Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 240


__ADS_3

“Ya tuhan...” Lirih angel dengan tatapan nanar.


“Angel tapi aku punya alasan kenapa melarang kamu bertemu dengan fani.”


“Apa alasanya pak leo?” Tanya angel cepat.


Leo menghela nafas. Alasanya mungkin tidak akan dengan mudah di terima oleh angel. Tapi leo tidak bisa membohongi dirinya sendiri saat itu. Leo takut dokter axel kembali melakukan sesuatu yang buruk pada angel.


“Aku takut angel.. Aku takut axel kembali berbuat hal yang tidak pantas sama kamu..” Jawab leo lirih.


Angel memejamkan kedua matanya. Alasan leo menunjukan bahwa pria itu sangat perduli dan mencintainya saat itu. Tapi melarang angel bertemu dengan fani itu sudah sangat keterlaluan. Apa lagi saat itu fani sedang sakit. Dan jika memang leo takut dokter axel melakukan hal buruk padanya tentu leo bisa menemaninya menjenguk fani.


“Selain itu apa lagi pak leo? Apa lagi alasan pak leo melarang aku menemui putriku sendiri?”


Leo menundukan kepalanya. Dirinya memang sangat berdosa karna memisahkan angel dengan putrinya sendiri. Tapi leo benar benar tidak bisa menerima anak dari hasil perbuatan bejat dokter axel pada istrinya.


“Karna aku.. Aku nggak bisa menerima fani sebagai anak sambungku saat itu.”


Bahu angel bergetar mendengarnya. Itu artinya keputusanya dulu memilih leo adalah sebuah kesalahan. Dan karna pilihanya juga putrinya menderita sampai meninggal tanpa mendapatkan perhatian dan kasih sayang penuh darinya.


“Baiklah.. Terimakasih atas jawabanya pak leo. Mohon setelah ini pak leo tidak lagi muncul di depan aku.”


Angel meraih tas kecilnya kemudian bangkit dari duduknya. Dengan langkah cepat wanita itu melangkah menuju pintu ruangan leo dan keluar dari sana. Angel tau tidak ada gunanya menyalahkan orang lain. Toh dirinya juga bersalah karna menuruti apa yang di inginkan leo dan memilih menelantarkan putrinya. Dan jika memang harus ada yang di salahkan itu adalah dirinya yang bermula berkhianat pada dokter axel di masa lalu.


Angel keluar dari gedung perusahaan leo dengan tangis diamnya. Semuanya sudah terlanjur. Membencipun tidak ada gunanya. Fani tidak akan hidup kembali jika angel membenci leo. Fani juga tidak akan hidup kembali jika angel mengemis cinta pada dokter axel.


Angel menghela nafas. Wanita itu merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil yang di tentengnya. Senyumnya mengembang ketika mendapati ponsel itu terus bergetar dengan nama sang papah yang tertera di layar menyala benda pipih itu.

__ADS_1


Angel mengusap pipi basah oleh air matanya kemudian mengangkat telephone dari sang papah.


“Ya pah haloo..”


“Ya tuhan nak.. Kamu dimana? Kenapa papah telephone nggak di angkat dari tadi?” Tanya langsung papah angel dengan nada suara khawatirnya.


Angel tertawa pelan. Meskipun leo sudah sangat mengecewakanya dan dokter axel yang membencinya setidaknya masih ada kedua orang tuanya yang mau memeluknya setiap saat. Masih ada kedua orang tuanya yang mau menerima segala kekuranganya.


“Maaf pah.. Handphone nya angel silent. Sebentar lagi angel pulang..” Balas angel.


“Kamu dimana nak? Biar papah suruh pak supir jemput kamu..”


“Nggak usah pah.. Angel sudah mau pesan taxi online.. Sebentar lagi angel sampai rumah..” Senyum angel tidak mau merepotkan supir papahnya mengingat malam sudah hampir larut.


“Baiklah.. Kamu hati hati sayang. Mamah papah menunggumu.”


Sambungan telephone terputus. Tidak mau membuat kedua orang tuanya semakin merasa khawatir angelpun segera memesan taxi online yang akan mengantarkanya pulang.


Sekitar 15 menit menunggu taxi online yang di pesan angel akhirnya sampai tepat di depan angel. Wanita cantik berdress moca itu segera naik ke taxi online tersebut.


