Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 141


__ADS_3

Keesokan paginya.


Jeny mengerjapkan kedua matanya ketika sinar mentari pagi menerpa wajah cantiknya. Wanita itu melenguh kemudian merenggangkan otot otot dalam tubuhnya yang terasa kaku. Jeny menguap dengan kedua mata kembali tertutup.


Tanganya meraba raba sampingnya mencari sosok tinggi tegap suaminya. Jeny mengeryit ketika tidak menyentuh tubuh suaminya kemudian membuka mata.


“Loh.. Dia kemana?” Gumam jeny bingung.


Jeny bangkit dari berbaringnya. Kepalanya menoleh menatap jam beker yang bertengger di nakas samping tempat tidurnya.


Jeny menghela nafas. Dirinya bangun terlalu siang. Tidak heran jika tomy sudah tidak ada di sampingnya. Jeny hendak menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya sampai batas perut. Namun ketika menunduk dan hendak menyentuh selimut tebalnya jeny terdiam. Di atas selimut tepatnya di pangkuanya tergeletak setangkai bunga mawar merah yang begitu cantik dan segar. Jeny tersenyum. Wanita itu kemudian meraih setangkai mawar tersebut dan mencium aromanya.


“Sweet banget sih..” Gumamnya bahagia.


Tidak hanya setangkai mawar, jeny juga menemukan secarik kertas berwarna pink yang tertindih mawar tersebut. Jeny meraih secarik kertas tersebut dan membuka lipatanya. Senyum manisnya semakin melebar ketika membaca ucapan manis dari suaminya pagi ini.


“Ya tuhan.. Suamiku..” Kekeh jeny merasa lucu karna apa yang di tulis tomy di rasa sedikit tidak nyambung.


“Dasar sok swett..” Sambung jeny kemudian menghirup kembali aroma harum mawar merah di tanganya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat jeny mengalihkan perhatianya. Jeny langsung bangkit dan turun dari ranjang dengan tetap memegang setangkai mawar pemberian suaminya.


Jeny membuka pintu dan memnemukan bibi yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Bi..”


“Bu.. Selamat pagi..” Sapa bibi tersenyum.


“Ya bi.. Selamat pagi..” Balas jeny tersenyum menatap asisten rumah tangganya yang sudah berumur itu.


“Bu, maaf.. Ada pak lorenzo di bawah.”

__ADS_1


Senyum di bibir jeny langsung sirna. Padahal belakangan ini jeny sudah merasa tenang tanpa gangguan dari pria bermata sipit itu. Namun sekarang tiba tiba pria itu muncul kembali dan merusak mood baiknya pagi ini.


Jeny berdecak. Bagaimanapun juga lorenzo adalah tamu. Tidak sopan rasanya jika jeny tidak menemuinya.


“Eemm.. Bapak udah berangkat bi?” Tanya jeny menanyakan tomy.


“Sudah bu.. Bapak bahkan berangkat pagi pagi sekali. Tapi bapak bilang nanti jam 10 pulang.” Jawab bibi.


Jeny menganggukan kepalanya. Akhir akhir ini tomy lebih sering menemaninya. Tomy bahkan sering menyuruh reyhan untuk menghandle semuanya.


”Ya sudah kalau begitu. Suruh kak lorenzo tunggu sebentar ya bi.. Jangan lupa bikinin minum. Saya mandi dulu.” Senyum jeny.


“Baik bu..” Angguk bibi kemudian berlalu dari hadapan jeny.


Jeny menutup kembali pintu kamarnya. Suasana hatinya kini berubah kacau karna lorenzo. Namun setangkai mawar yang di pegangnya seolah menjadi penghibur baginya karna saat menatapnya jeny kembali merasa bahagia.


Sekitar 20 menit jeny membersihkan dirinya. Dan ketika jeny mematut dirinya di depan cermin jeny terdiam. Di tatapnya pantulan wajahnya di cermin tersebut. Biasanya jeny pasti akan dengan senang hati memoles wajahnya dengan make up yang bertujuan mempercantik diri di depan suaminya. Tapi pagi ini tomy sudah tidak ada di rumah. Jeny merasa tidak perlu melakukanya.


“Apa kabar?” Tanya lorenzo begitu jeny duduk di seberangnya di sofa ruang tamu.


“Aku baik. Kakak gimana kabarnya?” Jawab jeny kemudian bertanya balik pada lorenzo dengan wajah sumringah dan sesekali menciumi mawar merah di tanganya.


