
Tomy membuka pelan pintu kamarnya. Senyumnya mengembang ketika mendapati jeny yang sudah berbaring di atas ranjang. Ketika bertatap muka dengan tomy, jeny langsung berbaring miring memunggungi suaminya itu. Melihat itu tomy menghela nafas. Tomy melangkah masuk dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangat pelan.
Tomy mendekat ke ranjang dan naik kemudian berbaring di samping jeny dan menghadapnya. Tomy tidak tau apa yang sedang di rasakan oleh istrinya. Tetapi tomy tau bahwa kondisi hati wanitanya sedang tidak baik.
“Sayang...” Panggil tomy mesra.
Tomy memeluk mesra pinggang jeny. Dengan sangat lembut di usapnya perut rata wanitanya.
“Aku mau pulang aja..” Kata jeny dengan nada sebalnya.
Tomy mengeryit. Jeny mungkin merasa kesal pada rachel yang dengan sangat lancang berani memeluk tomy di depanya.
“Loh sayang.. Katanya besok kita jalan jalan..”
Tomy terus berkata lembut meskipun sebenarnya tomy sangat menentang keinginan mendadak jeny untuk pulang. Tomy tidak perduli meskipun rachel terus mengejarnya. Karna tomy ingin bisa membawa jeny jalan jalan ke beberapa tempat wisata di kota itu.
“Pokonya aku mau pulang.” Tegas jeny.
Tomy kembali mengeryit ketika mendengar sedikit nada bergetar dari ketegasan jeny. Pelan pelan di baliknya tubuh jeny agar menghadapnya.
“Sayang.. Kamu nangis?” Tanya tomy lembut ketika mendapati air mata mengalir dari ujung mata indah istrinya sampai membasahi bantal.
“Pokonya aku mau pulang.. Aku nggak mau disini..”
Tangis jeny pecah. Entah kenapa tiba tiba jeny menjadi cengeng. Saking kesalnya pada rachel jeny sampai menangis. Padahal beberapa menit yang lalu dengan sangat berani jeny menghadapi rachel, menyuruh dengan tegas agar wanita berambut coklat gelap itu menjauhi suaminya.
Tomy merengkuh lembut tubuh mungil jeny ke dalam dekapanya. Bahu jeny bahkan sampai bergetar karna tangisanya.
“Aku nggak mau disini. Aku nggak mau kamu ketemu rachel lagi..” Racau jeny dalam pelukan tomy.
Tomy menghela nafas. Kalau sudah seperti itu tomy tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan jeny untuk pulang kembali ke indonesia.
“Ya sayang... Kita pulang yah.. Udah nggak usah nangis lagi..” Bisik tomy sambil mengecup singkat puncak kepala wanita itu.
Jeny terus terisak. Kedua tanganya mencengkram erat kaos yang di kenakan tomy di bagian dada bidangnya. Jeny benar benar merasa sangat kesal pada rachel hingga akhirnya menangis sendiri.
Dalam beberapa menit jeny terus menangis dalam dekapan hangat suaminya. Entah apa yang membuatnya merasa sangat kesal. Padahal seharusnya jeny merasa puas karna berani berkata tegas agar rachel menjauhi tomy.
Sedangkan tomy, tidak banyak yang bisa pria tampan itu lakukan juga ucapkan. Tomy hanya diam dan terus mengusap usap penuh kelembutan punggung jeny.
__ADS_1
“Tomy...” Panggil jeny melepaskan diri dari dekapan tomy.
Dengan kedua mata sembab, hidung mancungnya yang memerah, serta kedua pipi chuby nya yang basah oleh air mata jeny mendongak menatap lekat wajah tampan suaminya.
“Ya sayang..” Saut tomy membalas tatapan jeny dengan penuh perhatian.
Jeny menelan ludahnya. Jeny tau mungkin dirinya sangat kekanak kanakan. Tetapi jeny benar benar tidak ingin jika tomy bertemu dengan rachel tanpa sepengetahuanya.
“Kamu mau janji sama aku?” Tanya jeny dengan suara seraknya.
Tomy mengeryit bingung namun tetap menganggukan kepalanya.
“Mau..”
Jeny menghela nafas. Sesaat wanita itu memejamkan kedua matanya kemudian kembali masuk ke dalam dekapan tomy. Jeny mendadak ragu untuk mengatakanya. Jeny takut tomy menertawakanya.
“Sayang.. Kamu mau aku janji apa?” Tanya tomy lembut.
Jeny menggelengkan kepalanya. Jeny tidak lagi berniat mengatakanya. Karna keinginanya memang sangat konyol. Jeny juga tidak mau terkesan mengekang tomy.
