
Tomy keluar dari gedung perusahaanya bersama reyhan yang berada di belakangnya. Beberapa kali tomy mendapat sapaan hormat dari para karyawanya yang hanya di balas anggukan olehnya.
“Pak apa kita langsung pulang?” Tanya reyhan ketika mereka berdua hendak masuk ke dalam mobil.
“Langsung pulang saja.” Jawab tomy kemudian masuk ke dalam mobil.
Reyhan menganggukan kepalanya. Meskipun tomy tidak melihatnya namun pria berjambul itu tetap menjawab. Reyhan masuk ke dalam mobil dan menempatkan dirinya di kursi kemudi.
“Rey..” Panggil tomy ketika reyhan hendak menghidupkan mesin mobilnya.
“Ya pak..” Saut reyhan menolehkan kepalanya kebelakang.
“Menurut kamu apa yang harus saya lakukan supaya saya tidak perlu lagi bolak balik kesini?”
Reyhan terdiam sesaat. Tidak mungkin jika tomy tidak sering bolak balik jakarta belanda. Karna pada dasarnya pria tampan itu memang memiliki cabang perusahaan yang di bangungya dengan susah payah di kota itu.
“Maaf pak sebelumnya. Tapi memangnya kenapa bapak sampai mempunyai pemikiran seperti itu?” Tanya balik reyhan sopan.
Tomy menghela nafas. Tomy tidak punya alasan mendasar yang lain selain rasa tidak inginya terlalu sering menginjakan kaki di kota itu.
“Pak.. Kalau menurut saya biarkan saja ada cabang disini. Itu juga bisa membantu para karyawan pak. Coba kalau sampai bapak menutup cabang disini mereka semua akan kesusahan mencari pekerjaan baru.. Apa lagi di jaman sekarang ini apa apa serba susah pak.” Lanjut reyhan.
Tomy hanya diam saja. Apa yang di katakan reyhan mamang benar. Tomy tidak bisa menutup cabang di kota itu hanya karna rasa malasnya karna semua itu akan sangat berdampak pada para karyawan dan mungkin juga pada perusahaanya.
“Ya.. Kamu benar.” Balas tomy pelan dan singkat.
Reyhan tersenyum. Ketika hendak menghidupkan mesin mobilnya tiba tiba sebuah ketukan di kaca mobilnya membuat reyhan juga tomy menoleh kompak. Mereka kompak menghela nafas jengah melihat rachel yang sudah berdiri di samping pintu mobil.
“Bagaimana pak?” Tanya reyhan pada tomy.
Tomy berdecak. Rachel sangat susah untuk di hindari. Apa lagi sekarang jeny sedang hamil. Tomy tidak mau jika gangguan dari rachel membuat kesehatan jeny dan janin dalam kandunganya memburuk.
“Biarkan dia masuk.” Jawab tomy.
Reyhan menurut. Pria tampan itu menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh rachel untuk masuk. Meskipun sebenarnya reyhan sedikit bingung karna tomy tidak memilih untuk menghindar.
Rachel dengan sangat antusias segera masuk ke dalam mobil mewah itu. Senyum manisnya menegembang menatap tomy yang berada di sampingnya.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya tomy tanpa basa basi.
Senyum di bibir rachel langsung sirna. Rachel menghela nafas kemudian mencoba meraih tangan tomy namun tomy langsung menghindar dengan keluar dari mobil dan berpindah posisi di depan di samping kursi kemudi yang di duduki reyhan.
“Tolong jangan berlebihan.. Saya sudah beristri.” Kata tomy datar.
Sesaat rachel terdiam. Wanita berambut coklat itu menatap tomy dari kaca mobil bagian depan kemudian tersenyum kembali.
“Aku hanya ingin berjuang.” Katanya.
Tomy tersenyum sinis. Rachel seperti wanita bodoh yang pura pura tidak tau bahwa tomy sudah memiliki pasangan.
“Berjuang untuk apa? Untuk perasaan kamu? Maaf rachel, dari awal sampai sekarang saya tidak pernah punya rasa sama kamu.. Dan lagi saya tidak pernah menganggap kamu lebih dari seorang kenalan.”