Dari depan pintu utama gedung perusahaanya leo menatap angel yang masuk ke dalam taxi online tersebut dan membawanya berlalu. Leo tidak menyangka jika reaksi angel bisa setenang itu setelah tau leo selalu melarangnya untuk menjenguk fani. Angel tidak berontak tidak juga marah sambil memukul atau menamparnya. Tapi permintaan angel yang mengatakan agar leo tidak muncul lagi di depanya membuat leo merasa sangat sakit. Leo tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Leo masih berharap bisa bersama lagi dengan angel.


Lain halnya dengan angel dan leo, sarah justru sedang kembali berjuang untuk mendapatkan hati lorenzo. Sarah tidak perduli jika orang lain menganggapnya tidak punya harga diri. Sarah tau apa yang di perjuangkanya benar. Sarah berjuang mendapatkan cinta suaminya demi kebahagiaan anaknya juga dirinya.


“Kamu lagi bikin apa nak?” Tanya mamah sarah mendekat pada sarah yang sedang asing memixer adonan di dalam wadah.


“Eh mamah.. Ini mah.. Sarah lagi mau bikin udang tepung roti kesukaan lorenzo.”

__ADS_1


Senyum di bibir mamah sarah langsung pudar mendengarnya. Wanita baya itu tidak menyangka jika putri semata wayangnya itu masih memperjuangkan hubungan rumah tangganya dengan lorenzo.


“Memangnya harus malam malam begini? Terus memangnya harus kamu buat sendiri?”


Pertanyaan mamah sarah membuat sarah berhenti memixer adonanya. Wanita itu mematikan mixer nya dan menoleh menatap wanita yang telah melahirkanya itu.


“Mah.. Membuat sendiri masakan untuk suami bukanya akan lebih spesial? Dan lagi mbak kan juga udah capek seharian masak buat kita, terus bersih bersih rumah..”


Mamah sarah tertawa mendengarnya. Wanita baya itu berpikir mungkin putrinya sudah gila karna masih mendambakan cinta dari seorang pria yang kejam dan tak bernurani seperti lorenzo.


“Mamah kok ketawa? Kenapa mah?” Tanya sarah bingung.


Mamah sarah menghela nafas mendengar pertanyaan putrinya. Jika mamah sarah mengatakan apa yang ada di pikiranya sarah pasti akan melontarkan perkataan yang sama.


“Tidak. Tidak apa apa. Lanjutkan saja. Setelah ini kamu istirahat. Pikirkan juga kesehatan kamu nak..” Kata mamah sarah menepuk pundak sarah pelan kemudian berlalu dari dapur meninggalkan sarah sendiri.


Sarah menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Wanita cantik itu tersenyum kemudian meraih udang yang sudah dia kupas dan mencelupkanya ke dalam adonan yang sudah di mixer. Setelah mencelupkan udangnya ke dalam adonan, sarah kemudian melumuri udang tersebut dengan tepung roti.


Sesaat sarah terdiam dan berhenti dengan aktivitasnya. Sarah tau mungkin kedua orang tuanya kecewa dengan apa yang di lakukanya. Tapi sarah tidak ingin egois dan memikirkan dirinya sendiri. Putranya membutuhkan lorenzo. Papah kandungnya.


“Non sarah perlu saya bantu?”


Sarah tersentak ketika mendengar suara asisten rumah tangganya. Wanita itu menoleh dan tersenyum menatap wanita yang mungkin sebaya dengan mamahnya.


“Nggak usah mbak.. Saya bisa sendiri kok. Mbak istirahat saja sudah malam.” Tolak sarah lembut.


“Baik non..” Angguk asisten rumah tangga tersebut kemudian berlalu dari dapur.

__ADS_1


Sarah menggelengkan kepalanya. Tubuhnya juga sangat capek setelah seharian bekerja di perusahaan sang papah. Tapi sarah tidak bisa membohongi dirinya bahwa dirinya bahagia melihat hubungan lorenzo dan elo yang berangsur membaik. Lorenzo memang tidak banyak bicara. Tapi pria itu mau mendengar dan menyauti setiap cerita putranya meskipun hanya dengan kata “Ya” atau “Tidak”.


__ADS_2