Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 210


__ADS_3

Tomy mengendarai motor gede reyhan dengan kecepatan penuh. Pria itu seakan tidak memperdulikan reyhan yang memeluk erat pinggangnya. Yang ada di pikiranya adalah saat ini tomy harus bisa segera menangkap lorenzo dan memasukanya ke dalam penjara.


Di belakang tomy rolan dan rio terus mengikuti. Mereka sebenarnya di larang tomy untuk ikut namun keduanya tetap mengikuti dari belakang karna ingin membantu.


Tomy menghentikan motornya tepat di depan kediaman orang tua sarah. Pria itu kemudian turun dari motornya mendahului reyhan yang masih merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat. Tomy membawa motor seperti orang yang sedang di kejar setan. Tomy bahkan sempat beberapa kali menyerempet mobil yang tidak tau siapa pemiliknya. Namun hebatnya tomy masih sempat menyuruh reyhan untuk menghafal nomor polisi mobil yang di serempetnya yang pasti menimbulkan baret di body mobil tersebut.


“Ya tuhan... Hampir saja.” Gumam reyhan turun dari motornya.


Tidak lama rolan dan rio sampai. Mereka langsung turun dari motornya dan menghampiri reyhan yang sepertinya akan muntah karna terlalu menghirup banyak angin.


“Kamu nggak papa rey?” Tanya rolan menyentuh bahu reyhan dan menatapnya khawatir.


Sedang tomy, pria itu masuk begitu saja ke dalam kediaman sarah. Tomy menatap sekitar ruang utama rumah megah itu yang tampak sangat berantakan.


“Papah jangan pelgi.. Elo mau sama papah..”


Tomy langsung melangkah cepat mendengar suara elo. Seorang yang di panggil papah oleh anak kecil itu tidak lain pasti lorenzo.


“Minggir. Jangan halangi saya.. Kamu bukan anak saya !!” Bentak lorenzo pada elo yang terus mengikutinya.


“Nggak mau. Elo mau sama papah. Elo mau ikut papah..” Kukuh elo.


Anak kecil itu memeluk erat kaki lorenzo yang sudah hendak menuruni anak tangga. Tomy yang sudah berada tepat di bawah tangga semakin merasa geram dengan sikap pria bermata sipit itu. Lorenzo benar benar pria yang tidak punya hati.


“Lepaskan kaki saya. Kamu mau saya lempar ke bawah hah?!” Bentak lorenzo lagi.


“Nggak mau lepas. Elo mau sama papah.” Elo tetap kukuh dan memeluk kaki lorenzo.


Geram dengan elo yang begitu keras kepala lorenzo pun menghempaskan kakinya sehingga tubuh kecil elo melayang ke udara dan jatuh ke lantai 2 rumah orang tua sarah.


“Ya tuhan..” Lirih tomy.

__ADS_1


Melihat tubuh kecil elo yang hendak mendarat ke lantai tomy pun langsung bergerak cepat menangkapnya. Pria itu memeluk erat tubuh kecil elo yang hampir saja terhempas ke lantai penuh pecahan vas bunga. Dada tomy bergemuruh hebat. Kedua matanya memanas membayangkan jika saja dirinya tidak datang tepat waktu mungkin tubuh kecil elo sudah terbanting dan bersimbah darah di lantai.


“Om tomy...”


Suara kecil elo membuat tomy menggertakan giginya merasa sangat emosi. Elo adalah anak kecil yang tidak berdosa yang berharap akuan dan kasih sayang dari lorenzo. Tapi pria itu bahkan hendak membunuhnya.


“Elo.. Elo sembunyi yah.. Om tomy mau bicara sama papah elo sebentar.. Dan nanti elo tutup telinga elo dengan tangan. Elo pejamkan mata dan jangan keluar sebelum om tomy panggil. Oke?” Kata tomy kemudian menurunkan elo dari pelukanya.


Elo menganggukan kepalanya polos. Anak kecil itu kemudian berlari dan bersembunyi di balik sofa yang berada sedikit jauh dari tempat tomy berdiri.


Setelah memastikan elo sembunyi tomy mendongakan kepalanya menatap lorenzo yang dengan santainya menuruni anak tangga sambil memainkan ponsel. Tomy yakin lorenzo belum menyadari kehadiranya.


Geram dengan apa yang di lakukan lorenzo tadi tomy pun langsung mengeluarkan senjata api yang di bawanya. Dengan tatapan tajam tomy mengarahkan benda berbahaya itu ke arah lorenzo.


DORR !!


