
Jeny menghela nafas menatap pintu ruang rawat fani yang baru saja di tutup oleh tomy. Entah ada urusan apa yang membuat suaminya tiba tiba saja pergi.
“Mamah jeny..” Panggil fani.
Jeny langsung menolehkan kepalanya. Wanita itu mendekat dan meraih tangan fani, menggenggamnya erat dan penuh kelembutan.
“Yah...” Senyum jeny menyaut.
“Kenapa mamah baru datang jenguk aku?”
Pertanyaan fani membuat senyum di bibir jeny pudar. Jeny kembali teringat perminta maafan tomy yang meninggalkanya begitu saja demi rachel. Menghela nafas, jeny kembali mengukir senyuman di bibirnya.
“Maaf.. Mamah kurang enak badan kemarin.” Jawabnya.
“Mamah sakit? Kok dokter bisa sakit juga?”
Mamah fani tertawa mendengarnya. Mungkin dalam pikiran anak itu dokter adalah manusia hebat karna bisa menyembuhkan orang sakit.
“Nak.. Dokter kan juga manusia. Sama seperti kita..” Kata mamah fani menjelaskan.
Fani mengeryit namun tidak melontarkan pertanyaan apapun lagi baik pada jeny maupun pada mamahnya.
“Kamu sudah makan?” Tanya jeny mengusap kepala botak fani lembut.
Seketika jantung jeny terasa berhenti sejenak. Tidak ada rasa kasar pertanda rambut tidak tumbuh di kepala botak gadis kecil itu. Dan jeny merasa sangat iba dengan apa yang terjadi pada gadis kecil itu. Selain tidak punya rambut, Badan gadis kecil itu juga sangat kurus. Wajahnya pun selalu terlihat pucat dengan lingkaran hitam di sekitar kedua matanya.
“Sudah.. Tadi aku makan sama mamah angel.” Jawabnya.
Jeny menganggukan kepalanya. Jeny sangat menyayangi fani dan berharap gadis itu bisa sembuh dan beraktivitas ceria tanpa ada larangan seperti gadis seumuranya.
Mamah fani tersenyum. Padanya fani memanggil mamah dengan sebutan nama di belakangnya, sama seperti memanggil pada jeny. Itu artinya posisinya di hati fani sama seperti jeny yang hanya orang asing. Namun sepertinya fani lebih terbuka pada jeny ketimbang pada dirinya.
“Baju baju sama mainan baru terus rambutnya gimana? Kamu suka?” Tanya jeny lagi.
Fani menganggukan kepala antusias. Gadis itu kemudian berusaha turun dari brankarnya yang langsung di bantu oleh mamahnya.
__ADS_1
“Pelan pelan sayang..” Titah wanita bernama angel itu.
Fani hanya tertawa. Gadis kecil itu membuka laci yang berada di bawah nakas samping brankarnya kemudian mengambil 3 paperbag berukuran besar yang di perolehnya saat jalan jalan bersama jeny dan tomy.
“Pakein dong mamah..” Pinta gadis kecil itu menatap jeny dan angel bergantian.
Sesaat jeny dan angel terdiam namun pada akhirnya mereka berdua tertawa dan menganggukan kepalanya. Jeny dan angel kemudian bersama sama mendandani fani yang tampak sangat bersemangat.
Sementara itu tomy yang sedang mencari keberadaan suami angel langsung berhenti melangkah saat ponsel dalam saku jins pendeknya berdering. Tomy berdecak pelan kemudian merogoh saku celananya.
“Reyhan..” Gumamnya menatap layar menyala ponselnya dimana nama reyhan tertera disana.
Tomy menghela nafas. Kalau sampai reyhan berani membahas tentang rachel lagi tomy bersumpah akan memtotong gaji asistenya itu bulan ini.
“Halo..”
Tomy mengangkat telephone dari reyhan dengan malas.
“Selamat siang pak.. Pak maaf.. Apa pak tomy sudah membaca berkas yang saat itu saya berikan?”
Tomy memejamkan kedua matanya. Tomy belum sempat membacanya. Bahkan tomy juga tidak membawanya pulang dan meninggalkanya di ruanganya di kantor.
“Maaf pak.. Tapi mohon segera pak tomy baca. Disitu ada informasi penting tentang bagaimana pak lorenzo memperoleh semua hasil penjualanya.” Kata reyhan.
