Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 184


__ADS_3

“Bagaimana?”


Reyhan menelan ludahnya ketika berhadapan dengan tomy yang secara langsung menanyakan hasil penyelidikanya terhadap kasus angel. Dan untuk pertama kalinya reyhan belum bisa menghasilkan apapun selama sebulan menyelidiki sebuah kasus.


“Pak maaf... Di tempat angel bertemu dengan slamet tidak ada apapun yang bisa menjadi tanda bukti. Bertanya pada slametpun jawabanya tetap satu. Bahkan meskipun sudah memancingnya menggunakan alkohol tetap saja jawabanya sama.”


Tomy menghela nafas mendengar jawaban reyhan. Kasus angel memang cukup rumit. Menemui angel rasanya sangat tidak mungkin karna wanita itu pasti akan terus berteriak, mencaci bahkan mengancam. Terakhir tomy menjenguknya adalah saat bersama dengan jeny.


“Lalu bagaimana dengan keadaan angel?” Tanya tomy lagi.


“Bu angel sudah tidak lagi di rumah sakit jiwa pak.”


“Apa?!”


“Dokter axel membawanya keluar dari rumah sakit jiwa.” Sambung reyhan.


“Tapi kenapa? Bukanya itu akan sangat membahayakan?” Tanya tomy tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan dokter axel.


“Untuk alasan yang jelasnya saya tidak tau pak. Tapi ada satu dokter yang sepertinya sangat tidak setuju dengan apa yang di lakukan dokter axel. Dokter itu bahkan terus rutin membawakan obat untuk angel dan sering mencaci dokter axel.”


Tomy mengangkat sebelah alisnya. Rasanya aneh mendengar ada seorang dokter yang begitu perduli pada pasien gilanya sampai seperti itu.


“Siapa nama dokter itu?” Tanya tomy penasaran.


“Namanya dokter malik pak.” Jawab reyhan.


“Apa perlu saya menyelidikinya agar pak tomy bisa tau lebih jelas tentang dokter malik?” Tanya reyhan kemudian.


Tomy terdiam sesaat. Andai angel tidak segila dan semengerikan itu saat sedang berteriak dan mengancam mungkin tomy akan diam. Tapi wanita itu begitu menggila dan terus mencaci bahkan mengancam siapapun yang mendekatinya itu sangat tidak wajar. Apa lagi jika di lihat dari awal masalahnya. Jika memang angel frustasi dan gila karna kehilangan putrinya harusnya wanita itu menggendong boneka bukan berteriak dan mengancam siapapun yang di lihatnya.


“Boleh.. Kamu selidiki dokter malik. Dan pulang nanti kita ke rumah dokter axel. Kita lihat apakah ada perubahan dari angel atau tidak.”


“Baik pak.. Kalau begitu saya permisi.”


“Ya.. Silahkan.” Angguk tomy.


Reyhan bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangan tomy. Sedangkan tomy, pria tampan dengan rambut berponi yang mulai menjulur menutupi keningnya itu tampak memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh reyhan.

__ADS_1


“Bagaimana dokter?” Tanya dokter axel pada seorang pria baya yang baru saja selesai memeriksa keadaan angel.


Dokter pria baya itu menghela nafas menatap angel yang terus saja berteriak dan mengancam. Tatapan sedih di layangkan oleh pria baya itu melihat angel yang harus di ikat di atas ranjang layaknya orang yang mengalami gangguan mental begitu akut.


“Axel..” Panggil dokter baya itu menatap dokter axel sendu.


Sejenak dokter itu terdiam.


“Kegilaanya tidak murni alami.”


“Apa? Maksud dokter?” Tanya dokter axel bingung. Firasatnya benar. Angel tidak benar benar gila.


“Ini baru dugaan saya. Ada seseorang yang mencuci otaknya kemudian meminumkanya obat yang sangat tidak baik untuk syarafnya.” Jawab dokter baya itu menatap dokter axel sendu.


Dokter axel menelan ludahnya. Seseorang yang dekat dengan angel sebelumnya hanyalah leo. Tapi rasanya tidak mungkin jika pria itu yang melakukanya. Dokter axel tau leo sangat mencintai angel. Meskipun pada akhirnya mereka memang harus berpisah.