Satu tembakan tomy mengarah tepat pada sasaranya. Dan apa yang di lakukan tomy berhasil membuat tas yang di tenteng lorenzo terpental dan jatuh ke lantai. Melihat tomy yang masih mengarahkan pistol padanya lorenzo terkejut sampai menghentikan langkahnya.


“Kenapa? Kaget? Kamu pikir kamu bisa lari dari saya setelah apa yang kamu lakukan?”


Lorenzo sesaat terdiam. Namun sedetik kemudian pria bermata sipit itu tersenyum. Lorenzo memasukan ponselnya ke dalam saku celana jins belelnya kemudian dengan santai menuruni anak tangga mendekat pada tomy.


“Lari? Untuk apa saya lari?” Tanya balik lorenzo meledek tomy.


“Tomy bagaskara. Pria cerdas dan berprestasi. Saya sangat sangat tidak menyangka bisa berteman baik dengan anda.” Kata lorenzo dengan senyum meremehkan.


Tomy hanya diam saja. Lorenzo pasti sedang berusaha mengecohnya agar bisa kabur. Lorenzo juga sedang memancing emosinya supaya tomy kalap dan kalah darinya.


“Tapi sayang banget yah.. Anda bisanya main kroyokan. Sewa detektif sana sini. Body guard sana sini. Terus minta bantuan teman sana sini juga.. Benar benar sikap seorang pecundang.”


Ketika menapakan kakinya di lantai 1 lorenzo tanpa rasa takut mendekat pada tomy. Pria itu bahkan mengusap usap ujung pistol tomy dan meniupnya pelan.

__ADS_1


“Tembakan yang bagus tadi.” Katanya sombong.


Tomy tetap diam dan waspada. Tomy yakin lorenzo hanya sedang berusaha mengecohnya agar lengah. Pria itu sedang mencari kesempatan agar bisa kabur darinya.


Dan benar benar saja diam diam lorenzo mengeluarkan pisau berkilau dari saku belakangnya. Lorenzo dengan cepat langsung mengarahkan pisau tersebut ke perut tomy. Beruntung tomy langsung menghindar dengan sigap. Meskipun perut tomy memang sedikit tersayat pisau lorenzo saat berusaha menghindar.


Melihat tomy menghindar, lorenzo dengan cepat berusaha kembali menyerang namun tomy langsung menendang perut lorenzo sehingga lorenzo terpental dan pisau yang di pegangnya terlempar ke lantai.


“Brengsek !” Umpat lorenzo memegangi perutnya.


Tomy tersenyum. Lorenzo sudah ada di depanya sekarang. Dan tomy sudah sangat tidak sabar ingin menghantam wajah memuakan pria itu dengan tangan kosong. Tomy melempar pistol yang di pegangnya kemudian mendekat pada lorenzo.


Bug


Satu pukulan keras tomy daratkan di wajah lorenzo. Tidak cukup sampai disitu tomy mencengkram kerah kemeja lorenzo dan memaksa pria itu untuk berdiri.


“Sudah cukup semuanya brengsek !!” Kesal tomy dan kembali menghantam wajah lorenzo dengan tinjunya.


Tubuh lorenzo tersungkur kembali ke lantai. Darah segar yang keluar dari hidung mancungnya sudah mulai menodai wajah tampanya. Namun sepertinya pria itu tidak mau menyerah. Lorenzo kembali berdiri dan kali ini balas menghantam wajah tomy dengan tinjunya namun tomy bisa menghindar. Tomy meraih kepalan tangan lorenzo dan memutarnya sampai berbunyi “Krek”.


“Akh !!” Seru lorenzo kesakitan.


Tomy tersenyum mendengarnya. Sudah lama sekali tomy menantikan hal seperti itu. Tomy mendorong keras tubuh lorenzo sehingga tubuh pria itu kembali jatuh ke lantai.


Lorenzo meringis merasakan sakit di wajah juga pergelangan tanga kirinya yang mungkin patah karna ulah tomy. Ketika hendak bangkit tiba tiba lorenzo tersenyum melihat pistol milik tomy tergeletak tidak jauh darinya. Lorenzo meraih pistol tersebut kemudian memutar pelan tubuhnya menghadap tomy.


“Sudah cukup semuanya tomy.. Selamat tinggal.” Katanya tersenyum sinis.


DORRR !!


Satu tembakan membuat lorenzo tersenyum menatap tomy yang hanya diam dengan tubuh mematung di tempatnya. Lorenzo terbatuk pelan di sertai tawanya menatap tomy yang tetap diam menatapnya seolah tidak lagi dapat bergerak.

__ADS_1


__ADS_2