
“Penyakit fani sudah menggerogoti semuanya. Namun satu yang aku tau tidak pernah bisa di gerogoti oleh penyakit fani.”
“Apa?” Tanya tomy bingung.
“Semangatnya untuk sembuh juga semangatnya untuk bisa masuk sekolah seperti anak anak yang lainya.” Jawab dokter axel dengan air mata menetes.
Tomy menghela nafas. Selama dirinya mengenal fani, gadis kecil itu memang selalu terlihat ceria. Fani bahkan masih bisa tersenyum ketika hendak pingsan saat jalan jalan bersamanya dan jeny.
“Jujur saya sudah tidak kuat pak tomy.. Saya tidak sanggup lagi jika harus melihat fani kesakitan..”
“Maksud anda, anda menyerah dokter?” Tanya tomy tidak menyangka.
“Lalu saya harus bagaimana? Obat obatan saja sudah tidak mampu lagi menguatkan imun tubuh fani pak tomy.. Penyakitnya sudah mengambil semuanya. Hanya semangatnya yang tersisa. Itupun sia sia menurut saya.”
Tomy tidak bisa berkata kata. Tomy yakin dokter axel sudah sangat berusaha. Namun apa daya jika takdir tuhan tidak memihak kepadanya.
“Bagaimana dengan angel? Apa dia tau tentang fani?” Tanya tomy lagi.
Dokter axel tersenyum hambar kemudian menundukan kepalanya.
“Saya tidak ingin membahas dia.” Katanya.
Tomy terdiam. Untuk seorang ibu rasanya memang sangat kejam jika di posisi angel. Karna wanita itu sama sekali tidak memperdulikan fani dan lebih memilih bersama suaminya.
Tomy menghela nafas. Pria tampan itu menatap jeny dan fani yang sedang bermain bersama. Berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Jeny sangat penyayang. Tidak heran jika fani selalu merasa nyaman saat bersamanya. Karna sejujurnya tomy juga selalu merasa nyaman jika sudah mendapat usapan lembut dari istrinya itu.
“Anda sangat beruntung pak tomy. Anda memiliki istri seperti dokter jeny yang meskipun keras kepala tapi sangat mulia hatinya.”
Tomy tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Ya. Saya memang beruntung.” Bangga tomy.
“Anda tau pak tomy.. Dulu saya juga sempat jatuh hati pada dokter jeny..”
Tomy langsung menoleh cepat pada dokter axel yang sedang tersenyum menatap istrinya.
“Apa?”
__ADS_1
“Jangan marah dulu pak.. Itu dulu. Tapi tidak sekarang. Dulu saya jatuh hati karna dokter jeny begitu lembut dan menyayangi fani. Tapi setelah saya pikir pikir lagi, rasanya tidak mungkin untuk saya bersama dokter jeny. Dia wanita baik dan pantas mendapat pasangan yang baik pula. Seperti anda misalnya pak tomy. Anda orang baik. Bukan pendosa seperti saya.” Kata dokter axel dengan kekehan pelanya.
Tomy tidak bisa berkata apa apa. Dirinya juga pendosa. Tapi karna ada sosok jeny di sampingnya hingga akhirnya tomy terlihat seperti orang yang berhati emas. Padahal pada kenyataanya tomy adalah sosok keras yang bisa meledak kapan saja jika marah. Tomy bahkan tega berbuat kasar pada wanita jika sudah marah.
“Papah dokter, papah tomy..”
Suara fani berhasil mengalihkan perhatian tomy dan dokter axel. Mereka tersenyum menatap fani yang kembali mengenakan wig serta wajah yang di poles make up.
“Apa aku terlihat cantik?” Tanya gadis kecil itu.
Jeny yang mendorong kursi roda fani hanya diam saja. Meskipun senyuman terukir di bibirnya namun air mata juga tidak berhenti menetes dari kedua matanya. Dan jeny selalu mengusap dengan cepat air mata yang membasahi pipinya.
“Ya.. Kamu cantik.” Puji dokter axel.
Tomy tersenyum manis. Pria itu meraih tangan kecil fani kemudian menciun lembut punggung tangan gadis kecil itu.
