Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 115


__ADS_3

“Kita makan dimana sayang?” Tanya tomy pada jeny yang hanya diam di samping kemudinya.


Jeny tidak menyaut. Wanita itu bahkan sepertinya tidak mendengarkan apa yang di pertanyakan oleh suaminya. Sangat berbeda dengan fani yang tampak sangat senang duduk di belakang. Bibir pucatnya terus mengembangkan senyuman. Wajahnya terlihat berseri menatap setiap jalanan yang di lewatinya.


Tomy tersenyum. Tomy tau apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.


“Sayang...” Panggil tomy menyentuh lembut tangan jeny.


Jeny tersentak. Wanita itu buru buru menoleh pada suaminya kemudian tersenyum.


“Kenapa by?” Tanya jeny bingung.


“Sayang.. Kita mau makan dimana?” Tomy mengulang kembali pertanyaanya pada jeny.


Sesaat jeny terdiam. Wanita itu kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum melihat fani yang begitu cantik dengan wajah berserinya. Untuk pertama kalinya jeny melihat fani mengenakan gaun cantik yang sudah di siapkan tomy untuknya.


“Eemm.. Nggak usah jauh jauh by.. Aku nggak mau fani kenapa napa.” Jawab jeny tersenyum tipis.


Tomy menganggukan kepalanya. Tomy tau fani memang tidak baik baik saja. Tapi tomy tau seburuk apapun keadaan fani, gadis yang sudah tidak lagi mempunyai rambut itu juga menginginkan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang di miliki teman teman sebayanya.


“Fani..” Panggil tomy melirik fani yang berada di belakang melalui kaca mobilnya.


“Ya om...” Saut fani cepat.


“Kamu suka makan apa?” Tanya tomy penuh perhatian pada gadis kecil itu.


“Eemm.. Nggak tau om..” Jawab fani dengan wajah bingung.


Jeny tersenyum. Tomy sangat perhatian pada gadis kecil itu. Dan melihat itu jeny sangat yakin bahwa tomy juga akan bersikap baik dan sangat mengistimewakan anaknya kelak.


“Bagaimana kalau kita makan di restourant jepang?” Tanya tomy menawarkan.


Fani terdiam sesaat namun kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya pelan menolak ajakan tomy untuk makan siang di restourant jepang.


“Kenapa?” Tanya tomy mengeryit.


“Dokter axel pernah membawakan aku makanan jepang. Rasanya tidak enak. Aku tidak suka.” Jawab fani yang membuat jeny tertawa pelan mendengarnya.


Tomy ikut tertawa. Pria itu menganggukan kepalanya pelan beberapa kali.

__ADS_1


“Oke.. Bagaimana kalau makanan indonesia saja.. Kamu bebas pilih mau makan apapun yang kamu mau. Saya yang traktir.” Senyum tomy kembali berkata.


“Beneran om?” Tanya fani antusias.


“Beneran dong.. Hari ini saya bakal ajakin kamu jalan jalan kemanapun kamu mau.” Senyum tomy.


“Yee.. Makasih om..” Senang fani.


Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny berharap semoga tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada fani. Karna niatnya dan tomy membawa fani jalan jalan adalah untuk menyenangkan gadis kecil itu.


Tomy menghentikan mobilnya di depan sebuah restourant yang ramai pengunjung siang itu. Pria tampan itu mematikan mesin mobilnya kemudian turun di ikuti jeny.


Tomy membuka pintu mobil belakang nya. Tanganya terulur yang langsung di sambut antusias oleh fani.


Tomy menuntun gadis kecil itu layaknya putrinya sendiri.


Ketika hendak melangkahkan kakinya tiba tiba ekspresi fani berubah sendu. Gadis berambut palsu ikal sebahu itu melepaskan gandengan tangan tomy kemudian menundukan kepalanya.


Jeny dan tomy yang melihatnya tampak bingung.


“Kenapa?” Tanya tomy pelan.


“Andai saja saat ini bukan kalian yang ada di samping aku sekarang. Aku pasti akan sangat bahagia.”


Tomy dan jeny saling pandang. Tanpa bertanya mereka berdua tau apa yang di maksud oleh fani.