“Sayang.. Katakan saja..”
“Sayang... Aku akan janji sama kamu.. Apapun itu... Katakan saja.. Jangan di pendam sendiri.” Bisik tomy.
Jeny memejamkan kedua matanya. Pelukan tomy adalah tempat terhangat dan ternyaman yang jeny rasakan dari dulu hingga sekarang.
Jeny mengangkat kepalanya kemudian mendongak menatap tomy. Berlahan seulas senyum terukir di bibir jeny. Tomy mengatakan bersedia berjanji apapun padanya.
“Apapun itu? Kamu serius?” Tanya jeny lirih.
“Why not?” Tanya balik tomy menempelkan keningnya dengan kening jeny.
Jeny memejamkan kedua matanya. Nafas hangat tomy sangat terasa di wajahnya. Dan jeny tidak bisa memungkiri tomy masih tetap menjadi tempat ternyaman untuknya sampai sekarang dan mungkin untuk selamanya.
“Katakan sayang..” Bisik tomy lagi.
Jeny terdiam sesaat. Jeny percaya tomy akan memegang janjinya.
“Aku mau kamu berjanji sama aku untuk tidak bertemu dengan rachel lagi. Di depan apalagi di belakang aku.” Kata jeny.
__ADS_1
Tomy tersenyum mendengarnya. Jeny memintanya untuk menjauhi rachel. Itu artinya jeny juga mencintainya dan takut akan kehilanganya. Meskipun memang sepertinya jeny belum menyadari perasaanya sendiri.
“Bisa?” Tanya jeny penuh harap.
Tomy meraih bibir jeny dan memagutnya penuh cinta. Pria tampan itu sungguh sangat bahagia mendengar istrinya yang tidak ingin dirinya bertemu dengan rachel.
Tomy melepaskan pagutanya pada bibir jeny. Di usapnya lembut bibir basah jeny karna ciumanya.
“Bisa.. bisa banget. Aku tomy bagaskara berjanji tidak akan bertemu dengan rachel baik di depan maupun di belakang istri tercinta aku. Jeny.” Senyum tomy.
Jeny terkekeh geli. Wanita cantik itu kemudian kembali masuk ke dalam dekapan hangat suaminya bahagia.
“Tapi sayang.. Bagaimana kalau tidak sengaja bertemu..? Maksudnya rachel yang sengaja cari kesempatan buat nemuin aku..”
“Eemm.. Kamu bisa menghindarinya bukan? Atau mungkin sembunyi bila perlu.” Balas jeny dengan kedua matanya yang menutup di dalam dekapan hangat suaminya.
Tomy tersenyum geli. Untuk sembunyi dari rachel tomy sudah sering melakukanya dengan di bantu oleh reyhan tentunya. Bahkan jauh sebelum tomy kembali ke indonesia.
“Oke.. Tapi dengan satu syarat.”
Jeny mengeryit. Wanita itu langsung melepaskan diri dari dekapan tomy dan kembali mendongak.
“Kamu bilang tadi kamu bersedia janji apapun buat aku.. Kenapa sekarang mengajukan syarat?” Tanya jeny mengangkat sebelah alisnya bingung.
Tomy mengecup singkat bibir jeny. Tanganya yang sedari tadi melingkar di pinggang jeny mulai beraksi. Pria tampan itu dengan sangat mesra mengusap pinggang jeny kemudian berlahan naik ke atas dan berhenti tepat di bahu wanita cantik itu.
“Syaratnya nggak berat kok sayang..” Katanya lembut dan mesra.
Jeny menelan ludahnya. Tatapan tomy begitu sangat mesra dan menggoda. Tanganya pun mulai menari nari di kancing baju piyama bagian dada yang di kenakanya.
“Apa syaratnya?” Tanya jeny lirih.
Tomy tersenyum. Dengan berani tomy membuka satu kancing baju piyama yang di kenakan oleh istrinya. Tidak ada penolakan dari jeny yang artinya wanita itu mengizinkanya.
“Bolehkan?” Tanya tomy berbisik.
Jeny terdiam. Ini bukan pertama kali tomy akan menyentuhnya. Meskipun di awal adalah paksaan. Tapi saat menyentuhnya untuk yang kedua kali pria itu begitu sangat lembut memperlakukanya.
Jeny menghela nafas. Jeny tidak bisa untuk menolak karna jiwa dan raganya adalah hak mutlak pria tampan itu. Dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya jeny menganggukan kepala mengiyakan kemauan suaminya.
__ADS_1
“Ya...”