“Putri papah dalam keadaan apapun tetap cantik.” Pujinya.
Fani tertawa senang. Gadis kecil itu menyentuh tangan jeny yang berada di belakangnya.
“Ini semua karna mamah.. Mamah yang dandanin aku.” Senyumnya.
“Nak kamu..”
“Ya tuhan...”
“Aku nggak papa pah.. Aku hanya capek.” Kata fani sambil mengusap bawah hidungnya dengan punggung tanganya membersihkanya dari darah yang keluar dari hidungnya.
“Kita ke rumah sakit sekarang...” Kata jeny dengan air mata berderai.
Fani menggelengkan kepalanya.
“Nggak mau mah.. Fani bosen di rumah sakit terus..” Rengek fani menolak.
“Tapi nak...”
“Mamah, papah tomy, dan papah dokter temani fani tidur siang yah..” Mohon gadis kecil itu dengan tangan yang terus mengusap bawah hidungnya.
__ADS_1
Jeny, tomy, dan dokter axel terdiam. Fani mungkin memang sudah bosan karna setiap hari menghabiskan waktunya di rumah sakit.
“Oke...” Angguk dokter axel lirih.
Tomy menatap dokter axel tidak percaya. Keadaan fani sedang memburuk tapi dokter axel malah menyetujui keinginan putrinya bukan malah mengajaknya ke rumah sakit.
“Dokter anda..”
“Tolong saya.. Bahagiakan anak saya..” Sela dokter axel dengan kedua mata berkaca kaca.
Tomy terdiam. Entah apa yang di maksud dokter axel. Tapi tomy juga tidak bisa memaksa dokter axel untuk membawa fani kembali ke rumah sakit.
“Dokter tapi fani..”
“Dokter jeny.. Saya tau yang terbaik untuk anak saya..” Lagi dokter axel menyela dengan tenang juga dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Jeny menelan ludahnya. Fani memang sudah sangat mengkhawatirkan. Tapi memaksanya juga tidak akan baik.
Jeny melirik tomy yang juga diam. Sebuah anggukan serta senyuman dari tomy membuat jeny akhirnya mengerti. Jeny yakin dokter axel sudah memikirkan juga mengira ngira semuanya dengan tepat.
“Eemm...Tunggu sebentar. Saya suruh bibi, pak satpam, dan mbak untuk menurunkan kasur yang lebih besar di ruang tengah.” Kata tomy kemudian berlalu.
“Terimakasih pak tomy.” Senyum dokter axel.
Setelah tomy berlalu dokter axel langsung berlutut di depan kursi roda yang di duduki putrinya. Pria itu membersihkan darah yang terus keluar dari hidung fani. Mati matian dokter axel menahan air matanya yang sudah menggenangi kelopak matanya. Dokter axel sudah bertekad. Dokter axel menyerah dan mencoba untuk menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
Setelah tomy kembali dan memberitahukan bahwa semuanya sudah siap dokter axel pun membopong tubuh ringkih fani. Pria itu tidak memperdulikan tangan juga kemejanya yang ternoda oleh darah. Namun ketika hendak menurunkan fani dari gendonganya dokter axel terdiam.
“Kenapa dokter?” Tanya jeny dengan suara lirih dan seraknya.
“Dokter jeny, pak tomy.. Kasurnya akan kotor jika fani berbaring disini.”
Tangis jeny pecah mendengar apa yang di katakan dokter axel. Wanita itu langsung memeluk tomy yang ada di sampingnya dan menumpahkan semua kesedihanya melihat keadaan fani saat ini.
Tomy yang sedari tadi juga menahan semuanyapun akhirnya menyerah. Dengan membalas pelukan istrinya tomy ikut menangis.
“Papah dokter kenapa papah tomy dan mamah menangis? Apa aku nakal?”
__ADS_1
Pertahanan dokter axel pun ikut runtuh. Bersamaan dengan turunya air mata yang menganak sungai di pipinya kedua kaki pria itu melemas. Tubuh dokter axel meluruh dan terduduk di lantai tepat di depan kasur yang sudah di siapkan oleh tomy.