
Malam itu, Rey tengah berdiri seraya asik menyesap rokok nya di rooftop Villa yang terbuka lebar. Rey berdiri seorang diri dan hanya di temani oleh sepi. Tak lupa, angin sepoi di malam hari turut menyapa nya dalam kesendirian, Rey menyesap satu persatu rokok nya seraya menikmati langit malam di kota Bandung. Padahal sebelum nya Rey sama sekali tidak pernah merokok, namun sekarang Rey malah asik merokok dan bahkan mampu menghabiskan full satu bungkus rokok sendirian.
Cukup lama Rey berada di sana, Rey hanya terdiam dengan pikiran masa lalu nya. Satu hal yang masih mengganjal di dalam pikiran Rey adalah, soal perasaan nya. Ya, meskipun Rey terlihat kasar, namun sebenar nya Rey menyimpan banyak sekali kerapuhan yang orang lain tidak tahu. Empat tahun sudah berlalu namun Rey masih saja menyendiri, bayangan masa lalu nya saat bersama Zena tiba tiba saja muncul. "S1al!" umpat nya lalu menghempas rokok yang sudah mengecil habis itu. Lalu Rey kembali menyesap rokok baru nya lagi.
Rupa nya Rey masih belum bisa melupakan bayangan masa lalu nya. Bayangan masa lalu nya selalu memenuhi isi kepala Rey. Dan sial nya, kini wajah Zena malah tergambar jelas dalam pikiran nya. Rey menggelengkan kepala nya untuk membuyarkan bayangan Zena, gadis yang sempat mengisi ruang hati nya walau hanya sebentar.
Lalu ponsel Rey berdering, di lihat nya nama sang ibu terpampang di layar ponsel nya. Malam hari pun Weni masih sibuk menanyai nya soal jodoh? yang benar saja, pikir Rey. Rey pun terdiam sejenak, akhir akhir ini Rey malas menerima panggilan masuk dari sang ibu, karena pasti akan membahas perihal perjodohan tidak jelas itu lagi pada nya.
Rey pun menghela nafas nya lalu menerima panggilan masuk dari Weni. "Ada apa, bu?" Rey terdengar malas menjawab.
"Rey, mengapa pesan singkat ibu tidak kau balas? apa kau marah pada ibu?"
"Tidak bu, aku hanya sedang lelah saja hari ini, maafkan aku" jawaban Rey tentu saja tidak sesuai dengan fakta nya. Karena fakta nya Rey memang sedang kesal dengan Weni karena Weni selalu membahas perjodohan, Rey sudah tahu akan hal itu.
"Rey, kau tahu kan ibu hanya ingin yang terbaik untuk mu, Nak. Tolong mengerti lah, ibu mu ini sudah cukup tua, ibu juga tidak tahu kapan ibu akan hidup di dunia ini, ibu hanya ingin melihat mu hidup bahagia Rey dengan seseorang yang tentu saja bisa ibu percayai" keluh Weni dari balik ponsel, Rey terdiam dan menyimak. "Perusahaan ayah mu membutuhkan seorang penerus, kau ingin mencari wanita yang seperti apa lagi, Rey? Ibu juga ingin menimang cucu, dan Celine adalah salah satu wanita yang ibu percayai, kau bahkan tahu Rey sedekat apa keluarga Kevin dengan keluarga Atmaja kan?" lanjut nya.
Rey menghela nafas lelah nya, Rey tidak ingin melihat Weni terus memikirkan diri nya. Namun sejujurnya, Rey menentang keras perjodohan nya itu dengan Celine. Memang benar yang di katakan oleh Weni, Rey harus mempunyai anak untuk penerus perusahaan HF Group, tapi bukan berarti harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak Rey cintai bukan? Rey tidak bisa menjawab, Rey hanya terdiam mendengar keluh sang ibu.
"Rey... " panggil Weni dengan lembut. "Coba lah belajar untuk menerima Celine, selama ini dia selalu sabar menghadapi sifat keras mu, buka lah sedikit hati mu untuk Celine, Celine begitu mencintai mu, Rey. Setidak nya hargai lah wanita yang mencintai mu, Rey" lanjut Weni lagi.
Rey menghela nafas nya, Celine memang sudah terang terangan mengakui kalau diri nya mencintai Rey. "Iya bu, aku tahu"
"Pikirkan lah yang ibu katakan ini Rey, demi perusahaan ayah mu, lupakan masa lalu mu dan menikah lah dengan Celine" tekan Weni lagi. Rey hanya terdiam sebelum akhir nya panggilan berakhir.
