
Setelah sedikit berdebat tomy akhirnya mengalah karna ancaman jeny yang mengatakan anaknya akan ileran jika ngidamnya tidak keturutan. Dan karna hal itu tomy dengan sangat terpaksa harus membangunkan sisi dan bibi. Tomy juga sempat berjalan menghampiri satpam kompleks yang sedang bertugas untuk menyewa motor.
Kini jeny sudah duduk anteng di boncengan tomy dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya. Jeny menikmati sejuknya udara malam hari yang menerpa wajah cantiknya.
“Makasih yah by kamu udah mau nemenin aku..” Katanya sambil menyenderkan kepala di punggung tomy.
Tomy menghela nafas. Pria itu terus menyabari dirinya sendiri menghadapi tingkah istrinya. Bagaimana mungkin seorang jeny yang takut gendut bisa mengatakan ingin memakan sate padang setelah menghabiskan hampir 3 mangkuk bakso super pedas.
“Ya sayang..” Jawab tomy selembut mungkin.
Tomy tidak mau istrinya kembali merajuk jika tomy tidak bersikap manis padanya.
Hampir 20 menit mereka keliling mencari tukang sate padang. Tapi sampai detik ini belum ada tomy menjumpai satu pun penjual sate padang. Rata rata di sekitar hunianya hanya ada sate kambing biasa.
“Sayang... Kok sate padangnya nggak ada yah..?” Tanya tomy mulai merasa capek karna tidak kunjung menemukan penjual sate padang.
“Pokonya aku nggak mau tau, Aku maunya makan sate padang sekarang.. Nggak mau besok..”
Tomy menghela nafas. Pria itu menghentikan laju motor metik yang di sewanya dari satpam kompleks. Tomy menatap satu persatu gerobak yang ada di tepi jalan. Tapi nyatanya di antara kumpulan gerobak itu sama sekali tidak ada penjual sate padang.
“Sayang.. Ini udah malem loh.. Aku takut kamu masuk angin..Kita pulang yah.. Besok saja makan sate padangnya..”
“Nggak mau !” Tolak jeny tegas.
Tomy ingin sekali menangis sekarang. Jeny benar benar sangat keras kepala. Tomy bukan tidak mau menuruti kemauan istrinya. Tapi pada kenyataanya mereka berdua sudah muter muter mencari penjual sate padang tapi belum juga menemukanya. Di samping itu udara malam semakin dingin. Tomy tidak mau jika istrinya sampai sakit.
“Ya udah gini aja, aku anterin kamu pulang dulu abis itu aku cari sate padangnya.” Saran tomy.
“Nggak mau... Aku mau makan di tempatnya.” Tolak jeny terus merengek di belakang tomy.
Tomy berdecak. Andai saja istrinya sedang tidak hamil mungkin tomy sudah memarahinya agar jeny menurut padanya.
“Sayang...”
“Please banget papah..” Sela jeny dengan suara di buat buat serta perutnya yang sengaja di tempelkan di punggung tomy.
__ADS_1
Tomy berdecak. Pria itu memejamkan kedua matanya sejenak. Jeny berusaha untuk membujuknya agar tomy mau menuruti keinginanya.
“Ya tuhan..”
Seharusnya sekarang tomy sedang terlelap damai. Dan seharusnya sekarang tomy juga sedang memeluk tubuh sintal jeny di atas ranjang. Bukan duduk berdua di atas motor metik dan mencari sesuatu yang tidak mungkin.
“By.. Ayo cari lagi.. Aku udah pengin banget...”
Dok dok dok
Te satte.. Te satte.. Te satte..
Tomy langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Alangkah bahagianya pria tampan itu ketika melihat seorang pria berkumis melintang sedang mendorong gerobaknya.
“Kya !!! Sate !!!”
Jeny langsung turun dari boncengan tomy dan berlari dengan wajah antusias menghampiri si tukang sate. Jeny juga sampai tidak sempat melepaskan helm yang di kenakanya. Wanita itu melihat tukang sate seperti melihat tomy yang baru saja pulang kerja.
Melihat tingkah istrinya tomy hanya bisa meringis. Beruntung jalanan saat itu sedang sepi pengendara berosda 2 maupun roda 4.