“Aku juga baik.” Senyum lorenzo membalas.


Jeny menganggukan kepalanya. Mawar pemberian tomy pagi ini seakan menjadi pengganti tomy yang menemainya. Jeny merasa tidak sendiri menemui lorenzo.


“Bunganya bagus.” Kata lorenzo memuji.


“Yah.. Bunganya memang bagus. Baunya juga wangi. Ini pemberian dari suami aku.” Balas jeny bangga.


Senyum di bibir lorenzo langsung sirna. Pria itu merasa tidak nyaman dengan jeny yang membanggakan bunga pemberian tomy. Jeny bahkan sama sekali tidak mengucapkan terimakasih padanya untuk bunga yang beberapa hari ini selalu lorenzo kirimkan padanya.


Lorenzo berdecak pelan. Padahal lorenzo datang dengan harapan jeny langsung mengatakan terimakasih padanya. Tapi nyatanya jeny bahkan dengan bangga memamerkan bunga pemberian tomy padanya.

__ADS_1


“Oh iya kak.. Tumben banget pagi pagi udah kesini.. Ada apa?” Tanya jeny.


Lorenzo terdiam sesaat. Jeny seperti tidak mengharapkan kedatanganya. Jeny bahkan bertanya secara terang terangan untuk apa dirinya datang.


“Eemm.. Ini jen.. Aku abis ke yogyakarta. Kebetulan aku beliin kamu sesuatu. Aku mau nganterin ini. Semoga kamu suka yah..” Senyum lorenzo sambil menaruh sebuah paperbag berukuran sedang di atas meja tepat di samping tehnya.


Jeny terdiam. Wanita cantik itu menatap paperbag bertuliskan nama makanan khas yogyakarta yang lumayan di gemarinya. Jeny ingin menerimanya, tapi khawatir tomy akan marah. Jeny juga ingin menolak tetapi tidak mau membuat lorenzo merasa terhina.


“Eemm.. Kak maaf.. Aku lagi nggak boleh terlalu banyak makan makanan yang mengandung daging dulu. Tapi makasih yah. Barang kali nanti tomy suka.” Senyum jeny.


Lorenzo menghela nafas. Pria tampan bermata sipit itu kemudian meraih segelas teh yang di buatkan bibi untuknya dan menyeruputnya sedikit.


“Ya udah jen kalau begitu aku pulang yah..” Senyum lorenzo.


Jeny memganggukan kepalanya dengan senyuman di bibirnya. Wanita itu ikut bangkit dari duduknya dan mengantar lorenzo sampai depan rumahnya.


“Hati hati dan terimakasih..” Senyum jeny.


Jeny tidak bermaksud memberi harapan pada lorenzo. Jeny hanya mencoba menghargai niat baik lorenzo yang membelikanya oleh oleh. Dan untuk makanan khas yogyakarta yang di berikan lorenzo jeny akan memberikanya pada bibi dan sisi. Jeny tau tomy tidak akan suka jika tau makanan tersebut dari lorenzo.


Jeny menghela nafas. Wanita itu melambaikan tanganya ketika mobil mewah lorenzo berlalu dari halaman rumahnya. Jeny berharap semoga perasaan lorenzo padanya berlahan akan terkikis hingga akhirnya benar benar hilang tidak berbekas. Jeny tidak ingin rumah tangganya berantakan. Jeny hanya ingin bahagia membina rumah tangga dan membesarkan anak anak nya dengan tomy sampai hari tuanya bahkan sampai maut memisahkan keduanya. Jeny bahkan berharap setelah maut memisahkan tuhan masih sudi mempersatukanya dengan tomy di kehidupan yang kekal nanti.


Sekali lagi jeny menghela nafas. Jeny membalikan tubuhnya dan menatap paperbag di atas meja. Jika saja tomy tidak marah mungkin jeny akan mencicipinya sedikit. Namun pada kenyataanya jeny sendiri tau tomy sangat membenci lorenzo dan sangat tidak suka jika melihat jeny dekat dengan pria itu dari dulu sampai sekarang.


“Mbak sisi..” Panggil jeny ketika melihat sisi melintas tidak jauh darinya.


“Ya bu..” Saut sisi menatap jeny kemudian mendekat.


“Itu ada oleh oleh dari kak lorenzo.. Bagi dua sama bibi yah..” Kata jeny tersenyum.


“Baik bu.. Terimakasih ya bu..”


“Sama sama.”

__ADS_1


__ADS_2