“Eemm.. Fani..” Panggil tomy lembut.


Pria itu berlutut di samping fani. Di raihnya kedua bahu lemah fani dan menuntunya agar menghadap padanya.


“Kalau kamu mau, kamu boleh anggap saya dan istri saya sebagai orang tua kamu. Kamu juga boleh panggil kami mamah sama papah..” Senyum tomy mengusap lembut pipi tirus fani.


“Beneran om?” Tanya fani penuh harap.


“Papah dong..” Senyum tomy mencubit pelan ujung hidung fani.


“Papah..” Senang fani.


“Mamah..” Fani beralih menatap jeny yang hanya diam berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Ya...” Kompak jeny dan tomy tersenyum menatap gadis berambut palsu itu.


“Ya udah yuk masuk?” Ajak tomy.


Fani menganggukan kepalanya dengan senyuman bahagia yang terukir di bibirnya. Gadis itu juga menurut saat tomy kembali menggandengnya dan membawanya masuk dengan jeny yang mengikutinya dari belakang.


Hari ini tomy benar benar memenuhi janjinya pada jeny untuk menyenangkan fani. Meskipun tujuanya bukan hanya itu. Karna sesungguhnya tomy juga sangat iba pada gadis kecil itu semenjak pertama kali mereka bertemu. Dan juga gadis kecil itu pula yang membuat tomy berani jujur pada jeny.


Setelah makan siang bersama tomy dan jeny mengajak fani ke mall untuk membeli baju baru juga mainan baru. Tomy juga membelikan beberapa rambut palsu dengan berbagai model untuk di kenakan gadis kecil itu.


“Kamu seneng?” Tanya tomy menunduk menatap fani yang di gandengnya.


“Ya papah.. Aku bahagia banget.” Jawab gadis kecil itu dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


Tomy ikut tersenyum. Usahanya dan jeny berhasil. Pria itu bahkan rela menunda pertemuanya dengan client demi bisa membuat fani tersenyum. Tidak jauh berbeda dengan tomy, jeny pun melakukan hal yang sama. Jeny sampai bolos bekerja setelah makan siang bersama dan memilih mengikuti suaminya untuk membawa fani jalan jalan.


Senyum di bibir tomy mendadak sirna ketika tiba tiba hidung fani mengeluarkan darah.


“Fani kamu... Ya tuhan...”


Karna panik tomy pun langsung membopong tubuh kecil fani yang langsung menutup mata pingsan di gendongan tomy.


“Ya tuhan.. Fani !!” Pekik jeny terkejut.


Jeny menjatuhkan semua belanjaan fani yang di bawanya. Wanita itu langsung berlari mengikuti suaminya yang membawa fani di gendonganya dalam keadaan pingsan dan mimisan.


“Ayo by.. Ya tuhan.. Fani, sayang kamu harus baik baik saja...” Tangis jeny sambil memangku kepala fani yang hidungnya terus saja mengeluarkan darah.


“Ma-mah.. Pa-pah.. Ma-kas-sih... Aku..”


“Ssstt.. Mamah papah sayang kamu.. Kamu harus kuat.. Kamu bisa sayang..” Geleng jeny menangis menatap fani yang tampak sangat pucat di pangkuanya.


“Fani, sayang.. Dengerin papah tomy.. Kamu harus kuat yah.. Sebentar lagi kita sampai..” Kata tomy dengan suara sedikit keras.


Fani tersenyum lemah mendengarnya. Gadis kecil itu menggenggam erat tangan jeny yang terus menangisinya. Genggaman tangan gadis itu berlahan melemah hingga akhirnya terlepas dan fani kembali memejamkan mata tidak sadarkan diri.


Jeny langsung meraih tangan fani mengecek denyut nadi gadis kecil itu.


“By.. Bisa lebih cepat?” Tanya jeny khawatir.

__ADS_1


Tomy mengangguk. Pria itu seakan lupa dengan istrinya yang juga sedang hamil muda. Tomy menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit. Tomy tidak akan takut jika sampai dokter axel marah bahkan mencaci makinya. Karna apa yang di lakukanya memang salah dan tomy menyadari itu.


__ADS_2