Tomy menatap sekitarnya, hampir semua pejalan kaki juga para penjual disana menatap tomy kemudian beralih pada jeny dengan tatapan bingung, heran, juga aneh.
Tomy meringis salah tingkah. Dalam hati tomy berharap semoga di antara mereka semua tidak ada satupun salah satu karyawan di perusahaanya. Kalau sampai ada mau di taruh dimana wajah cantik istrinya. Terlebih jika yang memergokinya dan jeny saat ini adalah karyawan wanita, sudah di pastikan ini akan menjadi gosip terhangat di kantor besok pagi.
Tomy membelokan motor metik yang di kendarainya mendekat pada jeny yang tampak terus mengajak ngobrol si penjual sate. Jeny seperti wartawan yang terus bertanya tentang bagaimana cara membuat bumbu sate padang bahkan sampai bertanya bagaimana cara menusuk sate. Sangat konyol memang. Dan tomy tidak bisa untuk berkata apa apa. Tomy tidak mau jeny merajuk lagi padanya.
Tomy mendudukan dirinya di kursi yang terbuat dari plastik yang di bawa oleh si penjual sate padang tersebut. Tomy tidak bisa berkata apa apa dan hanya menatap sendu istrinya yang tidak mau diam.
“Ya tuhan.. Kenapa wanita ngidam bisa seperti ini..” Gumam tomy berkeluh kesah.
Tomy sungguh tidak menyangka dengan istrinya. Bisa di katakan jeny sedang mempermalukan dirinya sendiri saat ini. Wanita itu terus saja ikut meracik sate padang dan merecoki pekerjaan si penjualnya.
“Tada.. !! Sate padang ala jeny sudah jadi..” Girang jeny menunjukan sepiring sate padang racikanya sendiri.
Tomy tersenyum paksa. Dan lagi lagi tomy berharap tidak ada satu orang pun yang mengenalinya dan jeny.
__ADS_1
“Cobain yuk?” Ajak jeny tersenyum pada suaminya.
Tomy menelan ludahnya menatap sepiring sate penuh yang di pegang istrinya. Tomy benar benar tidak menyangka jika jeny akan meracik sedemikian banyak sate padang yang bahkan mungkin lebih dari 3 porsi normal.
“Ck, Malah bengong lagi.. Ayo cobain...Ini buatan aku loh.. Iya kan pak sate yah..?”
Tomy menghela nafas ngenes. Urat malu istrinya seperti sedang hilang entah kemana. Jeny bahkan tidak malu berteriak menanyakan pada penjual sate padang berkumis melintang itu.
“Betul pak.. Istri bapak hebat..” Balas si penjual sate dengan logat padangnya.
“Kan...” Senyum jeny merasa puas.
“Eemm...Sayang maaf banget.. Tapi aku masih kenyang.. Kamu makan aja satenya..”
Mendengar penolakan halus suaminya wajah sumringah jeny langsung berubah sendu. Wanita itu kemudian meletakan begitu saja sepiring sate padangnya di kursi kosong yang ada di depanya.
“Loh sayang kok nggak di makan satenya?” Tanya tomy bingung.
Jeny menghela nafas kesal. Bibirnya mengerucut sebal menatap tomy yang tampak bingung menatapnya.
“Aku nggak mau makan kalau kamu juga nggak makan.” Jawabnya ketus.
“Ya tuhanku...” Batin tomy kembali mengeluh karna tingkah tidak biasa istrinya.
Tomy menelan ludah menatap sepiring sate di depanya. Melihatnya saja tomy sudah merasa kenyang.
Tomy melirik jeny, wanita itu pasti akan terus merajuk jika tidak di turuti kemauanya. Jeny juga pasti akan mendiamkanya.
“Hh.. Oke. Kita makan sama sama.” Kata tomy akhirnya mengalah.
Wajah jeny langsung berubah sumringah lagi. Dengan semangat jeny meraih kembali sepiring sate yang di letakanya di kursi. Jeny kemudian menyodorkanya tepat di depan wajah tampan suaminya.
“Kamu ambil duluan.” Katanya semangat.
Tomy dengan pasrah menuruti kemauan istrinya. Tomy sesekali tersenyum paksa pada jeny yang terus saja mengoceh tidak jelas malam itu.
__ADS_1