
Jeny berjalan pelan di taman belakang rumah nya. Entah saking sibuk dirinya atau memang jeny yang baru menyadari bahwa taman belakang rumahnya sangatlah luas dan asri. Banyak bunga bunga berbagai jeny yang sangat indah dan terawat. Selain itu juga ada kursi dan meja yang mungkin bagus untuk dia gunakan bersantai di pagi atau sore hari bersama tomy.
“Tomy benar benar niat memiliki hunian sendiri.” Gumam nya tersenyum.
Jeny mendekat pada kursi dan meja yang berada tidak jauh darinya. Di dudukinya kursi tersebut pelan. Jeny selalu berusaha mengingat dan mendengar pesan tomy untuk berhati hati dalam segala hal termasuk cara duduk. Terkesan lebay memang. Tapi setelah dirasakan jeny merasa nyaman juga santai.
“Ibu..”
Jeny menoleh mendengar suara sisi. Senyum nya mengembang ketika mendapati gadis belia itu melangkah mendekat dengan segelas susu di atas nampan yang di bawanya. Sisi juga membawakan cemilan seperti biscuit dan buah yang sudah di kupas kulitnya dan dipotong sedemikian rapi.
“Susu sama cemilanya bu..” Katanya sambil meletakan segelas susu, setoples biscuit, juga sepiring buah di atas meja di depan jeny.
Jeny terkekeh. Porsi makanya memang sedikit bertambah. Tapi rasanya aneh jika setiap saat dirinya harus di jejali makanan.
“Mbak sisi aku kan baru selesai makan siang tadi.” Ujar jeny.
Sisi terdiam. Gadis itu menatap segelas susu dan setoples biscuit juga sepiring buah yang baru saja dia letakan di meja di depanya dan jeny.
“Tapi tadi bapak menelphone bu. Bapak bilang aku harus kasih susu, cemilan, juga buah buat ibu.” Balas sisi menatap jeny polos.
Jeny menghela nafas. Tomy sangat berlebihan menyikapinya.
“Oke.. Makasih yah..” Angguk jeny dan tersenyum pada sisi.
Sisi menganggukan kepalanya. Gadis belia itu kemudian melangkah meninggalkan jeny dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara jeny menatap bingung pada sepiring buah dan setoples biscuit di depanya. Perutnya masih terasa kenyang. Jika hanya menghabiskan segelas susu mungkin jeny mampu. Tapi jika harus memakan biscuit dan buah di depanya jeny menyerah.
“Kalau begini terus terusan aku bisa gendut nanti.” Kata jeny menghela nafas.
Ketika jeny hendak meraih segelas susu tiba tiba ponsel dalam saku dress nya berdering. Jeny segera merogoh dan mengambil ponsel tersebut dan menatap layar nya.
__ADS_1
“Kak lorenzo..” Gumam jeny pelan.
Jeny menelan ludahnya. Lorenzo sering sekali menghubunginya 2 hari ini. Tepat nya setelah jeny pulang dari rumah sakit. Namun sebisa mungkin jeny berusaha mengabaikanya. Bukan karna tomy. Tapi karna perasaanya sendiri.
Jeny memejamkan sebentar kedua matanya kemudian membukanya kembali. Dengan berat hati jeny kemudian menonaktifkan ponselnya dan kembali memasukan ke dalam saku dress nya.
Jeny tidak mau membuat lorenzo berharap padanya. Jeny juga tidak mau memberi harapan palsu jika terus merespon pria itu.
“Maaf kak. Mungkin lebih baik seperti ini.” Lirih jeny.
Jeny meraih segelas susunya kemudian menyeruputnya sedikit. Jeny teringat kembali pertemuanya dengan lorenzo terakhir kali. Apa yang di katakan lorenzo memang benar. Namun bukan hanya lorenzo, charlie lebih berperan. Pria itu selalu ada bahkan mengantar jemput nya saat tidak ada tomy di sampingnya.
Jeny menghela nafas. Charlie baik bahkan sangat baik padanya. Pria itu terlihat sangat tulus menjaganya bahkan sering mengesampingkan kekasihnya. Tapi charlie tidak seperti lorenzo. Pria itu tidak pernah mengungkit kebaikanya meskipun jeny tidak lagi mendekat padanya.