__ADS_1
Rey benar benar berada dalam posisi yang sulit. Tembok kokoh yang Rey bangun akhir nya harus roboh begitu saja demi sang ibu. Selama ini Rey memang selalu membantah perkataan Weni, dan Weni memang sudah sering sekali mengalah dan selalu mengikuti keinginan Rey, Rey tahu akan hal itu. Oleh karena itu, kali ini Rey mengalah pada sang ibu.
Setelah itu, Rey kembali menyesap rokok nya yang masih berada di tangan. Tak di sadari oleh Rey, rupa nya sedari tadi Nelson berada di belakang Rey. Nelson mendengar sedikit percakapan anak dan ibu tersebut, walau hanya mendengar yang di ucapkan oleh Rey saja, namun Nelson tahu kalau yang menghubungi nya itu pasti Weni, dan pembahasan yang Weni bahas pasti perihal perjodohan Rey dengan Celine, Nelson tahu itu.
Lalu Nelson datang menghampiri Rey. "Rey" panggil nya lalu berdiri tepat di samping Rey. Nelson memperhatikan aksi merokok Rey, entah sejak kapan Rey mulai merokok, namun aksi nya membuat Nelson sedikit terkejut. "Rey, kau merokok?" lanjut Nelson.
Rey masih menyesap rokok nya sebelum menjawab Nelson. "Iya, seperti yang kau lihat" jawab Rey lalu menawarkan bungkus rokok pada Nelson. "Kau mau juga, Nel?" Rey menyodorkan bungkus rokok pada Nelson, namun Nelson menolak rokok itu dengan gelengan kepala.
"Tidak Rey, aku tidak merokok"
Setelah itu hening, tak ada percakapan lagi. Mereka berdua saling diam dengan pikiran masing masing. Pandangan mereka lurus ke depan menatap langit malam dan suasana kota Bandung. Beberapa menit saling diam, akhir nya kini giliran Rey yang bersuara. "Mengapa kau belum tidur, Nel?" tanya Rey lalu menoleh ke arah Nelson.
Nelson menoleh ke arah Rey, bukan nya menjawab pertanyaan Rey, Nelson malah balik bertanya. "Kau sendiri, kenapa kau belum tidur, Rey?"
Rey tersenyum miris. "Aku tidak mengerti dengan mu Nel, mengapa pertanyaan selalu di jawab dengan pertanyaan lagi" ucap Rey lalu kembali menyesap rokok di tangan nya. Nelson terdiam seraya memperhatikan aksi merokok Rey. Lalu Rey mematikan rokok nya karena sudah cukup banyak rokok yang Rey habiskan di sana. Lalu raut wajah Rey mulai ke mode serius. "Nel, bagaimana perasaan mu jika kau di jodohkan dengan orang yang tidak kau cintai?" lanjut nya.
Rey memperhatikan wajah Nelson dengan seksama. "Nel, apa kau pernah mencintai seseorang?"
"Iya tentu saja pernah, bahkan sampai detik ini pun aku masih mencintai nya, sangat, sangat mencintai nya, Rey" jelas Nelson
"Lalu, apa yang terjadi? Apa hubungan kalian berakhir begitu saja? Mengapa kalian tidak bersatu?" Rey begitu ingin tahu perjalanan cinta Nelson, karena selama ini Nelson selalu bungkam perihal asmara nya, dan baru kali ini Nelson membahas soal percintaan nya. Oleh karena itu, Rey pun terus mengorek informasi lebih dalam perihal kisah asmara Nelson. Namun raut wajah Nelson berubah, wajah nya terlihat sedih. "Ada apa, Nel? Maaf, jika pertanyaan ku sedikit menyinggung mu" lanjut nya.
"Tidak apa apa Rey, hubungan kami berakhir dan sekarang dia akan bertunangan dengan pria lain" jelas Nelson lagi.
__ADS_1
"Siapa wanita itu, Nel? Apa aku mengenal nya?"
Nelson tersenyum. "Tentu saja, tapi aku tak akan memberitahu mu dengan mudah, Rey" ledek Nelson lalu terkekeh.
...****************...
Suasana gedung khusus dengan lapangan luas dan megah di penuhi oleh orang orang penting. Acara promosi desain dan kualitas barang Furniture telah di mulai, perusahaan yang telah terikat kerjasama atau pun yang masih berstatus kontrak akan menunjukan kualitas barang produksi dari perusahaan mereka masing masing, dengan tujuan satu, yaitu untuk mendapatkan gelar pencapaian dan kualitas penjualan terbaik dari semua perusahaan Furniture di Indonesia.