Reyhan hanya diam saja. Ucapan tomy mungkin menyakiti rachel. Tapi apa yang di ucapkan pria itu memang benar. Rachel yang selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya. Meskipun seringkali tomy selalu menghindarinya.
“Meskipun hanya teman?” Tanya rachel pelan.
“Ya..” Jawab tomy singkat.
“Tomy.. Aku..”
“Tolong jangan ganggu rumah tangga saya dan jeny. Saya sangat mencintainya. Dan saya nggak mungkin menerima perasaan kamu.” Sela tomy.
“Kamu mencintainya? Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia juga mencintai kamu?” Tanya rachel berani.
Tomy tidak bisa menjawab. Cinta atau tidak jeny padanya itu hanya jeny yang tau. Namun mengingat jeny yang sudah mau menerimanya tomy yakin cepat atau lambat jeny juga akan mencintainya sama seperti dirinya yang begitu sangat mencintai wanita yang berprovesi sebagai dokter itu.
“Kamu pikir bagaimana bisa dia hamil jika dia tidak mencintai saya hem?” Tanya tomy balik.
Tomy menoleh menatap rachel yang menangis dalam diam. Tomy sungguh tidak ingin menyakiti wanita itu. Namun demi keutuhan rumah tangganya tomy akan melakukan apa saja. Bahkan jika perlu menyingkirkan rachel dari kota yang di tinggalinya.
Rachel menelan ludahnya. Tomy benar benar sangat keras menolaknya.
“Rachel kamu cantik, dan kamu juga baik.. Jangan buang buang waktu kamu untuk sesuatu yang tidak seharusnya.”
“Kalau aku memang cantik dan aku juga baik menurut kamu, kenapa kamu tidak bisa menerima aku? Kenapa kamu tidak bisa mencintai aku?”
__ADS_1
Tomy menghela nafas. Rachel sangat keras kepala.
“Karna kamu bukan takdir saya.” Jawab tomy.
“Tomy tapi..”
“Silahkan keluar. Semuanya sudah cukup. Jangan ganggu rumah tangga saya sama jeny. Karna kalau sampai kamu masih berani mengganggu, saya tidak akan segan bertindak sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas di otak kamu.”
Rachel menggelengkan kepalanya. Tomy sedang mengancamnya. Dan itu tomy lakukan demi jeny.
“Tomy..”
“Keluar saya bilang.” Tegas tomy menyela cepat.
Dengan air mata berderai rachel keluar dari mobil mewah tomy. Wanita berambut coklat itu membanting keras pintu mobil tomy kemudian berlari sambil menangis.
Tomy menghela nafas. Apapun akan tomy lakukan demi cinta jeny untuknya.
“Jalan rey..” Perintah tomy pada reyhan yang sedari tadi hanya diam saja.
“Baik pak..” Angguk reyhan kemudian segera menghidupkan mesin mobil dan melesat dengan cepat di jalanan sepi kota amsterdam menuju apartemen tomy.
Tidak sampai 30 menit tomy dan reyhan sampai di depan gedung mewah apartemen tempat tomy tinggal.
“Apa ada lagi yang harus saya tangani langsung?” Tanya tomy tanpa menoleh pada reyhan.
“Untuk saat ini tidak ada pak..” Jawab reyhan.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria tampan itu menoleh kemudian tersenyum pada reyhan.
“Kalau begitu mari kita nikmati liburan kita mulai besok.” Katanya.
Reyhan terkekeh. Untuk tomy mungkin bisa di katakan sebagai liburan karna ada istri yang menemaninya. Tapi untuk reyhan sehari saja tidak bekerja rasanya sangat membosankan karna reyhan hanya akan diam termenung di apartemenya seorang diri.
“Saya masuk dulu.”
Tomy menepuk pelan pundak reyhan kemudian keluar dari mobil. Pria tampan itu melangkah cepat memasuki gedung apartemenya. Tomy benar benar tidak sabar untuk hari esok. Tomy ingin mengajak istri tercintanya keliling kota amsterdam dan membuatnya senang dengan pilihanya bersedia ikut dengan tomy.
__ADS_1