“Sayang.. Kamu nglamunin apa?”
Jeny tersentak ketika mendangar suara berat tomy. Dengan cepat jeny menoleh. Kedua matanya membulat melihat tomy yang sedang melangkah mendekat padanya.
“Loh tomy.. Kamu kok..”
“Tumben udah pulang?” Tanya jeny melanjutkan yang tadi sempat terpotong karna tomy menciumnya.
“Aku mau ngambil berkas yang ketinggalan. Sekalian mastiin kamu benar minum susu atau nggak.” Jawab pria tampan itu tersenyum.
Jeny berdecak. Jeny tidak keberatan dengan perhatian pria itu. Tapi jika terlalu berlebihan sama saja akan membuatnya merasa terkekang. Contoh nya hari ini. Tomy melarang jeny berangkat kerja padahal jeny sudah cuty sampai 4 hari.
“Tomy...” Panggil jeny menatap tomy yang terus saja tersenyum menatap nya.
“Ya sayang.. Kamu mau sesuatu?” Saut tomy dan bertanya dengan sangat lembut.
Jeny menarik nafas sebentar kemudian menghembuskanya lewat mulut. Jeny tidak mau hanya pasrah menerima semua yang menurutnya berlebihan.
__ADS_1
“Aku makasih banget atas semua perhatian kamu. Tapi aku juga nggak mau kalau terlalu berlebihan..”
Senyum tomy memudar mendengarnya. Sebuah keryitan muncul di kening nya mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
“Maksud kamu?” Tanya tomy tidak mengerti dengan maksud istrinya.
Jeny terdiam sesaat. Rasanya sangat tidak tau diri sekali. Tetapi jeny tetap harus mengatakanya karna itu juga berpengaruh pada daya pikirnya yang nantinya pasti juga akan mengefek pada janin dalam kandunganya.
“Maaf.. Maaf kalau aku buat kamu ngerasa nggak nyaman. Tapi aku lakukan itu karna aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa napa.” Lirih tomy membalas tatapan jeny dengan wajah sendu.
Jeny tersenyum. Wajar jika tomy sampai khawatir dan mempunyai pikiran seperti itu.
“Aku kan dokter tomy.. Aku bisa jaga diri aku kok. Aku juga bisa pastikan anak kita tidak akan kenapa napa.” Senyum jeny.
Tomy terdiam. Dengan pelan tomy menganggukan kepalanya. Tomy bukan tidak percaya pada kemampuan istrinya di bidang kesehatan. Tapi melihat cara kerja jeny tomy ragu jika wanitanya bisa menjaga dengan benar kesehatanya.
“Jadi aku bolehkan kerja lagi?” Tanya jeny dengan senyuman manis yang terukir di bibir merah alaminya.
Tomy tidak langsung menjawab. Jika di rumah mungkin tomy bisa tenang karna ada bibi, sisi, juga pak satpam yang melaporkan kapan lorenzo datang menemui jeny. Tapi jika di rumah sakit rasanya sangat tidak mungkin jika tomy menyuruh seorang untuk mengawal istrinya. Jeny pasti akan menolaknya.
“Aku lagi minta izin loh sama kamu..” Senyum jeny mencomot sepotong buah apel dan menyuapkanya pada tomy.
Tomy tersenyum. Dengan senang hati tomy menerima suapan dari istrinya. Jeny sedang berusaha merayunya agar tomy mau mengizinkanya kembali bekerja seperti biasanya.
“Aku udah ada janji dengan seorang pasien untuk menemaninya bermain bersama.”
Tomy mengeryit. Tiba tiba tomy teringat pada gadis kecil berkepala botak yang menyapanya saat di taman rumah sakit. Mungkin gadis itu yang di maksud oleh jeny.
“Baik. Kamu boleh kembali bekerja. Tapi jangan kecapek an, jangan telat makan, jangan telat minum susu dan vitamin. Juga jangan terlalu sering bertemu dengan lorenzo.” Ujar tomy dengan berbagai aturan dan laranganya.
“Oke..” Senyum jeny senang.
__ADS_1
Jeny kembali meraih sepotong apel kemudian menyuapkanya lagi pada tomy.
“Sayang. Yang lagi hamil kan kamu masa aku yang ngemil sih.”