
Jeny berdecak. Wanita itu berkali kali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Reyhan membuatnya banyak membuang waktu. Dan sekarang jeny harus bersabar menunggu waktu sampai akhirnya tiba di perusahaan lorenzo.
“Pak bisa lebih cepat lagi nyetirnya?” Tanya jeny tidak sabaran.
“Maaf bu.. Jalanan sedang sangat padat. Saya tidak berani kebut kebutan di jalanan.” Jawab si supir taxi.
Jeny berdecak kesal. Kalau saja reyhan tidak membawanya melewati jalan itu sekarang jeny pasti sudah sampai.
Jeny melirik spion. Wanita itu menatap sebal mobil reyhan yang terus saja mengikutinya di belakang. Entah apa maunya pria itu sehingga terus saja membuntutinya.
“Apasih maunya?” Kesal jeny bergumam.
20 Menit kemudian taxi yang di tumpangi oleh jeny sampai tepat di depan gedung perusahaan lorenzo. Wanita itu segera membayar taxi dan keluar dengan terburu buru. Jeny harus cepat sebelum reyhan kembali menghalanginya.
Tepat ketika jeny hendak masuk tomy keluar dari gedung tersebut. Pria itu dengan penampilan kucelnya menatap jeny yang terkejut akan kehadiranya.
“Kamu... Bagaimana mungkin.” Lirih jeny tidak percaya.
Padahal saat di rumah tadi jeny melihat tomy masih sangat terlelap. Tapi sekarang pria itu sudah berdiri di depanya dan menatapnya meskipun penampilanya masih terbilang sangat berantakan.
Tomy tersenyum tipis. Pria itu kemudian menolehkan kepalanya pada mobil reyhan yang berada di halaman gedung itu. Tomy bersyukur dan sangat berterimakasih pada asistenya itu karna berhasil mengulur waktu sehingga tomy bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.
“Aku bisa jelaskan semuanya sayang.” Lirih tomy.
Jeny terdiam kemudian memejamkan kedua matanya sesaat sebelum membukanya kembali. Tomy bukan orang jahat. Jeny yakin tomy punya alasan yang cukup logis mengapa bisa rapat bersama para pemegang saham di perusahaan lorenzo.
“Jeny..”
Jeny menoleh ketika mendengar suara lorenzo. Pria bermata sipit itu menatapnya dengan tatapan penuh luka.
“Lihatkan bagaimana jahatnya suami kamu.. Dia merusak bahkan menghancurkan apa yang aku miliki.”
Jeny tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun jeny melihat sendiri suaminya keluar dari gedung perusahaan lorenzo. Tapi jeny tau suaminya bukan orang jahat yang mau merebut hak orang lain.
__ADS_1
“Kak aku...”
“Dia menyelinap dan masuk ke perusahaan aku diam diam jen.. Dia juga memfitnah aku dengan bukti palsunya. Dan dia, dia juga membeli hampir 50% saham di perusahaan aku dengan cara licik.”
Tomy terkekeh mendengar apa yang sedang di adukan lorenzo pada jeny. Meskipun pada awalnya memang tomy hanya ingin memberi pelajaran pada lorenzo tapi setelah mengetahui cara pria bermata sipit itu memasarkan produknya tomy pun akhirnya berubah pikiran. Caranya memang sama, tapi tujuanya berbeda.
“Kamu tau jen.. Akibat dari apa yang di lakukan suami.kamu? Aku bangkrut. Banyak karyawan yang terpaksa tidak mendapat pesangon. Dan aku.. Sudah tidak lagi punya apa apa.”
Jeny benar benar tidak tau harus bagaimana. Jeny tidak bisa hanya mendengarkan lorenzo. Dan lagi, tomy adalah suaminya yang juga adalah orang yang begitu jeny kenal baik dari kecil. Rasanya tidak mungkin jika tomy melakukan hal sekeji itu.
“Jen... Aku..”
“Cukup.” Sela tomy tegas.
Pria tampan dengan penampilan berantakan itu memutar tubuhnya dan menatap lorenzo dengan tatapan remeh.
“Cukup mengatakan sesuatu yang tidak tidak pada istriku lorenzo.” Tekan tomy.