“Kalau boleh saya tau obat apa yang dia minum selama di rumah sakit jiwa?” Tanya dokter itu kemudian.


Dokter axel mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Pria dengan kaos lengan panjang berwarna hitam itu langsung melangkah menuju nakas dan membuka lacinya. Dokter axel meraih sebuah obat yang memang baru di berikan oleh dokter malik padanya pagi tadi.


Dokter menyodorkan obat tersebut yang langsung di ambil oleh dokter baya itu.


“Obat ini akan saya bawa untuk saya cek kandunganya.”


“Ya dokter..” Angguk dokter axel setuju.


“Kalau begitu saya permisi. Untuk sementara hentikan dulu pemakaian obatnya. Pelan pelan coba ajak dia komunikasi.. Kuncinya hanya harus sabar..”


Dokter axel menatap angel yang terus saja meronta dengan tatapan mengerikan. Entah siapa yang sampai setega itu pada angel. Dendam dan kebencian apa yang bersarang di otak tersebut hingga sampai menyiksa mental dan tubuh wanita itu.


“Akan aku bunuh kalian semua !” Ancam angel dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Dokter axel menghela nafas. Angel terus saja mengeluarkan ancaman dan makian pada siapa saja yang ada di depanya.


“Axel.. Ingat. Sabar dan telaten... Angel masih bisa sembuh..” Senyum pria baya itu menyentuh bahu tegap dokter axel berusaha menguatkan.


“Ya dokter.. Saya akan terus berusaha..” Senyum hambar pria tampan berkaos hitam lengan panjang itu.

__ADS_1


“Bagus. Kalau begitu saya permisi.”


“Terimakasih...” Senyum dokter axel pada pria baya tersebut.


Pria baya berjas putih itu tersenyum tipis kemudian berlalu dari hadapan dokter axel.


Helaan nafas berat keluar dari mulut dokter axel. Mengajak angel berkomunikasi memang sangat susah. Wanita itu tidak pernah mau mendengarkanya dan terus saja meracau dengan makianya. Angel bahkan sepertinya sudah tidak mengenali dokter axel. Hanya tatapan penuh kebencian yang selalu di layangkan oleh wanita itu.


“Angel aku...”


“Lepaskan aku !! Akan aku bunuh kamu !! Aku bunuh kalian semua !! Brengsek lepaskan aku !!”


Dokter axel memejamkan kedua matanya. Angel kembali melontarkan kata kata kasar bernada ancaman. Wanita itu bahkan terus berusaha melepaskan diri dengan meronta ronta sampai pergelangan kaki dan tanganya memerah mengeluarkan darah. Dan dokter axel yakin pergelangan tangan dan kaki wanita itu pasti sangat perih.


“Ya tuhan.. Apa ini yang di sebut karma.. Dulu kamu menyiksa batin anakku. Sekarang kamu mengalaminya bahkan sampai fisik.” Gumam dokter axel sedih.


Dokter axel tidak tau harus bagaimana mengajak angel berkomunikasi. Wanita itu terus saja berteriak dan meronta sehingga dokter axel tidak punya kesempatan untuk berbicara.


“Lepaskan aku brengsek !! Cepat lepaskan !!” Bentak angel.


Dokter axel melengos. Tidak tahan melihat wanita itu tersiksa.


“Hey brengsek lepaskan !!”


Dokter axel berlalu dengan perasaan ibanya. Angel memang pernah salah karna menelantarkan fani. Tapi menurut dokter axel penyesalan saja sudah cukup menyiksanya. Tidak harus seperti sekarang.


“Lepaskan aku !! Brengsek !! Jangan pergi !! Lepaskan aku atau kamu aku bunuh !!”


Tanpa sadar dokter axel meneteskan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak. Kepergian fani menyisakan luka yang begitu dalam untuknya. Di tambah lagi dengan keadaan angel saat ini. Itu benar benar membuat dokter axel merasa gagal sebagai seorang dokter.


“Dokter.”


Suara berat tomy membuat dokter axel langsung menoleh cepat. Buru buru pria itu menghapus air mata yang membasahi pipinya.


“Maaf kalau saya lancang. Tapi teriakan angel membuat saya..”


“Tidak apa apa pak tomy..” Sela dokter axel tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2