Tomy mengeryit. Tomy memang tidak terlalu tertarik sebenarnya dengan apa yang di lakukan reyhan. Namun demi memberi pelajaran pada lorenzo tomy pun melakukanya. Meskipun nantinya jeny pasti akan marah jika tau.
“Saya akan usahakan membacanya nanti.” Ujar tomy sambil menghela nafas.
“Baik pak.. Kalau begitu selamat siang.”
Sambungan telephone terputus. Tomy kembali memasukan benda pipih itu ke dalam saku celana jins pendeknya. Tomy kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari suami dari mamah kandung fani.
“Apa mau anda sebenarnya?”
Langkah tomy terhenti saat mendengar suara tegas dokter axel. Tomy mengangkat sebelah alisnya menatap dokter axel dan suami angel yang sudah saling berhadapan.
__ADS_1
“Saya tidak mau apa apa. Hanya tolong kamu urus anak kamu dengan baik. Jangan kamu harap istri saya dan saya mau mengurusnya.” Kata suami angel.
Penasaran tomy pun mendekat. Pria itu mencoba untuk mendengarkan percakapan dokter axel dan suami angel lebih dekat.
Mendengar apa yang di katakan suami angel dokter axel langsung marah. Dengan sangat bengis pria bergelar dokter itu menghantam wajah tampan suami angel dengan kepalan tanganya. Dan hantaman keras itu tepat mengenai hidung mancung suami angel sehingga langsung mengeluarkan banyak darah. Tubuh tinggi tegap pria berambut coklat itu bahkan sampai tersungkur ke lantai.
Tomy yang melihat itu langsung berlari mendekat. Tomy menghalangi dokter axel yang akan kembali memukul suami angel dengan amarah membludaknya.
“Dokter axel. Berhenti.. Jangan memukulnya lagi..” Kata tomy berusaha menghalangi dokter axel.
“Minggir pak tomy. Biar saya bunuh manusia tidak punya otak itu..!!” Marah dokter axel memberontak dan terus berusaha menggapai tubuh suami angel yang sudah tersungkur di lantai.
“Dokter.. Semuanya bisa di bicarakan baik baik !!” Seru tomy sambil mendorong tubuh dokter axel dengan keras agar menjauh dari suami angel.
Dokter axel tertawa. Bersamaan dengan itu air mata menetes dari kedua matanya. Kesedihan terlihat jelas dari ekspresinya. Dan tomy bisa merasakanya secara langsung.
“Apanya yang di bicarakan baik baik pak? Si brengsek itu sudah menyia nyiakan anak saya.. Bahkan dia juga melarang angel untuk menemuinya. Dia memisahkan fani dari ibu kandungnya dengan cara melarang angel menjenguk fani ke sini.”
Tomy menelan ludahnya. Entah hubungan rumit apa yang di jalani oleh dokter axel dengan wanita bernama angel itu dulu hingga akhirnya fani yang menjadi korban.
Suami angel yang sedari tadi meringis kesakitan dan sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya berlahan mulai bangkit. Pria itu tertawa sinis menatap dokter axel yang menangis dalam amarahnya.
“Itu karna dia bukan anak saya. Dan saya tidak mau rumah saya menjadi sial karna kehadiran anak haram itu.” Katanya menatap dokter axel.
Dokter axel yang mendengarnya semakin marah. Kedua tanganya mengepal erat kemudian melangkah kembali mendekat pada suami angel namun tomy dengan sigap langsung menahanya.
“Dokter sabar..”
“Jangan halangi saya pak. Biarkan saya memukulnya sampai dia mati !!” Teriak dokter axel terus berusaha melepaskan tangan tomy yang memeluk perutnya.
“Jangan seperti ini dokter. Pikirkan fani. Bagaimana jika sampai dia menuntut dokter. Fani butuh dokter.. Dia butuh kasih sayang dan keberadaan dokter di sampingnya.”
Tubuh dokter axel langsung melemah. Pria itu meluruh ke lantai kemudian menangis terisak. Dokter axel sungguh tidak kuat jika harus melihat putrinya terus terusan merasakan sakit yang dokter axel sendiri tidak bisa membantu meredakan sakitnya.
Tomy dengan nafas terengah ikut duduk di samping dokter axel. Pria itu mengusap usap bahu dokter axel mencoba menguatkan juga meyakinkanya.
__ADS_1
Sementara suami angel berdecak dan menatap tomy juga dokter axel dengan tatapan meremehkan.
“Dasar gila.” Katanya kemudian berlalu sambil terus mengusap darah yang keluar dari hidungnya karna pukulan keras dokter axel.