Direktur Utama dari berbagai perusahaan Furniture ternama duduk di tempat yang telah di sediakan di sana. Rey duduk di kursi depan bersama Nelson dan klient penting nya. Desain produk yang Rey tunjukan pada beberapa hari yang lalu membuat klient nya setuju untuk bekerjasama.
Selesai meeting, Rey keluar dari ruangan meeting menuju toilet. Tanpa sengaja Rey bertubrukan dengan seorang wanita di gang kecil hingga membuat wanita itu hampir saja jatuh ke belakang karena di terjang oleh tubuh Rey, dengan sigap Rey langsung menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke belakang. Namun kedua nya terkejut saat melihat wajah di depan nya masing masing.
"Zena?" ucap Rey kala melihat wajah yang sangat Ia kenali, meski empat tahun sudah berlalu namun wajah serta nama nya tidak pernah Rey lupakan. Ya, wanita yang baru saja Rey tubruk adalah Zena, mantan istri nya. Mereka berdua akhir nya bertemu tak di sengaja di acara promosi produksi yang tengah berlangsung di gedung itu. Dengan cepat, Zena langsung melepaskan pegangan tangan Rey lalu bangun dari posisi nya itu. Zena begitu terkejut dan tak percaya kalau Ia akan bertemu dengan Rey setelah empat tahun lama nya.
Tak ada percakapan lagi setelah nya, mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Dan bayangan masa lalu kembali teringat, Zena dan Rey menjadi asing lagi, kecanggungan berada di tengah mereka. Lamunan mereka membuyar kala Rio datang menghampiri kedua nya.
"Kau tidak apa apa, Zen?" Rio merangkul pundak Zena, Zena hanya menggelengkan kepala nya saja. Pemandangan itu tentu saja tak luput dari mata Rey, Rey terus menatap ke arah tangan Rio yang dengan berani nya merangkul pundak Zena. Lalu Rio menatap Rey, ada reaksi di wajah Rey. "Ada apa, Rey?" Rio menegur Rey dan malah mempererat rangkulan nya pada Zena.
Rey menyeringai. "Ternyata selain kualitas produk yang rendahan, kualitas wanita nya juga rendahan" sindiran Rey membuat hati Zena sakit, Zena pun menatap Rey dengan tatapan sedih.
Namun tidak dengan Rio, Rio begitu marah saat mendengar ucapan Rey, Rio langsung menarik kerah baju Rey begitu saja hingga membuat Zena takut dan ikut memegang tangan Rio. "Apa maksud ucapan mu, Rey?!" bentak Rio. "Cepat minta maaf!" suruh nya.
Rey menyeringai lagi, Rey tak peduli dengan amarah Rio. "Untuk apa aku minta maaf? aku bicara fakta!" ucap nya lalu menatap ke arah Zena dengan tatapan tanpa arti. "Setelah puas menumpang hidup dengan keluarga Atmaja, rupa nya kau menumpang hidup juga dengan keluarga Gantara? Sungguh rendahan!" ucapan Rey langsung mendapat bogeman dari Rio, seketika tubuh Rey jatuh tersungkur ke lantai.
__ADS_1
Zena pun terkejut dengan aksi Rio, Rio benar benar marah dengan perkataan sepupu nya itu. "Kau baj1ngan, Rey! Cepat minta maaf!" umpat Rio seraya kembali menarik kerah baju Rey lagi. "Cepat minta maaf, Rey!" lanjut Rio lagi. Namun Rey hanya terdiam menatap Rio datar dengan bibir yang berdarah. Lalu tatapan Rey beralih menatap Zena. Rey tidak mau melawan Rio karena jika melawan nama baik nya pasti akan buruk di media. Saat Rio ingin memukul wajah Rey, Zena langsung menahan tangan Rio.
"Jangan, tuan Rio!" teriak Zena lalu menahan tangan Rio. "Aku mohon!" Zena menangis di sana, Rio pun terdiam menatap Zena. Lalu cengkraman tangan nya Rio lepas dari baju Rey. Tak lama, panitia datang melerai kedua nya. Zena menatap Rey, luka sobek di sudut bibir Rey membuat nya sedih. Rey pun balik menatap Zena tanpa arti jelas lalu pergi dari lokasi.