amsterdam. Melihat istrinya yang tampak kelelahan tomy pun langsung membawa wanita itu menuju apartemenya.


“Capek banget yah??” Tanya tomy mengusap lembut pipi chuby jeny.


Jeny tersenyum. Tubuhnya memang terasa sangat lelah. Apa lagi berada di dalam pesawat dengan waktu yang sangat lama. Jeny merasa tidak hanya lelah tapi juga bosan.


“Yah.. Sedikit..” Jawab jeny.


Pintu lift terbuka. Tomy langsung menggenggam tangan jeny dan menuntunya lembut melewati koridor apartemen yang terkesan simple namun terlihat elegan.


“Nanti kamu langsung istirahat yah..” Kata tomy.


Jeny mengeryit. Tomy mengatakan kamu yang artinya hanya dirinya saja. Seharusnya tomy mengatakan kita yang mengartikan mereka berdua.


“Hanya aku?” Tanya jeny bingung.


Tomy berhenti melangkah. Pria tampan itu kemudian menyentuh beberapa angka yang ada di pintu apartemenya. Setelah pintu apartemenya terbuka tomy segera menuntun jeny untuk masuk.


“Aku ada urusan setelah ini sayang... Nanti aku hubungi asisten rumah tangga disini untuk menemani kamu.” Senyum tomy.


Kedua mata jeny menyipit.


“Asisten rumah tangga? Dia wanita?” Tanya jeny melepaskan genggaman tangan tomy.


Tomy langsung terdiam dan berhenti melangkahkan kakinya. Pria tampan itu kemudian membalikan tubuhnya menghadap jeny yang menatapnya penuh selidik.


“Jadi selama 5 tahun kamu disini kamu punya istri kedua?”


Tomy melongo. Pria tampan itu tidak mengerti dengan apa yang di pertanyakan oleh istrinya.


“Maksud kamu apa?” Tanya tomy bingung.


Jeny berdecak. Wanita cantik itu melipat kedua tanganya di bawah dada menatap tomy dengan penuh selidik.


“Apa aja yang sudah kamu lakukan selama ini?” Tanyanya dengan nada menuntut.


Tomy mengangkat sebelah alisnya semakin bingung dengan pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan oleh istrinya. Dan lagi, tatapan penuh selidik jeny membuat tomy merasa sedang di interogasi.


“Aku bener bener nggak ngerti apa maksud kamu sayang.”


Jeny menghela nafas gusar. Entah tomy yang memang tidak tau maksud pertanyaanya atau memang tomy sedang pura pura tidak tau.


“Masa aku harus jelasin.” Kesal wanita itu.


Tomy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tomy benar benar tidak tau kemana arah pembicaraan istrinya. Dan lagi jeny menyinggung soal istri kedua. Tomy tidak habis pikir. Satu saja sangat susah di luluhkan apa lagi dua.


“Gini aja sayang.. Sekarang mending kamu istirahat dulu yah.. Nanti kita lanjutin lagi obrolanya setelah kamu tidak lelah.” Saran tomy.


Jeny memundurkan langkahnya ketika tomy hendak meraih tubuhnya. Bukan tidak mau, jeny hanya masih perlu penjelasan dari suaminya tentang asisten rumah tangga yang selama 5 tahun tinggal bersama tomy.


“Sayang...”

__ADS_1


“Dimana kamarnya?” Tanya jeny datar.


Tomy menghela nafas. Jika sedikit saja tomy salah berkata jeny pasti akan semakin marah padanya.


“Di sebelah situ..” Tunjuk tomy pada sebuah pintu bercat hitam yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya dan jeny berdiri.


Pandangan jeny mengikuti arah tunjuk tomy. Tanpa berkata apapun jeny langsung melangkah meninggalkan tomy yang masih bingung dengan perubahan tingkahnya yang tiba tiba.


“Dia kenapa yah?” Gumam tomy.


BRAK !!


Tomy tersentak ketika mendengar bunyi pintu yang di banting dengan sangat keras oleh istrinya. Tomy benar benar tidak tau apa yang salah yang telah di ucapkanya sehingga tiba tiba jeny marah padanya.


“Ya tuhan.. Serem juga dia kalau lagi ngamuk.”


Tomy mengusap usap dadanya pelan. Padahal saat tomy bersikap arogan saja jeny tidak pernah sekalipun membanting pintu. Tapi saat ini wanita itu bahkan bersikap seolah tomy sedang sangat jahat padanya.


Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian melepaskan jaket kulit yang di kenakanya. Tomy melangkah menuju sofa panjang berwarna coklat gelap kemudian menghempaskan tubuhnya disana.


“Huh.. Capek juga ternyata..” Gumam tomy kemudian memejamkan kedua matanya.


