
Jeny dan tomy melewati diner romantisnya dengan membooking sebuah restourant yang cukup elit. Senyuman di bibir keduanya tidak pernah luntur dari bibirnya. Kebahagiaan jelas terlihat dari tatapan bahkan gerak gerik keduanya. Dan sebagai moment terindah selama pernikahan mereka tomy bahkan sampai mengajak jeny berdansa dengan sangat mesra.
Seminggu berlalu.
Jeny menjalani hari harinya dengan belajar memasak bersama sisi dan bibi. Jeny juga belajar membuat cemilan untuk tomy. Tidak hanya itu jeny juga sering mencuci sendiri baju tomy. Meskipun terkadang sisi dan bibi melarang namun jeny tetap kukuh dan melakukanya dengan alasan dia akan jenuh jika hanya diam dan tidak melakukan apapun.
“Bagaimana bi?” Tanya jeny ketika bibi sedang mencicipi hasil masakanya.
“Eemm.. Enak bu.. Tapi menurut saya ini kurang sedikit lagi garam.” Jawab bibi.
Jeny mengangguk. Wanita itu kemudian mengambil toples garam juga sendok. Jeny membuka toples garam itu dan menyendoknya 1 sendok penuh.
“Eh bu.. Jangan kebanyakan. Cukup sejumput saja.” Kata bibi mengingatkan.
Jeny mengangguk lagi. Wanita itu meletakan kembali sesendok garam yang hampir dia taburkan ke masakanya. Jeny menjumput sedikit garam dengan tanganya kemudian menaburkanya.
“Begini bi?” Tanya jeny.
“Ya bu.. Begitu.” Jawab bibi mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
Jeny kemudian mengaduk sup iganya dan mematikan kompor ketika rasanya sudah pas menurut lidahnya.
“Saya ambilkan mangkuk ya bu..”
“Ya bi...” Angguk jeny tersenyum.
Bibi mengambilkan mangkuk untuk jeny. Dan jeny menerimanya juga tidak lupa berterimakasih pada wanita tua itu.
“Sayang...”
Suara tomy membuat jeny menoleh. Senyum di bibir wanita itu mengembang ketika mendapati suaminya yang sudah berdiri di ambang pintu dapur menatapnya.
“By..”
Jeny meletakan mangkuk dan sendok sayur yang di pegangnya kemudian berlari kecil menghampiri tomy. Jeny menyalimi tomy kemudian berhambur memeluk tubuh tegap pria tampan itu.
“Kamu lagi masak apa sayang?” Tanya tomy membalas lembut pelukan jeny.
Jeny melepaskan pelukanya kemudian mendongak menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
“Aku masak sup iga. Kamu mau cicipi?” Jawab jeny kemudian bertanya.
Tomy menganggukan kepalanya.
“Boleh..” Jawabnya menoel ujung hidung mancung jeny gemas.
Jeny meraih tangan tomy kemudian menuntunya untuk mendekat pada sup yang belum jeny pindah ke wadahnya. Wanita cantik itu kemudian menyendok kuahnya dan meniup niupnya sebelum akhirnya menyuapkanya pada tomy.
“Gimana?” Tanya jeny menatap tomy.
“Eemm.. Kurang sayang.” Jawab tomy.
“Kurang? Kurang apa? Kurang asin? Atau kurang manis?” Tanya jeny penasaran.
“Kurang banyak sayang..” Jawab tomy lagi tersenyum gelii.
“Ck.. Kirain..”
Tomy terkekeh. Seminggu berada di rumah penuh kemampuan memasak istrinya berlahan meningkat. Dan semua itu berkat sisi dan bibi yang tidak pernah bosan mengajari istrinya sampai bisa seperti sekarang.
“Ya udah kalau gitu aku siapin makan malem buat kamu.. Kamu mandi aja dulu.” Kata jeny sambil memindahkan supnya ke dalam wadah.
Bibi yang sedari tadi diam dan tersenyum menatap kemesraan jeny dan tomy pun mendekat. Rasanya tidak tega melihat jeny melakukan semuanya sendiri. Meskipun memang melayani suami adalah kewajiban istri tetapi bagi wanita tua itu melayani jeny dan tomy juga adalah kewajibanya sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.
Jeny terdiam. Dirinya memang sedang tidak boleh terlalu capek. Apa lagi kini perutnya juga sudah mulai sedikit menonjol.
