Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 245


__ADS_3

Angel menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di depanya. Wanita itu tersenyum saat di rasa penampilanya sudah pas. Angel kemudian meraih tas kecilnya. Angel juga tidak lupa mengambil kado yang sudah di siapkanya untuk menjenguk jeny dan anaknya.


“Angel kamu mau kemana?”


Angel tersenyum menatap wajah keriput wanita yang sudah angel sangat yakini adalah mamahnya. Angel tidak lagi merasa ragu sekarang karna kasih sayang dan cinta wanita tua itu begitu besar untuknya.


“Mamah..”


Angel melangkah mendekat pada mamahnya yang berdiri di ambang pintu kamar menatapnya.


“Angel mau ke rumah jeny mah.. 3 hari yang lalu kan jeny melahirkan.. Angel belum sempat jenguk dia. Jadi baru sekarang angel mau kesana..” Katanya memberitahu sang mamah.


“Dokter jeny melahirkan?”


Angel mengeryit. Angel tidak pernah tau jika jeny juga adalah seorang dokter yang di kenal oleh mamahnya.


“Mamah kenal sama jeny?” Tanya angel menatap mamahnya penasaran.


“Tentu saja nak.. Mamah sangat mengenal baik dokter jeny. Tunggu sebentar. Mamah akan ikut..” Jawab mamah angel kemudian langsung berlalu dari hadapan angel dengan sangat terburu buru.


Angel terdiam menatap mamahnya yang begitu sangat semangat melangkah menuju kamarnya. Angel tersenyum hambar. Jeny sangat berbanding terbalik denganya. Semua orang mengenal jeny dengan sangat baik. Namun semua orang mengenalnya sebagai orang jahat. Angel sendiri bingung bagaimana menjelaskan posisinya. Entah sebagai korban atau memang seorang tersangka yang sangat kejam dan tidak berhati nurani.


Angel menghela nafas. Mungkin dengan tidak mengingat apapun yang telah di lakukanya itu yang terbaik. Dan mungkin juga dengan berhenti berharap pada sesuatu yang tidak pasti bisa membuatnya kembali menata kehidupanya yang sudah angel rusak karna perbuatanya sendiri.


“Angel kamu sudah siap?”

__ADS_1


Angel tersentak ketika mendengar suara sang papah. Wanita itu langsung menoleh dan mengeryit melihat papahnya sudah tampak rapi dengan kemeja pendek sesikunya serta celana hitam dengan sepatu kulit mengkilap sebagai alas kakinya.


“Papah mau kemana?” Tanya angel bingung.


“Loh papah juga mau ikut kamu sama mamah dong.. Dokter jeny orang sangat baik nak.. Papah sama mamah sudah sangat mengenal baik dia.. Kita juga sudah berhutang budi sama dia karna berhasil membahagiakan cucu papah..”


Hati angel terasa di iris iris. Entah kenapa siksaan batin itu tidak kunjung berkesudahan. Entah sengaja atau tidak tapi angel selalu mendengar ucapan yang seolah menyudutkanya.


“Tapi papah sama mamah belum beli apapun.. Nanti kita mampir dulu ke mall yah.. Papah mau beliin sesuatu yang spesial untuk dokter jeny dan putra pertamanya.” Senyum papah angel.


Angel hanya bisa tersenyum tipis dan menganggukan kepala menanggapi ucapan papahnya. Angel yakin papahnya tidak sedang bermaksud menyudutkanya. Papahnya hanya sedang mengatakan semua yang memang benar adanya.


“Ayo angel, papah..”


Di tengah perjalanan menuju kediaman jeny dan tomy, kedua orang tua angel meminta agar pak supir membelokan mobilnya. Mereka berdua benar benar mampir ke sebuah mall untuk membeli kado untuk jeny dan putranya.


“Angel ayoo..” Ajak mamahnya.


