
Sampai menjelang malam jeny terus berdiri di depan ruang rawat fani. Tidak banyak yang bisa jeny lakukan. Jeny hanya bisa diam di depan pintu dan menatap sedih fani dari kaca pintu yang masih belum kunjung sadarkan diri.
“Maafin aku fani..” Gumam jeny sedih.
Tomy yang berada di belakang jeny hanya bisa diam. Dokter axel melarangnya dan jeny untuk masuk. Dokter tampan itu bahkan terus berada di dalam ruang rawat fani seolah takut jika jeny dan tomy masuk ke dalam.
“Sayang..” Panggil tomy pelan.
“Aku takut... Aku takut fani kenapa napa.” Lirih jeny dengan suara bergetar serta tatapan yang terus tertuju pada tubuh lemah fani yang terbaring di brankar dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuh kecilnya.
Tomy menghela nafas. Pelan pelan tomy mendekat pada jeny. Dengan sangat lembut tomy memeluk tubuh jeny dari belakang. Tomy juga mengusap lembut perut jeny penuh kasih sayang.
“Sayang.. Please jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi... Kamu harus tenang. Kamu juga harus ingat dengan kondisi kamu..”
Jeny memejamkan kedua matanya. Apa yang di katakan tomy memang benar. Tapi jeny tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya pada fani. Apa lagi keadaan fani sekarang di sebabkan olehnya dan tomy.
“Tapi...”
“Please.. Inget sama anak kita..” Sela tomy sambil mencium lembut rambut kepala jeny.
Jeny menghela nafas. Sesaat jeny kembali memejamkan kedua matanya dan menghela nafas. Jeny menganggukan kepalanya. Bagaimana pun jeny juga harus memikirkan kesehatanya juga anak dalam kandunganya.
“Kita pulang yah..” Senyum tomy.
Jeny menganggukan lagi kepalanya. Jeny menatap kembali pada tubuh lemah fani sebelum akhirnya berlalu dengan tomy yang menggandengnya.
Ketika hendak melangkah keluar dari gedung rumah sakit tiba tiba langkah tomy terhenti. Pria tampan itu berdecak pelan melihat lorenzo yang berdiri bersender di kap mobilnya. Tomy tau lorenzo pasti sedang menunggu jeny.
“By? Kenapa?” Tanya jeny bingung.
Tomy menoleh pada jeny. Pria itu mengarahkan dagunya ke arah lorenzo menunjukanya pada jeny.
Jeny mengikuti arah dagu tomy kemudian menghela nafas. Jeny sudah malas jika harus kembali berurusan dengan lorenzo. Apa lagi terakhir mereka bertemu lorenzo mengatakan siap untuk tes DNA. Hal itu membuat jeny benar benar merasa di rendahkan oleh lorenzo. Lorenzo juga seakan menganggap jeny adalah wanita murahan yang mau sama siapa saja termasuk dirinya.
“Bagaimana sayang?” Tanya tomy.
Jeny terdiam sesaat. Menjauhi lorenzo adalah pilihan satu satunya. Selain malas menghadapi pria bermata sipit itu, jeny juga merasa harus menjaga keutuhan rumah tangganya dengan tomy demi anak dalam kandunganya.
“Jangan hiraukan dia. Aku capek by.. Kita langsung pulang yah..” Kata jeny dengan sedikit nada rengekan di akhir kalimatnya.
“Oke..” Senyum tomy menganggukan kepalanya mengiyakan.
__ADS_1
Tomy kembali meraih tangan jeny menggenggamnya lembut dan menuntunya melangkah menuju mobil mewahnya yang tepat berada di samping mobil lorenzo.
“Jeny..”
Jeny terus melangkah melewati mobil lorenzo dalam diam. Wanita cantik itu mencoba untuk tidak memperdulikan panggilan lorenzo.
“Jeny tunggu..”
Lorenzo mencegat langkah tomy dan jeny. Pria itu merentangkan kedua tanganya menghalangi tomy dan jeny yang hendak menuju mobilnya.
“Bisa tolong minggir? Kami mau lewat.” Kata tomy datar.
Lorenzo melirik jeny. Pria itu juga menatap tangan jeny yang di genggam oleh tomy.
