
“Gadis kecil itu anak saya..”
Angel menutup mulutnya tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh dokter axel. Padahal wanita itu berpikir mungkin saja gadis dalam photo itu adalah adik atau bahkan kembaran dokter axel karna wajah mereka yang begitu sangat mirip.
“Jadi dokter sudah menikah? Jadi selama ini aku tinggal dengan pria beristri?” Tanya angel lirih.
Dokter axel tersenyum. Semenjak di hianati oleh angel dokter axel tidak pernah lagi menjalin cinta. Jangankan menikah, untuk berpacaran saja dokter axel enggan.
Dokter axel menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan angel.
“Saya belum menikah.” Katanya.
Angel mengeryit bingung. Wanita itu kemudian bangkit dan terduduk di atas sofa menatap dokter axel bingung. Dokter axel mengatakan sudah memiliki anak namun belum menikah.
“Apa maksudnya dokter? Dan kenapa dokter tidak pulang seharian ini? Kenapa dokter ingkar janji?”
Dokter axel menghela nafas. Pria tampan itu kemudian mendudukan dirinya di atas sofa tepat di samping angel.
“Namanya fani. Dia anak saya.”
“Fani?”
Angel ingat jeny pernah menyebut nama fani. Namun saat angel bertanya jeny mengatakan agar angel langsung bertanya pada dokter axel.
“Ya. Fanisa darwin.” Jawab dokter axel.
Angel menyentuh dadanya. Denyutan itu semakin terasa dan membuat ulu hatinya terasa seperti di iris iris.
“Lalu dimana dia? Dan dimana ibunya?” Tanya angel dengan nafas tersengal.
Dokter axel menoleh kemudian tersenyum.
“Ibunya ada disini. Tapi fani sudah tidak lagi disini. Dia sudah punya rumah sendiri. Rumah yang sangat indah.” Jawab dokter axel.
__ADS_1
Angel menggelengkan kepalanya. Setahunya tidak ada orang lain selain dirinya dan dokter axel kecuali seirang gadis dari kampung sebelah yang selalu rutin membersihkan rumah dokter axel setiap pagi pagi sekali.
“Apa gadis itu?” Tanya angel lagi.
Dokter axel tertawa pelan. Pria tampan itu kemudian menggelengkan lagi kepalanya.
“Kamu ibunya.” Jawab dokter axel jujur.
“Apa?”
Kedua mata angel membulat mendengarnya.
“Nggak mungkin.. Aku nggak mungkin ibunya..” Lirih angel dengan suara bergetar.
“Kamu tau kenapa hati kamu sakit melihatnya?” Tanya dokter axel menatap angel dengan kedua matanya yang berkaca kaca. Dokter axel kembali mengingat rengekan putrinya yang selalu meminta dokter axel untuk menelephone angel agar datang. Tapi angel tidak pernah mau datang meskipun untuk fani.
“Karna fani adalah anak kandung kamu.. Dan fani.. Fani sudah tidak ada.. Fani sudah meninggalkan kita..”
Angel menangis mendengarnya. Angel tidak percaya dengan apa yang di katakan dokter axel. Tapi angel tidak bisa memungkiri hatinya terasa begitu sakit dan merasa kehilangan.
Dokter tampan itu hanya diam. Mungkin lukanya akan kembali terasa perih seperti luka berdarah yang di siram air cuka. Tapi bagaimanapun juga angel harus kembali mengingat semuanya. Dengan begitu dokter axel tidak perlu lagi merasa bertanggung jawab atas wanita itu.
“Dokter tolong jangan berbohong.. Jangan permainkan aku.. Meskipun aku memang tidak bisa mengingat apapun tapi..”
“Saya nggak bohong angel. Fani anak kita..” Sela dokter axel.
“Tapi kamu bilang kita bukan siapa siapa. Kita hanya orang asing.. Dan hubungan kita tidak lebih dari seorang pasien dengan dokter.” Kata angel dengan suara tersendat.
Dokter axel menghela nafas. Dirinya memang salah karna berbohong. Tapi sebenarnya apa yang di katakan dokter axel tidak sepenuhnya bohong. Hubunganya dan angel saat ini memang hanya sebatas pasien dan dokter.
“Saya minta maaf.. Saya berbohong karna saya tidak mau kamu tau saat itu. Saya pikir kamu tidak perlu tau tentang ini.. Tapi setelah saya pikir lagi bagaimanapun juga kamu adalah wanita yang melahirkan fani.. Kamu berhak untuk tau dan mengingat kembali semuanya..”
