
Suara bel yang terdengar membuat susan mengalihkan perhatianya dari ponsel yang sedang di pegangnya ke pintu. Senyum di bibirnya mengembang. Susan bisa menebak siapa yang datang karna di jakarta susan tidak punya kenalan juga siapapun selain tomy.
Dengan sangat antusias susan bangkit dari duduknya kemudian berlari menuju pintu utama apartemen kakaknya dan langsung membukanya dengan perasaan gembira.
“Akhirnya kamu kembali kak...”
Senyum di bibir susan langsung sirna seketika begitu melihat siapa yang berdiri di depanya. Siapa lagi kalau bukan reyhan. Asisten arogan yang berani menyusahkanya.
“Jangan banyak ngayyal mbak. Saya tidak punya waktu banyak. Buruan kalau mau belanja.” Kata reyhan judes.
Susan menyipitkan kedua matanya menatap reyhan. Dengan gaya angkuhnya susan melipat kedua tanganya di bawah dada menatap reyhan dari atas sampai bawah.
“Aku heran sama kamu jambul.. Kamu itu cuma seorang asisten. Tapi gaya kamu selangit. Kamu bahkan nggak menghormati aku sebagai calon istri kak tomy..”
Reyhan tertawa mendengar ucapan yang di lontarkan oleh susan. Reyhan berpikir susan memang wanita gila yang tidak punya malu juga harga diri. Susan juga sepertinya tidak pernah belajar tentang norma karna bisa dengan santainya mengatakan sebagai calon istri dari kakak kandungnya sendiri.
“Kenapa kamu ketawa?” Sebal susan mendelik pada reyhan.
Reyhan memegangi perutnya yang terasa sakit karna tawanya. Susan memang cantik. Tapi sayang, otaknya sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Sampai kapan kamu bermimpi mbak? Sampai kapan juga kamu memelihara dosa besar kamu?” Tanya reyhan menggelengkan kepalanya.
“Perlu kamu tau mbak.. kamu dan pak tomy itu sangat tidak pantas. Karna apa? Karna kalian saudara kandung. Dan lagi meskipun seandainya kamu bukan adik kandungnya pun pak tomy tidak akan tertarik sama kamu yang sama sekali tidak menarik ini.”
“Kamu..”
“Buruan kalau mau belanja. Saya sibuk.” Sela reyhan cepat.
Susan mengetatkan rahangnya. Wanita itu ingin sekali melempar reyhan sekarang juga. Tapi susan tidak mungkin melakukanya sekarang. Susan memerlukan tumpangan dari pria itu.
“Kamu liat saja nanti apa yang akan aku lakukan.”
“Jangan mengancam saya. Itu tidak mempan.” Sela reyhan lagi.
__ADS_1
Susan berdecak kesal. Wanita itu kemudian membanting pintu apartemen yang di tempatinya saking kesalnya pada reyhan.
Reyhan yang melihat itu hanya memggelengkan kepalanya. Pria tampan berjambul itu kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dalam jas hitamnya. Reyhan mengirimkan pesan suara pada susan agar cepat bersiap jika tidak ingin dia tinggalkan.
“Saya tunggu 5 menit di bawah. Kalau mbak tidak turun dalam waktu 5 menit saya akan pergi.” Katanya.
Reyhan berlalu setelah mengirimkan pesan suara pada susan. Reyhan berniat menunggu susan di loby apartemen karna tidak mau menunggu di depan pintu apartemen bosnya itu seperti orang hilang.
Susan membanting ponsel yang di pegangnya saking kesalnya. Reyhan selalu berhasil membangkitkan amarahnya. Selain selalu menghalanginya menemui tomy reyhan juga selalu berhasil membuatnya tidak berkutik. Mulutnya yang pedas selalu saja bisa membalas apa yang di katakan olehnya.
“Reyhan. Kamu akan menyesal karna sudah berani melawan aku.” Gumam susan penuh amarah.
Susan menghampiri reyhan yang sedang duduk santai dengan memainkan ponselnya. Wanita itu memutar kedua bola matanya jengah melihat sikap santai reyhan.
“Tadi aja bilangnya sibuk. Dasar asisten nggak tau diri.” Gerutu susan.