“Kamu...”
“Istri saya bukan wanita bodoh lorenzo. Dia akan tau setelah melihat apa yang ada disini.” Sela tomy.
Jeny yang berada di belakang punggung tomy hanya diam saja. Jeny bingung. Lorenzo orang yang baik meskipun ngeyel. Tetapi tomy jauh lebih baik dari lorenzo sejauh dari yang jeny kenal.
“Sudah.. Cukup.. By.. Kita pulang sekarang.” Lerai jeny kemudian meraih tangan tomy dan menariknya menjauh dari lorenzo.
Tomy menurut saja. Pria itu mengikuti langkah jeny yang menariknya menuju mobil. Tomy yakin jeny akan mengerti. Dan tomy juga yakin jeny akan percaya padanya.
“Sayang...”
“Jalan aja dulu by...” Sela jeny pelan.
Tomy mengangguk. Pria itu kemudian memberikan map biru yang di bawanya pada jeny.
__ADS_1
”Ini apa?” Tanya jeny menatap bingung pada tomy.
“Kamu bisa baca dulu sayang.. Aku akan jelaskan semuanya setelah kamu baca itu.” Jawab tomy.
Jeny menunduk menatap map biru yang di pegangnya. Wanita itu dengan ragu mulai membuka dan membaca beberapa berkas yang ada di dalam map tersebut.
Sedangkan tomy, pria itu mulai melajukan mobilnya. Tomy merasa sangat lega setelah membeberkan semuanya. Namun tomy tidak bisa bersantai seperti tidak terjadi apa apa. Lorenzo bukan orang yang mau menerima kenyataan dan merenungi kesalahanya. Tomy harus tetap siaga menjaga istrinya. Tomy tidak mau jika apa yang di lakukanya sampai berimbas pada jeny.
“By ini...”
“Jujur sayang.. Pada awalnya aku hanya ingin membuat lorenzo jera dan tidak mengganggu kamu lagi. Tapi setelah tau apa yang di lakukan lorenzo aku berubah pikiran. Aku melakukanya demi para petani yang tidak mampu dan merasa di rugikan. Lorenzo memasarkan produk yang tidak sama seperti yang dia iklankan. Dan aku tidak bisa diam saja. Aku juga pemilik saham di perusahaan itu.”
Jeny terdiam mendengarkan apa yang sedang di jelaskan suaminya. Jika menelisik dari semua bukti dan penjelasan tomy lorenzo memang sudah sangat keterlaluan.
“Ya tuhan.. Kak lorenzo..” Lirih jeny.
Tomy melirik jeny sekilas. Wanita itu tidak menangis. Hanya saja terlihat sekali rasa kecewa juga terkejutnya pada apa yang sudah di lakukan lorenzo.
“Lalu bagaimana dengan pesangon para karyawanya by?” Tanya jeny menoleh menatap tomy dengan wajah sedih.
“Mereka juga perlu uangkan? Dan lagi, mungkin di antara mereka banyak yang manjadi tulang punggung keluarganya.” Lanjut jeny.
Tomy tersenyum. Semua itu sudah tomy pikirkan jauh jauh hari. Dan kesibukanya akhir akhir ini juga karna rencananya. Tomy kembali membangun cabang perusahaan untuk memberikan lapangan kerja para karyawan yang berada di perusahaan lorenzo.
“Itu semua aku udah pikirkan sayang. Mereka akan di kumpulkan oleh reyhan nantinya. Dan mereka akan langsung di interview agar bisa langsung menempati posisi mereka dengan tepat nantinya.” Senyum tomy menjawab.
Jeny tersenyum. Suaminya memang bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Di samping itu ke enceran otak cerdasnya juga tidak bisa di remehkan.
“Tapi.. Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku?” Tanya jeny mendadak memasang wajah sendu.
Tomy tersenyum. Tomy tidak mau jeny salah faham padanya. Tomy juga tidak mau jeny sampai marah lagi dan menuduhnya melakukan kejahatan.
“Aku cuma nggak mau kamu memikirkan sesuatu yang tidak perlu kamu pikirkan.”
__ADS_1