“Bener apa kata bibi sayang. Kamu kan nggak boleh terlalu kecapek an.. Hemat tenaga sayang.” Senyum tomy mendukung apa yang di katakan bibi.
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita cantik itu menuruti apa yang di katakan oleh suaminya. Lagi pula jeny pun merasa sedikit capek karna terus terusan berdiri saat memasak tadi.
“Baiklah.. Bi minta tolong yah.” Senyum jeny.
“Iya bu..” Angguk bibi tersenyum.
Jeny kemudian mengikuti langkah tomy. Wanita cantik itu bergelayut manja di lengan tomy dan melangkah menuju tangga untuk ke lantai 2.
“Sayang.. Aku punya sesuatu buat kamu.” Kata tomy.
Jeny menghentikan langkahnya ketika hendak menaiki anak tangga. Wanita itu mengangkat sebelah alisnya menatap tomy yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
“Apa?” Tanyanya penasaran.
Tomy tersenyum. Pria tampan itu meraih pinggang jeny dan mendorongnya pelan agar jeny mulai menaiki anak tangga.
“Aku tunjukan di kamar saja.” Jawab tomy.
Jeny menganggukan kepalanya kemudian mendahului tomy dengan menarik tangan pria tampan itu karna tidak sabar ingin tau apa yang ingin di tunjukan oleh suaminya.
“Pelan pelan sayang..” Titah tomy.
Jeny tidak mendengarkan apa yang di katakan suaminya. Wanita itu tetap bahkan semakin mempercepat langkahnya. Dan ketika sampai di kamar jeny kembali menanyakan apa yang ingin tomy tunjukan padanya.
“Cium aku dulu..” Kata tomy mengajukan syarat.
Jeny berdecak namun tetap menuruti kemauan suaminya. Wanita itu mengecup singkat bibir tomy.
Tomy yang mendapat ciuman singkat dari istrinya hanya tersenyum saja. Meskipun sebenarnya tomy ingin jeny menciumnya lama. Tapi melihat istrinya yang tampak sudah sangat penasaran tomy pun tidak tega jika harus kembali mengajukan syarat.
Pria itu mendudukan dirinya di tepi ranjang kemudian membuka tasnya. Tomy mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang di tunjukan dan di sodorkanya pada tomy.
“Ini apa?” Tanya jeny menatap bingung map tersebut.
“Buka dan baca sayang..” Jawab tomy.
Jeny terdiam sesaat. Rasanya tidak mungkin jika map itu berisi pergantian nama perusahaan yang di miliki tomy menjadi atas nama dirinya. Karna jeny pun tidak sedikitpun menginginkan itu.
Jeny menghela nafas. Wanita itu melirik suaminya kemudian membuka dan membaca berkas yang berada di dalam map tersebut.
“By.. Ini.. Kamu serius?” Tanya jeny menatap suaminya dengan kedua mata berkaca kaca.
Tomy menganggukan kepalanya dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Tomy baru saja mengajukan surat izin beroperasi klinik jeny yang tomy buatkan di samping rumahnya. Dan setelah mendapat izin tersebut klinik jeny bisa langsung di buka kapanpun jeny mau.
“Dengan begini ilmu kamu nggak akan sia sia sayang. Kamu akan tetap bisa membantu orang. Dan aku akan mengfasilitasi semuanya. Asal kamu tidak terlalu memforsir tenaga kamu.”
Jeny menganggukan kepalanya. Air mata harunya menetes dan menganak sungai di kedua pipinya. Jeny senang karna ternyata tomy mendukung niat baiknya untuk memberikan pengobatan gratis pada orang yang tidak mampu.
Jeny mendekat pada tomy dan langsung duduk di pangkuan pria itu. Satu kecupan singkat jeny berikan pada tomy tepat di pipi kananya sebelum akhirnya jeny kembali memeluk tubuh tomy.
“Makasih by.. Makasih untuk semuanya.” Senyum jeny di balik punggung tomy.
__ADS_1
“Sama sama sayang. Apapun yang membuat kamu bahagia aku pasti akan lakukan.” Balas tomy mencium rambut tergerai jeny.
Jeny mengeratkan pelukanya. Rasanya sangat bahagia karna niat baiknya mendapat dukungan penuh dari suaminya. Tomy bahkan mau mengfasilitasi kliniknya nanti agar bisa memenuhi standar klinik seperti pada umumnya.