“Aku mau ngomong sama jeny.” Ujarnya.
Tomy terkekeh mendengarnya. Lorenzo benar benar tidak menghargainya sebagai suami jeny.
“Jeny istri saya. Dan jeny merasa tidak nyaman ada anda di sekitarnya. Jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk melindungi istri saya dari orang seperti anda.”
Lorenzo menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak pernah rela jeny meninggalkanya begitu saja.
Jeny hanya diam saja. Bahkan untuk menatap lorenzo pun sepertinya jeny enggan. Wanita itu terus membuang pandanganya tidak mau menatap lorenzo yang berada di depanya.
“Jeny please...” Mohon lorenzo.
Jeny menghela nafas. Hubungan pertemananya dengan lorenzo mungkin memang akan lebih baik jika berakhir saja.
“Kak.. Tolong jangan ganggu aku lagi. Dan tolong jangan pernah muncul lagi di depan aku.” Katanya.
Tomy tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan lorenzo yang menggelengkan kepala menolak keras apa yang di katakan oleh jeny.
“Jen tapi..”
“Ssshhttt...Sudah dengarkan? Jadi mulai detik ini jauhi istri saya. Jangan ganggu istri saya lagi.” Sela tomy.
Lorenzo menelan ludahnya. Lorenzo tidak bisa begitu saja melepaskan jeny.
“Tolong minggir. Saya dan istri saya mau lewat.”
Lorenzo hanya diam saja. Namun ketika jeny melewatinya lorenzo meraih pergelangan tangan jeny mencekalnya.
__ADS_1
“Jen.. Tolong.”
“Kak.. Lepasin aku..”
Lorenzo menelan ludahnya. Dengan sangat terpaksa lorenzo melepaskan pergelangan tangan jeny dan membiarkan jeny masuk ke dalam mobil mewah tomy.
“Kamu nggak papa kan sayang?” Tanya tomy begitu mereka berada di dalam mobil mewah tomy.
Jeny menoleh kemudian tersenyum. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya.
“Kita pulang sekarang?” Tanya tomy lagi.
“Oke..” Angguk jeny setuju.
Tomy mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang meninggalkan lorenzo yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Sepanjang perjalanan menuju pulang jeny terus terdiam. Wanita itu benar benar bingung harus bagaimana. Lorenzo sudah begitu baik padanya. Lorenzo selalu ada untuknya baik saat senang maupun susah. Pria itu juga selalu menghiburnya ketika tomy tidak ada di sampingnya. Tapi apa yang di katakan lorenzo tentang tantangan untuk tes DNA membuat jeny merasa di rendahkan.
“Sayang...” Panggil tomy pelan.
Jeny menoleh. Wanita itu menatap tomy yang terus fokus dengan kemudinya.
“Iya..” Saut jeny.
Tomy menghela nafas. Tomy sadar dirinya memang tidak selalu ada untuk jeny 5 tahun belakangan. Dan tomy juga tau selama dirinya tidak ada, lorenzo yang selalu berada di samping jeny. Tapi tidak hanya lorenzo, charlie pun selalu ada untuk menjaga jeny. Charlie bahkan selalu menemani kemana jeny pergi. Dan itu tentu saja karna permintaanya.
“Aku minta maaf..” Kata tomy pelan.
Jeny mengeryit. Wanita itu tidak tau maksud dari perminta maafan suaminya.
“Minta maaf? Untuk apa?” Tanya jeny bingung.
“Untuk semuanya. Maaf untuk semuanya.” Jawab tomy.
“Karna aku tidak ada di samping kamu, kamu jadi dekat dengan lorenzo dan sekarang berujung tidak baik seperti ini.” Lanjut tomy.
Jeny tersenyum mendengarnya. Semuanya memang terasa menyakitkan. Tetapi jeny sedang berusaha mengalahkan egonya demi kebaikan untuk anak dalam kandunganya. Jeny tidak mau anaknya tumbuh tanpa seorang papah.
“Semuanya sudah berlalu. Dan aku berusaha untuk mengerti dengan semua alasan kamu..” Balas jeny.
“Jadi tolong.. Lupakan semua yang sudah lalu. Kita mulai semuanya dari awal.” Kata jeny lagi dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1