Menyadari kehadiran susan, reyhan pun langsung mengalihkan perhatianya. Pria itu memasukan ponsel yang di mainkanya ke dalam saku dalam jas hitamnya kemudian bangkit berdiri.
“Ayo..” Ajaknya melangkah mendahului susan.
Reyhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Pria itu memang sengaja ingin membuat susan marah sehingga tidak betah dan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Namun sepertinya susan sudah terbiasa dengan kecepatan tersebut sehingga susan tampak santai dan sama sekali tidak marah ataupun protes pada reyhan.
Reyhan berdecak. Pria itu kemudian membawa susan ke sebuah super market untuk lebih dulu berbelanja apa yang di butuhkan olehnya untuk makan.
“Aku nggak bawa uang cash.” Kata susan ketika reyhan mematikan mesin mobilnya.
Reyhan menghela nafas. Reyhan tidak kaget jika orang kaya seperti susan tidak memiliki uang cash. Tapi reyhan yakin susan pasti memiliki banyak kartu kredit yang bisa dia gunakan untuk berbelanja apa saja yang susan mau.
“Lalu?” Tanya reyhan malas.
“Aku juga nggak bawa kartu.”
“Apa?”
__ADS_1
Reyhan langsung menolehkan kepalanya menatap susan yang tampak memelas. Wanita itu juga tidak membawa kartu rasanya sangat aneh. Susan seperti seorang putri yang kabur dari istana dan tidak membawa apapun untuk bekalnya.
“Aku pinjem uang kamu dulu. Nanti aku bilang sama kakak.” Katanya.
Reyhan menggelengkan kepalanya. Tomy tidak mungkin begitu pelit sampai tidak memberikan fasilitas pada adiknya sendiri. Apa lagi tomy adalah orang kaya yang dermawan.
“Jangan bercanda mbak susan. Uang saya terbatas. Dan sudah saya gunakan untuk kepentingan saya sendiri.”
Reyhan tidak perduli jika susan menganggapnya pelit. Toh tugasnya hanya mengantar wanita itu belanja bukan membayarkan belanjaan susan.
“Please rey.. Aku bener bener nggak bawa kartu. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa periksa tas aku. Kamu boleh buka buka dompet aku.”
Reyhan tertawa mendengarnya.
“Mbak pikir saya bodoh? Mbak, di handphone mbak juga pasti banyak uang kan? Jangan mengeret saya yang berdompet tipis mbak..”
Susan mengerucutkan bibirnya. Wanita itu kemudian merogoh tasnya berniat menelephone tomy dan memberitahukan bahwa reyhan tidak mau meminjamkanya uang. Tapi ketika tanganya tidak kunjung menemukan benda pipih itu susan baru tersadar bahwa ponselnya rusak saat dia lempar tadi karna pesan suara dari reyhan yang menurutnya keterlaluan.
“Kenapa lagi?” Tanya reyhan jengah melihat susan yang mulai mengeluarkan semua isi tas kecilnya.
“Handphone aku ketinggalan. Dan juga rusak. Layarnya pecah karna aku banting gara gara pesan suara kamu tadi.” Jawabnya.
“Ya tuhan...” Reyhan mengusap wajah tampanya frustasi. Susan memang selalu mengesalkan.
“Terus gimana belanjanya?” Tanya reyhan menatap susan kesal.
Susan hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas. Wanita itu berharap kali ini reyhan luluh padanya dan mau meminjamkanya uang untuk dirinya belanja bahan bahan makanan yang sangat di butuhkanya.
Reyhan berdecak sebal. Jika sampai susan mengadu pada tomy tentang dirinya yang tidak mau meminjamkan susan uang tomy pasti akan memarahinya. Reyhan tidak bermaksud pelit. Reyhan hanya tidak mau tertipu oleh susan yang memang mempunyai banyak ATM berjalan seperti tomy dan kedua orang tua angkatnya di luar negeri.
“Nih. Jangan banyak banyak.” Kesal reyhan sambil menyodorkan kartu kreditnya pada susan.
Dengan antusias susan menerimanya. Wanita itu kemudian langsung turun dari mobilnya tanpa memperdulikan tasnya.
__ADS_1
“Waktu pembalasan di mulai.” Gumam susan setelah turun dari mobil reyhan.