Angel terdiam sesaat. Angel tidak tau harus bagaimana. Jeny memang orang yang baik. Dan seiri apapun angel pada jeny, angel merasa tidak seharusnya membenci. Apa yang angel rasakan sekarang adalah hasil dari apa yang angel tuai di masa lalu. Begitu juga dengan jeny. Jeny di pandang baik karna memang jeny orang yang baik.


“Angel nunggu disini aja mah..” Senyum angel menolak dengan halus.


“Nak.. Ini udah siang.. Kita mampir kesini juga buat makan dulu.. Dan papah sama mamah juga butuh bantuan kamu untuk memilih kado yang pas untuk jeny.”


Angel tidak bisa lagi menolak. Wanita itu menghela nafas kemudian menganggukan kepalanya. Angel turun dari mobil dan melangkah mengikuti kedua orang tuanya memasuki mall yang sangat ramai pengunjung itu.

__ADS_1


Selama membantu kedua orang tuanya memilihkan baju baju lucu untuk anak jeny dalam pikiran angel sempat terbesit apakah dulu saat dirinya hamil dan melahirkan fani kedua orang tuanya juga sesemangat itu mencarikan kado untuknya dan putrinya. Tapi angel kemudian menggelengkan kepalanya. Memikirkan sampai kepalanya botakpun angel tidak akan pernah tau jawabanya. Sedang untuk bertanya, angel takut jawabanya tetap sama.


Selesai memilih kado untuk jeny dan putranya kedua orang tua renta itu mengajak angel untuk lebih dulu makan siang. Dan seperti tidak ada hal lain yang mereka bahas. Mereka tetap membicarakan tentang jeny yang katanya begitu sangat menyayangi fani. Cucu semata wayangnya.


“Ya tuhan... Ini sangat sakit..” Batin angel meneteskan air matanya.


Mamah angel yang tertawa tidak sengaja melirik angel. Wanita tua itu terdiam seketika melihat putrinya mengusap air mata yang menganak sungai di pipi tirusnya.


“Ya tuhan.. Angel kamu nangis nak? Kenapa sayang? Apa mamah papah menyakiti kamu?” Tanyanya langsung melepaskan garpu dan sendok yang di pegangnya kemudian bangkit berdiri di samping kursi angel. Wanita tua itu juga mengusap usap penuh sayang kedua bahu angel merasa kasihan pada putri tunggalnya itu.


“Nggak mah.. Angel nggak papa. Ini nasi gorengnya pedes banget.. Angel nggak sengaja makan cabenya.” Jawab angel berbohong.


Angel tidak mungkin jujur. Itu akan membuat kedua orang tuanya merasa bersalah pada dirinya yang memang pantas mendapatkan sakit itu.


“Papah nggak pesan yang pedas nak.. Ya tuhan.. Apa pelayanya salah memberikan pesanan?”


Angel tertawa pelan. Sepertinya memang dirinya orang yang sangat jahat. Buktinya pada kedua orang tuanya saja angel berani bohong sehingga mereka berdua seperti orang bodoh karna terlalu mengkhawatirkanya.


Selesai makan siang angel dan kedua orang tuanya keluar dari mall tersebut. Mereka kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan niatnya menjenguk jeny dan putranya.


Setibanya disana angel dan kedua orang tuanya langsung di sambut hangat oleh sisi dan bibi. Namun ketika hendak masuk ke dalam rumah mewah tomy dan jeny sebuah bunyi klakson mobil membuatnya menoleh. Senyum di bibir angel langsung sirna ketika mendapati mobil dokter axel yang sudah berhenti tepat di depan gerbang yang belum lama di tutup oleh pak satpam.


Angel menghela nafas. Wanita itu sedang berusaha untuk tidak bertemu dengan dokter axel karna hanya itu satu satunya cara untuk angel bisa berhenti berharap pada dokter tampan itu. Namun sepertinya tuhan memang sedang menghukumnya dengan menghadirkan seseorang yang sangat di harapkan angel namun orang itu membenci dan tidak menginginkanya.


“Aku terima dengan ikhlas hukumanmu tuhan..” Batin angel menangis.

__ADS_1


__ADS_2