
“Gimana lorenzo?”
Pertanyaan tomy membuat jeny berhenti mengunyah makanan dalam mulut nya. Dengan pelan di taruh nya garpu dan sendok yang jeny pegang. Jeny menghela nafas kemudian menoleh menatap tomy yang kali ini duduk di samping nya.
“Mau kamu gimana?” Tanya balik jeny.
Tomy mengeryit. Pria tampan itu membalas tatapan jeny dengan wajah bingung.
“Kok mau aku?”
“Ya mau kamu gimana? Aku harus gimana?”
Tomy diam. Kalau boleh jujur tomy ingin jeny tidak lagi berhubungan dengan lorenzo. Tapi tomy tau jeny pasti akan menentang nya.
“Aku bakal ikutin mau kamu.” Tambah jeny.
Tomy tidak bisa berkata apapun. Jeny tidak mungkin semudah itu mau menuruti apa yang di katakan nya. Apa lagi setelah kedatangan lorenzo kemarin.
“Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?” Tanya tomy penasaran.
Jeny terdiam sesaat. Dokter cantik itu kembali meraih sendok dan garpu nya kemudian memainkan nya.
“Aku nggak mau kamu dekat dekat dengan rachel.” Jawab jeny pelan.
Tomy mengeryit namun berlahan seulas senyum terukir di bibir nya. Jeny seperti nya memang benar benar cemburu melihat kedekatan nya dengan rachel tadi.
“Aku sih nggak keberatan.” Kata tomy sambil menyuapkan sesendok makanan nya ke dalam mulut.
“Serius?” Tanya jeny menoleh.
Tomy menganggukan kepalanya mantap. Dan anggukan kepala tomy membuat wajah jeny terlihat sumringah dengan senyuman lebar di bibir nya.
“Tapi jujur nih.. Aku penasaran kenapa kamu bisa nggak suka banget sama rachel. Kamu kan nggak tau rachel itu seperti apa sebenar nya.”
Senyum lebar di bibir jeny langsung memudar. Jeny memang belum tau seperti apa rachel sebenar nya. Karna jeny baru pertama kali bertemu dengan wanita cantik itu.
“Ya aku.. Aku cuma nggak suka aja liat dia manja sama suami aku.” Kata jeny sedikit gagap.
Tomy terkekeh. Pria tampan itu melepaskan garpu dan sendok nya kemudian mendekat pada jeny dan memeluk lembut perut rata dokter cantik itu.
“Jadi sekarang udah mau ngakuin aku suami nih..” Goda tomy mengusap usap perut rata jeny.
__ADS_1
Jeny melirik tomy sebal. Pria tampan itu memang suka sekali menggodanya akhir akhir ini. Tomy juga bahkan selalu membuat jeny berada di posisi yang cukup intim dengan nya.
“Tomy apaan sih kamu.. Geli tau..”
Jeny berusaha melepaskan tangan tomy yang memeluk perut nya. Namun pria tampan itu malah semakin mengeratkan pelukan nya.
“Iihh.. Tomy lepasin. Malu kalau sampe bibi sama mbak sisi lihat.” Rengek jeny terus berusaha melepaskan pelukan tomy di perut nya.
“Biarin aja mereka lihat.” kukuh tomy terus mengeratkan pelukan nya di perut jeny.
“Tomy please.. Jangan bikin aku malu di depan mereka berdua.” Kata jeny tegas.
Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian mengalah dan melepaskan pelukan nya. Tomy tidak mau jika sampai jeny marah lagi padanya.
Selesai makan malam tomy pun langsung naik ke lantai 2 menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Sedangkan jeny masih duduk di meja makan memperhatikan bibi dan sisi yang sibuk membereskan meja makan.
Tiba tiba ucapan tomy tadi terngiang kembali di kedua telinga jeny. Jeny benar benar tidak menyangka jika tomy menginginkan dirinya menyambut kepulangan nya.
Jeny menghela nafas. Kalau mereka berdua saling mencintai mungkin semua itu sudah terjadi. Jeny pasti akan dengan senang hati berdiam diri di rumah, meladeni tomy, juga menyambut kepulangan pria tampan itu setelah seharian bekerja.
“Bu.. Ibu kenapa?”
Jeny menoleh. Seulas senyum terukir di bibir nya ketika mendapati sisi yang berdiri di samping nya.