Angel semakin menangis terisak. Kenyataan bahwa dirinya adalah ibu kandung dari sosok cantik di dalam photo itu membuatnya semakin merasa sakit juga hancur.
__ADS_1
“Kenapa..? Kenapa fani bisa meninggalkan kita? Apa yang terjadi?” Tanya angel dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar.
“Leokimia. Dia mengidap leokimia dari umur 3 tahun. Saya sudah berusaha sebisa saya.. Saya merawat sendiri fani.. Tanpa kamu.. Saya sudah mengerahkan tenaga dan pikiran saya.. Awalnya saya berniat membawa fani keluar negeri. Tapi kedua orang tua kamu melarang karna mereka bilang mereka tidak akan bisa bertemu dengan fani jika saya membawanya pergi. Saya sempat berdebat dengan mereka namun pada akhirnya saya mengalah.. Saya tau fani sangat menyayangi kakek dan neneknya. Dan saya tidak bisa berbuat apa apa. Dan pada akhirnya fani tetap meninggalkan saya.. Tapi saya berusaha untuk ikhlas karna fani sudah tidak akan lagi merasakan sakit.. Fani juga tidak akan lagi menderita karna terus mengharap kasih sayang dari kamu dan pak leo.” Jelas dokter axel panjang lebar.
Angel menggelengkan kepalanya.
“Nggak.. Nggak mungkin..” Lirinya menolak penjelasan dokter axel.
“Saya tau angel saya memang salah.. Saya berdosa sama kamu karna saya sudah memaksa kamu dan menanam benih di rahim kamu yang sama sekali tidak pernah kamu harapkan.. Saya sudah merasakan sendiri akibat dari perbuatan saya. Dan saya juga sadar apa yang terjadi selama ini memang karna kesalahan saya. Karna dosa saya. Saya egois dan saya gegabah dalam bertindak saat itu..” Lirih dokter axel melanjutkan.
Dokter axel menyeka air mata yang tanpa dia sadari menetes begitu saja membasahi pipi tirusnya.
“Kalau memang fani anak kita kenapa kamu bilang bahwa pak leo adalah suami aku?”
Dokter axel kembali menatap angel yang berderai air mata. Pelan pelan tangan besarnya bergerak dan akhirnya mendarat dengan lembut di pipi basah angel. Dokter axel mengusap lembut pipi angel dengan seulas senyuman yang terukir di bibirnya.
“Kita pernah menjalin hubungan yang indah.. Sangat indah.. Kita juga pernah punya cita cita untuk hidup bersama.. Tapi tenyata takdir berkata lain.. Kamu berjodoh dengan pak leo.. Bukan dengan saya..” Cerita dokter axel.
Angel kembali menggelengkan kepalanya. Wanita itu menepis tangan dokter axel yang membelai lembut pipinya. Angel kemudian turun dari sofa berniat berlalu. Tapi baru saja hendak melangkah tubuhnya sudah tersungkur ke lantai tidak bertenaga.
Dokter axel yang melihatnya tersenyum. Pria itu bangkit dari duduknya. Di raihnya tubuh lemas angel. Dokter axel kembali menggendong tubuh angel dan membawanya melangkah menuju tangga.
“Turunkan aku dokter..” Angel memukul dada dokter axel dengan tanganya yang sama sekali tidak bertenaga.
“Saya akan tunjukan sesuatu sama kamu.” Lirih dokter axel.
Angel terus saja menangis. Angel bahkan tidak menyadari saat dokter axel membawanya menuju kamar fani dan mendudukanya di atas ranjang tempat dulu fani tidur di sisa waktu singkatnya.
Dokter axel melangkah menuju lemari. Pria tampan itu meraih album photo berukuran hampir satu meter kamudian membawanya mendekat pada angel.
Angel menggelengkan kepalanya melihat sampul album tersebut.
“Itu..”
__ADS_1
“Ini kamu saat hamil fani.. Saya mengambil photo kamu diam diam. Dan semua yang ada di album ini adalah photo photo kamu.. Aku bahkan punya video saat kamu mengidam meminta aku untuk menggendong kamu keliling kompleks pagi pagi buta.” Senyum dokter axel.
Angel menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar benar tidak mengerti kisah rumit seperti apa yang pernah di jalaninya. Dokter axel mengatakan angel pernah menjadi istri leo tapi pria itu juga mengatakan angel pernah hamil anaknya yaitu fani. Semua itu membuat angel bingung dan tidak mengerti bahkan tidak percaya.