Baru beberapa detik memejamkan mata kedua mata tomy kembali terbuka ketika mendengar suara pintu yang di tutup dengan sangat pelan oleh reyhan.


“Rey...”


“Maaf mengganggu pak. Saya hanya mau menaruh koper bu jeny..” Senyum reyhan merasa tidak enak hati karna membangunkan atasanya.


Reyhan menurut. Pria berjambul itu meletakan koper besar jeny di samping pintu utama apartemen mewah tomy.


“Kalau begitu saya permisi pak..”


“Em rey tunggu.”


Reyhan yang hendak membuka kembali pintu apartemen tomy pun menoleh.


“Ya pak..”


“20 Menit lagi kita langsung pergi yah..” Kata tomy memberitahu reyhan.


“Oh iya pak...” Angguk reyhan.


“Oke.. Kamu boleh kembali ke apartemen kamu. Nanti saya hubungi kalau saya sudah siap.”


“Ya pak. Saya permisi.”


Reyhan keluar dari apartemen tomy. Pria tampan itu kemudian bangkit dari sofa. Tomy meraih koper jeny dan membawanya menuju kamar.


Ketika sampai di depan pintu bercat hitam itu tomy berhenti. Jeny sedang marah padanya. Tomy yakin jeny pasti mengunci pintunya dari dalam dan menolak jika tomy meminta untuk membukakan pintu.


“Gimana aku masuknya..” Gumam tomy bingung.

__ADS_1


Ketika tomy hendak mengetuk pintu kamarnya tiba tiba pintu bercat hitam itu terbuka memunculkan jeny yang tetap menatap sebal padanya.


“Sayang...”


“Koper aku mana?” Tanya jeny cuek.


“Oh koper.. ini sayang.. Aku bawain ke dalam yah?” Senyum tomy sambil menunjukan koper yang di bawanya.


“Ya udah..”


Tomy menghela nafas lega. Untung saja jeny masih mau mengizinkanya masuk ke dalam kamarnya. Meskipun sampai saat ini tomy masih bingung dengan sikap marah dan cuek jeny padanya.


“Tomy...” Panggil jeny dengan suara sedikit merengek.


Tomy menoleh. Pria itu menghela nafas lagi kemudian tersenyum menatap wajah murung istrinya. Tomy melangkah mendekat dan mengusap lembut pipi chuby jeny.


“Kenapa sayang?” Tanya tomy lembut.


“Kamu nggak mau jelasin sesuatu ke aku?”


Tomy mengeryit bingung. Tomy tidak tau apa yang harus dia jelaskan. Tomy pun merasa tidak melakukan ataupun menutupi apapun dari istrinya itu.


“Tentang apa sayang?”


Jeny berdecak. Wanita itu meraih tangan tomy yang ada di pipinya. Di tatapnya serius wajah tampan suaminya.


“Tentang asisten rumah tangga yang kamu bilang. Jadi selama lima tahun kamu disini kamu tinggal bersama seorang wanita? Dan kamu nggak pernah bilang sama aku?”


Tomy mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Tomy hanya menempati apartemen mewah itu selama 3 tahun. Karna 2 tahun sebelum kesuksesanya tomy tinggal di sebuah rumah kecil bersama reyhan dekat universitas tempat dirinya menimba ilmu.


“Sayang.. Aku hanya 3 tahun disini.” Kata tomy.


Jeny mengeryit.


“3 tahun?” Tanya jeny mulai bingung.


“Jadi kamu..”


“Aku menyewa rumah kecil dekat kampus selama 2 tahun sayang.. Dan baru membeli apartemen ini setelah aku mempunyai semuanya. Dan tentang asisten rumah tangga, dia memang wanita. Tapi dia tidak tinggal disini. Dia masuk kerja setelah aku berangkat dan kita hanya bertatap muka jika aku kasih dia gaji.”


“Dimana rumah sewanya?”


Tomy terdiam. Tomy tidak mungkin menunjukan letak rumah kecil tempat tinggalnya dulu. Tomy juga tidak mau jeny sampai tau bagaimana keadaan tempat tinggalnya selama 2 tahun sebelum kesuksesanya.


“Di dekat universitas tempat aku kuliah.” Jawab tomy singkat.


“Oya sayang.. 10 Menit lagi aku harus pergi sama reyhan. Kamu istirahat yah.. Aku bersih bersih dulu.” Sambung tomy cepat.


Tomy mengecup singkat bibir jeny sebelum berlalu menuju kamar mandi. Pria itu melangkah cepat dan segera menutup pintu kamar mandinya menghindari pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan lagi oleh istrinya.


Jeny hanya diam saja. Entah kenapa jeny merasa tomy sedang menutupi sesuatu darinya.

__ADS_1


“Aku harus cari tau.”


__ADS_2