“Ibu sakit? Apa ibu mau saya belikan obat?” Tanya polos sisi.
Jeny tertawa mendengar nya. Entah kenapa jeny selalu merasa tidak tega jika melihat kepolosan asisten rumah tangga nya yang masih belia itu.
“Mbak sisi boleh saya tanya sesuatu?” Tanya jeny pelan.
“Boleh bu.. Apa aja boleh ibu tanya sama saya.” Katanya menjawab.
Jeny tersenyum lagi. Sisi memang masih sangat polos. Sesaat jeny terdiam. Jeny ingin bertanya kenapa gadis belia itu tidak lanjut sekolah. Namun setelah di pikir kembali jeny takut jika pertanyaan itu membuat sisi sedih.
“Kamu bisa masak?” Tanya jeny yang entah kenapa tiba tiba menanyakan hal yang sama sekali tidak bermaksud dia tanyakan pada sisi.
“Oh bisa bu.. Apa saja bisa saya masak. Dari masakan kampung saya. Masakan restourant. Terus masakan jepang juga. Pokonya banyak deh bu..” Jawab gadis belia itu semangat.
Jeny tertawa mendengar nya. Saat seusia sisi jeny bahkan hanya bisa bermain dan sama sekali tidak pernah membantu mamah nya di dapur.
“Oke kalau begitu. Besok pagi kamu ajari saya masak masakan khas di kampung kamu yah..” Kata jeny masih dengan sisa tawanya.
“Siap bu..” Senyum sisi mantap.
__ADS_1
Jeny tertawa lagi dengan di sertai gelengan pelan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu saya ke atas yah..”
“Iya bu..”
Jeny bangkit dari duduk nya kemudian melangkah menuju tangga. Ketika hendak menaiki anak tangga ponsel dalam saku dress rumahan yang di kenakan jeny berdering. Jeny segera merogoh saku nya dan mengambil benda pipih berwarna hitam itu.
“Mamah..” Gumam jeny.
Jeny segera mengangkat telpon dari mamah nya sembari melangkah pelan menaiki satu persatu anak tangga.
“Halo mah..”
“Ya sayang. Kamu lagi ngapain?” Tanya mamah jeny lembut dari seberang telpon.
“Jeny baru selesai makan malam mah.” Jawab jeny dengan senyuman yang terukir di bibir nya.
“Eemm.. Nak, kemarin mamah tungguin kamu sampe siang loh. Kamu kan bilang mau lanjut belajar masak sama mamah.. Apa tomy nggak ngizinin kamu?”
Jeny terdiam. Tomy memang melarang nya pergi. Tapi itu karna jeny yang mengeluhkan rasa tidak enak pada perut nya.
“Maaf ya mah.. Tapi kemarin perut aku sakit. Jadi nggak bisa kemana mana.” Jawab jeny menghela nafas.
“Tapi sekarang kamu udah nggak papa kan?” Tanya mamah jeny dengan nada khawatir.
“Nggak papa mah..” Senyum jeny menjawab.
“Syukurlah. Ya sudah kalau begitu. Kamu baik baik ya sayang. Kalau ada apa apa langsung kasih tau mamah..” Kata mamah jeny.
“Iya mah..”
Sambungan telpon terputus. Jeny menggelengkan kepalanya. Meskipun mamah nya memang terkadang judes tapi wanita itu sangat menyayangi nya. Jeny mempercepat langkah nya menaiki anak tangga menuju kamar nya dan tomy. Namun ketika hendak masuk ke dalam kamar nya jeny berhenti. Tatapan nya terarah ke pintu samping kamar nya yang selalu tertutup. Jeny benar benar sangat penasaran.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy yang sedang menggosok rambut basah nya dengan handuk di dalam kamar.
Jeny menoleh pada tomy. Mungkin akan lebih baik jika jeny menanyakan langsung tentang apa yang ada di kamar yang selalu tertutup rapat itu.
“Tomy..” Panggil jeny melangkah mendekat pada tomy yang duduk di tepi ranjang.
“Ya sayang..” Saut tomy terus sibuk mengeringkan rambut nya dengan handuk.
“Apa yang sebenar nya ada di kamar sebelah. Kenapa kamu melarang mbak sisi dan bibi membuka dan membersihkan nya?”
__ADS_1